Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 63


__ADS_3

Naru berpapasan dengan Cinta tepat di ruang makan. "Apa kakimu sudah lebih baik?" tanya Naru dengan raut wajah yang masih sedikit cemas. "Sudah lebih baik," sahut Cinta dengan suara lembut yang terdengar berbeda, karena Cinta terbiasa bertengkar, jika bertemu dengan Naru.


"Apa kau sudah mandi?" tanya Naru lagi.


Cinta hanya menggeleng polos karena Naru mengatakan, jika kakinya tak boleh terkena air.


"Kau serius?" tanya Naru lagi dan lagi namun, kali ini wajahnya kaget bukan main.


"Seriuslah! kau yang mengatakan padaku, luka ini jangan sampai terkena air, jadi pagi ini aku tak mandi, hanya ... mencuci muka dan sikat gigi saja," jelas Cinta menundukkan wajahnya menahan malu.


Naru menutup mulutnya dengan sebelah tangan lainnya berada di perutnya menahan tawanya yang akan meledak. "Kenapa gadis ini begitu polos, sih!"


Niat yang awalnya akan ke dapur, kini langkah pria itu beralih ke arah Cinta yang masih menundukkan kepalanya.


Saat kedua kaki Naru sudah dapat dijangkau oleh kedua mata Cinta, akhirnya wajah gadis itu terangkat secara perlahan. Keduanya saling tatap dengan pertanyaan yang muncul dalam benak Cinta, untuk apa pria ini berada di hadapannya.


Naru tersenyum sembari mendekatkan wajahnya ke arah Cinta dan gadis itu reflek memundurkan tubuhnya ke belakang.


Tubuh Naru nampak condong ke depan yang gagal menyentuh sasarannya.


"A-apa yang kau lakukan?" tanya Cinta dengan wajah yang sudah mulai bersemu kemerahan.


Bukannya menjawab, Naru malah selangkah mendekati Cinta, mengikis jarak yang awalnya renggang. "Diam jangan bergerak!"


Cinta sedikit takut dengan perintah Naru namun, ia mencoba menghilangkan perasaan itu. "Kau mau apa, sih!" Cinta nampaknya mencoba menjauh dari Naru agar perasaannya tak semakin bersemi.


"Aku ingin memastikan sesuatu," sahut Naru kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Cinta dan spontan gadis itu menutup kedua matanya rapat-rapat.


Naru tersenyum geli karena ia tahu, apa yang saat ini ada dalam pikiran gadis yang berada di hadapannya.


Bibir yang awalnya mengarah pada bibir Cinta, kini benda kenyal milik Naru itu berubah haluan ke arah puncak kepala asistennya namun, bukan bibir yang mendarat, melainkan ujung hidung mancungnya. "Kecut!"


Mata Cinta terbuka lebar dan wajahnya menengadah ke atas melihat ke arah Naru yang lebih tinggi darinya. "Apa yang kau katakan?"


"Kecut!"


"Siapa yang kau sebut kecut, Chef Naru!"

__ADS_1


"Siapa lagi jika bukan gadis yang tak mandi," ledek Naru menaik turunkan sebelah alisnya menggoda Cinta.


"Aku tidak mandi juga karena perintahmu, kan? jadi aku menurut saja," celoteh Cinta membela diri.


"Kenapa kau menuruti perkataanku?"


Cinta diam kala Naru melontarkan pertanyaan yang tak mampu ia jawab. "Ahhh! pasti ini gara-gara perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sampai aku seperti kerbau yang di cocok hidungnya, harus menuruti semua perintah pria ini."


"Kenapa diam! ayo jawab!"


"Ya karena aku ingin cepat sembuh, lah!"


"Yakin hanya karena itu?" tanya Naru lagi mendekatkan wajahnya pada wajah Cinta.


"Ya-yakin!"


"Aku kira kau sudah mulai terpesona dengan paras tampanku ini," ujar Naru yang cukup bangga dengan ketampanan wajahnya.


Bibir Cinta terkunci rapat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Naru. Tiba-tiba hal tak terduga terjadi. "Bagaimana jika itu benar," lontar Cinta yang secara tak langsung ingin melihat reaksi Naru.


Senyum Nara sirna seketika saat Cinta membuka suara dan kini tatapan mata keduanya saling terfokus.


