
Khanza segera kekantin untuk mendatangi Dea dan Faizal yang mengatakan sudah menunggunya.
Memasuki kantin dan menghampiri ke dua sahabatnya, ternyata makanan dan minuman Khanza sudah tersedia disana, Faizal yang sangat mengetahui makanan kesukaan Khanza, sudah memesankan bakso dan susu coklat dingin.
Kebiasaan Khanza semenjak dulu jika memang ada tugas atau sedang ulangan, setelahnya pasti dia meminum susu coklat dingin, manurutnya itu bisa membuat pikirannya kembali dingin, dan Khanza yang memang tidak menyukai makanan yang aneh aneh, walaupun makanannya sedang viral.
Faizal selalu mengingat kebiasaan Khanza semenjak dulu, karena itu dia langsung memesankan bakso dan susu coklat terlebih dahulu, agar tidak menunggu lama jika Khanza datang.
Khanza menyantap makanan itu dengan lahapnya, sebelumnya dia mengucapkan terimakasih pada kedua sahabatnya terutama Faizal yang selalu tau apa makanan kesukaannya.
Di tengah makannya Khanza tidak sengaja melihat Arif yang sedang menyapu mulut Vera dengan tisu, Khanza langsung tersedak memakan baksonya.
"Uhuk-huk!"
"Makan pelan-pelan Za!" ucap Faizal menepuk bahu Khanza lembut.
Faizal menyodorkan minuman dan Khanza langsung meminumnya tanpa mengambil gelas dari tangan Faizal.
"Ehem-ehem! aku bukan nyamuk ya?" sindir Dea pada Faizal dan Khanza.
Arif yang kebetulan tidak begitu jauh dari meja mereka langsung menengok dan menangkap Khanza dan Faizal yang begitu mesra kalau dari sudut pandangnya. Tisu yang di pegang Arif terjatuh dari tangannya.
"Yang, kenapa?" tanya Vera menepuk lengan Arif tapi dia tidak tau kalau Arif sedang memperhatikan Khanza.
"Dea! ngagetin tau!" ucap Khanza terkejutnya karena Dea yang berdehem.
"Iy, nih si Dea! temen keselek bukannya bantuin malah mikir yang nggak-nggak," ucap Faizal.
"Hahaha! Maaf ... Abisnya mesra gitu!" ucap Dea, menyuap makanannya menjawab acuh tak acuh.
"Makanya Za, makan tu nggak usah kebanyakan cabe!" ucap Faizal mencoba menasehati Khanza, yang padahal bukan keselek karena kepedasan.
Khanza hanya menjawab dengan senyum cengegesan dan kembali memakan basonya.
'Bukan keselek pedesnya, tapi seperti ada yang panas gitu di hati.'
Berucap dalam hati sambil memandangi Arif yang bersenda gurau dengan Vera. Arif tidak sengaja menangkap pandangan Khanza kearahnya, Khanza yang kedapatan menatap Arif langsung memalingkan muka dan mengajak Faizal juga Dea bercanda.
"Fa, kamu kenal Arif dimana sih?" tanya Khanza tiba tiba.
"Emang dia kenal Arif cowo sombong itu?" ucap Dea.
"De! jangan ngatain orang gitu!" tegur Khanza. Yang di tegur cuma memberikan senyumnya.
Faizal mengambil posisinya bercerita serius. mendekatkan badannya dengan Khanza dan juga di ikuti dea.
"Jadi kemarin, sehabis aku nganter kamu Za. 'Kan aku ikut drag! nggak taunya ada Arif juga disana. Kami drag bareng terus dia kalah deh! mungkin karena itu kali, dia nggak suka sama aku," ucap Faizal yang berbisik mengajak Dea dan Khanza mendekat.
Arif menatap mereka tajam. Posisi Faizal yang begitu dekat dengan Khanza membuat Arif menahan emosinya, mengeluarkan handphone menelpon Khanza, tapi sayangnya handphone Khanza tidak aktif.
Khanza lupa mengaktifkan hpnya kembali saat jam istirahat tiba, bahkan hpnya pun ketinggalan dalam tasnya di kelas.
