CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-79~Sebelum Berpisah 2.


__ADS_3


Seorang lelaki dengan balutan kaos ungu berlengan pendek, terlihat begitu mempesona di mata seorang Khanza Meidina. Seakan tak pernah bosan, gadis cupu itu terus memandang wajah tampan penuh kharisma dari sang kekasih. Netra mata coklat pemuda itu, mampu menenggelamkan dunianya. Namun, hari ini .... Sosok itu harus pergi meninggalkannya untuk sementara. Seakan tak rela melepas kepergian Arif. Gadis itu, tidak mau melepas tautan tangan yang sejak tadi saling menggenggam.


"Kok, berat ya? mau pergi," jujur Arif.


"Lho, kenapa?" tanya Khanza.


"Ini ...." Arif mengangkat tangan yang tertaut dengan erat. "Kamu pasti nggak rela banget aku pergi ya?" selidik Arif sambil menggoda.


"Iya lah. Siapa yang jemput aku sekolah lagi, coba?" cebik Khanza.


"Ish, aku di butuhin buat jadi supir aja, nih?" singgung Arif.


"Hahaha, nggak lah, Yang. Aku butuh kamu sepenuhnya," ujar Khanza dengan binar mata penuh damba.


"Aku juga selalu membutuhkan kamu, Za." Arif mengecup punggung tangan kekasihnya itu.


Pagi ini mereka sama-sama tidak masuk sekolah, Khanza bersikeras ingin mengabiskan waktu terakhirnya bersama sang kekasih tercinta. Akan berpisah setengah bulan dengan Arif, membuat gadis itu, ingin bermanja-manja sebelum di tinggalkan.


Arif paham dengan kegelisahan Khanza, bahkan dia teramat mengerti dengan sang kekasih yang sangat manja. Baru saja, dia bisa ikhlas dengan kepergian Faizal, sekarang Arif yang harusnya menemaninya juga harus ikut menghilang untuk sementara.


Maafkan aku sayang, harus membiarkan kamu sendirian.


"Aku bantuin kamu beresin apa yang mau di bawa, ya?" ujar Khanza lembut. Kepalanya dia sandarkan di lengan kekar Arif.


"Beneran, nih?" tanya Arif serius.


Khanza mengangguk pasti. "Bolehkan?"


"Boleh lah. Malahan aku sangat senang," tegas Arif.


"Ya sudah. Kita langsung ke rumah kamu aja, yuk!" ajak Khanza.


Menyesap minuman terakhir mereka, Arif dan Khanza meninggalkan 'Embun Coffe' dengan kemesraan yang terus di umbar. Menuju parkiran, mereka kembali ke rumah Arif dengan menggunakan mobil Arif.

__ADS_1


"Kamu tadi kesini naik apa, Za?" tanya Arif menautkan keningnya. Membukakan pintu mobil untuk Khanza.


"Naik taksi," jawab Khanza sembari masuk.


Arif menutup pintu, memutari mobil untuk masuk pada bangku kemudi. "Lagian, nggak mau di jemput," cibir Arif.


"Kalau kamu jemput, yang ada lama. Bisa-bisa di tahan sama, Kak Zay," keluh Khanza. Karena dia merasa setiap Arif ke rumah, keluarganya selalu mengajak Arif bicara panjang lebar.


Arif mendekat memasangkan sabuk pengaman untuk gadia cupunya. "Iya juga, ya? yang ada kamu nggak bisa manja-manja gini." Mencubit gemas pipi kanan sang kekasih.


"Au!, sakit," rengek Khanza manja.


"Sakit ya?" tanya Arif, terseyum jahil.


Khanza menganggukkan kepalanya. Membuat wajah se imut mungkin.


Cup!


Satu kecupan mendarat di pipi kanan Khanza. Membuat gadis itu bersemu merah merona.


"Pasti nggak," jawab Khanza malu-malu. "Ayo yang! sudah jam berapa."


Arif segera melajukan mobilnya, membelah jalanan yang sudah padat akan berbagai macam kendaraan.


***


Dua puluh menit berlalu, mereka sudah sampai pada kediaman Arif. Langsung masuk ke dalam rumah mewah dengan cat berwarna putih. Rumah dua lantai itu, terlihat sangat sepi, karena hanya ada Arif dan beberapa pembantu di sana. Pemuda itu langsung mengajak Khanza menaiki lantai dua.


