Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 33


__ADS_3

Semua orang sudah berada di meja makan untuk menikmati makan malam yang telah disiapkan oleh keluarga Cinta untuk keluarga Naru.


Cinta dan Naru duduk berdampingan, begitu pula dengan yang lain yang sudah menjadi pasangan, kecuali Arya dan Jonathan.


"Silahkan di cicipi! maaf, hanya masakan sederhana saja," tutur Ningsih pada keluarga Naru.


"Tidak apa-apa, makanan sederhana seperti ini juga makanan keluarga kami, iya kan, Dad?" tanya Zinnia pada suaminya.


"Iya, Mom!" William mengiyakan pertanyaan sang istri.


Ningsih dan Ahmad tersenyum mendengar penuturan besannya. Ternyata Cinta mendapatkan mertua yang pengertian seperti kedua orangtua Naru dan itu membuat lega hati mereka berdua.


Zinnia dan Ningsih mengambilkan nasi dan lauk untuk para suami mereka dan Cinta memperhatikan semua itu.


"Jika orang sudah menikah harus melakukan hal itu ya?"


Ningsih tak sengaja melihat ke arah putrinya yang nampak memperhatikan dirinya dan ibu Naru. "Kenapa diam, Nak! ambilkan makanan untuk calon suamimu," titah Ningsih pada Cinta.


Cinta melihat ke arah Naru yang juga melihat ke arahnya karena pria itu juga melihat ke arah para istri yang sibuk mengambilkan makanan untuk para suami.


"Memangnya aku harus melakukan itu ya, Bu? bukankah hanya orang yang sudah menikah saja yang boleh melakukan hal itu," celetuk Cinta dengan nada super duper polosnya.


Semua orang yang berada di meja makan tersenyum mendengar ucapan polos Cinta, kecuali Naru dan Cinta yang memang tak tahu menahu tentang hal itu.


"Kalian juga sebentar lagi akan menjadi suami istri, kan? jadi lakukan saja," jelas Zinnia pada Cinta.


Cinta melihat ke arah Naru. "Kau ingin makan yang mana?" tanya Cinta karena ia tak tahu selera Naru seperti apa. Cinta juga takut jika rasa masakan keluarganya tak sesuai dengan lidah Naru yang memang sudah masuk dalam lidah profesional jika berhubungan dengan rasa.


Naru melihat ke arah meja makan, memperhatikan setiap menu yang ada di meja makan.


Di atas meja makan tersaji rendang, buncis tumis udang, sup iga, dan makanan utama lainnya.


Naru melihat ke arah Cinta dan tersenyum pada tunangan palsunya itu. "Apa saja," sahut Naru.


Cinta bingung harus mengambilkan Naru makanan apa karena ia tak tahu selera Naru seperti apa.

__ADS_1


"Aku tak tahu seleramu seperti apa! biar aku cicipi makanan yang aku rasa cocok di lidahmu," ujar Cinta hendak mencicip rendang buatan sang ibu.


Tiba-tiba tangan Naru menahan tangan Cinta. "Tidak perlu! kau suka makanan yang mana?" tanya Naru membuat Cinta terpaksa melihat ke arah Bosnya itu.


"Rendang dan sup iga," sahut Cinta yang memang suka dengan makanan itu.


"Ambilkan aku makanan itu! jika kau suka, maka aku juga akan suka," jelas Naru mengusap pipi Cinta gemas.


Wajah Cinta sudah memerah karena kelakuan Naru yang memang sengaja menggodanya.


"Pasti dia sengaja menggodaku di depan banyak orang! awas saja kau ya!"


Cinta mulai mengambilkan makanan untuk Naru, sementara Zinnia hanya bisa tersenyum melihat kemesraan kedua sejoli itu.


Yang lain hanya bisa tersenyum mengikuti cara Zinnia karena mereka tak ingin menganggu kemesraan Cinta dan Naru.


Cinta sudah selesai mengambilkan makanan yang diinginkan Naru. "Coba kau makan!" Cinta melipat kedua tangannya di atas meja makan sembari memperhatikan Naru.


Naru mulai menyendok makanannya dan hendak melahapnya namun, ekor mata Naru melihat Cinta tengah menatapnya. "Kenapa tidak makan?" tanya Naru mengurungkan niatnya untuk melahap makanannya.


"Aku hanya ingin melihatmu memakan makanan itu dan aku ingin tahu bagaimana komentar seorang Naru," jelas Cinta.


Chef tampan itu akhirnya tersenyum dan mengerti maksud dari perkataan tunangan palsunya.


