Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 39


__ADS_3

Cinta merogoh ponsel yang berada dalam saku celananya. Gadis itu menekan tombol panggil pada kontak yang bernama "Kak Dio".


"Halo, Cinta!"


"Halo, Kak! Kakak kapan pulang?" tanya Cinta dengan suara yang ia buat seceria mungkin karena ia tak ingin Dio mengetahui semuanya.


"Besok, ada apa memangnya?"


"Yah, kok besok sih, Kak?" Cinta mulai merengek pada Dio.


"Kenapa memangnya?"


"Besok aku ingin mengajak Kakak liburan dengan bosku yang waktu itu," jelas Cinta.


"Kemana?"


"Aku juga tidak tahu, Kak!"


"Bagaimana sih! katanya mau liburan, tapi kok tempatnya saja tidak tahu."


"Nanti aku tanyakan padanya ya, Kak!"


"Tanyakan sekarang saja! Kakak akan berangkat dari sini."


"Baiklah! nanti aku akan mengirim alamatnya," tutur Cinta sembari mengakhiri panggilannya.


Tangan Cinta langsung bekerja mengutak-atik layar ponselnya untuk mengirim pesan pada Naru.


Cinta


Dimana tempat yang akan kita datangi besok?


Cinta menunggu beberapa menit sebelum ponselnya berdenting tanda pesan masuk balasan dari Naru.


Naru


Pulau cinta.


Cinta mengangkat sebelah sudut bibir atasnya kesal karena balasan Naru sungguh cueknya minta ampun. "Malas mengetik ya? malas menyentuh layar ponsel ya? hah, pria seperti itu mana mungkin bisa membuatku jatuh cinta! pasti hanya sebatas mengagumi saja karena perhatian pura-puranya itu," cicit Cinta dengan nada sedikit terdengar ketus seperti ibu kos yang menagih hutang berbulan-bulan tak dibayar sampai berkembang biak.


Cinta


Dimana alamat pastinya karena KEKASIHKU akan berangkat dari luar kota tempat ia melakukan perjalanan bisnisnya.


Naru


Katakan saja jika tempat yang akan kita tuju adalah pulau cinta, dia pasti tahu. Tempat itu adalah tempat yang cocok untuk para pasangan berkencan.


Cinta


Cepat kirimi aku alamat lengkapnya karena aku saja tak tahu, apalagi KEKASIHKU!


Naru


Kau kan kudet alias anak ayam yang selalu berada di dalam kandangnya, jadi kau tak tahu dan satu lagi! saat menulis kata "kekasihku" tak perlu menggunakan huruf kapital, mataku masih bisa membaca.

__ADS_1


Cinta


Anak ayam?🥴


Naru


Upsssss, salah sebut! anak Bebek maksudnya 🤣


Cinta


Aku tak ingin berdebat denganmu, bye😤


Wajah Cinta sudah berlipat-lipat tak karuan karena rasa kesal yang ia pendam terhadap Naru. "Tak salah jika Kinan tak suka dengannya, itu pasti karena kekonyolan si pria kaku itu yang tak dapat mengambil hatinya," gerutu Cinta sembari menulis pesan pada kakaknya.


Cinta


Tempatnya di pulau cinta katanya, Kak!


Dio


Kakak tahu tempatnya karena letak tempat itu tak jauh dari tempat Kakak berada saat ini, hanya butuh waktu sekitar 30 menit saja.


Cinta


Syukurlah jika Kakak tahu tempatnya, jadi aku tak takut jika Kakak akan salah tempat dan tersesat 😊


Dio


Sampai bertemu besok di pulau cinta ya, Cintaku! ❤️


Cinta


Akhirnya Cinta bisa menarik kedua sudut bibirnya yang sempat menciut ke bawah karena merasa sedih mengingat perkataan Naru.


Di dalam ruangannya, Naru melihat ke arah ponselnya menunggu balasan dari Kinan.


"Apa dia masih sibuk, ya? tapi tadi lancar jaya saat membalas pesanku?" tanya Naru pada dirinya sendiri.


Denting ponsel Naru berbunyi.


Kinan


Besok aku berangkat membawa mobil sendiri karena ada sesuatu hal yang harus aku urus di suatu tempat dan tempat itu berada satu jalur dengan jalan yang akan kita lewati.


Naru


Aku bisa mengantarmu, Kinan!


Kinan


Tidak perlu, Kak! aku sudah terbiasa mandiri, jadi aku tak suka merepotkan orang lain, jika aku masih bisa melakukannya sendiri.


Naru


Baiklah! hati-hati!

__ADS_1


Kinan


Iya, Kak!


