CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-71~Sepekan telah berlalu.


__ADS_3

Membuka jendela kamar, Khanza di sambut dengan udara segar. Hawa sejuk embun menyergap, menyapa indera penciuman. Seorang gadis remaja itu, kini sedang menutup matanya untuk menikmati kesejukan suasana di pagi buta.


Di atas sana sinar matahari menyemburatkan cahaya kekuningan, siap menerangi semesta alam. Menyalurkan ke hangatan untuk menemani kehidupan insan yang sedang di landa ke rinduan. Dengan munculnya pagi, kita terbitkan harapan baru. Lahirnya cerah mentari, mampu membangkitkan jiwa yang di rundung sepi.


Menghela nafas panjang, Khanza ingin mengakhiri mimpi buruknya. Mencoba menerima kenyataan dan memulai kembali kehidupan yang tertunda dalam seminggu ini. Seminggu sudah sang sahabat pergi, seminggu juga Khanza tak berhenti menyendiri di dalam kamarnya. Hanya keluar ketika makan pagi, siang dan malam.


***


Arif setiap hari menjenguk sang kekasih. Namun, selalu di abaikan oleh Khanza, bahkan gadis itu selalu menolak menemuinya. Tanpa menyerah dia selalu mengirim pesan melalui handphone, memberikan perhatian dan motivasi untuk Khanza menghadapi kenyataan ini. Puluhan bahkan ratusan pesan yang di kirim Arif, tak pernah mendapat jawaban, entah mengapa hari ini dia teramat begitu kecewa. Dengan tersulut emosi dia mengetik pesan untuk Khanza.


 


Kamu terlalu egois untuk diriku dan dirimu sendiri, Za. Kamu terlalu tega menghukum 'kita' hingga seperti ini. Buka matamu, semua orang juga sedih menerima kenyataan ini, tapi hidup harus di jalani bukan di hindari.


 


 


Melempar poncel ke atas kasur, Arif menjambak rambutnya sendiri. Mengusap kasar wajah kusutnya, dia menerawang kembali kejadian satu minggu silam, yang sudah merenggut satu nyawa sahabat mereka.


Maafin gue, Fa. Gue gagal membahagiakan Khanza. Gue merasa tidak pantas menjadi lelaki yang lo, pinta untuk menjaganya.


"Argh!" teriak Arif frustasi. Pikirannya benar-benar kacau seminggu ini. Kematian Faizal sangat membuat jiwa raganya terguncang. Tidak cukup dengan kehilangan teman, kini sang kekasih pun terus mengabaikannya. Berjalan ke kamar mandi, Arif butuh berendam air panas untuk saat ini.


***


Setelah membaca pesan dari Arif, Khanza mulai sadar. Kalau sebenarnya bukan hanya dia yang terluka, bukan hanya dia yang merasa kehilangan atas kematian sahabatnya. Menghapus air yang keluar dari sudut matanya, Khanza masih berdiri di depan jendela.

__ADS_1


Ceklek!


Pintu terbuka, Zihan masuk dengan gelengan kepala. Dia merasa sangat simpati pada Adik Iparnya itu, mendekat dan membawa Khanza ke dalam pelukan, Zihan memberikan wejangan agar Khanza tidak lama-lama larut di dalam duka mendalam.


"Yang pergi biarkan lah pergi, Za. Kita sudah tidak bisa memintanya untuk kembali lagi, cukup do'a yang bisa kita beri. Sekarang saatnya kita menjalani kehidupan bersama orang-orang yang masih berdampingan dengan kita." Mengusap lembut kepala sang Adik yang sedang terisak di pelukannya.


"Tunjukkan pada Faizal kebahagiaan kamu, Za. Biar dia tenang di sana. Sekarang saran Kakak, kamu kembali menjalani hidupmu, ada Arif dan teman-temanmu yang selalu menanti canda tawamu."


Mendengar nama sang kekasih, Khanza mengurai pelukannya. Dia teringat pesan yang selama seminggu ini tidak pernah di balasnya.


"Arif," lirih Khanza. "Iya, aku harus harus menghubunginya." Dengan panik Khanza mencari-cari poncel yang tadi di lemparnya ke sembarang arah.


"Kak, bantu aku cari poncelku, dong!" pinta Khanza.


