CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-36~Sesantai itu.


__ADS_3

Khanza memasuki rumahnya dengan kebahagiaan tak terkira, sehingga senyum tak lepas dari bibirnya. Zay mengernyit heran melihat tingkah adiknya.


"Za, Arifnya mana?" tanya Zay.


"Langsung pulang Kak, ada urusan katanya. Tadi dia titip salam sama semuanya."


"Yah! Padahal ada yang mau Kakak omongin sama dia. Nanti Kakak telpon, deh."


"HP Arif rusak Kak. Besok aja Khanza sampein, deh."


"Makasih Adikku. Nanti telpon Kakak ya? kalau kamu lagi sama Arif." ucap Zay mengacak rambut Khanza.


"Siap, Kak. Aku ke kamar dulu, mau mandi, bau acem."


Khanza naik ke atas menuju kamarnya.


***


Arif merapatkan jaketnya. Hembusan angin malam berayun membawa kesyahduan rasa cinta yang menyeruak di hatinya, menyapu muka yang tak henti melukiskan senyum bahagia. Arif berjalan masuk ke sebuah Counter Hp, melihat begitu banyak merek Hp yang ada di dalam kaca. Arif memilih salah satunya, membayar dan berlalu dari sana. Sebelum Arif pergi, matanya terhenti pada benda couple yanga terpajang cantik di sana. Dia teringat Khanza, memutuskan membeli benda itu untuk di pakainya bersama Khanza.


Melirik jam tangan yang bertengger di pergelengan tangannya. Tiga puluh menit lagi jam 9 akan tiba, Arif berjalan masuk ke Black Coffee, sebuah kedai kopi yang sangat indah. Arif memesan kopi untuk menghangatkan dirinya dari suasana malam dingin yang menusuk sampai ketulangnya. Seorang pelayan datang dan meletakkan secangkir kopi panas. Menghirup udara sekitar yang begitu kental dengan aroma kopi yang menenangkan, Arif menyesap kopi panasnya dengan pelan.


Kamu juga jaga hati.


Kalimat terakhir yang di ucapkan Khanza sebelum mereka berpisah. Arif tersenyum mengingat kebersamaannya dengan Khanza, apalagi dengan amarah yang tak terkontrol saat melihatnya bersama lelaki lain. Sungguh lucu apa yang terjadi padanya, cemburu dengan gadis cupu yang hanya sebatas teman. Sampai dia tidak perduli dengan seseorang yang masih berstatus pacarnya.


Khanza, sungguh ingin aku hentikan waktu saat aku bersamamu, agar aku selalu mampu menjaga dan melindungimu.


Arif mengedarkan pandangannya ke sekeliling kedai kopi itu, matanya menangkap sosok seorang wanita yang selama ini berstatus pacarnya. Vera menikmati kopi dengan seorang lelaki yang tidak kalah tampan dari dirinya. Dia hanya tersenyum santai menanggapi Vera yang bergelayut manja pada lelaki itu. Menyesap kopi terakhir dari cangkirnya, Arif memanggil pelayan dan membayar kopinya. Berjalan santai menghampiri meja Vera.


Andai saja yang kulihat sekarang ini Khanza, apa mungkin aku bisa setenang ini.

__ADS_1


"Hai, Ver," sapa Arif santai.


Dua orang yang sedang asik dengan kemesraannya itu menengok bersamaan. Vera terlonjak kaget melihat Arif di depannya, melepaskan tangannya yang menempel di lengan laki-laki itu.


"Rif, aku bisa jelasin. Dia... dia..."


"Sudah lah, sayang. Aku ngerti, Kok." ucap Arif tersenyum lembut.


Vera menganga tak percaya dengan sikap Arif yang begitu santai menanggapinya. Sementara lelaki itu hanya diam menatap keduanya, dia terlihat bingung dengan pemandangan di depannya. Apalagi saat Arif menyebut Vera dengan panggilan sayang.


"Aku pulang dulu ya, sayang. Kamu jangan pulang malam-malam." Arif mengacak rambut Vera pelan, dia beralih menatap lelaki yang masih bingung menatap mereka. "Bro, gue pulang duluan. Jagain pacar gue ya," pamitnya berlalu meninggalkan dua orang yang menganga menatap punggungnya.


