CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-12~Cintakah ini


__ADS_3

Arif merasa dirinya begitu kacau saat ini, dia begitu emosi melihat Khanza dengan pria lain. Apalagi saat Khanza mengabaikan telponnya dan juga berkata bahwa dia bukan orang yang penting bagi Khanza.


Arif Semakin menambah kecepatan motornya, menemui teman-teman club motornya. Mencari pelampiasan untuk mengalihkan amarahnya.


Tidak di sangka sekarang ada balapan liar yang di lakukan teman geng motornya dan geng motor lainnya, Arif langsung maju mengikuti balapan itu.


Raungan knalpot motor sudah terdengar menggema di tempat itu, menandakan bahwa mereka sudah siap untuk memulai aksinya. Tapi mereka masih menunggu seseorang.


Akhirnya seseorang yang di tunggu datang, berhenti tepat di samping Arif, membuka kaca helmnya untuk memberi senyuman persahabatan pada semuanya.


Arif begitu terkejut dengan seseorang yang baru saja datang dan berada di sampingnya. Seseorang yang tadi bersama Khanza, membuat amarahnya semakin memuncak. Terjadilah balapan yang sengit antara Arif dan Faizal, sampai pada akhirnya Faizal menjadi pemenangnya.


"Wow bro! ternyata walaupun sudah lama tidak gabung, kemampuanmu masih sama seperti dulu," ucap teman Faizal menepuk bahu Faizal.


Faizal hanya menanggapi dengan senyum renyahnya, tanpa sengaja Faizal menatap Arif yang sedari tadi ternyata melihatnya dengan tatapan tajamnya.


Faizal mencoba mengangukkan kepala menyapa Arif, tapi tatapan Arif yang semakin tajam membuatnya bertanya-tanya kenapa sejak pertama melihatnya sepertinya Arif tidak menyukainya. Faizal ingin bertanya kepada teman temannya tapi sirine mobil polisi membuat mereka berhamburan pergi.


***


Khanza setelah pulang di antar Faizal, langsung memasuki kamarnya untuk membersihkan diri. Rumah yang terlihat sepi karena m Papa dan Kakaknya yang belum pulang, dan Mama dan Kakak Ipar yang berkunjung kerumah nenek.


Faizal tadinya ingin ikut masuk kedalam, tetapi mendapat telpon dari teman-temannya yang mengajak berkumpul. Faizal langsung pergi meninggalkan Khanza.


Berbaring di tempat tidur menghadap langit-langit kamar dengan pikiran yang melayang dengan kejadian di sekolah tadi, membuat Khanza kembali bersedih.


'Ternyata Arif dan Vera sudah beneran pacaran, tapi kenapa harus terasa sakit seperti ini? tidak-tidak! aku tidak boleh seperti ini aku hanya kagum tidak boleh cinta, lagi pula Arif bukan siapa-siapa aku, dia terlalu sempurna untukku, dia pantas mendapatkan vera.'


Khanza berperang dengan batinnya sendiri, menggelengkan kepala berkali-kali. Air mata pun tak bisa dia bendung, entah kenapa dia merangsek untuk keluar dari persembunyiannya.


Di sela lamunan dan tangisnya, Khanza teringat kalau tadi dia menolak panggilan Arif beberapa kali dan dia mematikan handphonenya.


Mencari benda itu di dalam tasnya dan mencoba mengaktifkan kembali handphon itu. Ada beberapa pesan masuk dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Arif, mencoba membuka pesan-pesannya dengan tangan bergetar.


πŸ’Œ "Kenapa tidak di angkat, Za?"


πŸ’Œ"Za, apa kamu marah sama aku?"


πŸ’Œ"Za, kalau aku ada salah aku minta maaf, tolong angkat telponku, Za!"


πŸ’Œ"Za, kenapa sekarang tidak aktif, semarah itukah kamu denganku? tapi apa salahku Za? beritahu aku Za! tolong balas kalau kamu sudah membacanyaπŸ™."


Khanza membaca satu persatu pesan Arif, berkali-kali mencoba ingin membalas pesannya. Menghapus kembali karena bingung dan ragu dengan jawabannya sendiri. Dengan tangan bergetar Khanza kembali mengetik balasan kepada Arif.


