Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 41


__ADS_3

Naru keluar dari mobilnya untuk mengecek ban mobil yang ia kendarai.


Saat Naru melihat ban mobil di bagian depan, ternyata ban mobil itu bocor.


Naru dalam posisi berjongkok dengan tangan yang masih menekan ban mobilnya. "Astaga! kenapa harus bocor di tempat seperti ini, sih!"


Naru melihat ke arah sekelilingnya dan tak ada lalu-lalang kendaraan satupun yang melintas, Naru melihat ke arah jam tangannya. "Ini masih jam 11 siang, tapi jalanan ini sepi sekali," gumam Naru mulai bangkit menyandarkan tubuhnya pada mobilnya.


Cinta yang berada di dalam mobil terbangun. Gadis itu mulai mengerjapkan matanya berkali-kali karena penglihatannya masih belum normal seutuhnya.


Ia melihat ke arah depan dimana pemandangan hutan yang ia lihat untuk pertama kalinya.


Cinta melihat ke arah samping dimana Naru duduk mengemudi. Tak ada penghuninya namun, ekor matanya menangkap seorang pria tinggi berada di luar mobil tersebut.


"Untuk apa dia berhenti di tempat seperti ini? kita bukan sedang ingin uji nyali atau berpetualang," cicit Cinta segera keluar dari mobil itu.


Naru menoleh ke arah Cinta karena suara pintu mobilnya terdengar tertutup dan Naru sudah dapat memastikan jika orang yang menutup pintu mobilnya pasti Cinta. "Sudah bangun?" tanya Naru mencoba menghubungi seseorang menggunakan benda pipih miliknya.


"Sudah," sahut Cinta sembari berjalan mendekati Naru yang nampak sibuk mencari sinyal karena itu hutan bukan perkotaan.


Sinyal di daerah itu terkadang ada dan terkadang tiba-tiba hilang. "Kenapa kau berhenti disini?" tanya Cinta pada Naru.


"Ban mobilnya bocor," sahut Naru masih fokus mengangkat ponselnya ke udara agar sinyal pada ponselnya kembali normal.


"Apa?" tanya Cinta terkejut dengan suara sedikit berteriak. "Kau tak bercanda, kan?" tanya Cinta lagi yang masih belum yakin dengan apa yang ia dengar dari mulut Naru.


"Untuk apa aku berbohong padamu," sahut Naru masih mencoba menghubungi Asistennya.


Cinta melihat ke arah ban mobil depan dan belakang milik Naru. "Kenapa kau tak membawa mobil sport-mu yang bagus itu? pasti tak akan bocor seperti ini, kan!" Cinta mulai berkacak pinggang menatap ke arah Naru dengan tatapan kesal.


"Jangan dong! nanti mobilku lecet," celetuk Naru sekenanya.


"Dan sekarang kita terjebak di tengah hutan tanpa ada yang bisa membantu," kesal Cinta melirik ke arah sekitar kawasan itu.


Cinta kembali menatap ke arah Naru. "Apa kau tak memeriksa semua keadaan mobilmu ini sebelum bepergian jauh?" tanya Cinta lagi.


"Sudah! tapi memang pakunya saja yang suka pada ban mobilku," sahut Naru sembari melawak.


Cinta memejamkan matanya. "Jadi kita harus bagaimana?" tanya Cinta pada Naru dengan wajah yang sudah mulai frustrasi.


Naru tersenyum pada Cinta. Pria itu mengisyaratkan agar cinta mendekat ke arahnya. "Kemarilah!" Naru mulai memberikan komando.

__ADS_1


"Apa gunanya jika aku menuruti semua permintaanmu?" tanya Cinta pada Naru.


"Tak perlu banyak bertanya! cepat kemari!" Naru menepuk bagian mobil tepat di sebelahnya.


Cinta mengikuti kemauan Naru dan gadis itu berjalan mendekati ke arah Bosnya. Saat Cinta sudah hampir sampai, tangan kekar Naru menarik pinggang ramping Cinta secara tiba-tiba, sampai tubuh gadis itu tersentak kaget.


Kini Cinta sudah berada tepat berdempetan dengan Naru dan Chef Kaku itu melingkar kan sebelah tangannya pada bahu Cinta. "Eh, apa yang kau lakukan?" tanya Cinta mencoba menurunkan lengan Naru yang bergelantungan pada bahunya.


"Diam saja! aku masih mencari sinyal," sahut Naru mengangkat ponselnya kembali.


