Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 28


__ADS_3

Naru melepaskan kecupan pada kening Cinta sembari berkata, "Kau milikku!"


Kini mata keduanya saling tatap. Cinta terkejut, sementara Naru tersenyum ke arah Cinta yang masih diam seperti patung.


Zayn masih melihat ke arah keduanya bergantian karena ia tak percaya jika mereka berdua benar-benar akan bertunangan.


"Hanya itu?" tanya Zayn pada keduanya membuat Cinta menoleh ke arah Zayn yang awalnya tertegun dengan perlakuan Naru padanya dan Naru juga melihat ke arah sahabatnya. "Maksudmu?" tanya Naru pada Zayn.


"Aku juga bisa mencium kening Cinta untuk menunjukkan jika kami akan bertunangan," jelas Zayn.


"Jadi kau masih tak percaya?" tanya Naru lagi.


"Bukan tak percaya, tapi kurang meyakinkan," sahut Zayn menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dengan tangan dilipat di dada.


Cinta melihat ke arah Naru dan pria itu juga melihat ke arahnya.


*"Bagiamana ini? ciuman di kening saja dia tak percaya, aku harus bagaimana lagi."


Cinta mulai takut akan kebohongannya yang akan terbongkar, sementara Naru malah berjongkok di hadapan Cinta membuat gadis itu tersentak memundurkan tubuhnya menempel pada sandaran sofa. "Ap-apa yang akan kau lakukan?" tanya Cinta dengan wajah sedikit waspada.


Zayn bisa melihat jika Cinta nampak waspada terhadap Naru.


*"Jika mereka berdua memang sepasang kekasih, Cinta tak akan merespon seperti itu."


Naru tersenyum pada Cinta dengan tangan kekarnya menyentuh tangan gadis penjual kue tradisional tersebut. "Kau kebiasaan ya! jika aku ingin membuktikan cintaku padamu, kau selalu bersikap seolah-olah kita ini sepasang kekasih yang baru pertama kenal saja," bual Naru mengintruksikan pada Cinta agar gadis itu bersikap senatural mungkin.


Cinta mengerti maksud ucapan dari Naru dan ia segera melakukan tugasnya sebagaimana mestinya. "Maaf! aku hanya merasa tak nyaman ...."


Cinta melihat ke arah Zayn. "Aku merasa tak nyaman jika ada orang lain yang melihat kemesraan kita," sambung Cinta melengkapi ucapannya yang sempat terpotong.


Zayn masih tetap dalam pendiriannya. Ia masih yakin jika mereka berdua tak ada hubungan apapun.


"Santai saja! aku hanya ingin memastikan saja," celetuk Zayn tersenyum simpul.


Cinta melihat ke arah Naru sembari menelan ludahnya pelan.


Naru tersenyum manis melihat kelakuan konyol Cinta. "Ada aku disini, jadi kau akan aman tak perlu takut dengan tatapan Zayn pada kita berdua dan kita buktikan sekarang saja jika kita berdua memang benar-benar saling mencintai," tutur Naru menyentuh pipi Cinta dengan lembut penuh cinta.


Cinta melirik ke arah telapak tangan Naru yang sudah menempel sempurna pada pipi kirinya.


*"Mau apa dia? jangan bilang dia akan melakukan ...."


Perlahan telapak tangan Naru yang awalnya berada di pipi Cinta mulai bergerak menuju arah tengkuk gadis itu dan tubuh Cinta tanpa ia sadari sudah menegang karena sentuhan lembut tangan Naru mulai menjalari tubuhnya.


*"Kenapa dengan tubuhku? semua bulu kudukku merinding dan tanganku juga berkeringat dingin."


Naru tersenyum ke arah Cinta dengan wajah yang juga mulai mendekati bibir tipis gadis itu.


Semakin dekat jarak wajah keduanya semakin bertambah pula debaran jantung Cinta karena kelakuan Naru padanya.

__ADS_1


Kini ujung hidung mereka berdua sudah bersentuhan dengan jarak bibir yang sudah tinggal beberapa Senti lagi.


"Tutup matamu dan rasakan sensasi yang akan aku berikan padamu," pinta Naru karena mata Cinta masih terbuka lebar.


Cinta menggelengkan kepalanya pelan karena ia sungguh tak bisa melakukan itu. Cinta tahu apa tahap selanjutnya yang akan terjadi jika dia melakukan hal yang diminta oleh Naru.


Naru mengangkat tangan kirinya menggapai pipi kanan Cinta dan kini wajah Cinta sudah berada dalam genggaman kedua tangan Naru. "Kau milikku, Cinta!"


Lensa kebiruan milik Naru menatap lekat lensa mata Cinta yang juga membalas tatapan mata Naru dengan jarak yang sangat dekat.


