
Bukannya membawa Khanza ke rumah makan, Arif malah mengajak Khanza ke rumahnya . Memasuki pelataran rumahnya Arif mengajak Khanza masuk kedalam.
"I-ini dimana, Rif?" tanya Khanza bingung.
"Ayo, Masuk. Ini rumahku!"
"Ta-Tapi...."
"Sudah, Ayo!" Arif menarik tangan Khanza.
Meskipun ragu, Khanza hanya menurut pada lelaki itu. Takut dengan emosi Arif yang masih belum stabil, Khanza masuk kedalam rumah mewah itu dengan tangan yang masih bertautan.
"Kok, sepi, Rif?" tanya Khanza mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah itu.
"Ayah, Bunda, lagi di luar kota, Za."
"Kamu sendiri di rumah?"
"Nggak! ada banyak pembantu kok, di rumah," ucapnya santai. Duduk di ruang tamu, Arif menarik tangan Khanza untuk duduk di sebelahnya.
"Saudara kamu nggak ada?" Khanza terus bertanya dengan muka bingungnya.
Arif gemas dan mencubit pipi gadis itu. Arif tertawa saat Khanza memanyunkan bibirnya dan mengusap pipinya.
"Aku anak tunggal, Za."
"Oh.... Pantes manja!" gumam Khanza pelan, tapi masih terdengar oleh Arif.
Arif mengembangkan senyumnya dan mengacak rambut Khanza gemas.
"Arif!" geram Khanza.
"Nanti temani aku makan, aku ke atas dulu!" Arif berdiri meninggalkan Khanza.
"Kemana?" pertanyaan Khanza menghentikan langkah Arif. Dia berbalik menampilkan senyum menggodanya.
"Ke kamar. Mau ikut?" ucap Arif mengedipkan sebelah matanya.
Pipi Khanza langsung memerah. "Ng-nggak!" Khanza berbalik menyembunyikan senyum malu-malunya.
Arif tertawa lepas melihat tingkah Khanza. Meninggalkan Khanza yang masih menunduk malu, Arif pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.
Khanza mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah itu. Matanya menangkap beberapa bingkai Foto yang terpampang di dinding. Seperti ada magnet yang menariknya mendekat pada benda itu. Khanza mengambil salah satu dari foto itu, mengusap pelan dan tersenyum.
Kenapa imut banget sih, apalagi senyumnya.
Khanza mengembalikan Foto itu ke asalnya saat terdengar suara HP-nya berbunyi dari atas meja. Khanza membuka pesan yang dikirim dari nomer tanpa nama.
Dari siapa ya?
Khanza mengernyit heran, dia mengembalikan benda itu ke atas meja tanpa beniat membalasnya. Baru saja HP-nya terletak di atas meja, suara deringan kembali terdengar. Bukan lagi dari pesan tapi kali ini panggilan dari nomor yang tidak di kenal.
Khanza menggeser ragu layar telponnya.
📞"Hallo!"
__ADS_1
📞"Hallo, Za. Ini aku Anton."
📞"A ... Anton!"
Hp Khanza di rebut Arif dari belakang, dengan muka merah padam dia menatap tajam pada Khanza. Arif mematikan telpon yang masih tersambung itu, langsung memblock nomor Anton dari HP Khanza.
"Jangan pernah buka blocknya!" ancam Arif, menyerahkan HP ketangan Khanza.
"B-block...."
"Kenapa? nggak terima? mau telpon lagi?"
"Eh, nggak!"
"Ayo, Kita makan!" ajak Arif berbalik masih dengan muka datarnya.
"Galak banget, sih," gumam Khanza di belakang Arif.
"Kenapa? nggak suka?" balas Arif tanpa berbalik.
"Eh, dengar!" balas Khanza cengengesan.
Arif berbalik menatap Khanza, menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar. Arif memegang dagu Khanza, menuntunnya untuk menatap pada mata Arif.
"Dengar, Za. Aku nggak suka kalau kamu dekat dengan laki-laki lain, apalagi telpon-telponan sama laki-laki lain, termasuk Faizal." jelas Arif.
"Ce-cemburu!" ucap Khanza takut.
Arif tersenyum simpul, dia menarik Khanza ke pelukannya. Sebuah pelukan lembut dari orang yang benar-benar takut akan rasa kehilangan. Arif sekarang sadar kalau dia benar-benar mencintai gadis cupu yang selalu di pandang rendah di sekolahnya.
"Iya, aku cemburu, Za. Bahkan sangat cemburu. Apalagi kalau ada yang berani meluk kamu." Arif semakin mengeratkan pelukannya.
