
Di dalam ruangan ganti, Cinta sudah berjongkok bersandar pada daun pintu ruangan itu.
Cinta juga menyandarkan kepalanya pada pintu dengan wajah mendongak ke atas dan mata gadis itu juga tertutup.
"Kenapa aku bisa seperti ini? ... Tuhan! jangan sampai aku memiliki perasaan padanya! aku tak ingin menerima kenyataan pahit yang memang sudah kuketahui lebih awal sebelum perasaan ini berkembang," gumam Cinta mengingat semua perkataan Naru padanya.
"Kau hanya pakar cintanya, tak lebih dari itu, jadi jangan sampai kau jatuh dalam permainanmu sendiri," gumam Cinta lagi meyakinkan dirinya.
Ponsel Cinta tiba-tiba berbunyi dan gadis itu menegakkan kembali tubuhnya namun, masih dalam posisi berjongkok.
Cinta melihat ke arah nama si penelepon dan orang itu ternyata Naru.
"Mau apa lagi dia? apa dia ingin mengatakan jangan terlalu baper? hah, jika benar itu akan terjadi, aku akan memakimu sampai kau meleleh," umpat Cinta mengusap matanya yang merasa tak nyaman karena ia ingin menangis namun, ia tahan.
"Halo!"
"Ada dimana?"
Cinta melihat ke arah layar ponselnya seakan ia tengah berhadapan dengan Naru sembari mengeratkan giginya.
"Kenapa?" tanya Cinta dengan nada acuh.
"Kau ada dimana?"
"Ada di dalam ruang ganti," jujur Cinta yang tak ingin Naru bertanya lebih panjang lebar lagi padanya.
"Buka pintunya!"
Cinta diam sejenak tak menanggapi perintah Naru.
"Pintu apa?" tanya Cinta masih dalam mode loading.
"Pintu ruang ganti!"
"Untuk ...."
"Cepat buka!"
Cinta segera bangun dari duduknya dan segera menarik handel pintu ruangan yang ia gunakan untuk bersemedi membersihkan bayangan jin Tomang dalam benaknya.
Saat pintu itu sudah terbuka, wajah Cinta nampak terkejut dengan apa yang ia lihat karena Naru sudah berada tepat di depan pintu dan kini wajahnya dan wajah Naru sudah saling berhadapan.
"K-kau!" Cinta tergagap seketika saat ia melihat wajah Naru sudah berada di hadapannya.
Naru menyingkirkan ponsel yang sedari tadi bertengger pada telinganya dengan gerakan jari mematikan sambungan teleponnya.
"Sedang apa kau?" tanya Naru menyilangkan kedua tangannya di dada.
__ADS_1
Cinta tersentak segera meletakkan ponselnya pada saku celananya.
"Mataku kemasukan debu," kilah Cinta sekenanya.
"Sungguh kemasukan debu?" tanya Naru lagi dan Cinta hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Bukan kemasukan kerikil?" tanya Naru ingin meledek Cinta.
Cinta menatap Naru kebingungan dengan wajah yang nampak berpikir keras. "Kerikil? hahaha! apa kau ingin bercanda, Chef Kaku! mana ada kerikil masuk ke dalam mata," cecar Cinta menatap Naru dengan tatapan remeh.
Naru hanya tersenyum melihat mode merajuk seorang Cinta mulai kumat.
"Jadi bukan kerikil ya?" tanya Naru pada Cinta lagi.
"Iya! cerew ...."
Naru tiba-tiba mendorong tubuh Cinta masuk ke dalam ruangan itu dan menutup pintu tersebut.
Kini tubuh Cinta sudah menempel pada daun pintu ruang ganti. Tangan Naru juga sudah berada di samping kanan kiri tubuh Cinta dimana telapak tangan Naru sudah bertumpu pada daun pintu.
Cinta melihat ke arah Naru dan pria itu juga tengah menatap intens matanya. "Ma-ma-ma ...."
"Makan," sambung Naru yang kesal karena perkataan Cinta tergagap seperti itu.
"Ih, bukan! ma-mau apa kau?" tanya Cinta mulai menundukkan kepalanya tak ingin melihat ke arah mata kebiruan Naru yang pastinya akan menenggelamkan apa saja.
Sedetik kemudian senyum Naru tercetak sempurna. "Jangan bilang kau berpikir aku akan menci ...."
Cinta segera menutup mulut Naru menggunakan telapak tangannya. "Kau jangan mengada-ada ya!"
Naru masih tetap tersenyum, meskipun bibirnya ditutup oleh telapak tangan Cinta.
Gadis itu segera melepaskan telapak tangannya dari bibir Naru.
