CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-37~Ungkapan Cinta


__ADS_3

Arif menutup pintu kamarnya. Selesai sudah ia menjalankan aktifitas paginya, bersiap ke sekolah dengan hati yang bahagia.


Keluar dari rumahnya. Arif menghirup dalam-dalam udara segar yang berhembus menyejukkan jiwa. Diam terpaku memandangi gerimis tipis menempiaskan embun putih. Arif menarik jaketnya erat, melangkah melewati halaman yang sedikit basah.


Membuka pintu mobil berwarna putih, Arif duduk di depan kemudi. Entah kenapa dia ingin memakai mobilnya hari ini. Membelah jalanan macet di kota, Arif bukannya ke sekolah terlebih dahulu. Dia melajukan mobilnya ke rumah Khanza. Arif menggenggam hatinya yang tak henti melonjak-lonjak, menari-nari mengikuti denting dawai yang di petik dewi cinta.


Apa yang kamu pikirkan Rif, kamu masih berhubungan dengan Vera. Apa yang akan terjadi pada Khanza jika semua orang tau semuanya.


"Argh! Sial!" umpat Arif memukul setirnya.


"Kenapa aku nggak kepikiran kesana?" Arif merutuki dirinya yang baru memikirkan akibatnya jika dia bersama Khanza.


Apa aku putusin Vera aja? tapi.... bagaimana reputasiku di sekolah?


Arif terus berperang dengan hati dan pikirannya. Dia ingin selalu bersama Khanza, tapi tidak ingin melepas reputasi yang selama ini di bangunnya. jika dia terus bersama Vera apa dia sanggup melihat Khanza dengan yang lain.


Khanza mengerutkan dahinya saat melihat mobil putih terparkir di depan pagarnya. Menganga tak percaya saat mendapati Arif bersandar di depan mobil itu.


"Arif."


"Hai?" sapa Arif tersenyum manis.


Arif masih tidak bisa memutuskan apa yang akan di lakukannya untuk Khanza dan juga Vera. Yang dia tau saat ini dia hanya ingin bersama Khanza.


"K-kamu...."


"Aku jemput kamu, ayo berangkat!" potong Arif menarik tangan Khanza yang masih terlihat bingung.


"Ta-tapi...."


"Ayo masuk." Arif membukakan pintu untuk Khanza.


Khanza masuk kedalam mobil putih itu, meskipun dengan muka bingungnya dia hanya menuruti kemauan lelaki tampan itu.


Arif menutup pintunya, memutari mobil itu dia duduk di kursi kemudi. Menatap orang yang sedang berada di sampingnya. Arif menyunggingkan senyum bahagianya.


"Kok, jemput aku? Bukannya biasanya jemput Vera," tanya Khanza begitu saja, dia bahkan tidak membalas senyum Arif karena masih syok dengan kedatangan lelaki itu.


Mendengar ucapan Khanza Arif merasa tidak di hargai, memalingkan mukanya Arif langsung berubah dingin. "Kenapa? nggak suka."

__ADS_1


"Eh, suka kok." Khanza menyadari perubahan Arif, dia merutuki dirinya yang sudah salah berucap.


Arif memutar kemudinya, dia diam dengan muka datarnya.


"Rif, kamu marah?" tanya Khanza.


Arif tak bergeming, bahkan beberapa kali Khanza memanggilnya. "jemput, tapi kok, marah," sewot Khanza mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


Arif mengalihkan pandangannya sekilas menatap khanza. menggapai tangan gadis itu dengan sebelah tangannya. "Lain kali, jangan bahas Vera, kalau aku sama kamu, Za," ucapnya lembut.


"Tapi dia pacar kamu, Rif."


"Tapi aku sekarang sama kamu, Za."


"Jangan Abaikan dia, hanya karena aku, Rif. Bagaimana pun dia pacar kamu."


"Kalau aku mencintai kamu bagaimana, Za?"


Deg-deg-deg!


Hening hanya ada debaran jantung mereka berdua, Khanza seperti terlempar kedunia mimpi. Pengakuan cinta Arif begitu mustahil di dengarnya, kemarin-kemarin dia selalu mendengar hinaan dari lelaki itu. Sehingga dia tidak berani berharap lebih untuk perasaannya. Hari ini kata itu keluar langsung dari lelaki yang masih mempunyai kekasih itu.