πŸ’Œ"Mohon maaf baru bales Rif, aku tadi sangat sibuk. Kamu tidak pernah berbuat salah denganku Rif! maaf jika sudah membuatmu merasa bersalah. Tadi aku beneran sangat sibukπŸ™."


Khanza mengirim pesan dengan air mata yang kembali mengalir, dan batin yang sekarang kembali beperang.


'Kamu memang tidak salah Rif. aku yang salah kenapa harus seperti ini, kamu dan aku hanya sekedar teman, bahkan di sekolah pun seperti orang yang tidak menegenal. Aku satu-satunya orang yang paling bersalah! kenapa harus membawa rasa pada sebuah pertemanan.'


Khanza tertidur dengan handphone masih di tangan, sejenak mengistirahatkan pemikiran yang sejak tadi terus berkelana entah kemana, mengistirahatkan mata yang terus menangis entah karena apa.


***


Arif memasuki gang-gang sempit untuk menghindari kejaran polisi, setelah di rasa aman, dia kembali memacu kuda besinya untuk kembali kerumah.


Karena tubuhnya begitu lelah, setelah sampai rumah Arif langsung mandi dan beristirahat, melihat poncelnya kalau-kalau ada pesan penting yang masuk. Banyak panggilan dan pesan masuk dari Vera sang pacar, dan ada beberapa pesan dari teman-temannya.


Arif hanya mengabaikan saja pesan-pesan itu, terus menggeser layar handphonenya. Ada satu pesan dari seseorang yang membuat Arif membuka dan membaca isi pesan itu.


'Sibuk! sangat sibuk! sibuk sama cowo maksudnya!'


Arif menarik nafas panjangnya dan menghembuskan secara kasar, ingin sekali rasanya membalas pesan seperti itu pada Khanza, tapi takut kalau Khanza akan marah padanya. Mencoba mengetik pesan dan mengirimnya.

__ADS_1


πŸ’Œ"Sudahlah lupakan saja, Za. Yang penting kamu tidak marah, sekarang aku sudah lega."


Setelah mengirim pesan Arif menunggu pesan balasan Khanza. Tak kunjung ada balasan, bahkan di baca saja belum.


"Den, Makanan sudah siap!" teriak Bibi dari luar kamar Arif.


"Iya, Bi!"


Bibi yang sudah memanggil Arif karena makan malam sudah siap. Arif turun dengan membawa handponenya kalau saja ada balasan dari Khanza, jadi dia bisa membalasnya dengan segera, karena sejak di sekolah Arif ingin sekali berbicara dengan Khanza.


Arif makan dengan sesekali melihat poncelnya kalau saja ada balasan dari Khanza. Tampaknya Khanza sedang tidak memegang hpnya.


Begitu hampir menyelesaikan makannya, handhone Arif berbunyi. Tanda adanya pesan masuk, Arif bergegas menyelesaikan makannya. Bergegas membuka handphonenya berharap kalau Khanza menghubunginya.


Menghembuskan nafas kecewa, ternyata bukan dari Khanza melainkan dari Vera yang terus-terusan mengirim pesan padanya, Arif tak berniat membuka pesan tersebut, entah kenapa sekarang dia hanya mengharap berbalas pesan dengan Khanza.


Arif memasuki kamar dengan langkah lesunya, membanting handphone kekasur dan merebahkan dirinya. Terdengar sebuah pesan masuk, Arif begitu malas mengambil dan melihat hpnya.


Ketika dia melihat nama orang yang tertera di layar hpnya, dia langsung bangun dan duduk dengan semangatnya, membaca pesan dengan wajah cerah, seolah lelah hari ini sudah tidak terasa.


πŸ’Œ"Mana bisa aku marah sama kamu Rif"


Khanza setelah bangun tidur, langsung di panggil turun dan makan bersama keluarganya yang sudah kembali kerumah, baru sempat melihat poncelnya dan membalas pesan dari Arif.


πŸ’Œ"Baguslah, kalau kamu tidak bisa marah sama aku😝. Za, aku jemput ya?"


πŸ’Œ"Jemput apa Rif?"


Khanza bingung kenapa tiba tiba Arif ingin menjemputnya.


πŸ’Œ"Kita jalan sebentar."


Setelah mengirim pesan Arif langsung mengambil jaket, dan kunci motornya dan turun kebawah. Menaiki kuda besinya untuk menjemput teman cupunya yang berhasil membuat api amarahnya membara hanya karena Khanza bersama cowo lain.


