Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 84


__ADS_3

"Lebih besar mana, rasa cintamu pada Kinan atau pada tunanganmu?" tanya Zinnia yang membuat Naru menghentikan gerakan mengunyah pada mulutnya karena ulah sang ibu yang tiba-tiba menanyakan hal yang sangat mengejutkan bagi Naru.


Putra satu-satunya dari keluarga William dan Zinnia itu melihat ke arah sang ibu dan ayahnya secara bergantian.


Naru tiba-tiba saja meletakkan sendok dan garpu yang ia gunakan untuk makan.


"Jadi Mommy dan Daddy sudah menyelidikinya?" tanya Naru berusaha tenang karena ia tak ingin salah bicara di depan kedua orangtuanya.


"Tidak! benarkan, Sayang?" tanya Zinnia pada William dan pria paruh baya itu mengangguk mantap.


"Jadi kalian tahu darimana?" tanya Naru mendesak kedua orangtuanya.


"Dari anak buah Daddy-mu," sahut Zinnia dengan nada tanpa rasa bersalah.


"Itu sama saja Mommy dan Daddy yang mencaritahu infonya," jelas Naru kesal.


"Beda dong, Sayang! bukan Mommy atau Daddy yang meluncur ke TKP, 'kan? tapi anak buah Daddy-mu," ujar Zinnia menjelaskan pada putranya dengan senyum manis yang tak pernah pudar di makan usia.


Naru akhirnya menghela napas pasrah karena ia tak mungkin menang melawan kedua orangtuanya. Mereka berdua sangat pandai berbicara.


Zinnia akhirnya tersenyum menang karena Naru nampaknya sudah menyerah.


"Orangtua dilawan," ujar Zinnia bersorak dalam hati.


"Jadi kau memilih yang mana?" tanya Zinnia lagi.


Naru menarik napas dan membuangnya secara perlahan, kemudian pria itu menatap kedua orangtuanya.


Belum juga Naru mengutarakan pendapatnya, sang ayah sudah lebih dulu bersuara. "Jangan sampai salah pilih, ikuti kata hatimu, jangan ikuti obsesi atau keegoisanmu, Nak!"


Zinnia manggut-manggut menatap putranya yang nampak sudah ingin mengungkap, siapa gadis yang ia pilih.


"Cintaku lebih besar pada, Cinta!"


Zinnia melirik suaminya yang juga melirik ke arahnya.


"Pada Kinan bagaimana?" tanya William melipat kedua tangannya di dada dengan tangan sebelah kanan yang membenarkan posisi kacamata yang ia pakai sembari menatap Naru fokus.


"Aku juga menyukai, Kinan! tapi itu dulu, saat aku masih belum sadar, jika rasa suka yang aku kira cinta hanya sebuah obsesi semata karena terlalu sering ...." Naru memejamkan matanya karena ia malu saat ingin melanjutkan ucapannya.


Kedua orangtuanya masih menunggu sambungan kalimat apa yang akan Naru lontarkan kali ini.


"Karena aku terlalu sering ... ditolak oleh Kinan, jadi aku ingin terus mengejarnya sampai ia mau menerimaku, tapi saat kehadiran Cinta, semua rasa itu perlahan tak aku perdulikan lagi, aku lebih menikmati hari-hari yang kujalani bersama Cinta, padahal aku bersamanya karena aku ingin meminta bantuan pada Cinta, agar aku bisa mendapatkan cinta Kinan, tapi setelah aku melihat Zayn atau pria lain dekat dengannya, aku merasa tak rela dan aku sadar, jika itu bukan perasaan biasa, tapi aku terus berusaha menolaknya, saat aku terus menolaknya, perasan itu semakin tumbuh dan aku menyadari, jika rasa cintaku pada Cinta dan Kinan itu berbeda," jelas Naru pada kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Kenapa kau memilih Cinta sebagai kekasih palsumu, bahkan kalian berdua sangat menikmati tiap adegan manis yang kalian pertontonkan pada kami, para orangtua saat menghadiri acara pertunangan kalian," tanya Zinnia.


"Karena dia butuh uang dan aku butuh pakar cinta," jujur Naru.


Naru melihat ke arah kedua orangtuanya. "Mommy atau Daddy tak ingin bertanya padaku, kenapa Cinta menginginkan uang?" tanya Naru.


"Tak perlu, Nak! karena Mommy sudah tahu alasan Cinta."


"Darimana Mommy tahu?"


"Saat acara pertunangan kalian, Mommy sempat mengobrol berdua dengan ibu angkat Cinta dan beliau menjelaskan, jika gadis itu ingin membeli rumah sendiri, bahkan dia sekarang tengah mengontrak, 'kan?" tebak Zinnia dan diangguki oleh Naru.


"Jadi kau sungguh serius padanya?" tanya William dengan suara tegasnya.


"Sangat serius, Dad!"


"Kapan kalian akan menikah?" tanya William yang seakan menodong Naru dengan pertanyaannya.


"Aku ingin secepatnya, tapi Cinta nampaknya masih ragu padaku karena dia tahu aku sudah lama menyukai Kinan," jelas Naru dengan raut wajah kecewa.


Zinnia berjalan mendekati sang putra. "Apa kau ingin gadis itu lekas menerimamu dan percaya padamu, jika kau sungguh sangat mencintainya?"


