Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 55


__ADS_3

Cinta memejamkan matanya hendak mengumpat pada Naru, namun saat matanya terbuka, ia tak sengaja melihat pemandangan indah tepat di depan matanya dan itu bukan hanya sekedar ilusi semata, melainkan sebuah mahakarya Tuhan yang diciptakan untuk para umatnya di dunia.


Senja perlahan mulai menunjukkan tanda-tanda, menampilkan sedikit demi sedikit keindahan yang patut dinikmati oleh seluruh mahluk hidup di muka bumi ini.


Mulut Cinta perlahan terbuka sembari menikmati keindahan yang Tuhan suguhkan padanya, bukan hanya padanya, melainkan pada semua mahkluk ciptaannya.


"Indah," gumam Cinta yang perlahan mulai melangkahkan kakinya ke depan tanpa sadar ada Naru di hadapannya.


"Hei! kau kenapa, Gadis Bebek!"


Cinta tak memperdulikan semua ucapan Naru, ia lebih fokus dengan senja di tengah laut yang tercipta begitu apik dan menyatu dengan warna air laut yang juga berubah dari biru menjadi sedikit oranye karena terbias dari pantulan sinar matahari yang mulai perlahan terbenam.


Cinta terus berjalan lurus ke depan tak memperdulikan celotehan Naru. "Hei, kau mendengarku atau tidak?" tanya Naru yang tak dihiraukan oleh Cinta.


Saat jarak Cinta dan Naru sudah cukup dekat, Chef Yunani itu hendak berdiri ingin menepikan dirinya namun, langkah Cinta malah semakin cepat dan ....


BUUUGGG


Kinan yang sibuk mengupas kulit jagung, sementara Dio yang masih membenarkan posisi obor yang sedikit miring serentak keduanya melihat ke arah suara gaduh itu.


Karena posisi tenda yang berhadapan membuat Dio dan Kinan bisa dengan jelas melihat kedua manusia yang tengah saling tindih terkapar di atas pasir putih dengan posisi tangan Cinta berada di dada Naru dan tangan pria itu sudah mencengkeram erat pinggang ramping Cinta.


"Ci ...." Gerakan mulut Dio terhenti kala ia melihat isyarat dari tangan Kinan yang tak memperbolehkan dirinya untuk memanggil nama Cinta.


Kening Dio berkerut sempurna kala rasa cemburu menyeruak dalam dirinya melihat Cinta bersentuhan dengan Naru. *"Tahan, Dio! dia atasan dari Cinta, jadi kau harus tahan egomu."


Kinan dan Dio masih menjadi penonton, sementara Cinta dan Naru sudah saling tatap dengan sorotan mata penuh akan kekesalan luar biasa. "Punya mata, kan?" tanya Naru menatap Cinta tajam. "Punyalah! kau kira dua bola mata indahku ini kelereng, apa?"


Naru tersenyum remeh. "Mata indah darimana? dari lubang sedotan ya?" Naru kembali berceloteh ria.

__ADS_1


Cinta semakin kesal pada pria itu. "Hah, apa kau pikir hanya manik matamu yang indah? jangan terlalu besar kepala, Chef! manik mata hitam pekat seperti milikku ini yang paling normal, milikmu itu tak normal," balas Cinta karena Naru sudah membuatnya semakin kesal.


Naru menatap lekat manik mata Cinta. "Kenapa lihat-lihat? baru sadar jika manik mataku itu indah?" tanya Cinta penuh dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.


"Indah!"


Satu kata itu keluar dari mulut Naru tanpa ada intonasi mengejek atau candaan di dalamnya.


"Hmm, sudah aku tebak, jika kau pasti selama ini tak memperhatikan mat ...."


"Matamu hitam pekatmu memang indah, tapi lebih indah manik mataku yang kebarat-baratan ini," sambung Naru menjulurkan lidahnya pada Cinta.


