
Tatapan mata Cinta terfokus pada Naru yang berjalan ke arahnya dan tiba-tiba pria itu berlutut di hadapannya sembari menggenggam erat tangan Cinta. "Mari kita berkencan!"
Cinta terkejut akan permintaan Naru yang bisa ia sebut itu sangat mustahil untuk ia dengar.
"A-apa yang kau katakan? apa kau sehat?" tanya Cinta menyentuh kening Naru menggunakan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih di genggam oleh Naru.
Chef serba bisa itu tersenyum sembari menarik tangan Cinta ke arah pipinya dan kini telapak tangan gadis itu sudah berada di pipi Naru. "Aku sehat, bahkan sangat sehat," jelas Naru menatap kedua manik mata Cinta dalam.
"Astaga! cobaan macam apa ini, Tuhan! aku bisa cinta mati pada pria ini jika dia bersikap seperti ini padaku."
"Kenapa kau mengajakku berkencan, padahal kita bukan sepasang keka ...."
"Kita sepasang orang yang sudah bertunangan dan itu hukumnya wajib dan sah, jika hanya sekedar untuk berkencan saja," sambung Naru memperjelas.
"Tapi hanya hubungan palsu, kan?"
"Kita bertunangan secara resmi atau tidak? kedua orangtua kita sama-sama mengetahuinya atau tidak?" tanya Naru balik pada Cinta yang tak mau kalah dari Cinta.
Seketika mulut Cinta tak dapat berkata-kata lagi karena Naru sudah membuat jalan pikirannya buntu. "Kenapa pria ini pintar membolak-balikkan kata-kata, sih!"
"Jadi, bagaimana? kau mau, Sayang?"
Bughhhh
Tanpa basa-basi, Cinta langsung memukul lengan Naru. "Awww! sakit!" Naru merintih kesakitan.
"Rasakan! berani sekali kau manggil aku sayang! kau kira aku ini apa, seenaknya saja," sungut Cinta berapi-api.
"Aku hanya ingin melakukan hal ini padamu, anggap saja sebagai latihan. Mau, ya?"
Naru memasang wajah super polosnya agar Cinta mau berkencan sebagai latihan.
"Jadi aku hanya sebagai kelinci percobaan saja dan kelinci percobaanmu ini akan semakin jatuh cinta padamu."
Cinta memutar otaknya untuk mencari alasan agar ia dapat menolak permintaan Naru. "Tapi ... bukankah kau harus menjagaku dengan baik, seperti yang dikatakan oleh Kak Dio," ujar Cinta.
"Ya aku ingat dan bahkan sangat ingat dengan ucapan kekasihmu itu, Naru menegakkan posisinya yang berjongkok di depan Cinta, "aku titipkan adikku pada ...."
Naru seketika menghentikan ucapannya karena ia baru sadar dengan ucapan Dio tadi.
Pria itu sedari tadi tak terlalu memperhatikan ucapan Dio karena yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana ia ingin melempar tangan Dio yang menyentuh puncak kepala Cinta dengan lembutnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Cinta yang juga tak sadar akan ucapan Naru tadi.
"Kau dan Dio kakak beradik?" tanya Naru penuh selidik.
__ADS_1
Wajah Cinta menegang kala pertanyaan itu lolos dari mulut Naru begitu saja. "A-apa yang kau katakan, sih!" Cinta mencoba menepis rasa paniknya.
"Tadi pacarmu itu berkata, aku titipkan adikku padamu," jelas Naru pada Cinta.
Lampu pijar di kepala Cinta sudah mulai berfungsi dengan baik. "Hahahaha! itu panggilan kesayangan kami, aku memanggilnya kakak dan dia memanggilku adik, jadi ...."
"Oke, stop! aku sudah mengerti dan kau ...."
Naru menggantung ucapannya sembari menarik tengkuk leher Cinta. "Kau adalah tunanganku, Nona! posisi itu lebih tinggi daripada hanya sekedar kekasih," jelas Naru dengan ujung hidung keduanya yang saling menyentuh.
Cinta tersenyum nakal pada Naru dengan kedua tangannya terangkat secara perlahan dan bertengger dikedua bahu pria itu. "Jadi kau milikku, kan?" tanya Cinta masih dengan posisi yang sama.
"Ya! dan kau juga milikku," sergah Naru melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Cinta.
Sentuhan angin laut menerpa kulit mereka menciptakan sensi dingin dari angin tersebut dan hangat dari pergulatan napas keduanya.
"Mari kita lanjutkan kencan ini! masih ada setengah jam lagi sebelum kita pulang," tutur Naru membantu Cinta berdiri dengan m ngangkang pinggang asistennya dan tubuh mereka berdua masih tetap dekat satu sama lain, bedanya hanya wajah mereka yang sudah menjauh karena tinggi badan Cinta dan Naru tak sepadan, hingga gadis itu harus mendongakkan kepalanya menatap pria Yunani tersebut.