"Tak perlu aku jelaskan, kau pasti sudah sangat tahu jawabannya," jelas Naru membuat senyum kecut dari bibir Cinta terukir. "Aku hanya bercanda, jangan masukkan ke dalam hati perkataan konyolku itu dan mari kita lekas selesaikan semuanya, agar aku bisa bersama dengan pria yang mencintaiku, seperti kau mencintainya," tutur Cinta tersenyum pada Naru dan gadis itu meninggalkan Naru pergi ke arah teras.


Naru masih diam memperhatikan punggung Cinta yang perlahan menghilang dibalik pintu masuk villa tersebut, sementara dua orang tengah berada di ambang pintu dapur menyaksikan adegan demi adegan yang Naru dan Cinta lakoni sedari tadi.


Kinan yang menyandarkan bahunya ke kusen pintu dapur, melihat ke arah Dio, sementara Dio membawa sepiring telur lengkap dengan saus sambal dan kecap.


"Apa kau masih akan tetap mempertahankan adikmu itu di sisimu?" tanya Kinan dan Dio melihat ke arah dokter muda tersebut. "Apa kau masih berusaha untuk membujukku?" tanya balik Dio pada Kinan.


"Tentu saja! demi kebahagiaan dua insan yang tak sadar akan perasaan mereka," sahut Kinan mantap.


Dio diam mencerna tiap kata yang Kinan lontarkan. "Jika melihat kejadian tadi, sudah dapat dipastikan mereka berdua memiliki perasaan, jika tidak ... tak mungkin sampai sedekat itu, bahkan itu bukan masuk dalam kata dekat, tapi sudah seperti pasangan kekasih."


Dio menatap Kinan kembali. "Akan aku coba, jika membuahkan hasil, akan aku tuntaskan sampai akhir, demi kebahagiaan, Cinta!"


Kinan tersenyum pada Dio. "Nampaknya kau sudah mulai memahami arti cinta sesungguhnya," cibir Kinan melangkah ke arah meja makan, diikuti Dio dibelakangnya.

__ADS_1


Naru ternyata sudah berada di meja makan namun, pria itu sendirian disana saat Dio dan Kinan menghampirinya. "Cinta mana?" tanya Kinan pura-pura tak tahu.


"Tadi dia keluar," sahut Naru kembali melamun.


"Kenapa aku kepikiran dengan ucapan gadis bebek itu, ya? kenapa aku tak ingin hubungan palsu ini cepat berakhir, tapi jika tidak ... akhhh! sudahlah jangan terlalu dipikirkan."


Kinan menyenggol lengan berotot Dio. "Ap ...."


Dengan gerakan cepat, Kinan menutup mulut Dio agar tak berteriak menganggu lamunan Naru. "Diam! dia sedang khusyuk melamun, pasti karena masalah tadi," bisik Kinan tepat ditelinga Dio.


Dio hanya manggut-manggut menuruti semua perkataan Kinan.


"Hmmmmm!"


"Ssstttt! diam dong!"


Kinan masih tak paham maksud Dio dan Dio terus bergumam tak jelas dengan mulut disumpal oleh telapak tangan Kinan. "Apa ...."


Dio langsung memberikan isyarat dengan matanya yang melihat ke arah mulutnya yang disumpal.


Kinan segera melepaskan tangannya dari mulut Dio. "Maaf!"


Naru masih setia melamun, sementara Dio sudah berjalan ke arah teras untuk memanggil Cinta.


Beberapa detik kemudian, akhirnya Dio masuk bersama dengan seorang gadis yang sengaja ia rangkul mesra.


Kinan dan Naru sedang menunggu Cinta dan Dio.


Ternyata Naru sudah tak melamun lagi. Kepala Naru menoleh ke arah Cinta dan ....


Buugg buuggg jeddeerrr


Suara hantaman dan petir secara bersamaan melewati kedua telinga Naru, hingga rasanya ia ingin sekali berteriak karena bunyi itu sangat nyata. "Jadi kau pergi keluar agar dia menjemputmu dan merangkulmu seperti itu," gerutu Naru yang mulai tersulit emosi.


"Cepat makan! setelah itu semuanya ganti baju untuk naik banana boat," titah Naru cukup keras dengan suara dinginnya.


Kinan tersenyum diam-diam sembari mengambil makanan ke atas piringnya.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, GIFT, VOTE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 😘😘😘


__ADS_2