Dengan membabi-buta, Cinta langsung memukuli dada bidang Naru agar pria itu tak selalu mengganggunya. "Rasakan ini! kau selalu saja membuatku kesal! berapa kali kau dalam sehari membuatku kesal, hah?" Cinta terus memukul dada Naru sampai tangan kekar pria itu yang awalnya berada di pinggang ramping Cinta, kini sudah beralih menahan pukulan maut dari Asistennya. "Apa kau bilang? berapa kali aku membuatmu kesal?" tanya Naru yang masih belum peka, jika tadi siang Cinta meluruhkan air matanya karena Naru berani menolak bantuannya untuk membantu memasak di dapur.


Mata Cinta terbelalak dan mulutnya otomatis tertutup rapat bagai kertas yang terlapisi lem, sedangkan kepala Cinta hanya bergeleng-geleng saja.


Kinan hanya tersenyum melihat drama yang ada di hadapannya.


Berbeda dengan Dio yang mengepalkan tangannya dengan urat yang sudah menyembul keluar siap untuk baku hantam dengan sang lawan karena ia melihat perempuan yang dicintai masih belum berjauhan dengan pria itu.


"Jika saja kau bukan atasannya, sudah pasti aku akan menarik Cinta dari atas tubuhmu," celoteh Dio dalam hati.


Cinta yang sadar jika dirinya salah bicara segera menjauhkan diri dari tubuh Naru. Gadis itu duduk dengan posisi membelakangi Naru. Saat Cinta hendak bangkit, tangan Naru menahannya. "Jelaskan dulu padaku, baru kau bisa pergi," ujar Naru.


Cinta melihat ke arah tangannya yang di genggam oleh tangan Naru dan arah tatapan Cinta terfokus pada dua cincin yang terlihat begitu serasi.


Karena Cinta tak beralih tatapan ke arah lain, akhirnya Naru mengikuti arah tatapan mata Cinta dan pria itu baru sadar jika dirinya dan Cinta sudah bertunangan.


Setelah cukup lama menatap kedua cincin itu, akhirnya Naru kembali ingat akan tujuan utama ia menahan tangan Cinta. "Kau masih memiliki hutang penjelasan padaku, Nona!"

__ADS_1


Cinta mengalihkan tatapannya pada Naru. "Apa kau sungguh ingin tahu berapa kali kau sudah membuatku kesal?" tanya Cinta pada Naru dan pria itu mengangukkan kepalanya.


"Dua kali!"


"Dua kali?" tanya Naru melirik Cinta tak yakin.


Cinta merutuki dirinya sendiri karena ia sudah berani beradu mulut dengan orang tak peka seperti bosnya yang cuek dan dinginnya minta ampun.


Cinta menarik napas panjang dan ....


"Tunggu dulu!" Naru menyela.


"Ada apa?" tanya Cinta kebingungan.


"Tidak ada! hanya agar kau tak terlalu tegang saja," sahut Naru tersenyum manis.


Cinta memutar bola matanya malas. "Baiklah! terserah kau saja! yang jelas kau sudah membuatku kesal dua kali dalam sehari, yang pertama kau tak mengizinkan aku membantu di dapur dan yang kedua kau mengejekku perihal warna manik mata dan apa kau tahu?" tanya Cinta dengan intonasi cukup kesal.


"Tidak tahu," sahut Naru polos.


Cinta ingin sekali mencakar bibir Naru sampai lebam namun, ia tahan.


"Apa kau tahu jika kau memperlakukan aku akan seperti barang yang habis manis sepah ...."


Naru menutup bibir Cinta dengan tangannya. "Jangan lanjutkan lagi," pinta Naru membuat pria lain selain dirinya kepanasan.


Dio yang sudah tak tahan segera masuk ke dalam tenda, sementara Kinan masih asyik menonton drama live streaming yang berada di hadapannya tanpa ingin menghentikan keduanya.


Tatapan mata Cinta dan Naru masih saling beradu. "Aku takkan pernah melakukan hal itu pada seseorang, aku bukan pria jahat macam itu, apalagi menyangkut perempuan. Aku tak mungkin membuangnya setelah rasa manisnya sudah tak ada lagi."

__ADS_1


"Tapi sebulan lagi, atau mungkin dua Minggu lagi kau akan mendepakku dari kehidupanmu setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan," gumam Cinta kesal dalam lubuk hatinya bercampur rasa lainnya, yaitu rasa tak rela dicampakkan oleh Naru.


__ADS_2