"Kamu serius? Arif, ikut drag?" ucap Khanza masih dalam posisi bebisik bertiga.
"Seriuslah!" jawab Faizal, "Kamu, sih, kemarin aku ajak nggak ikut?" tambah Faizal lagi.
"Kalian ikut geng motor?" Dea berucap sedikit keras, merasa tidak percaya, apalagi dengan Khanza yang notabenenya gadis cupu.
"Sssttt! bisa pelan nggak?" Faizal menaruh jari telunjuk di bibirnya.
"Kami dulu ikut geng motor. Waktu aku pindah keluar kota aku sudah lama tidak pernah berkumpul lagi dengan mereka. Khanza juga katanya jarang kesana! Ketika mereka tahu aku pulang kesini, kemarin mereka menghubungi aku. Anggap aja melepas rindu! Eh, kemarin pas ada drag, aku langsung ikutlah!" jelas Faizal seriusnya, dengan posisi sudah kembali duduk seperti semula.
Merasa tak ada tanggapan dari 2 orang di depannya Faizal kembali melanjutkan ceritanya.
"Dan kemarin! ternyata ketemu Arif, anak-anak bilang dia orang yang populer di geng motor, dan nggak ada yang bisa ngalahin dia disana. entah kenapa pas hari itu dia sepertinya tidak begitu konsentrasi makanya kalah. Aku coba menjadi temannya tapi dia sepertinya sangat tidak suka denganku. Kalian lihatkan waktu dia tadi lihat aku?" ucap Faizal santai.
Dea cuma manggut-manggut mengiyakan. Khanza mengingat-ingat kalau saja dia pernah melihat Arif saat berada dengan geng motornya, tapi memang Khanza tidak pernah bertemu Arif apalagi mendengar namanya dari teman-temannya, atau mungkin dia yang memang tidak terlalu perduli dengan orang lain.
"Pantas saja dia seperti musuhan sama kamu," ucap Khanza. "Yasudahlah nggak usah di ladenin, Fa!" tambah Khanza lagi.
"Jelaslah, Za! kamukan tau aku! mana pernah mulai duluan sama orang! tapi, kalau di mulai aku ladenin lah!" jawab Faizal.
Kring-kring-kring!
Bel masuk berbunyi, anak-anak semuanya sudah menuju kelas mereka masing masing.
Kebetulan habis ini pelajaran kesenian di kelas Khanza.
Arif yang sengaja membawa gitar karena kemarin di beritahukan bahwa hari ini di tugaskan menyanyi di depan kelas, menyanyi bebas dengan kebisaan yang mereka bisa, dan alat musik bebas kalaupun bisa memainkannya.
Arif yang menyanyi lebih dulu dengan gitarnya, suaranya yang merdu membawakan lagu "YANG TERDALAM" dari PETERPAN. membuat semua ikut terhanyut dan ikut bernyayi mengiringi sang idola sekolah. menyelesaikan tugasnya dengan bagus Arif kembali duduk ke bangkunya.
Faizal juga menyanyi dengan gitar Arif, yang memang di pinjamkan bagi siapa saja yang bisa memakainya.
Satu persatu mereka maju dan bernyayi, sampai pada Dea dan Randra yang diminta duet oleh sang guru, Awalnya sempat terjadi adu mulut dengan keduanya, tapi karena permintaan sang guru mereka mau tidak mau harus bernyanyi bersama.
Randra maju dengan membawa gitarnya, di ikuti Dea dari belakang.
"Awas! kalau suara lo, nggak bagus!" ancam Randra.
__ADS_1
"Lihat aja nanti!" balas Dea.
Randra memetik gitarnya, dan Dea mulai bernyanyi, ternyata mereka sukses membuat penampilan yang memukau semua orang.
"Lumayanlah suara lo!" ucap Randra setelah mereka kembali duduk.
"makasih sudah di puji," ucap Dea.
"Gue nggak muji! gua bilang lumayan bukan bagus!" ucap Randra.
