Cinta Milik Naru

Cinta Milik Naru
Bab 7


__ADS_3

Zinnia menatap kedua anak manusia itu secara bergantian mencari kebenaran dari semua ucapan yang dilontarkan oleh mulut putranya. "Jadi status hubungan kalian saat ini sebagai apa?" tanya Zinnia masih menatap tajam ke arah sang putra.


Cinta yang awalnya menatap ke arah Naru beralih menatap ke arah ibu dari calon Bosnya. "Kami ...."


"Kami sepasang kekasih, Mom!" Naru memotong ucapan Cinta yang hendak menyatakan kebenarannya.


Cinta menoleh ke arah Naru menatap Chef Yunani itu tajam setajam celurit.


*"Pria ini sinting atau ada kelainan sifat ya? enak saja mengaku kita sudah berpacaran! kenal saja baru belum 2 jam, sudah seenaknya memberikan lebel seorang Cinta Prameswari pacar Si Kingkong ini!"


Naru hanya tersenyum manis pada Cinta kala perempuan di hadapannya ini menatapnya tajam.


*"Idih! pakai acara tersenyum begitu! kau kira aku ini perempuan apa?"


"Jadi kalian benar-benar sudah resmi berpacaran?" tanya Zinnia lagi pada keduanya.


Naru mengacungkan jempolnya pada sang ibu. "Pastinya, Mom! Mommy masih tak percaya pada kami? apa Mommy perlu aku menciumnya untuk membuktikan jika kami memang sepasang kekasih?" tanya Naru yang sebenarnya tak ingin mengucapkan hal itu namun, ia tak ingin ibunya curiga.


Cinta semakin ingin menampar pipi Naru karena pria ini berani bertindak lebih jauh.


*"Awas saja dia sampai melakukan hal itu! aku akan menamparnya sampai pingsan!"


"Keenakan padamu, Naru! tunggu kalian berdua sudah sah, baru boleh di obok-obok," ujar Zinnia pada putranya membuat Cinta semakin terkejut.


*"Sah? maksudnya aku akan menikah dengan Si Kingkong kaku ini? aku masih ingin berpacaran dan menikmati masa-masa indah bersama orang yang aku cintai, bukan dengan pria kaku macam dia."


*"Pasti ibunya hanya bercanda! jadi aku tak mau memikirkan hal yang tak mungkin akan terjadi."


Wajah Cinta yang awalnya terlihat tegang kini berubah lega seketika karena ibu dari pria Kingkong itu tak mengindahkan perkataan putranya.


"Jadi Mommy percaya padaku kan?" tanya Naru ingin mengetahui sebatas mana kepercayaan sang ibu padanya.

__ADS_1


"Tentu Mommy percaya padamu dan kau harus membawa pacarmu itu nanti malam! siapa namanya?" tanya Zinnia tersenyum pada calon menantunya.


"Cinta!" Naru menjawab pertanyaan ibunya.


Zinnia tersenyum manis pada Cinta. "Calon menantuku selain cantik, namanya juga penuh dengan arti kebahagiaan tersendiri bagi orang yang merasakan cinta seperti namamu," puji Zinnia.


Naru tersenyum lega karena sang ibu tak curiga sama sekali padanya.


*"Untuk Mommy tak curiga padaku!"


"Mommy langsung ke butik dulu ya! ingat! jangan suka berduaan sebelum kalian berdua sah," ledek Zinnia kemudian berbalik badan keluar dari dapur restoran milik putranya.


Cinta segera menarik tangannya dari genggaman tangan Naru. "Saya akan menjelaskan kepada ibu Anda jika kita berdua tak ada hubungan apapun," tutur Cinta hendak melangkah mengejar Zinnia namun, pergelangan tangan Cinta kembali ditarik oleh Naru.


Karena tarikan Naru sedikit kencang membuat tubuh Cinta membentur tubuh Naru.


Kini tangan Naru berada di pinggang Cinta karena Chef tampan itu takut tubuh Cinta terjatuh jadi ia berinisiatif mencengkram erat pinggang ramping calon Asistennya.


Mata Cinta kembali melebar karena jarak wajahnya dan wajah Naru kembali berdekatan. Tangan Cinta juga berada di dada bidang Naru dengan otot-otot dada yang begitu terasa kekarnya.


Kini mata keduanya masih saling tatap. "Jangan berani kau mengejar, Mommy!" Naru mulai mengeluarkan ultimatumnya.


