
Pagi yang cerah untuk jiwa yang resah, tersirat rasa bahagia sekaligus luka yang menyayat di relung hati, seorang insan manusia yang sedang mendamba cinta. Khanza melirik jam di pergelangan tangannya, dengan gelisah dia menunggu sang kekasih menjemputnya. Mondar-mandir bagai setrikaan, kini dia memutuskan untuk duduk di kursi depan rumahnya.
"Lama banget, sih!" gerutunya.
"Kenapa, Za?" tanya Zay yang kebetulan keluar ingin berangkat ke kantor.
"Arif lama banget jemputnya?" adu Khanza.
Zay mengernyitkan keningn, melirik jam hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Masih jam enam kurang sepuluh menit," gumam Zay. "Masih di jalan kali, Za?"
"Tapi, lama banget, Kak," rengek Khanza manja.
"Nggak sabaran banget, sih. Pingin pacaran mulu," ledek Zay, mencubit gemas hidung sang Adik.
"Ish Kakak! sakit tau!" Khanza memanyunkan bibirnya. "Lagian, besok Arif mau ke luar kota," keluh Khanza, menekuk wajahnya hingga berubah menjadi sendu.
"Lho, memangnya Arif mau kemana?"
"Nyusul orang tuanya, Kak. Katanya Bundanya lagi sakit," jelas Khanza.
"Sudah, jangan sedih-sedih. Harusnya kamu semangatin dia dong," nasehat Kakaknya. "Nanti, dia jadi nggak enak ninggalin kamu, kalau kamunya manja gini."
Menggigit bibir bawahnya, Khanza membenarkan dalam hati ucapan Kakaknya. Harusnya dia bukan bersedih seperti ini, dia harus mendukung dan menyamangati Arif, agar lelaki itu tidak berat untuk pergi. Entah mengapa, semenjak jadian dengan Arif gadis itu berubah egois, mungkin karena Arif yang selalu memanjakannya. Padahal dulu, waktu dia masih mengagumi dalam diam lelaki itu, Khanza selalu mengerti dengan sifat Arif yang kekanak-kanakan. Tapi, sekarang sepertinya malah terbalik, justru Arif yang banyak mengerti dan mengalah dengan Khanza.
"Nah itu, orangnya datang!" seru Zay, saat motor Arif memasuki halaman rumah mereka.
Melepas helm, Arif turun dari motor. Dengan senyum mengembang dia menghampiri dua orang Kakak beradik itu. "Pagi, Kak Zay, pagi Za?" sapanya, Arif menyalami Kakak lelaki dari sang kekasih.
"Pagi, Rif," balas Zay, sembari menyerahkan punggung tangannya pada Arif. "Pagi-pagi, ada yang manyun, tuh, Rif!" sindir Zay, pada Adiknya.
Arif tersenyum simpul menanggapinya, beralih berdiri ke samping Khanza. Dia berceletuk, "Lagi pingin di manja kali Kak?!"
"Mungkin, Rif?" Zay dan Arif terkekeh geli, menertawakan pipi Khanza yang merah merona. "Ih, merah!" ejek Zay.
"Iya, merah," ikut Arif mengejek.
Khanza mencapit pinggang dua lelaki di sisi kiri dan kanannya itu. memutarnya dengan gemas hingga Kakak dan kekasihnya itu, meringis dan minta ampun.
"Aduh! aduh! ampun, Za!" pinta Arif dan Zay bersamaan.
"Rasain! nakal, sih! suka banget ledekin orang!" geram Khanza. Setelah merasa puas, Khanza baru melepas tangannya.
Zay dan Arif sama-sama mengelus bagian pinggang yang di cubit Khanza. Mereka yakin ada bekas merah di balik baju yang mereka pakai. "Galak banget, Kak, Adiknya?" gerutu Arif.
"Pacar kamu, tuh, Rif," ujar Zay.
"Mau lagi?" ancam Khanza melototkan mata pada kedua lelaki itu.
"No!" pekik keduanya kompak.
__ADS_1
"Ributin apa, sih?" Mama Vina keluar dari dalam rumah. "Lho, Zay? belum berangkat?" tegur sang Mama.
"Gara-gara anak manja, Mama, nih," tujuk Zay pada sang Adik.
"Kakak sama Arif tu," balasnya.
"Sudah-sudah, cepat kalian pada berangkat!" perintah sang Mama.
"Iya Ma!" sahut Khanza dan Zay.
Bergantian menyalami Mama Vina. Zay, Arif dan Khanza segera ke kendaraan mereka masing-masing. Bukan Khanza dan Zay namanya, jika tidak saling ejek satu sama lain. Sebelum menaiki motor Arif, Khanza masih sempat-sempat menjulurkan lidah kepada Kakak lelakinya itu.