"Kau milikku, Cinta!" Naru kembali meyakinkan Cinta.


Napas hangat Naru menyeruak hangat di sekitar wajah bagian bibir Cinta.


Seakan terhipnotis oleh ucapan Naru, Cinta memejamkan matanya mengikuti instruksi Bosnya.


Arah tatapan mata Naru tertuju pada bibir Cinta.


Deg deg


Jantung Naru berdetak kencang kala ia melihat warna pink indah bibir kekasih palsunya itu.


*"Bubble gum! wangi permen yang ingin aku kunyah sampai tak tersisa rasa manisnya."


Pikiran Naru kali ini sudah dipenuhi dengan wangi bubble gum yang ia hirup dari wangi bibir Cinta.


Lima senti lagi


Empat senti lagi


Tiga senti lagi


Dua senti lagi


Zayn mengepalkan tangannya karena ia bisa melihat jika bibir mereka berdua hampir menyatu.


Saat satu senti lagi bibir itu akan menyatu, tiba-tiba ....


Suara ponsel Naru berbunyi dan gerakan wajah Naru terhenti di hitungan satu senti itu.


Mata Cinta yang awalnya terpejam kini terbuka lebar dengan wajah Naru masih berada di hadapannya sebagai pemandangan utama dalam indera penglihatannya.


Naru memundurkan sedikit wajahnya dengan senyum manis ia tebarkan pada Cinta. "Sepertinya kita tak diperbolehkan berciuman di depan seorang pria jomblo," sindir Naru pada Zayn.


Zayn menghela napasnya karena bibir Cinta masih tak tersentuh oleh bibir Naru. "Tuhan masih menjaga keperawanan bibir Cinta untuk calon suaminya," celetuk Zayn.


Naru tersenyum manis menatap ke arah Cinta tanpa menanggapi ucapan Zayn. "Kau milikku! semua yang ada pada tubuhmu adalah milikku! termasuk bibir ini," tutur Naru menyentuh bibir kenyal Cinta di hadapan Zayn tanpa rasa malu.


Tangan Zayn ingin sekali menyingkirkan tangan nakal Naru.

__ADS_1


*"Aku masih tak yakin jika mereka berdua benar-benar memiliki rasa cinta."


Dering ponsel Naru berhenti dan si empunya ponsel melihat ke arah ponselnya untuk memastikan siapa yang menghubunginya.


Saat Naru melihat ponselnya, ternyata sang ibu yang menghubunginya.


Naru kembali menghubungi Zinnia agar Zayn percaya jika Cinta adalah calon istrinya.


Naru menekan tombol laudspeaker agar Zayn bisa mendengar obrolannya dan sang ibu. Naru tahu jika ibunya akan bertanya perihal masalah pertunangannya nanti malam.


"Halo, mom!"


"Calon menantu mommy dimana?"


"Dia sedang bersamaku, mom! ada apa?"


"Jangan lupa katakan padanya jika keluarga kita akan ke rumahnya untuk membicarakan acara pertunangan kalian berdua."


Naru melihat ke arah Zayn. Ia ingin memberitahu pada sahabatnya itu, jika Cinta memang benar-benar calon istrinya.


Wajah Zayn masih datar namun, sebenarnya hatinya sudah bergejolak mendapatkan kenyataan yang tak ia harapkan.


*"Sabar, Zayn! kau pasti akan menemukan kebohongan yang Naru sembunyikan darimu karena ia sangat mencintai, Kinan!"


"Sudah, Mom! aku akan mengantarnya pulang!"


"Baiklah, Nak! sampai bertemu nanti malam."


"Oke, mom!"


Zinnia mematikan panggilan dari putranya dan Naru mulai berdiri. "Aku akan mengantarmu pulang," ujar Naru pada Cinta.


"Tapi ...."


Naru menundukkan tubuhnya dan ....


Cup


Kecupan mendarat pada pipi kanan Cinta. "Kau harus terbiasa dengan ini karena aku akan melakukannya setiap kita bertemu," goda Naru membuat pipi Cinta memerah.


Naru hendak menegakkan tubuhnya namun, tangannya ditarik oleh Cinta sehingga tubuh pria itu semakin menunduk. "Aku juga akan melakukan hal itu padamu!"


Cup


Cinta mengecup pipi kiri Naru membuat pria itu terkejut bukan main dengan jantung yang sudah berjingkrak-jingkrak tak karuan.


Tatapan mata keduanya saling bertemu. "Satu sama," goda Cinta tersenyum manis pada Naru.


Gadis itu menoleh ke arah Zayn. "Maafkan kami berdua ya, Chef Z!" Cinta mendorong kecil tubuh Naru agar ia dapat berdiri dan keluar dari ruangan itu dengan mudah.

__ADS_1


__ADS_2