Zihan hanya tersenyum menanggapi.


"Kak, ayo dong! aku mau nelpon Arif!" rengeknya menggoyang lengan Zihan.


Khanza langsung berlari tanpa menunggu Zihan menyelesaikan kalimatnya. Menuruni tangga dengan tergesa-gesa bahkan tanpa alas kaki, dia keluar dari kamarnya.


Dua orang lelaki sedang mengobrol santai di ruang tamu, Zay berusaha menasehati Arif agar sabar menghadapi sifat sang Adik. Menyesap habis sisa kopi yang di suguhkan Zihan, Arif berdiri untuk pamit pulang. Walaupun hari ini weekend, Arif takut menggangu waktu istirahat dari Kakak lelaki Khanza itu. Apalagi sekarang, Zay sepertinya kurang enak badan, karena sejak tadi lelaki itu terlihat seperti flu.


"Arif pamit pulang dulu, Kak."


"Lho, kok, pulang? hari ini 'kan minggu, kita bisa santai-santai dulu," cegah Zay.


"Kakak istirahat saja, pasti lelah 'kan? seminggu bekerja!"

__ADS_1


"Kamu ini, Rif. Tahu aja Kakak lagi butuh istirahat."


"Ya sudah, Kak, Arif pulang ya. Kak Zay, jangan lupa minum vitamin, biar segar lagi."


Menyalami Zay, Lelaki itu mengambil kunci mobil yang tadi terletak di atas meja.


"Kakak nggak nganter ke depan ya, Rif. Badan Kakak, rasanya menggigil. Kamu hati-hati ya?"


"Iya Kak. Kak Zay, istirahat aja."


Membalutkan jaket di tubuhnya, Arif segera berlalu pergi dari rumah kekasihnya. Dengan nafas berat dan langkah gontai, dia berusaha menguatkan dirinya agar selalu sabar memberikan waktu untuk Khanza meratapi kesedihan kehilangan sahabat masa kecilnya. Tinggal beberapa langkah, Arif menggapai pintu utama rumah Khanza.


"Jangan pulang!" cegah seseorang.


Menghentikan langkahnya, tubuh itu kini berubah menegang. Arif perlahan membalik badan, untuk memastikan dia tidak salah mendengar suara yang seminggu ini teramat di rindukan.


Khanza langsung menghambur kepelukan lelaki itu, menumpahkan rasa bersalah yang kini sangat terasa. Mengabaikan sang kekasih yang terus sabar menghadapi sifatnya. Mengeratkan pelukan pada lelaki yang sebenarnya sangat-sangat dia rindukan.


"Jangan pergi!" lirih Khanza menggeleng-gelengkan kepala di dada Arif. Air mata gadis itu turun membasahi jaket kulit yang membalut tubuh Arif.


Segera tersadar dari rasa kagetnya, Arif membalas pelukan sang kekasih. Mengelus pelan punggung yang tertutup rambut itu, Arif tersenyum mendengar isak tangis Khanza.


"Iya, aku nggak jadi, pergi." Melepas paksa pelukan mereka, Arif menunduk memegang kedua bahu Khanza. "Sudah dong, nangisnya, jelek tau?" ledek Arif. Dia memutus aliran air mata yang terus turun membanjiri pipi gadis cupunya. Menampilkan deret gigi putih, Arif tersenyum lebar.


"Jelek-jelek gini pacar kamu," cibir Khanza. Memanyunkan bibir, Khanza pura-pura terlihat sedih.


"Iya pacar aku, cuma milik aku." Arif tersenyum gemas, menarik kembali Khanza kepelukannya. Mencium beberapa kali pucuk kepala gadis itu, kini Arif merasa terharu bahagia.

__ADS_1


Selama seminggu dia di abaikan Khanza, bahkan untuk sebuah pesan saja tidak pernah di balas oleh gadis cupu itu. Hampir saja dia putus asa atas segalanya. Namun, janji dengan Faizal membuatnya harus sabar menghadapi Khanza.


Kini dia bisa menghembuskan nafas lega, saat kekasihnya sudah membuka diri untuk bisa menjalani hidupnya kembali. Khanza juga sudah menyesali, karena sempat egois menghukum diri dan orang-orang yang saat ini begitu peduli terhadapnya.


__ADS_2