
Hujan telah reda menyisakan gerimis di langit senja. Air yang jatuh dari ujung dedaunan menyisakan basah setelah kehujanan. Kicau burung berlalu untuk terbang kembali kesarang, menandakan malam segera datang. Meski berat, seorang pemuda harus rela berpisah dengan kekasihnya. Dengan mengucap kata 'Besok bertemu lagi' dia pamit untuk kembali pada kediamannya yang sepi.
Menapakkan kaki di halaman basah, Arif menghirup dalam udara segar sehabis hujan. Hembusan angin berayun membawa bau tanah basah, menyentuh langsung indera penciuman, menyisakan ketengan pada sebuah hati yang selalu di landa kasmaran. Masuk ke dalam rumah ber cat putih, Arif kembali merasakan rindu pada kedua orang tuanya. Berkali-kali menghirup nafas dalam, Arif melangkah menaiki tangga, masuk ke ruangan yang selalu setia menemani harinya. Melepas jam tangan di pergelangan, Arif meletakkannya di atas nakas bersama dengan poncel miliknya. Arif menarik laci, masih ada sisa rokok yang tersimpan di sana. Mengambil bungkus kotak itu, Arif menggenggam dan membawanya keluar. Membuka kembali pintu utama Arif mengedarkan pandangannya.
"Pak!" Arif berteriak memanggil Satpam rumah itu.
"Iya, Den." Satpam berlari kecil menghampiri tuan mudanya di rumah itu.
"Ini buat Bapak." menyerahkan bungkus rokok ke tangan satpam itu.
"Ma-makasih, Den. Pas banget buat jaga malam nanti," ujarnya sopan.
Arif merogoh saku celananya mengambil selembar uang berwarna biru. "Ini buat beli camilan."
"Ma-maksih banyak, Den."
"Iya Pak. Saya masuk dulu," pamit Arif sopan. Dia berlari kecil kembali ke kamarnya. Melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya Arif membersihkan badannya yang sudah lengket dengan keringat.
***
Mobil putih itu sudah menghilang di belokan, Khanza mendesah pelan. Merotasikan kakinya untuk berbalik masuk ke dalam. Namun, jawilan dari belakang menghentikan langkahnya. Khanza menatap ke kanan. "Nggak ada orang," gumamnya bingung.
Pundak kirinya kembali ada yang menjawil, Khanza memalingkan wajah ke arah kiri. "Juga nggak ada." Menautkan kedua alisnya, Khanza bergidik ngeri.
"Masuk aja, deh." Khanza menghentakan kakinya bersiap masuk kedalam. Tapi,
sentakan di tangan membuatnya berhenti dan langsung berbalik.
"Faizal!" pekik Khanza. "Ngagetin tau?" kesal Khanza.
Faizal tertawa terbahak-bahak mendapati Khanza ketakutan. "Kenapa? lo pikir hantu?" tanya Faizal.
"Ish, gue takut tau!" desis Khanza.
Faizal semakin mengeraskan tawanya, sampai-sampai dia memegangi perutnya. Jarang-jarang melihat Khanza ketakutan.
__ADS_1
"Senang!" celetuk Khanza, tangannya mencapit lengan lelaki itu. "Rasain," geram Khanza memutar tangannya di lengan itu.
"Au-au-au! s-sakit, Za. A-ampun!" ringis Faizal menahan tangan Khanza agar tidak semakin mencubitnya.
"Jahil banget, sih." Khanza melepas tangannya hingga meninggalkan bekas merah di sana.
Menggosok lengannya, Faizal menggulung lengan baju pendek itu. "Merah, Za!" tunjuknya di bekas cubitan Khanza.
"Biarin!" sahut Khanza. "Siapa suruh jahil." Khanza mengeluarkan lidahnya mengejek Faizal. Sekarang gantian, Khanza tertawa senang, menampilkan deret gigi putih gadis cupu itu.
Faizal terdiam menatap dalam pada tawa itu.
Tawa itu_tawa yang selalu kurindukan sejak dulu, sebuah tawa yang selalu membuatku ingin menjahilinya. Tawa itu_tawa yang selalu ingin kulihat sebagai penyemangat di hari-hariku. Tawa itu_tawa yang selalu membuat hati ini bergetar setiap aku. Tapi sayang, sekarang tawa itu sudah memilih pemiliknya sendiri.