"Waktu berkencan dimulai." Tangan Naru terjulur ke arah Cinta agar gadis itu menerima uluran tangannya.
Dengan senang hati Cinta menerima uluran tangan Naru.
Keduanya berjalan ke arah dermaga paling ujung untuk melihat keindahan tengah laut.
Saat sudah berada di dermaga paling ujung, Cinta merentangkan kedua tangannya dengan mata terpejam, sembari menikmati angin sepoi-sepoi yang menerbangkan sebagian helai rambutnya yang terurai indah.
Naru yang berada di belakang Cinta, spontan mengaktifkan mode usilnya. Ia juga merentangkan kedua tangannya, menyatukan jemari kekarnya dengan jemari lentik Cinta.
Cinta menolehkan kepalanya ke samping, tepat ke arah wajah Naru yang sudah bertengger di bahu gadis cantik tersebut. "Apa yang kau lakukan?" tanya Cinta.
"Memperagakan apa yang dilakukan oleh Jack dan Rose saat mereka di kapal," jelas Naru pada Cinta.
"Bukankah nama dua tokoh itu adalah pemeran legendaris dari film Titanic?"
"Tapi kita hanya ...."
"Kita sepasang tunangan yang sah," sambung Naru.
Naru melipat tangannya dan tangan Cinta yang masih saling menyatu. Pria itu memeluk Cinta dari belakang dengan cukup erat dan si gadis merasakan perasaan nyaman.
"Apa kita tak melewati batas melakukan hal ini?" tanya Cinta yang ingat akan perjanjian mereka.
"Bukankah kita memang sudah melewati batas itu," sergah Naru.
Cinta melihat ke arah tangan kekar Naru, dimana jam tangan mahal pria itu sudah melingkar indah pada pergelangan tangannya.
__ADS_1
Tangan Naru nampak posesif memeluk Cinta, seakan pelukan itu tak ingin dilepas.
"Apa kau melakukan hal ini untuk dipraktekkan padanya?" tanya Cinta masih tetap menatap tangan kekar Naru.
"Tentu saja! ini misi kita bukan," sahut Naru.
Sesungguhnya hati kecil Naru ragu akan jawaban yang ia lontarkan pada Cinta karena ia merasa nyaman melakukan hal itu pada asistennya.
Cinta tersenyum pahit karena lagi-lagi harapannya terlalu tinggi, hingga ia jatuh ke permukaan tanah tandus dengan kecepatan yang tak dapat dihitung dan rasanya sakit sekali.
"Jadi sekarang, kau membayangkan aku sebagai ... Kak, Kinan?"
"Tidak!"
Kening Cinta sudah berlapis-lapis karena kebingungan dirinya akan ucapan Naru. "Maksudmu?"
Naru menghela napasnya, kemudian pria itu membalikkan tubuh Cinta menghadap ke arahnya. "Kau itu Cinta Prameswari, bukan Kinan, jadi aku sekarang memeluk Cinta bukan Kinan," jelas Naru.
Pria itu menyentuh pipi Cinta lembut. "Aku tak pernah membayangkan dirimu menjadi dia karena kau memiliki daya tarik tersendiri yaitu ...."
Naru sengaja menggantung kata-katanya agar Cinta penasaran. "Apa?" tanya Cinta menunggu lanjutan dari ucapan Naru.
"Bisa membuat orang-orang yang berada di sisimu merasa nyaman ... termasuk aku."
Naru mendekatkan wajahnya pada wajah Cinta dan ....
Cupppp
Kecupan cukup lama mendarat pada kening gadis tersebut.
Entah insting darimana sampai Naru berani menurunkan ciumannya ke arah kedua pipi Cinta bergantian, terus beralih lagi ke arah hidung Cinta dan posisi terakhir bibir. Bibir itu sudah berada tepat di hadapan bibir Cinta.
"Akhhh! aku sungguh ingin melahap benda kenyal ini, tapi apalah dayaku yang hanya sebagai partner kerjanya."
Mata Cinta yang awalnya terpejam menikmati sentuhan Naru, kini perlahan mulai terbuka dan sorotan lensa mata hitam legam itu tertuju pada bibir Naru. "Kau ...."
Ucapan Cinta tersendat kala ibu jari Naru mengusap lembut bibir berwarna pink segar tersebut. "Bagian ini bukan bagianku karena kita hanya sebatas partner saja, kau bisa menjaganya untuk orang yang kau sayang," tutur Naru yang tiba-tiba beralih menggenggam tangan Cinta.
"Waktunya pulang karena kita sudah cukup lama berada disini," ujar Naru menarik tangan Cinta ke arah villa.
Wajah gadis itu merona dan tanpa diketahui oleh Cinta, ternyata wajah Naru juga ikut merona kala ia kembali mengingat bibir berwarna segar milik Cinta.
"Seperti buah yang baru di petik saja! rasanya ingin aku kunyah sampai habis," gumam Naru dalam hati.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, GIFT, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 😘😘😘
__ADS_1