
WARNING WARNING WARNING
Jam sudah menunjukkan pukul 22.15 malam.
Semua karyawan satu persatu mulai keluar dari restoran milik Naru. Lampu restoran itu sudah nampak mati karena sudah tak ada penghuninya.
Cinta masih berada di dalam mengambil barang-barangnya yang berada di dalam loker.
Zayn dan Rocky berjalan ke arah ruangan Naru untuk mengajak pria itu pulang bersama.
Kebetulan sekali pintu ruangan Naru tak tertutup rapat.
"Waktunya pulang, Bro!" Rocky memanggil Naru yang masih membereskan beberapa peralatan tulis, laptop, dan buku keuangan restoran.
"Kalian pulang saja lebih dulu, aku masih ingin mampir ke suatu tempat," jelas Naru pada kedua sahabatnya.
Zayn melihat ke arah Rocky dan menyenggol lengan pria itu. "Kita pulang saja, lagipula, Naru akan mampir kesuatu tempat, aku juga sudah lelah," cicit Zayn pada Rocky.
"Kita pulang dulu ya," pamit Rocky yang berjalan ke arah pintu keluar bersama Zayn.
Setelah kedua sahabatnya sudah dapat dipastikan pergi, Naru melirik ke arah pintu dan seketika senyum pria itu terbit.
"Akhirnya bisa pulang sambil pacaran," gumam Naru diiringi senyum manisnya.
Pria itu segera bergegas meninggalkan ruangannya, bergerak ke arah ruang ganti dimana Cinta juga masih merapikan lokernya.
Tanpa Cinta sadari, Naru sudah berada di belakangnya dan tangan pria itu memeluk perut Cinta secara tiba-tiba.
Cinta terlonjak kaget. "Astaga! kau seperti hantu saja," umpat Cinta mengelus dadanya.
"Hantu tampan, 'kan?" goda Naru mencium rambut Cinta yang beraroma manis.
"Jangan besar kepala, Tuan!"
"Aku memang tampan, jika tak tampan, mana mungkin kau suka padaku," celoteh Naru membanggakan parasnya yang tak tertandingi oleh pria di restorannya.
"Terserah kau saja," pasrah Cinta mulai menutup pintu lokernya.
"Kau sedang apa?" tanya Naru semakin mengeratkan pelukannya pada Cinta.
"Sedang memasak," sahut Cinta sekenanya.
"Kau waras, 'kan?" tanya Naru dengan suara heran.
"Sudah tahu sedang-"
"Kunci motorku ketinggalan di dalam loker," ujar suara pria yang mirip dengan Rocky.
Naru dan Cinta menoleh bersamaan ke arah pintu ruangan itu dan mereka berdua saling tatap satu sama lain.
__ADS_1
Dengan cepat, Naru menarik Cinta ke celah loker tersebut, dimana masih ada tempat yang cukup untuk ia dan Cinta bersembunyi dari kedua sahabatnya.
Cinta sudah menempel pada dinding ruangan tersebut dengan Naru yang berada di hadapannya.
Naru meletakkan jarinya di bibir Cinta, agar Cinta tak bersuara.
"Loh, kenapa ruangan ini lampunya masih menyala? apa karyawan terakhir lupa mematikannya," terka Rocky yang langsung berjalan menuju arah lokernya.
"Jangan-jangan ada penghuninya," goda Zayn tersenyum menakuti Rocky.
"Jangan menggangguku, Bro! kau ingin ditemani gadis berambut panjang saat tidur nanti malam," goda balik Rocky.
"Aku tak punya teman macam itu," sergah Zayn.
"Wah, parah anak ini, mbak Kunti kenapa tak diakui, bukankah kau pernah melihatnya," ujar Rocky kembali menakuti Zayn.
"Itu di film, sudahlah! ayo cepat! aku sudah mengantuk," omel Zayn sembari menutup mulutnya yang menguap karena sudah mulai mengantuk.
Cinta dan Naru masih diam tepatnya di pojokan dekat loker.
Mulanya Cinta dan Naru masih mendengarkan percakapan kedua sahabatnya itu namun, di bahu Cinta terasa ada sesuatu yang jatuh dari atas dan gadis itu sontak melirik ke arah bahunya.
Ternyata ada seekor cicak yang mendarat di bahunya. Cinta hanya diam dengan wajah yang mulai meringis ketakutan.
Cinta menarik-narik lengan baju Naru yang masih fokus mendengarkan obrolan Zayn dan Rocky, karena tarikan Cinta, akhirnya pria itu melihat ke arah kekasihnya namun, mata gadisnya tak fokus menatap ke arahnya, Cinta lebih fokus menatap ke arah bahunya.
Secara otomatis, kedua manik mata kebiruan Naru mengikuti arah sorot mata Cinta, ternyata ada seekor cicak yang bertengger di bahu sang pujaan hati.
Parahnya lagi, hewan merayap itu mulai bergerak-gerak di daerah bahu Cinta dan si empunya bahu semakin takut.