Arif menepikan mobilnya. Menatap dalam, pada mata coklat gadis di sebelahnya. Arif memegang kedua tangan Khanza. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


"Aku mencintai kamu, Za. Sejak pertama kamu nolongin aku jatuh dari motor waktu itu. Tapi aku terlalu takut mengakui semuanya. Aku pikir itu hanya sekedar rasa kagum, ternyata aku salah, semakin hari rasa itu semakin tumbuh. Rasa cemburu yang selalu hadir saat aku melihatmu dekat dengan yang lain, menyadarkanku kalau perasaanku padamu bukan hanya sebatas kekaguman. Sering kali aku menampik semuanya dengan kata-kata kasarku, tapi ternyata aku salah, cinta tidak bisa di hindari. Aku mencintai kamu, Za."


Kata-kata yang keluar dari bibir Arif membuat Khanza meneteskan air matanya, bukan air mata kesedihan yang di rasanya. Rasa haru dan bahagia, ternyata apa yang di rasanya selama ini sama dengan yang di rasakan Arif padanya. Bahkan lelaki di hadapannya jauh lebih dulu mencintainya.


Arif mengangkat tangannya menghapus air mata yang luruh di pipi Khanza. "Maaf, jika selama ini aku selalu melukai kamu?"


"Aku juga mencintai kamu, Rif." Khanza menghambur ke pelukan lelaki itu, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi tentang perasaannya. Dia semakin terisak dalam pelukan Arif. Hanya air mata bahagia yang mampu mewakilkan perasaannya.


"Hei, Kok malah nangis," ucap Arif lembut, mengusap pelan rambut Khanza.


"Sudah dong, nanti kita terlambat ke sekolahnya."


Khanza menarik dirinya, menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipinya. Memberikan senyum termanis pada lelaki di hadapannya.


Arif mengacak-acak rambut Khanza gemas. "Manis."

__ADS_1


Kembali mengemudikan mobilnya, dengan perasaan lega. Rasa cinta yang selama ini terpendam akhirnya bisa di ungkapkannya pada Khanza. Yang lebih bahagia ternyata semua terbalas sempurna.


"Rif, Ba-bagaimana dengan Ve-Vera?" tanya Khanza ragu, takut Arif kembali marah padanya.


"Kamu tenang aja, secepatnya aku akan putusin dia." Arif menggenggam tangan Khanza, membawa tangan itu ke bibirnya. Mengecup lembut punggung tangan itu.


Memalingkan mukanya yang memerah, Khanza tersipu malu dengan perlakuan hangat Arif.


Dia teringat Vera kembali, mukanya langsung brubah serius. "Apa aku salah, jika harus mencintai pacar orang lain?"


"Tidak ada yang salah, Za. Cinta selalu memilih jalannya."


"Ta-tapi, Rif. Bagaimana kalau Ver_"


"Jangan takut ya? kita hadapi sama-sama. Kasih aku waktu menyelesaikan semuanya sama Vera." Arif mengusap pelan


tangan Khanza, rasanya dia begitu enggan melepas tangan mungil itu dari genggamannya.


"Aku ikut kamu aja," balas Khanza menarik tangannya. Tapi Arif tidak mau melepasnya. "Kamu lagi nyetir, Rif." menarik kembali tangannya.


Arif melepas tangan Khanza. "Sementara kita jangan terlalu dekat di sekolah, Za. Aku takut kamu bernasib sama seperti Dea," tukas Arif serius.


"Iya, Rif. Aku nggak mau nambah masalah sama mereka."


"Tapi ingat, tetap nggak boleh dekat sama yang lain!" peringatan keras untuk Khanza.


"Siap boss." Khanza mengangkat tangan di pelipisnya.


Arif tertawa lepas melihat tingkah Khanza, dia mencubit hidung gadis itu. Terus mengobrol dan bercanda bersama menikmati kehagiaan mereka.


Tanpa terasa mobil putih itu sudah memasuki halaman sekolah. Sebelum turun Arif menatap wajah gadis yang sudah mencuri hatinya itu. Sebuah kecupan hangat di berikannya pada Khanza.


"Biar semangat belajarnya, love you." Arif langsung turun dari mobilnya meninggalkan Khanza yang terkejut dengan perbuatannya yang tiba-tiba.


Khanza memegang keningnya, senyum bahagia tak lepas dari wajahnya. "Love you to." Khanza perlahan membuka pintu mobil itu menyusul Arif yang sudah berdiri membenarkan bajunya. Khanza keluar, memberikan senyum pada lelaki yang sedang menatapnya.


"A-Arif!" panggil seseorang dari belakang Arif.


Khanza dan Arif menatap ke asal suara itu.

__ADS_1


__ADS_2