Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 3


__ADS_3

Saat ini waktunya jam makan siang untuk para Chef dan karyawan restoran milik Naru. Mereka dibagi menjadi dua bagian. Ada yang sebagian tetap bekerja dan ada sebagian lagi makan siang. Jadi restoran tersebut tak kelimpungan jika ada pelanggan yang datang untuk makan ke tempat tersebut.


Kebetulan Monica kebagian makan siang pertama. Ia memposting pesan siaran dari Rocky ke akun media sosialnya baik itu WhatsApp, Twitter, Facebook, dan Instagram.


Sembari menunggu mungkin ada yang berminat akan postingannya itu, Monica melanjutkan makannya di ruangan khusus para karyawan restoran tersebut untuk makan siang.


Di tempat lain, Naru tengah sibuk dengan ponselnya. Mencari tahu bagaimana cara membuat wanita bisa jatuh cinta padanya.


Naru terus menggulir layar ponselnya mencari cara jitu yang sekiranya sekali tembak langsung tumbang dan Kinan bisa jatuh cinta padanya.


"Kenapa tak ada cara lain selain memberikan dia bunga atau mengatakan kata-kata manis padanya," gumam Naru menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa tepat di ruangannya untuk beristirahat di restoran tersebut.


Berbeda dengan Cinta yang saat ini tengah sibuk melayani para pembeli di toko kuenya.


Toko gadis itu semakin bertambah jam, semakin ramai jadi Manda dan Karin juga berada di toko tersebut melayani para pembeli.


Setelah semua pembeli sudah mendapatkan kue yang mereka inginkan, akhirnya Cinta meminta pada semuanya untuk makan siang lebih dulu.


"Kalian makan siang dulu saja! nanti aku akan makan setelah kalian selesai," tutur Cinta pada semua orang yang berada di toko itu termasuk kedua orangtua angkatnya.


"Biar Ibu saja yang disini, kau makan dulu, Cinta!"


"Ibu saja dan yang lain makan dulu! nanti aku makan paling akhir saja, agar semua makanan itu bisa aku habiskan semua," canda Cinta pada Ningsih.


Ningsih hanya bisa tersenyum menanggapinya. "Kalau begitu, kami semua makan dulu ya, Nak!"


Semua orang perlahan berjalan ke arah dapur toko itu untuk makan siang.


Karena tak ada pelanggan, akhirnya Cinta mengeluarkan ponselnya melihat story WhatsApp teman-temannya, termasuk story Monica.


Mata Cinta hampir melompat dari sarangnya saat ia membaca angka 50 juta dalam sebulan dan itu hanya sementara.


"Apa mungkin Monica hanya bercanda," gumam Cinta yang nampak tergiur dengan uang 50 juta itu.


Monica merupakan teman sekolah Cinta saat di bangku SMA saja, tidak seperti Manda dan Karin yang sejak di sekolah dasar sudah bersama. Mereka berempat, Cinta, Manda, Monica, dan Karin berteman akrab dan kebetulan sekali bakat Monica dan Cinta sama-sama dalam bidang memasak.


Perbedaan Monica dengan ketiga temannya adalah, ia lahir dari keluarga yang berkecukupan dan mampu untuk menyekolahkannya ke jenjang yang lebih tinggi sampai ia menjadi seorang Chef dessert.


Cinta masih ragu ingin menanyakan langsung atau tidak kebenaran info tersebut pada Monica. "Aku hubungi dia atau tidak ya?"


Cinta nampak bingung. "Tapi uang 50 juta bisa aku tabung untuk membeli rumahku sendiri," gumam Cinta sembari meletakkan bagian ujung ponselnya tepat di bawah dagunya dengan raut wajah berpikir keras.

__ADS_1


"Uang itu tidak boleh jatuh pada orang lain, apalagi orang itu sudah kaya! bisa-bisa uang mereka beranak pinak dan tak habis-habis! lagipula, hanya Asisten Chef, kan? aku juga kurang lebih tahu bahan masakan! kau pasti bisa, Cinta! semangat! demi rumah impianmu sendiri!"


Akhirnya Cinta dengan tekad yang kuat mencoba menghubungi Monica. Ia akan menanyakan perihal postingannya itu.


"Halo!"


"Apa kau sibuk, Mon?" tanya Cinta pada sahabatnya itu.


"Tidak, Cinta! ada apa?"


"Aku ingin bertanya perihal Asisten sementara itu! apa masih ada lowongan untukku?" tanya Cinta dengan wajah yang sebenarnya sudah terlihat takut-takut cemas.


"Masih, Cinta! apa kau berminat?"