Naru akhirnya tanpa basa-basi melahap makanan itu.


Chef Yunani itu mulai mengunyah dan merasakan makanan yang dimasak oleh mertuanya.


Naru melihat ke arah Cinta sembari bertanya, "Apa kau ingin tahu bagaimana rasanya?" tanya Naru pada Cinta dan pertanyaan itu bukan hanya mengalihkan perhatian Cinta saja, melainkan mengalihkan perhatian semua orang yang berada di meja makan tersebut karena mereka penasaran tentang penilaian seorang Chef handal seperti Naru, kecuali kedua orangtua Cinta yang memang masih belum tahu jika calon menantu mereka adalah seorang Chef handal. Kedua orangtua Cinta hanya penasaran dalam kategori biasa, tak seperti yang lain yang memang sudah tahu siapa Naru.


"Bagaimana rasanya?" tanya balik Cinta dengan wajah penasarannya. "Apa enak? atau kurang gula, garam, kaldu, atau ...."


Naru menyentuh tangan Cinta dan menggenggam tangan itu erat. Tatapan mata Naru juga terjurus pada manik mata coklat milik tunangan palsunya itu. "Rasanya sudah pas, tak kekurangan apapun, sama seperti cintaku padamu! semuanya pas tanpa kekurangan atau kelebihan namun, jika aku pikir-pikir lagi, cintaku sepertinya melebihi batas rasa dari makanan ini," goda Naru membuat pipi Cinta lagi-lagi merona.


Cinta melihat ke arah tiap orang yang berada di meja makan itu.

__ADS_1


Cinta tersenyum kikuk karena ulah Naru yang lagi-lagi menggodanya tanpa henti.


Arah tatapan mata Cinta kembali tertuju pada Naru. "Jangan bercanda! itu tak lucu," protes Cinta tersenyum pada Chef Yunani tersebut namun, tatapan mata Cinta amat menusuk penuh ancaman.


Naru hanya tertawa kecil menanggapi celotehan Cinta. "Aku tidak bercanda, Sayang!"


Gedebuk gedebuk gedebuk


Suara detak jantung Cinta mulai berjingkrak-jingkrak ria mendengar ucapan kata sayang dari mulut Naru.


"Sadar, Cinta! sadar! bangun! bangun! ini hanya sandiwara, bukan kenyataan seperti dalam film yang kau tonton."


Cinta melihat ada sesuatu pada sudut bibir Naru dan dengan cepat gadis itu mengambil beberapa lembar tisu.


"Dan kau saat makan, jangan sampai berantakan seperti ini melihat kecantikanku, Sayang!" Cinta membersihkan sudut bibir Naru yang terselip noda dari bumbu rendang.


Naru dan Cinta saling menebar senyum. Hati Naru terasa senang mendapatkan panggilan sayang dari Cinta.


"Kenapa aku bisa sesenang ini di panggil sayang olehnya? apa aku sudah ... ah, tidak mungkin! pasti karena aku selama ini ingin mendengar hal itu dari mulut Kinan dan kebetulan gadis menggemaskan ini yang memanggilku seperti itu."


Lagi-lagi anggota keluarga yang lain dibuat menahan senyum mereka.


Setelah acara lamaran dan makan malam telah usai, keluarga Naru berpamitan pulang.


Cinta dan orangtuanya berjalan ke arah teras rumah mengantar kepulangan mereka.


Sebelum Naru benar-benar pergi dari rumah itu, ia menghampiri Cinta lebih dulu.


Naru menyentuh pundak tunangan palsunya. "Selamat malam! jika kau ingin tidur lebih dulu, tidurlah dan jangan lupa! mimpi indah," tutur Naru secara tiba-tiba menempel bibirnya pada kening Cinta sebagai ucapan selamat malam darinya.


Naru melakukan hal itu secara spontanitas karena hal itu yang terbesit dalam benak Chef bermata kebiruan tersebut.


Cinta memejamkan matanya menikmati ciuman tulus pria tampan yang saat ini berada sangat dekat dengannya.


Naru melepaskan kecupannya. "Aku pulang dulu!" Naru tersenyum pada Cinta, kemudian berjalan ke arah mobil sport Lamborghini miliknya.

__ADS_1


Cinta masih memperhatikan mobil itu sampai rombongan mobil keluarga Naru benar-benar menghilang dari halaman rumahnya.


Cinta tersenyum berlari ke arah kamarnya dan kedua orangtuanya hanya bisa ikut tersenyum menyaksikan kebahagiaan sang putri.


__ADS_2