"Rif, kalau nyusahin kamu, tinggal di jalan aja dia!" teriak Zay, sebelum masuk ke dalam mobil.
"Siap, Kak Zay!" balas Arif. "Au!" ringis Arif, satu cubitan lagi mendarat di perutnya. "Aku bukan ikan, yang," gerutu Arif.
"Habis, kamu sama Kak Zay, seneng banget ledekin aku, sih," sungut Khanza.
"Maaf ... Ayo kita berangkat!" ajak Arif, memasangkan helm di kepala Khanza, Arif tersenyum menatap wajah polos gadis itu.
Tinnnn!!!
"Sekolah! jangan pacaran!" sindir Zay sembari tertawa renyah.
"Kakak! Ngagetin!" teriak Khanza menghentakkan kakinya.
"Blee!" ejek Zay. "Rif, Kakak duluan!" pamitnya.
"Sudah, jangan cemberut terus. Ayo kita naik!" Arif menaiki motornya, di susul Khanza duduk di belakang.
"Sudah lama, nggak naik ini kuda besi," celetuk Khanza, berpegangan pada bahu lelaki di depannya.
Menghidupkan motornya, Arif segera melajakukan kuda besi itu. "Emang nggak takut panas?" tanya Arif, sedikit mengencangkan suaranya.
"Sekali-sekali panas nggak papa lah," celoteh Khanza.
Arif terkekeh mendengar, celotehan sang kekasih. Jika perempuan di luar sana, lebih memilih mobil yang mewah, kekasihnya justru lebih memilih berpanas-panasan dengan motor.
"Za ... Za!" seru Arif menggelengkan kepalanya. Mengingat tadi. Pagi buta, kekasihnya itu menelpon dan merengek minta jemput dengan motor. Awalnya Arif menolak, tapi siapa yang tahan kalau gadis manisnya itu sudah merajuk dengan manja. Menyunggingkan senyum, Arif merasakan tangan gadis itu perlahan memeluk pinggangnya.
***
Dengan nafas ngos-ngosan, Randra menghentikan motornya di depan gadis cantik. Dea yang sudah cemberut, karena menunggu hampir setengah jam, siap mengeluarkan unek-uneknya.
"Kok lama, Sih? jangan-jangan kamu habis goda'in cewe ya?" tuduh Dea.
"Ya ampun, De. Pacar cape-cape, ngebut bawa motor. Masa di bilang godain cewe, sih!"
"Lagian lama banget, sampainya."
__ADS_1
"Macet, sayang ...."
"Bohong!"
"Nggak!"
"Bohong!"
"Terserah!" pasah Randra. Dia menghidupkan mesin motornya.
"Eh, mau kemana?" tahan Dea.
"Cari cewe!" sahut Randra cuek.
"Tuh, 'kan. Kamu tu, ya, Rand. Sudah punya ce–"
"Cepet, naik atau aku tinggal!" hardiknya.
Dea mencebik kesal. Namun, dia tetap naik ke motor dan mendaratkan bokongnya di belakang Randra.
Menyerahkan helm, dengan bungkam. Randra sepertinya sedang memasang mode ngambeknya. Setelah memastikan gadis itu, sudah siap. Lelaki itu, melajukan motor dengan kencang.
"Rand, pelan-pelan, dong?" pinta Dea. Dia mencengkram erat bahu lelaki itu.
Randra tidak menghiraukan kekasihnya itu. Terus memperdalam gas motornya, lelaki itu dengan gesit menyalip kendaraan di depan.
Nyebelin banget, sih. Eh, apa dia marah, ya? kok, dari tadi diam aja.
Dea menahan nafas, saat lelaki itu semakin melajukan motor. Dengan menutup mata, Dea memindah tangan. Melingkarkan pada perut rata Randra, Dea benar-benar takut saat ini.
Hanya butuh waktu dua puluh menit, mereka sudah sampai di halaman sekolah Bhakti Bangsa. Menghela nafas panjang, Randra menyentuh kepala Dea, yang menyandar pada bahunya.
"De!" serunya pelan.
Dea membuka mata perlahan. Menghela nafas lega, perlahan dia melepas cengkaraman tangannya. Turun dari motor, Dea melepas helm di kepalanya.
"Kamu mau bunuh aku, ya?" kesal Dea pada Randra.
"Terserah, kamu mau ngomong apa!" Randra langsung meninggalkan Dea di parkiran. Masuk ke dalam dengan wajah datar dan dingin.
.
.
.
.
Ayo mampir di cerita Rosa yang di rebutin tiga cowok ganteng sekaligus.
__ADS_1
Novel dari Aldekha depe dengan judul Tentang hati.