" Dasar! kadal!" balas Dea.
"Terakhir, Khanza!"
Perdebatan mereka terhenti karena guru sudah memanggil yang terakhir yaitu Khanza, Khanza maju dengan malu-malu.
"Kamu bisa pakai gitar?" tanya sang guru.
"tidak pak," jawab Khanza.
"Ya sudah, Arif bisa kamu bantu memainkan gitarnya?"
"Sa ... saya, Pak?" ucap Arif tekejut.
"Bisa bantu 'kan!" ucap Guru.
"Baik, Pak!"
Maju kedepan dan mengambil gitarnya, hanya bertanya lagu yang ingin di bawakan Khanza.
"Lagu apa, Za?"
Khanza membisikkan lagu pada Arif. Mereka duduk di dua bangku berbeda di depan kelas.
Awalnya Arif ragu dengan suara Khanza, tapi setelah Khanza melantunkan bait demi bait lagu "Fransiska Juliana-Dia Istimewa" Semuanya terdiam menikmati kemerduan suara Khanza, mereka tidak percaya jika seorang gadis cupu itu memang begitu sempurna dalam semua pelajaran.
***
Kata orang cinta datang tiba-tiba
Baru kini ku mengalaminya
Semua tentang dia buatku terpesona
Apakah ini namanya cinta
Tuhan aku sedang jatuh cinta
Kubingung harus bagaimana
Ingin hati nyatakan cinta
Ku takut dia ada yang punya
Tuhan tolong-tolong bantu aku
Ketuk pintu hatinya
Aku hanya ingin dia
Karena dia sungguh istimewa....
****
Menyanyikan dengan penuh penghayatan dari sebuah hati yang memang sedang kasmaran, Khanza sesekali menatap Arif di sampingnya, Arif membalas dengan senyumannya kepada Khanza, Arif merasa Khanza begitu sempurna menyanyikan lagu itu, tanpa dia sadar arti dari lagu yang di nyanyikan Khanza.
Khanza sengaja memilih lagu itu untuk mewakilkan perasaannya yang saat ini merasa seperti berbunga tetapi begitu banyak duri di batangnya.
Khanza menyelesaikan lagunya, di sambut tepuk tangan yang riuh dari kelas itu, kembali duduk dengan pujian pujian dari guru dan teman-teman kelasnya. Faizal yang memang mengetahui kalau suara Khanza bagus, merasa puas karena kali ini Khanza semakin bagus bernyanyi, Faizal tau kalau Khanza bahkan bukan hanya lihai bernyanyi bahkan hampir semua alat musik dia bisa memainkannya terkecuali gitar. Karena yang ada hanya gitar jadilah Khanza di bantu oleh Arif.
"Wow amazing, Za," Dea bekata dengan senangnya.
"Biasa saja De ... kamu juga tadi bagus!" Khanza yang memang selalu merendah.
"Bagus banget suara, lo, cupu! gua hampir nggak percaya itu lo!" ucap Randra di belakang, menyela Dea yang ingin bicara.
"Nggak usah muji-muji!" ucap Dea sewot dengan Randra.
"Bukan lo! gua muji si cupu!" balas Randra.
"Sudah-sudah! Ada guru itu, makasih ya, Ran," Khanza menengahi dan mengucapkan terimakasihnya atas pujian Randra.
"Bagus Za, apalagi kalau tadi kamu pakai piano pasti lebih bagus," ucap Faizal dengan senyumnya mengomentari Khanza.
Arif yang mendengar pujian Faizal, merasa tersindir karena dia yang memainkan gitarnya.
"Maksud lo? gitarnya nggak bagusss!" Arif langsung menyahut emosi.
"Nggak bro! maksud gue, kalau Khanza mainin piano sambil nyanyi pasti lebih bagus," ucao Faizal menjelaskan maksud perkataannya.
__ADS_1
"Kamu bisa main piano Za?" tanya Arif.
"Bisalah! bahkan semua alat musik kecuali gitar!" Faizal yang menjawab pertanyaan Arif.