"Eh, mau kemana yang?" heran Khanza.


"Ke kamar aku," jawab Arif santai, sambil terus menarik tangan Kekasihnya agar ikut bersama.


"N-ngapain k-kemar?" gugup Khanza. Dia menghentikan langkah kaki di tengah-tengah anak tangga yang berbahan marmer itu.


"Katanya mau bantuin aku beresin barang?" Arif menautkan dua alisnya. Ikut berhenti dan menatap bingung pada sang kekasih.

__ADS_1


"Owh." Menghembuskan napas lega, Khanza merasa malu sendiri, karena sudah berpikiran yang tidak-tidak.


Arif menebak isi kepala gadis cupu itu, sudut bibinya melengkung, menampakkan senyum jahil. "Emang mau apa ayo? tenang aja, aku mau, kok, yang," goda Arif pada sang kekasih.


Semburat merah tercetak jelas di pipi Khanza. Melepas tautan tangannya, gadis itu melengos menaiki tangga lebih dulu.


Arif menggelengkan kepalanya, benar-benar gemas dengan sang pujaan hati. "Za ... Za! pasti aku kangen banget nanti sama kamu sayang." kata Arif di dalam hati.


Menyusul sang kekasih, Arif membuka pintu kamarnya, mengajak Khanza untuk segera masuk kedalam. "Ayo, masuk! tenang aja aku nggak ngapa-ngapain kamu, kok," tegasnya. "Kalau nggak khilaf," sambung pemuda itu dengan kekehan yang terselip di sana.


"Kamu tuh, ya?!" geram Khanza, sembari mencubit manja perut sang kekasih. Sontak mereka berdua tertawa lepas setelahnya.


"Ayo!" ujar Arif, melangkah lebih dulu ke dalam kamar.


Khanza terperangah tidak percaya, menatap desain kamar mewah milik sang kekasih. "Wow, bagus banget, yang," puji Khanza. Gadis itu menarik nafas, mencium aroma parfum maskulin khas dari seorang Arif Saputra Wijaya. Mata Khanza menyapu setiap sudut kamar itu, terpaku pada sebuah foto besar yang terpajang di dinding, tepat menghadap pembaringan.


"I-itu ...." gagap Khanza. Desiran hebat tiba-tiba mengalir bersama darahnya, membuat detak jantung berdegup tak semestinya. Sudut mata gadis itu, tiba-tiba buram karena tumpukan binar bening air mata. Dia mendongak sekali lagi, memastikan kalau memang benar itu fotonya.


foto dimana seorang gadis manis sedang duduk di salah satu sofa. Dengan balutan jaket jeans, Khanza tersenyum dengan manisnya.



Khanza sedikit berlari ke arah sang kekasih yang sudah duduk di pinggiran kasur. Menghambur memeluk lelaki itu. "Aku sayang kamu, Rif," ungkapnya di dalam pelukan lelaki itu.


"Aku juga sayang kamu, Za." Arif membalas pelukan itu dengan erat. Mencium pucuk kepala gadis itu berkali-kali. "Suka nggak?" tanya Arif pada kekasihnya.


"Suka .... Sangat suka," Khanza menjawab dengan mantap. Melonggarkan pelukannya dia mendongk dengan senyuman manis. "Tapi, kok bisa di taruh di sana? besar banget lagi."


"Bisa lah. Aku taruh di sana, biar selalu bisa mandangin wajah cantik ini," gombal Arif mencapit hidung mancung gadis cupunya.


"Ish, lama-lama pesek ini hidung," gerutunya. "Ayo aku bantuin beresin apa-apa yang mau di bawa," tawar Khanza.


Mengurai pelukan mereka, Arif mengambil keperluan-keperluannya. Menyerahkan kepada Khanza, agar gadis itu menatanya di dalam koper. Arif terus-terusan menggoda dan menjahili sang kekasih, hingga gelak tawa selalu terdengar nyaring di dalam kamar itu.


"Sudah selesai!" pekik Khanza. Menutup koper, dia menghembuskan napas leganya.

__ADS_1


Bibi datang membawakan minuman dan makanan untuk mereka. Arif membawanya ke balkon kamar agar mereka bisa mengobrol disana dengan leluasa.


__ADS_2