Karena sudah tak bisa menahan rasa ketakutannya, mulut Cinta sudah akan berteriak namun, dengan cepat tangan Naru membungkam mulut gadis itu agar kedua sahabatnya yang masih belum keluar dari ruangan tersebut tak mengetahui keberadaan mereka berdua.
Kepala Naru menggeleng tanda ia memberikan isyarat pada Cinta agar tak berteriak atau bersuara.
"Kenapa kau lama sekali sih! apa kau sengaja ingin meronda di sini," celoteh Zayn yang nampaknya sudah kesal dengan keleletan Rocky.
"Kau jahat sekali, apa kau tak melihat, jika kunci lokerku bermasalah," jelas Rocky masih sibuk dengan lokernya yang tak bisa di kunci.
"Jika tak bisa, tak perlu dikunci, lagipula tak ada majalah dewasa, 'kan di dalam sana," terka Zayn asal bicara.
"Gila kau ya, mana ada aku menyimpan barang seperti itu, lebih baik langsung menonton videonya," canda Rocky cekikikan karena ia suka sekali menggoda Zayn yang nampak seperti kaum polosan.
"Wah, parah anak ini, ternyata kau suka yang langsung praktek daripada melihat gambarnya saja," cela Zayn pura-pura kecewa pada Rocky.
"Hei, aku hanya bercanda, Bro! meskipun itu benar, aku pria normal yang juga pasti butuh referensi, tapi aku tak menyimpan benda seperti itu," tegas Rocky kembali.
"Iya, percaya kok! cepat! mataku seperti ada lem kayunya," ajak Zayn.
Sementara Cinta masih meringis karena cicak itu hanya bergerak berputar-putar di daerah bahunya tanpa ingin turun atau pergi.
__ADS_1
Cinta menggelengkan kepalanya karena sudah tak bisa menahan teriakannya, gadis itu dengan cepat melepaskan bungkaman pada mulutnya hendak berteriak namun, gerakan Naru lebih cepat, pria itu lebih dulu menarik tengkuk Cinta dan membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya.
Mata Cinta terbelalak karena lagi-lagi Naru mencium bibirnya.
Gadis itu masih diam dengan kelopak mata yang terbuka tutup memikirkan sesuatu, yaitu sudah berapa kali ia dan Naru hari ini berciuman, padahal ini hari pertama ia dan Naru resmi menjadi seorang kekasih yang sebenarnya.
Naru melirik ke arah cicak yang berada di bahu Cinta dan membuang hewan merayap tersebut ke lantai.
Rocky sudah selesai dengan urusan lokernya. "Kita pulang sekarang," ujar Rocky mematikan lampu di ruangan tersebut dan menutup pintunya.
Cinta dan Naru akhirnya menjauhkan bibir mereka dengan mata yang masih saling tatap.
Naru mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan menghidupkan senter di ponsel tersebut.
Suasana ruangan yang tadinya gelap, akhirnya berganti remang-remang karena pencahayaan yang minim tak seperti saat lampu bersinar.
Mereka berdua masih saling tatap satu sama lain.
"Sudah berapa kali kau menciumku?" tanya Cinta yang sudah tak dapat menahan rasa penasarannya.
"Aku tak tahu," sahut Naru masih fokus dengan mata Cinta namun, perlahan mata kebiruan itu menurunkan tingkat kefokusannya ke arah bibir Cinta dan mendekati Cinta dengan tangan sebelah kanan yang masih menggenggam ponselnya.
Tangan kiri Naru menyentuh pipi Cinta lembut. "Mungkin dua kali, tiga kali, empat kali, atau tak terhitung jumlahnya," ujar Naru mendekatkan wajahnya ke arah wajah Cinta.
"Aku lebih suka yang berkali-kali," bisik Naru tepat di depan bibir Cinta dan ....
Cup
Bibir Naru akhirnya mendarat sempurna di tempat yang sangat ia rindukan.
Kenyal, lembut, dan candu. Tiga kata itu yang selalu ada dalam benak Naru karena bibir kekasihnya itu memang marshmellow terenak dan ternikmat yang pernah ia kecup, pernah ia rasakan, dan pernah ia gigit dengan gemasnya.
Cinta yang awalnya diam, akhirnya mencengkeram erat lengan Naru dan perlahan mulai membalas ciuman kekasihnya.
Mereka berdua baru merasakan nikmat dan manisnya berciuman, apalagi di tempat seperti saat ini.
Karena takut malam semakin larut, akhirnya Cinta menarik diri lebih dulu.
Suara napas keduanya masih sama-sama saling bersahutan dengan ujung hidung dan kening yang masih menempel.
Naru menatap mata Cinta dan mengecup kembali bibir lembut itu.
Cup
Suara napas Naru masih terdengar, begitu juga dengan napas Cinta.
Tangan kiri Naru yang masih berada di antara pipi dan leher Cinta mulai mengelus manja sembari berkata, "Mari kita menikah!"
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, GIFT, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 😘😘😘
__ADS_1
JUDUL NOVEL INI AUTHOR GANTI MENJADI "Cinta Milik Naru" AGAR LEBIH MUDAH MENCARI DI KOLOM PENCARIAN 😍