Berjalan santai keluar dari Black coffee, rona bahagia begitu jelas terlihat di wajahnya. Yang ada di pikirannya saat ini hanya Khanza dan Khanza, gadis cupu yang dulu sering di hinanya di depan temannya. Sekarang gadis cupu itu mampu mengacak-acak hatinya.


Arif sudah tidak sabar untuk pulang dan mencoba Hp barunya. Menghubungi Khanza, dan bertukar chat dengannya. Padahal baru beberapa jam mereka berpisah, tapi rasa rindu sudah terasa menerpa kedalam jiwa.


Arif memasang helmnya, membelah jalanan menuju tempat peristirahatannya. Meninggalkan Vera bersama lelaki yang Arif tak ingin tahu dia siapa.


Sepeninggal Arif. Vera menganga tak percaya dengan sikap Arif yang biasa saja.


"Apa dia pacar kamu?" pertanyaan dari lelaki menyadarkan Vera dari pemikirannya tentang Arif.


"Bu-bukan, dia suka bercanda orangnya," kilah Vera.


"Iya juga, sih. Masa iya kalau pacar, bisa santai gitu lihat pacarnya sama lelaki lain."


"Biarin aja yang. Kita pulang yo, yang!" ajak Vera pada lelaki itu yang ternyata juga pacarnya.


"Sebentar aku bayar dulu."


Untung aja ini lelaki percaya aja sama aku.

__ADS_1


"Ayo, sayang!" ajak lelaki itu mengandeng tangan Vera. Semntara tangan Vera satunya menenteng banyak kantong belanja. Mereka pergi dari tempat itu dengan kembali bersikap mesra.


***


Khanza merebahkan drinya menatap langit-langit kamarnya, pikirannya terus-terusan di hantui Arif. Hp masih bertengger di jarinya, baru saja Khanza selesai mengobrol dengan Dea. Sahabatnya itu sudah tiga hari tidak memasuki sekolahnya karena sedang ikut liburan bersama keluarga besarnya.


Aku cemburu, Za. Bahkan sangat cemburu. Apalagi kalau ada yang berani meluk kamu.


Sebuah kata yang tidak akan pernah terlupa bagi Khanza. Walaupun bukan sebuah kata cinta, tapi bukankah itu bisa mewakilkan isi hati Arif. Bukan kah cemburu itu tanda cinta.


Khanza memejamkan mata saat mengingat senyum manis lelaki itu. Getaran poncelnya membuatnya membuka mata, menggulir tombol hijau dengan cepat.


Ehem, cepat banget angkatnya.


Iyalah, 'Kan dari kam_ tunggu! katanya Hp-nya rusak. Kok, bisa nelpon?


Baru beli Khanza, ini baru aktifin langsung telpon kamu.


Oh, baru beli. Eh, iya. Tadi Kak Zay, katanya ada yang mau di omongin.


Ngomongin apa?


Nggak tau, kayaknya penting deh. Kamu telpob aja.


Ya, udah, aku telpon Kak Zay, aja. bye sayang.


Arif langsung mematikan telponnya tanpa menunggu jawaban Khanza. Khanza menatap layar telpon yang sudah terputus itu.


Aku nggak salah dengar 'kan. Dia baru saja panggil aku sayang. Maafkan aku Ver. Apa aku salah jika mencintai pacar orang lain, tapi kalau memang ini salah, kenapa rasa ini muncul begitu saja tanpa di minta.


Khanza tersenyum bahagia, membenamkan wajahnya ke bantal. Pikirannya kacau memikirkan lelaki yang sudah memiliki kekasih hati itu.

__ADS_1


Sementara Arif, mukanya merah merona mengatakan kata sayang pada Khanza. Dia menelpon Zay, menanyakan apa yang ingin di bicarakan Zay kepadanya. Tak butuh waktu lama telponya di angkat Kakak lelaki dari Khanza itu. Karena seringnya Arif bertamu kerumah Khanza menjadikannya begitu akrab dengan Kakak lelaki Khanza itu.


Mereka terlihat seperti Adik Kakak. Zay yang tidak mempunyai saudara laki-laki, begitu menyukai Arif yang sepemikiran dengannya. Arif yang notabene-nya anak tunggal menganggap Zay seperti Kakaknya sendiri, Kehadiran Zay membuatnya merasakan bagaimana rasanya mempunyai saudara. Dengan itu dia begitu menghormati Kakak laki-laki dari Khanza itu.


__ADS_2