Arif melepas pelukannya, memegang bahu Khanza.
"Sekarang kamu ngerti 'Kan? kenapa aku sering emosi," ucap Arif lembut.
Khanza mengangguk. " tapi, marahnya seram," celetuk Khanza begitu saja.
Arif tertawa mendengar celetukan Khanza yang terlalu jujur. "Makanya jangan suka bikin marah. Sudah yo, makan!" Arif meninggalkan Khanza berjalan lebih dulu ke dapur.
Siapa yang bikin marah? dia-nya aja yang suka marah nggak jelas. Dasar!
Khanza menyusul Arif kedapur. Ada Bibi yang sibuk menyiapakan makanan untuk mereka.
"Kayaknya enak, nih, Bi!" celetuk Khanza.
"Eh, Non...."
"Khanza," potong Khanza.
Arif hanya duduk tanpa memperdulikan dua wanita yang mengobrol itu.
"Non, Khanza. pacar Den Arif?" tanya Bibi itu begitu saja, dia hanya menduga karena Arif yang belum pernah sekali pun membawa wanita kerumahnya.
Khanza menatap Arif, tapi yang di tatap tidak perduli, dia malah asik mengambil makanannya sendiri.
__ADS_1
"Bu-bukan Bi, Saya teman sekolahnya!" jelas Khanza.
"Ehem...." deheman dari Arif membuat Khanza kikuk.
"Ayo makan, Za!" ucapnya datar.
Khanza dan Bibi langsung diam ketika melihat muka datar Arif. Khanza duduk dan mengambil makanannya. Bibi juga kembali dengan aktifitasnya.
Khanza makan dengan lahapnya, tapi deringan poncelnya membuatnya menengok pada benda pipih di sampingnya.
"Siapa?" tanya Arif menatap tajam Khanza, dia masih sensi jika ada yang menelpon Khanza.
"Kak Zay." Khanza mempelihatkan layar telponnya, tertera nama Kak Zay disana.
"Angkat aja, bilang lagi sama aku!"
Khanza mengangkat telpon itu. Zay yang begitu percaya dengan Arif, hanya mengingatkan kalau Khanza jangan pulang terlalu malam.
Mematikan telponnya, Khanza teringat kalau HP Arif tidak bisa di hubungi beberapa hari ini.
"Rif, HP kamu kenapa nggak aktif?" tanya Khanza serius.
"Rusak!" jawabnya enteng, menyuapkan makanan terakhir di piringnya.
"Kok, bisa?" Khanza menganga tak percaya.
"Sudah lanjutin makanannya. Aku kekamar dulu bentar." Arif meninggalkan Khanza di meja makan.
Khanza menatap penuh tanya pada punggung lelaki yang menaiki tangganya itu.
"Habis di banting Non HP-nya," ucap Bibi yang membersihkan piring bekas makan Arif.
"Maksud Bibi?"
"Kemarin habis pulang malam Den Arif marah-marah di kamarnya, sampai banting HP. Bibi juga lihat tangannya lebam, Non. Mungkin habis berantem."
Khanza menganga tak percaya, dia tidak menyangka kalau Arif benar-benar sampai se emosi itu.
Pasti gara-gara kemarin. Secemburu itu? benar-benar aneh!
Arif kembali ke dapur dan mengajak Khanza untuk pulang kerumahnya, Arif nggak enak dengan Zay, jika harus lama-lama bersama Khanza. Bagaimana pun, dia harus menjaga kepercayaan Zay, untuknya.
Mengantar Khanza pulang ke rumahnya, Arif tidak mampir karena ada keperluan yang harus di selesaikannya.
"Hati-hati!" ucap Khanza.
"Iya, sana masuk. Titip salam buat semuanya."
Khanza berbalik masuk kedalam, baru beberapa langkah suara Arif membuatnya menganga tak percaya.
"Za, Jaga hatiku!" wajah Arif memerah, dia bahkan tidak berani menatap pada Khanza yang sudah berbalik menatapnya. Arif menghidupkan motornya.
"Ka-kamu, juga ja...jaga Hati," ucap Khanza menggigit bibirnya.
Arif tersenyum pada Khanza, menatap terakhir kalinya gadis yang sedang membuat hatinya berbunga-bunga.
__ADS_1
"Bye," pamit Arif melambaikan tangannya.
Khanza mengangkat tangan membalas lambaian Arif. setelah motor itu menjauh Khanza memegang dadanya yang bergetar hebat. Tersenyum sendiri Khanza menutup mukanya yang memanas.