Khanza Bingung dengan maksud pesan Arif. Pesannya pun tak kunjung di balas Arif.


'Apa mungkin hanya bercanda?'


Mengangkat bahunya, Khanza ingin merebahkan dirinya ke tempat tidur. Baru membenarkan posisi bantalnya, handphonenya berbunyi tanda ada sebuah panggilan masuk. Ada nama Arif yang tertera di layar, menggeser layar dan menempelkan ke telinga kanannya.


πŸ“ž"Hallo Rif?" ucap Khanza.


πŸ“ž"Za! aku di depan rumah kamu, nih, keluar dong!" ucap Arif yang langsung menelpon Khanza ketika dia sampai depan rumah Khanza.


πŸ“ž" What! kamu seriuskan Rif?" balas Khanza tidak percaya.


πŸ“ž"Seriuslah ... cepetan dong keluar! kamu nggak kasian sama aku di luar?"


Khanza langsung berlari keluar untuk membuka pintu, melewati ruang keluarga. Dimana keluarganya masih berkumpul, Mama Vina menatap bingung dengan anaknya yang berlari dengan handphone di kupingnya.


"Za, kenapa buru-buru?" mencoba bertanya, tapi tak mendapat jawaban Khanza.


Khanza terus berlari tanpa menjawab pwrtanyaan dari Mama Vina. Membuka pintu dan benar saja dia melihat Arif berada di atas motornya.


"Hai ...!" ucap Arif melihat Khanza dengan senyum sejuta pesonanya.


Khanza menganga tidak percaya, melepas handphone di telinganya dan mematikan panggilannya, mendatangi Arif yang masih setia duduk di motornya.


"Dasar cowo aneh! selalu saja tidak bertanya kalau ada maunya!" ucap Khanza setelah berada di dekat Arif.


"Aku 'kan sudah tanya tadi?" ucap Arif.


"Tanya doang, tapi langsung kesini. Belum juga di setujuin!" ucap sewot Khanza.

__ADS_1


"Ya, sudah! aku pulang kalau gitu!" ucap Arif kesal langsung menaikkan standar dan memutar kunci motornya.


"Lho! jangan pulang! jangan ngambek gitu dong?" ucap Khanza memegang lengan Arif mencoba menghentikan pemuda itu.


"Tadi katanya nggak setuju. Mending aku pulang aja! dari pada mengganggu disini!" ucap Arif dengan nada di buat marah, biar Khanza setuju dengannya.


"Siapa yang bilang nggak setuju coba? aku 'kan cuma kaget! siapa suruh tiba-tiba sudah ada di depan rumah."


"Jadi, mau nggak nih?"


"Em ...."


"Ayo, naik! kita jalan!" ucap Arif menarik tangan Khanza untuk menaiki motornya.


Khanza menahan tangan Arif. Arif mengerutkan dahinya menatap Khanza dengan penuh kecewa.


"Izin dulu sama yang di dalem! sama aku ganti baju dulu." ucap Khanza.


Arif melepas tangan Khanza, turun dari motornya dan berjalan masuk ke dalam.


"Lho, kok diam? katanya mau izin sama ganti baju! ayo dong!" ucap Arif menarik tangan Khanza yang terdiam menatap Arif berjalan masuk kedalam lebih dulu.


Mereka memasuki rumah Khanza dengan Arif yang mengandeng tangan Khanza. Khanza segera melepas genggaman tangan Arif saat mata sang Kakak tertuju pada tangan mereka. Muka Khanza berubah merah, dengan malu-malu Khanza izin berganti baju.


"A ... aku ke atas ganti baju dulu!"


Arif mengangguk pada Khanza, dan duduk di ruangan itu setelah di persilahkan Papa Khanza.


"Om, Tante, semuanya! Arif izin ajak Khanza keluar sebentar," ucap Arif sopan.


"Silahkan nak Arif!" ucap Papa khanza memberikan izin.


"Jagain Adik saya! jangan malam-malam pulangnya!" ucap Zay.


"Baik, Kak! terima kasih Om, saya akan menjaga Khanza!" ucap Arif.


Sambil menunggu Khanza, Arif yang memang sudah sedikit akrab dengan keluarga itu mengobrol dengan santainya.



*Khanza



.*Arif


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2