"Kita kedalam, yuk, Fa. Dingin di luar," ujarnya menarik tangan Faizal hingga membuat sahabatnya itu tersadar dari pikirannya.
"Eh, ta-tpi aku mau itu...."
"Nggak ada tapi-tapian!" seru Khanza. Dia terus menarik tangan Faizal ke dalam.
Menggelengkan kepala, Faizal pasrah mengikuti Khanza. Masuk ke dalam rumahnya, Khanza membawa Faizal ke ruang keluarga.
"Iya, aku duduk." Faizal mengalah, menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Tadi Arif yang di paksa-paksa, sekarang Faizal, Khanza ..., Khanza!" ujar Mama Vina. "Terserah kamu deh, Za. Mama ke kamar dulu." Mama Vina bangkit, meninggalkan Faizal dan Khanza di sana.
Menatap punggung Mama Vina menjauh, Faizal kembali pada Khanza yang sudah duduk di sampingnya. "Kamu jangan kejam-kejam sama Arif, Za. Lama-lama aku kasian sama tu anak."
"Mana ada aku kejam, enak aja," cebik Khanza.
Faizal bersandar menatap langit-langit. "Kamu nggak ngerasa aja, Za. Jangan keseringan buat dia emosi, dia itu sayang banget sama kamu," ujar Faizal menasehati.
"Iya, deh, iya."
"Walau pun kadang aku kesel sama dia, tapi aku tau dia itu benar-benar mencintai kamu, Za. Aku lihat juga sekarang dia banyak berubah."
__ADS_1
"Berubah apaan, orang masih sering emosian."
"Berubah itu butuh proses, nggak bisa instan. Kamu juga harusnya bantu dia, bukan terus menekan dia!"
"Kamu sahabat siapa, sih, Fa? kok malah belain Arif," kesal Khanza.
"Justru karena aku sahabat kamu, aku nasehatin kamu. Lagian, perasaan kemarin kamu sabar banget sama Arif, sekarang kenapa jadi dia yang sabar ngehadapin kamu, ckckck!" Faizal melirik Khanza lewat ekor matanya, sepertinya Khanza sedang memikirkan nasehat-nasehatnya.
"Sudah, ah. Aku mau pulang, dulu. Sudah hampir gelap." Faizal bangkit berdiri. "Oh iya, Za. Anak-anak motor nyariin kamu, gimana kalau kita kumpul malam minggu?" ajak Faizal.
"Ta-tapi ak–"
"Takut Arif ya? Huhf! padahal aku berharap banget kamu mau, Za. Aku janji deh, ini terakhir kalinya kita jalan," bujuk Faizal.
"Nanti aku ngomong dulu sama Arif, ya."
"Oke! aku tunggu kabar kamu. Aku pulang ya, Za," pamitnya. Khanza mengangguk bangkit berdiri untuk mengantar Faizal kedepan. "Nggak usah di anter ke depan, Za!" tolak Faizal.
"Ya sudah, aku juga mau mandi," balas Khanza.
Faizal keluar dari rumah Khanza, berjalan menembus gerimis senja yang menyapa. Matahari sudah mulai masuk ke peraduan, menyisakan gelap dan dinginnya malam. Sangat mewakilkan hati yang di landa kesepian dengan cinta dalam diam. Sampai di depan rumahnya, Faizal mengehela nafas berat, meskipun dia sudah ikhlas melepas Khanza. Berat di hatinya masih saja terasa, menyiratkan luka di relung hatinya. Masuk ke rumahnya, Faizal langsung menuju kamar. Menyalakan laptop, dia merebahkan diri dengan posisi terkurap. Faizal dengan lincah memainkan mouse yang terhubung dengan laptopnya, mencari file vidio.
Memutar vidio Khanza berayun di Hammock(ayunan kain) dengan headset terpasang di telinga. Senyum dan tawa gadis itu, mampu membuat Faizal menarik sudut bibirnya. Entah sejak kapan vidio itu di ambil dan selalu di putar Faizal berulang-ulang dari laptopnya. Yang jelas Faizal tak pernah bosan menatap wajah manis sahabatnya.
Jika aku tidak bisa memilikimu, Za. Setidaknya izinkan aku untuk menikmati senyummu dan setidaknya, izinkan aku untuk menikmati waktu terakhir nanti denganmu.
Faizal terpejam dengan laptop yang masih menyala dengan vidio-vidio Khanza di sana.
.
.
.
.
__ADS_1
.
👉 Terimas kasih😊😊😊