Kening Cinta mengkerut sempurna. "Kenapa? bukankah kita memang tak ada hubungan apapun! kita berdua hanya baru bertemu hari ini," cecar Cinta.


Naru masih diam menatap wajah Cinta. "Kau ini cerewet sekali ya!"


Cinta dibuat kesal dengan kata-kata pedas yang keluar dari mulut Naru. "Jika aku cerewet, kenapa kau berkata pada ibumu jika kita berpacaran? kenapa kau tak minta bantuan pada perempuan lain atau wanita yang kau cintai," kesal Cinta yang sudah tak berkata formal lagi pada Naru dan masih dengan posisi tetap seperti tadi, keduanya terlihat sama-sama nyaman merasa tak terganggu sama sekali. Mungkin karena terfokus dengan pemikiran masing-masing.


"Jika perempuan yang aku cintai juga mencintaiku, aku tak akan bersusah payah mengatakan kau ini pacarku pada, Mommy!"


"Jangan bilang jika perempuan itu ...."

__ADS_1


Perkataan Cinta terhenti dan gelak tawa tak dapat ia tahan lagi.


"Hahaha!"


Cinta menundukkan kepalanya sembari memukul dada Naru karena ia baru tahu jika pria setampan Naru bisa ditolak oleh seorang perempuan. "Pasti wajah tampanmu itu sudah tak menarik lagi, atau wajah sepertimu sudah banyak dipasaran," celoteh Cinta masih terus tertawa terbahak-bahak.


Naru dibuat kesal dengan perkataan Cinta. "Aku hanya kurang berusaha saja karena kami sama-sama sibuk," elak Naru yang malu pada Cinta.


"Terserah kau saja, aku tak perduli! yang jelas aku akan mengatakan kebenarannya kepada ibumu sekarang juga!"


"Meskipun aku memberikanmu gaji lebih dari 50 juta itu," tawar Naru yang tahu akan kelemahan Cinta karena orang yang mau menjadi Asistennya hanya orang yang melihat nominal gaji yang ia cantumkan.


Cinta kembali menatap kedua iris mata Naru. "Apa maksudmu?" tanya Cinta berpura-pura bodoh, padahal dia sudah tahu akan maksud Naru.


"Aku akan memberikanmu gaji 200 juta jika kau mau tutup mulut dan mengikuti semua drama yang aku buat, ditambah lagi, kau harus membantuku menaklukkan perempuan yang aku incar," jelas Naru mulai melakukan kesepakatan dengan Cinta.


Mata Cinta seketika berubah cerah berbintang dengan bayangan lembaran uang bersayap mulai mengitari isi kepalanya.


Naru tersenyum tipis karena ia bisa tahu apa yang tengah Cinta bayangkan saat ini.


*"Ditampol uang segepok saja sudah runtuh!"


Cinta mengembalikan kesadarannya dan tersenyum manis pada Naru. "Baiklah aku akan menerima tawaran darimu!"


Naru mendorong tubuh Cinta dan kini jarak mereka sudah berjauhan. "Deal! mulai hari ini kita resmi bekerja sama dan kau bukan hanya Asistenku saat di dapur, tapi kau juga pakar cintaku," ujar Naru sembari mengulurkan tangannya tanda sepakat.


Cinta masih terdiam mencerna perkataan Naru. *"Pakar cinta? aku saja belum pernah berpacaran! ah, sudahlah! yang penting uang 200 juta sudah bisa aku dapatkan."


Cinta membalas uluran tangan Naru padanya. "Deal!"


Naru tersenyum sembari melangkahkan kakinya hendak keluar dari dapur itu namun, langkahnya terhenti tetap di samping Cinta sembari berbisik pada telinga pakar cintanya tersebut, "Berdekatan denganmu terlalu lama, membuatku merasa gerah karena kau terlalu cerewet dan jangan lupa bersihkan kotoran yang berada di lantai itu karena kebersihan dapur merupakan bagian paling penting agar semua masakan restoran ini terjamin kebersihannya."

__ADS_1


Naru melanjutkan langkahnya dan Cinta hanya komat-kamit tak beraturan sembari mulai membersihkan lantai bekas kulit pisang tadi.


Cinta tak sadar jika para Chef dan karyawan lainnya sudah menonton kejadian langka selama mereka bekerja di resto itu karena pemilik restoran tersebut tak pernah seintim ini dengan wanita, apalagi orang baru.


__ADS_2