"Tentu saja, Mom! aku sudah melamarnya, meskipun tak semanis di acara pertunangan tv itu," tutur Naru.


"Memang Mommy bisa?" tanya Naru ragu.


"Kau jangan salah, Sayang! bukan hanya Mommy yang jago dalam merencanakan hal manis seperti itu, Daddy dan para kakek nenekmu, tak perlu diragukan lagi keahlian kami dalam membuat hati para perempuan diabetes tingkat overdosis," bangga Zinnia memberitahu putranya.


Naru berdiri memeluk ibunya. "Bantu aku, Mom! aku tak ingin kehilangan dia, aku ingin cepat menghalalkan, Cinta!"


"Pasti, Sayang! urusan lamaran serahkan pada kami para tetua, tapi urusan malam pertama, kau harus pikirkan sendiri cara manis apa yang akan kau berikan pada istrimu," tutur sang ibu.


Naru melepaskan pelukannya pada sang ibu. "Bagaimana aku bisa tahu caranya, Mom?" tanya Naru.


William tiba-tiba mengeluarkan dua buku tebal berjudul "Pacaran Setelah Menikah".


"Baca novel ini karena dua season ini menceritakan kisah cinta kakek nenekmu dan juga kisah cinta Daddy dan Mommy," jelas William.


Naru mengambil dua buku tebal itu. "Ini novel, 'kan?" tanya Naru melihat cover novel tersebut dengan gambar kakek neneknya di cover season pertama, sedangkan cover season kedua gambar kedua orangtuanya.


"Ini sungguh kisah para anggota keluargaku?" tanya Naru tak percaya karena kisah cinta keluarganya sampai dibukukan.


"Tentu saja, ini kerjasama kami dengan penulis "Arifia Kurnia" karena banyak permintaan kisah cinta keluarga Gafin dan Pattinson agar dibukukan, jadi kami memutuskan bekerjasama dengan seorang penulis wanita dan kebetulan sekali, penulis itu penggemar kakekmu Arnon, karena dia artis papan atas, jadi merangkai kisah kami sangat mudah baginya karena ia mengikuti setiap kisah cinta kakekmu dan hanya beberapa kali pertemuan saja untuk memastikan kisah lainnya yang tak terekspos oleh media," jelas William panjang lebar.

__ADS_1


Naru mengambil dua novel tersebut. "Aku akan membaca novel ini, jika memang bagus, aku akan bekerjasama dengan penulis ini juga," tutur Naru mengambil segelas air yang sudah tersedia untuknya.


"Aku berangkat dulu Mom, Dad!" Naru mencium pipi ibunya dan memeluk sang ayah.


Sebelum pria itu benar-benar berangkat, Naru merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Kau dimana?"


"Aku masih di rumah."


"Aku jemput sekarang ya?"


"Jemput aku di rumah ibu saja, aku sudah dalam perjalanan ke sana."


"Baiklah! aku merindukanmu," tutur Naru tersenyum sendiri.


"Aku juga merindukanmu."


Naru meletakkan kembali ponselnya pada saku celananya.


"Cinta ya?" tanya Zinnia pada putranya.


"Iya, Mom! aku berangkat dulu ya," pamit Naru berjalan ke arah pintu keluar rumahnya.


Zinnia melihat punggung sang putra yang perlahan mulai menjauh.


"Dia sudah besar ya, Dad? sebentar lagi, dia akan menikah dan akan memiliki keluarga kecilnya sendiri, semoga Cinta gadis yang tepat untuk Naru," gumam Zinnia masih menatap pintu keluar dimana Naru sudah tak ada di sana.


William mendekati istrinya dan memeluknya erat. "Daddy yakin, jika gadis itu gadis yang tepat untuk Naru karena dia gadis yang mandiri, bukan gadis yang bergantung pada orangtuanya, terlebih lagi, kedua orangtuanya sudah meninggal, apa Mommy tak yakin dengan anak yang terlahir kuat seperti dia? Cinta itu sama seperti Daddy, 'kan?" tanya William masih memeluk istrinya erat.


"Mommy yakin, Dad! karena Daddy sudah memberikan Mommy bukti, jika Daddy kepala rumah tangga yang bisa Mommy andalkan dan mencintai keluarganya," jelas Zinnia memeluk suaminya erat.


"I love you, Mommy!"


Zinnia menengadahkan wajahnya melihat ke arah sang suami. "I love you too, Daddy!"


William tersenyum sembari mengecup kening Zinnia lembut dan membawa sang istri kembali dalam pelukannya.


"Kita harus mempersiapkan lamaran Naru semanis mungkin, agar anak kita tak lagi ditolak olah perempuan," cicit Zinnia.


"Hahahaha! kenapa anak setampan itu bisa ditolak oleh perempuan? apa dia tak cukup tampan sepertiku?" goda William, sontak Zinnia mencubit perut suaminya.


"Suamiku memang yang paling tampan, tapi itu dulu, sekarang ketampanannya sudah ada pada Naru dan Daddy saat ini sudah tua, jadi tak pantas disebut tampan lagi," goda balik Zinnia dan keduanya tersenyum masih dalam posisi saling berpelukan.

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, GIFT, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 😘😘😘


__ADS_2