"Yang di tanya Khanza buka lo!" Arif marah lagi dengan Faizal.
Faizal hanya mengangkat tangan memberikan gerakan mengunci mulutnya.
"Benar Rif, aku bisa semua alat musik, cuma gitar yang nggak bisa," Khanza mencoba menjawab kembali.
Arif menganga tidak percaya kalau gadis cupu di depannya begitu hebatnya, pantes saja suaranya semerdu itu pikirnya.
"Wow! boleh dong nanti minta ajarin?" Randra menyela pembicaraan mereka.
"Jangan mau Za! ajarin aku aja," potong Dea.
"Enak aja, gue aja!" balas Randra.
"Ah! kalian ini, selalu saja, nanti kita belajar bareng!" ucap Khanza menggelengkan kepalanya melihat Randra dan Dea.
"Kamu nggak mau belajar gitar Za?" tanya Arif pada Khanza.
"Sudah belajar dia, percuma susah di ajarinnya," Faizal yang menjawab lagi.
Arif menajamkan matanya kepada Faizal, Faizal kembali menutup mulutnya.
"Sering belajar dulu sama Faizal, tapi nggak bisa-bisa! mungkin yang ngajarin nggak serius," jawab Khanza menatap Arif dan beralih ke Faizal.
"Eh enak aja! emang kamunya aja yang susah di ajarin!" ucap Faizal mencubit hidung Khanza gemas karena selalu menyalahkannya kalau soal gitar.
"Au! lama-lama ini hidung habis, Fa!" pekik Khanza dengan khas manjanya dengan Faizal.
Arif merasa gondok melihat mereka berdua. Randra yang sudah membuka hp dengan diam-diam dan membalas pesan-pesan para wanitanya.
Dea hanya diam mendengarkan dengan membolak-balik buku seni di tangannya.
Sang guru sudah mengakhiri pelajarannya dan keluar dari kelasnya.
Sambil menunggu Guru pengganti mereka mengobrol dengan teman-teman mereka masing-masing.
Arif yang memetik gitarnya asal-asalan, sambil memperhatikan Khanza, Dea, dan Faizal yang terus tertawa entah apa saja yang mereka jadikan bahan bercandaan.
Randra masih sibuk dengan hpnya, sehingga tidak tau kalau teman sebangkunya itu, sedang di landa kegalauan.
***
Ku tak bahagia, melihat kau bahagia dengannya
Aku terluka, tak bisa dapatkan kau sepenuhnya
Aku terluka, melihat kau bermesraan dengannya
Ku tak bahagia, melihat kau bahagia
Menyanyikan potongan lagu Armada, Arif menatap Khanza yang seolah tak perduli dengan nyanyian Arif.
Khanza sebenarnya sangat ingin duduk di samping Arif dan bernyanyi bersama, mendengar Arif bernyanyi hati Khanza begitu ingin menengok, tapi teringat janji kalau mereka akan biasa saja di sekolah, di tambah perkataan Arif pada Vera tadi, membuat Khanza memilih bercanda dengan dua sahabatnya untuk mengalihkan perhatiannya.
Salah seorang murid datang membawa tugas dari guru yang seharusnya menggantikan pelajaran seni yang sudah usai, Sepertinya gurunya tidak masuk, dan hanya ada tugas yang di titipkan.
Membuat seisi kelas riuh bersorak kegirangan, Khanza dengan serius dan cepat mengerjakan tugas yang di berikan, setelah selesai, dia memberikan tugasnya pada Dea dan Faizal agar bisa membantu mereka.
Randra juga meminta tugas Khanza, dengan senang hati Khanza mengijinkannya, karena baginya berbagi ilmu dengan teman sedikit lebih baik.
Yang lain masih sibuk dengan tugasnya, Arif merasa pusing dengan tugas itu, sedikit pun dia tidak mengerti, tapi tidak juga mencoba bertanya meskipun dengan Randra sahabatnya.
Semua sudah mengumpul tugas di depan dan bermain dengan riuhnya, Arif masih dengan kertas kosongnya tak perduli karena pusing memikirkannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1