
Khanza ingin memasuki mobilnya, terhenti karena mendengar sesorang memanggil nama orang yang selalu menghantui pikirannya.
Mencari sumber suara dan mendapati geng centil dan dua orang yang begitu sangat-sangat di kenalnya, mencoba mendengarkan percakapan mereka di balik mobil hitam miliknya.
Vera yang saat itu datang dan meminta pulang dengan Arif, hingga Sofi yang juga meminta pulang dengan Randra.
Ada rasa cemburu yang menguras hati, rasa yang begitu di benci oleh Khanza. Rasa itu, telah hadir di dalam sebuah hati rapuh yang dimiliki Khanza. Sakit, hanya itu yang di rasa apalagi setelah mengetahui orang yang saat ini di kagumi, dengan batas yang paling kagum, ternyata sekarang sudah memiliki seorang kekasih yang memang sangat jauh jika di bandingkan dengan dirinya, dari segi fisik dan kecantikannya.
Khanza sadar bahwa dia sangat jauh berbeda dari perempuan tambatan hati Arif. Dia hanya seorang itik yang buruk rupa, mana mungkin bersaing dengan seorang angsa.
Sakit tetaplah rasa sakit, meskipun kita menyadari siapa kita sebenarnya, ketika memang tidak seperti apa yang kita bayangkan sakit itu akan selalu ada.
Beberapa kali menyeka air mata yang keluar dari mata indahnya, Khanza masih terus mendengarkan dan melihat mereka dari balik mobil, sampai mereka benar benar pergi dari sekolah itu.
Khanza masuk kedalam mobilnya, menangis sejadi-jadinya. Menangisi hati yang begitu rapuh. Khanza bingung dengan apa yang dia rasa, kenapa harus menangis hanya karena sebuah sesuatu yang memang bukan untuknya.
'Aku hanya mengagumi dirinya. iya, hanya sebatas rasa kagum, kenapa harus ada air mata. Ini tidak boleh terjadi! aku tidak mungkin mencintai dia! dia terlalu sempurna untukku, dia pantas mendapatkan seseorang yang memang sepadan dengannya.'
Mencoba menguatkan diri sendiri dengan menampik sebuah rasa cinta dengan kata kagum.
Cinta meskipun di ralat dengan kata mengagumi tataplah rasa cinta. kata kagum hanya sebuah motivasi untuk membangkitkan diri dari sebuah keterpurukan hati yang tersakiti.
cinta mencari jalannya sendiri, mencari hati yang tepat untuk di singgahi. Meskipun selalu ada kata sakit untuk sebuah hati tapi dia akan mengobati diri dengan sendiri, jadi biarkan waktu yang akan menjawab sebuah rasa cinta, bagaimana dia menjalani perannya di dalam diri kita.
Merasa sedikit lebih tenang, Khanza mencoba melajukan mobilnya dengan sesekali mengusap air matanya. Air mata yang terus keluar dari kelopak mata Khanza setetes demi setetes, membuat pandangannya sedikit kabur.
Ciiittt!
Decitan suara ban mobil yang di paksa rem mendadak. Khanza hampir saja menabrak sesorang, dia langsung menuruni mobilnya untuk melihat orang yang hampir saja di tabraknya. Terlihat seorang laki-laki yang berdiri dengan muka merah menahan amarah, bagaimana tidak, dia yang menyebrang jalan tiba-tiba saja hampir di tabrak mobil yang di kemudikan Khanza.
"Maaf, saya tidak berhati-hati?" ucap Khanza meminta maaf.
"Khanza!" ucap laki-laki itu terkejut melihat orang yang hampir menabraknya.
"Kamu, tau nama saya? Apa kamu mengenal saya?" tanya Khanza bingung karena dia tidak merasa mengenal lelaki di hadapannya.
"Tentu aku sangat menegenal kamu," ucapnya dengan senyuman.
Khanza bingung, memperhatikan lelaki tersebebut dari atas sampai bawah, sambil mengingat dimana dia mengenal dan pernah bertatap muka dengan orang ini.
"Haha! pintar tapi, ko, pelupa!" ucapnya tertawa.
__ADS_1
"Aku Faizal, Za! apa kamu sudah melupakan aku, Za?" ucap Faizal, mengingatkan Khanza.
"Fa ... Fai ... zal!" ucap Khanza terbata.
Khanza menatap tidak percaya dengan orang tersebut. Dia sekali lagi menatap dari atas sampai bawah, Faizal hanya membalas senyuman tingah kebingungan Khanza.
"Ini beneran, Faizal?" tanya Khanza sekali lagi.
"Menurut Kamu?"
Khanza menghambur memeluk sahabat kecilnya itu dan di sambut hangat oleh Faizal.
"Aku kangen kamu, Za?" ucap Faizal.
Khanza melepas pelukannya, memegang pipi Faizal dengan tangisan harunya. Khanza merasa semuanya seperti mimpi indah.
"Ini beneran kamu, 'kan, Faiz? Aku tidak sedang bermimpikan?" ucap Khanza mencubit pipi Faizal.
"Au!" pekik Faizal.
"Ini bukan mimpi," ucap Khanza, air matanya semakin deras keluar dari mata indah Khanza.
"Jangan nangis, Za! aku nggak bisa lihat air mata kamu."