Naru sedikit menjijitkan kakinya dan ada sinyal meskipun hanya satu namun, itu sudah anugerah besar karena ia sudah bisa menghubungi Asistennya.


"Ada sinyal! tapi aku harus terus berjinjit seperti ini," gumam Naru masih dalam posisi berjinjit.


Cinta ikut mendongakkan kepalanya ke atas melihat sinyal pada ponsel Naru.


"Coba kau duduk di atas mobilmu!" Cinta mulai mengeluarkan pendapatnya.


"Tidak mau!"


Cinta memutar bola matanya kesal. "Jika kau tak mau, kita akan terus berada disini," protes Cinta.


"Kau saja yang naik kalau begitu!" Naru mulai membalikkan keadaan.


Naru mengikuti arah Cinta berpindah tempat. "Mau apa kau?" tanya Naru pada gadis itu.


"Bantu aku naik ke atas mobilmu karena aku akan duduk di atas agar sinyal bisa lebih banyak lagi," jelas Cinta pada Naru.


"Kau yakin?" tanya Naru pada Cinta karena pria itu tak ingin Cinta kenapa-napa jika ia memaksakannya.


"Yakin! ayo cepat angkat!"


Naru memberikan ponselnya pada Cinta sebelum ia mengangkat tubuh Cinta ke atas mobilnya.


Naru mengangkat tubuh Cinta agar bisa berada di atas mobilnya.


Karena Cinta takut terjatuh, akhirnya gadis itu memegang erat pundak Naru.


Naru tersenyum setelah ia selesai menaikkan tubuh Cinta ke atas mobilnya. "Dasar penakut!" Naru meledek Cinta yang sudah mengangkat tangannya mencari sinyal. "Siapa yang harus aku hubungi?" tanya Cinta pada Naru dengan kepala menghadap ke atas.


"Asisten!"

__ADS_1


Cinta mulai menekan tombol panggil pada ponsel Bosnya.


"Ya, Tuan?"


Cinta menatap ke arah Naru. "Sudah tersambung," tutur Cinta dengan suara pelan.


"Turunkan sedikit ponselnya," pinta Naru dan Cinta mengikuti perintah Chef Yunani tersebut.


Ponsel itu Cinta turunkan sedikit namun, tetap ia yang memegang benda pipih tersebut.


"Cepat kemari! ban mobilku bocor!"


"Anda berada dimana saat ini, Tuan?"


"Lacak saja keberadaanku," sahut Naru mematikan sambungan teleponnya.


"Kenapa dimatikan?" tanya Cinta dengan posisi ponsel Naru masih berada dalam genggamannya. "Nanti juga dia akan kemari," sahut Naru percaya diri.


Cinta melihat dari kejauhan ada dua motor yang menuju ke arahnya.


"Ada motor lewat! kita tanya pada mereka saja! siapa tahu di dekat sini ada tukang tambal ban," tutur Cinta pada Naru.


Naru melihat ke arah kendaraan roda dua yang Cinta maksud. Pria itu kembali menatap ke arah Cinta. "Turun!"


Cinta menggelengkan kepalanya. "Takut," tolak Cinta secepat kilat.


Naru merentangkan kedua tangannya. "Jika kau jatuh, aku akan menangkapmu," bujuk Naru.


Cinta melihat ke arah dua motor yang semakin dekat ke arahnya.


"Pilih terus menunggu di tengah hutan atau kau cepat keluar dari situasi mencekam ini?"


Cinta membulatkan tekadnya untuk melompat.


Karena gerakan melompat Cinta yang ragu-ragu, membuat keseimbangan gadis itu juga ikut oleng, akhirnya Naru menangkap tubuh Cinta dan itu memeluk tubuh Naru erat karena ia hampir saja terjatuh.


Kini tangan Cinta sudah melingkar pada leher Naru dengan napas yang naik turun tak beraturan di sebabkan keterkejutannya.


Naru bisa merasakan pelukan Cinta yang semakin erat padanya.


Pria itu berinisiatif mengusap punggung Cinta agar lebih tenang. "Kau sudah aman! jadi tak perlu merasa takut lagi" tutur Naru masih terus mengusap-usap punggung Cinta.

__ADS_1


Cinta memundurkan tubuhnya perlahan dengan tangan yang masih berada pada leher Naru. Tatapan gadis itu tertuju pada kedua lensa mata kebiruan Bosnya. "Terima kasih!"


Naru tersenyum menganggukan kepalanya dan tatapan mata keduanya masih menyatu satu sama lain.


__ADS_2