Naru masih melihat ke arah ponselnya dan ia tak sengaja melihat chatnya dan Cinta. Seketika huruf kapital yang Cinta kirim pada Naru membuat senyum kecut Chef Yunani itu timbul. "Hah, kekasihku! apa dia sengaja mengetik nama itu dengan huruf kapital agar aku tahu jika ia tak jomblo dan berharap aku cemburu padanya? hahaha! gadis aneh!"


Tawa kecil Naru seketika menghilang kala ia mulai berpikir kembali mengenai cicitannya. "Cemburu? mana mungkin aku akan cemburu padanya?"


Naru meletakkan ponselnya kembali dan memutar kursinya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi tersebut dengan mata terpejam ingin merelaksasi pikirannya yang terkontaminasi oleh huruf kapital Cinta.


"Bayangkan wajah, Kinan! agar pikiranmu bisa relaks, Naru!"


Naru mencoba membayangkan wajah Kinan namun, sialnya malah wajah Cinta yang berputar-putar dalam otaknya.


Naru segera menegakkan kembali posisi duduknya. "Apa gadis itu memiliki pengaruh yang kuat dalam pikiranku? ... tidak! ini pasti karena pengaruh chat tidak jelas dari, Si Gadis Bebek!"


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, waktunya Cinta pulang karena jam kerja para karyawan perempuan dibatasi, untuk jam malam urusan para karyawan Pria Karena Chef di restoran itu pada bagian tiap hidangan bukan hanya 1, melainkan 2, bahkan ada yang sampai 3, yaitu Chef main course karena pelanggan Resto Naru memang sangat banyak. Alasan para pelanggan betah adalah para karyawan yang masih muda dan paras yang pastinya tak perlu diragukan lagi.


Naru bisa dikatakan Chef paling beruntung karena para karyawan yang mendaftar menjadi bagian dari Restonya memiliki paras yang membuat para pelanggannya betah kembali makan di tempatnya. Karyawan pria tampan dan yang wanita cantik, intinya Resto itu paket komplit yang kurang hanya satu, yaitu sang pemilik Resto masih bujang tak memiliki seorang pendamping.


Cinta sudah berada di parkiran hendak menjalankan motornya namun, suara bariton seorang pria terdengar memanggilnya.


"Cinta!"


Cinta yang sudah siap melajukan motornya menoleh ke arah sumber suara.


Naru berjalan ke arah Cinta. Pria itu berlari kecil untuk menghampiri Asistennya. "Besok pagi kita berangkat bersama!"


Karena kaca helm Cinta masih tertutup, gadis itu membuka kaca helmnya. "Aku jadi nyamuk, ya?"


"Nyamuk?" tanya Naru dengan kening yang sudah berlipat-lipat mengkerut karena ia tak mengerti dengan maksud dari ucapan Cinta.


"Ya! kau dan, Kinan! sementara aku sendirian di belakang menjadi penonton," celoteh Cinta sekenanya.


Naru menutup mulutnya karena ia merasa raut wajah Cinta seperti seorang kekasih yang tengah cemburu pada prianya.


"Tertawa saja terus! kau memang suka melihatku seperti orang bodoh!" Cinta membuang mukanya setelah selesai mengatakan hal itu.


Naru mendekat ke arah Cinta menyentuh kedua pipi gadis itu gemas. "Kau sangat menggemaskan jika sedang marah seperti ini! apa kau tak sadar? kau itu seperti seorang gadis yang cemburu pada kekasihmu," tutur Naru tersenyum pada Cinta.


"Aku tidak mau punya pacar sepertimu!"


Naru mengusap lembut pipi Cinta dengan ibu jarinya. "Kinan akan berangkat sendiri dan besok hanya kau dan aku yang akan berada di dalam mobil, jadi kau bisa melihat wajahku sesukamu," goda Naru sedikit mencubit gemas pipi Cinta.


Cinta diam memandang kedua mata kebiruan Naru. "Awas saja aku dijadikan obat nyamuk, ya! dan kau harus ingat! lebih baik aku tidur daripada memandangi wajahmu yang ingin aku acak-acak."


"Biar sekalian saja tak ada yang suka padamu," lanjut Cinta dalam hati.


Cinta melepaskan tangan Naru yang masih menempel pada pipinya. "Aku mau pulang! bye!"


Cinta segera melajukan motornya keluar dari halaman Resto milik Naru.


"Jam 8 kita berangkat!" Naru sedikit berteriak agar Cinta mendengar ucapannya.


"Menggemaskan sekali," gumam Naru tersenyum sembari berbalik masuk ke dalam Restonya.

__ADS_1


__ADS_2