Faizal adalah sahabat masa kecil Khanza, Faizal juga anak dari teman papanya Khanza. Dulu rumah mereka satu komplek, membuat mereka sering bertemu dan bermain bersama, apalagi mereka bersekolah di Sekolah Dasar yang sama, membuat mereka selalu berangkat bersama. Tetapi, sewaktu Faizal lulus, mereka pindah ke luar kota, karena ayah Faizal mendapatkan tugas di luar kota.
Khanza begitu sedih dengan kepergian Faizal, dia tidak mempunyai teman akrab selain Faizal, karena memang jarang sekali ada orang yang mau berteman dengan seorang gadis cupu seperti dia.
Sejak saat itu, dia juga jarang keluar rumah, dan lebih sering menghabiskan waktunya dengan buku-buku juga dengan bermain dengan handponenya.
Sekarang sahabatnya kembali dan menjadi sosok lelaki ganteng, Khanza hampir tidak mengenali Faizal.
"Aku kangen kamu, Faiz! kapan kamu balik? kenapa tidak kerumah? sekarang kamu ...." cerocos Khanza.
Faizal meletakkan telunjuknya di bibir Khanza, membuat Khanza berhenti bicara.
"Ssttt .... Kita masuk mobil kamu aja yo? nanti aku jawab semua pertanyaan kamu. Aku ceritain semuanya di mobil.
"He-he! ayo! pokoknya kamu harus cerita dari A sampai Z." ucap Khanza dengan bahagianya, bahkan dia lupa dengan apa yang baru saja membuat dia menangis dan hampir menabrak Faizal.
"Iya bawel! Ternyata masih bawel ya!" sambil mencubit hidung Khanza, Faizal gemas dengan ocehan Khanza.
__ADS_1
"Auu ... sakit!" rengek Khanza dengan manjanya memegang hidungnya.
"Sakit ya, Za?" khawatir Faizal.
"Sakit! tapi Bohong, Ble ...." Khanza tertawa dan menjulurkan lidahnya ke Faizal.
Faizal hanya tersenyum menggelengkan kepalanya. Memandangi gadis manis yang tertawa lepas memperlihatkan deretan giginya yang putih.
'Masih seperti dulu kamu Za! meskipun cara berpakaian kamu tidak berubah, tetapi kamu makin tambah cantik dan manis, Khanzaku masih Khanza yang dulu.'
"Ini! kunci mobilnya, kamu yang bawa Fa, masih ingatkan jalan pulang," ucap Khanza menyerahkan kunci mobil ketangan Faizal.
Faizal tersadar dengan lamunannya, menerima kunci mobil dan menyusul Khanza yang sudah masuk kedalam mobil.
***
^flasback sebelum Faizal tertabrak.
Faizal dan keluarganya sampai di bandara kota B, kota yang dulu pernah dia tempati dengan keluarganya. Sekarang dia kembali ke kota kelahirannya ini dan akan kembali bersekolah di kota ini. Ayah Faizal yang kembali akan bertugas di kota ini, membuatnya begitu bersemangat.
Di tengah perjalanan Faizal meminta turun karena ingin membeli sesuatu untuk di bawanya nanti ketika menemui sahabatnya Khanza.
"Aku turun di sini aja ya? nanti biar pulang naik taksi!" ucap Faizal pada keluarganya.
Saat keluarganya berlalu, dia berjalan kaki menyebrangi jalan raya untuk ke sebuah toko yang menjual kaos bola. Khanza yang memang suka bola, jadi dia pikir untuk memberi Khanza kaos bola.
Saat itu jalanan terlihat sepi, Faizal pun menyebrang dengan begitu santainya, tetapi ketika sudah hampir sampai di seberang jalan. tiba-tiba ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan dia atas rata-rata dan terlihat sedikit oleng, orang-orang sudah berteriak mengingatkan Faizal. Karena mobil mengarah kepadanya, Faizal yang merasa mobil sudah semakin dekat hanya memejamkan matanya. Untung si pengemudi masih sempat menginjak remnya, sehingga hanya terdengar suara decitan ban mobil yang di paksa rem mendadak, hanya beberapa centi lagi Faizal tertabrak, dia membuka matanya dan menghela nafas lega, karena masih bisa berdiri di tempatnya tanpa kenapa-napa.
Saat dia melihat ada seorang turun dari mobil dia menatap dengan mata tajam, dan muka yang merah padam menahan amarah yang siap untuk meledak.
Seorang perempuan turun meminta maaf dengan wajah tertunduk, setelah dia mengangkat wajahnya, terlihat begitu tidak asing di mata Faizal, wajah sembab dan penuh rasa bersalah yang di tatap Faizal.
Faizal mengingat wajah perempuan itu, perempuan yang sangat ingin di temui Faizal. Sahabat kecilnya, seseorang yang membuat Faizal begitu bersemengat, ketika keluarganya akan pindah kembali ke kota ini.
Faizal langsung memanggil nama perempuan itu dengan wajah yang sudah berubah begitu bahagia, bertemu secepat ini dengan Khanza membuat dia lupa kalau tadi dia sempat ingin marah dengan Khanza yang ingin menabraknya.
Khanza yang sepertinya tidak menegenalinya membuat dia hanya menghela nafasnya,berusaha mengingatkan kembali siapa dirinya.
*Khanza dan Faizal masa kecil.
__ADS_1
*Faizal