Cinta mengalihkan pandangannya ke arah lain agar Naru tak tahu jika wajahnya sudah memerah.
Naru semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Cinta agar ia bisa menggoda gadis itu lagi.
"Sungguh tak memiliki pemikiran seperti itu!" tanya Naru dengan suara yang sudah membuat bagian tubuh Cinta terasa aneh.
Cinta diam tak menanggapi pertanyaan Naru. Wajah gadis itu masih tetap miring ke samping melihat ke arah lainnya.
"Bagaimana jika aku benar-benar ingin menciummu," goda Naru kembali tepat di telinga Cinta.
Mata Cinta sudah tertutup membaca mantra dalam hatinya agar ia tak masuk dalam godaan Naru.
"Buang! semua buang! anggap saja perkataannya itu angin lalu."
__ADS_1
Nampaknya Naru masih tak putus asa menggoda rekannya itu.
"Aku akan menciummu," ujar Naru dan wajah Cinta spontan menoleh ke arah Chef Yunani itu.
Wajah keduanya sangat dekat karena kedekatan itu tak sengaja mereka buat sendiri.
Mata Cinta melebar saat ujung hidungnya sudah hampir bersentuhan dengan ujung hidung Naru.
"Lain kali jangan bermain-main dengan pria lain seperti ini! jangan mau didekati oleh pria lain jika bukan aku karena aku takut mereka tak bisa menahannya," tutur Naru dengan kening yang sudah menyatu dengan kening Cinta.
Tatapan mata keduanya masih saling tatapan yang teramat sangat dekat.
"Bagaimana jika pria itu adalah kekasihku?" tanya Cinta pada Naru dan pertanyaan yang dilontarkan oleh Cinta membuat sesuatu hal dari dalam tubuh Naru seperti tak rela, jika Cinta berdekatan dengan pria lain.
Naru segera memundurkan tubuhnya dengan rambut yang sudah ia acak-acak tak karuan.
"Apa yang kau pikirkan? ingat siapa yang kau sukai dan jangan sampai kerja kerasmu sia-sia."
Cinta tak habis pikir dengan apa yang Naru lakukan sampai mengacak-acak rambutnya sendiri. "Kau kenapa?" tanya Cinta menatap rambut Naru yang sudah tak berada pada tempatnya, lebih tepatnya sudah amburadul.
Entah insting darimana sampai tangan Cinta terulur ingin membenarkan posisi rambut Naru namun, tangan kekar Naru segera menahan pergelangan tangan Cinta.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Naru pada Cinta.
Gadis itu awalnya terkejut namun, senyum dari kedua sudut bibirnya tertarik. "Rambutmu seperti Panda yang habis melakukan kungfu," ledek Cinta melanjutkan membenarkan rambut Naru.
Kaki Cinta sedikit berjinjit karena tinggi tubuhnya dan tubuh Naru tak sebanding, sehingga jalan satu-satunya adalah menaikkan sedikit tumitnya agar ia bisa menggapai rambut Naru yang berantakan itu.
"Lain kali tak perlu sampai mengacak-acak rambut seperti ini, jika kau dalam keadaan otak tak beraturan! kasihan rambutnya, kan? sudah bagus-bagus ditata, tapi malah diacak-acak tak karuan seperti ini," ujar Cinta masih membenarkan posisi rambut Naru.
Posisi tubuh Cinta yang begitu dekat membuat wangi tubuh gadis itu menyeruak masuk dalam indera penciuman Naru.
"Wangi parfum apa ini? kenapa enak sekali saat aku hirup?"
Tiba-tiba tangan Naru menarik pinggang Cinta mendekat ke arahnya.
Tubuh Cinta terkejut sampai mulutnya hampir saja berteriak namun, ia reflek membungkam mulutnya sendiri.
Kini mata keduanya saling tatap dengan jarak tubuh yang tanpa sekat apapun.
"Jangan lakukan hal ini pada pria lain!" Naru kembali mengingatkan Cinta.
Tangan Cinta perlahan turun dari bibirnya yang sempat ia bungkam. "Aku sudah memiliki kekasih," celetuk Cinta yang ingat dengan sandiwaranya dan Dio.
Naru sebenernya ingin mengatakan jangan pada Cinta namun, pria itu mencoba menahannya. "Jika dengan pacarmu, terserah kau saja ingin melakukan apa dan jangan lupa hubungi kekasihmu, kita akan berangkat hari Sabtu dan Minggu karena Kinan free," jelas Naru melepaskan pelukan pada pinggang Cinta dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Cinta tersenyum kecut. "Apa lagi yang kau harapkan, Cinta! lakukan sesuai rencana kalian berdua! buat dia bisa mendapatkan perempuan yang dia cintai!"
__ADS_1