"I-iya! aku berminat, tapi aku tak tahu aku bisa atau tidak menjadikan Asisten Chef handal seperti kau dan rekanmu yang lain."


"Kau tak perlu merendah diri seperti itu! tugas asisten Chef tak seberat yang kau kira."


"Tapi aku ...."


"Jangan sia-siakan kesempatan uang 50 juta, Cinta!"


Cinta masih diam memikirkan ucapan sahabatnya itu.


"Jika kau memang mau, kau datang ke restoran tempatku bekerja besok pagi, ya?"


"Baiklah! jangan lupa kirim alamatnya!"


"Family Resto!"


Cinta diam dengan tangan yang menyumpal mulutnya sendiri.


Masalahnya Cinta baru tahu jika Monica bekerja di resto terbesar dan termewah di negara ini. Monica tak memberitahu dimana ia kerja sebelumnya.


"Kau bercanda, Mon!" Cinta masih tak percaya dengan ucapan sahabatnya itu.


"Aku tidak bercanda, Cinta! aku serius!"


"Sepertinya aku harus mengurungkan niatku untuk mendapatkan gaji 50 juta itu."


"Aku tidak ...."

__ADS_1


"Aku tunggu besok pagi ya! aku harus kembali bekerja karena waktu makan siangku sudah habis, bye!"


"Eh, tapi ...."


Tut tut tut tut tut


Panggilan diakhiri oleh Monica.


"Tuhan! bagaimana ini? aku tak mungkin bisa berbaur dengan para Chef handal restoran itu!"


Cinta memejamkan matanya dengan kepala yang sudah mulai berdenyut nyeri.


Tiba-tiba saja Cinta mendongakkan kepalanya. "Mungkin ini semua jalan dari yang kuasa dan aku harus melewatinya! semangat, Cinta! demi uang 50 juta untuk membeli rumah idamanmu!"


Setelah semuanya sudah selesai makan siang dan sholat zuhur, Ningsih dan yang lain kembali ke toko.


"Sekarang kamu makan dulu, Nak! kami yang akan menjaga tokomu," pinta Ningsih pada Cinta.


"Baik, Bu! oh ya, Bu! ruang kerja Kak Dio tidak dikunci kan?" tanya Cinta pada Ningsih. "Tidak! kenapa?" tanya Ningsih balik.


"Aku ingin meminjam komputer kakak untuk menulis surat lamaran pekerjaan dan aku minta do'a dari Ibu, Ayah, dan teman-teman agar besok aku bisa diterima bekerja," tutur Cinta.


"Kerja apa, Nak! bukankah kau sudah memiliki usahamu sendiri?" tanya Ahmad pada putri angkatnya.


"Bekerja sebagai asisten Chef, Ayah! hanya satu bulan dan gajinya lumayan untuk ditabung! lagipula disini sudah ada Ayah dan Ibu yang aku percaya," jelas Cinta pada semua orang yang berada di ruangan itu.


Ningsih dan Ahmad saling bertukar tatapan. "Baiklah! asal kau bekerja untuk masa depanmu, Ibu dan Ayah merestui perjalananmu besok, Nak! iya kan, Yah?" tanya Ningsih pada suaminya.


"Betul, Bu!"


Cinta tersenyum manis. "Terima kasih atas pengertian Ayah dan Ibu!"


Cinta berjalan ke arah dapur untuk makan dan setelah itu ia sholat terlebih dulu, sebelum ia membuat surat lamaran pekerjaan untuk besok pagi.


Kini kedua tangan Cinta sudah bergelut dengan keyboard komputer milik Dio yang berada di ruang kerja sang kakak angkat.


Jemari Cinta dengan cekatan mengetik tiap kata yang akan ia tulis untuk surat lamaran pekerjaannya.


Revisi dan revisi terus dilakukan agar tak ada kesalahan apapun dalam penulisan surat lamarannya.


Tak terasa tugas Cinta sudah selesai sampai ia juga tak sadar jika dirinya sudah tertidur di atas keyboard milik Dio dan si empunya ruangan datang karena jam memang sudah menunjukkan waktunya orang kantor pulang.

__ADS_1


Dio melihat Cinta yang nampak tertidur pulas. "Pasti dia kelelahan," gumam Dio berjongkok melihat wajah Cinta yang menghadap ke arah samping dengan pipi menempel pada keyboard komputer Dio.


Dio tersenyum sembari mengambil sebuah selimut dan menyelimuti tubuh Cinta yang tertidur dengan posisi duduk di kursi kerja kakaknya. "Mimpi indah, Cintaku!"


__ADS_2