
"Ih, kamu jahat banget sih, Rif," kesal Khanza.
"Lho, kok, jahat?" bingungnya.
"Iya, jahat! masa putusinnya gitu banget," dengus Khanza.
Arif terkekeh menanggapi kekasihnya. "Malah tadinya aku mau putusin dia di depan banyak orang," celetuk Arif yang sukses mendapat beberapa pukulan kencang di lengannya.
"Auu! auuu! sa-sakit yang," ringis Arif. Bahkan mobil sempat sedikit oleng.
"Biarin!" sungut Khanza, melototkan mata dan berkacak pinggang.
"Galak banget, sih!" Arif mengembangkan senyumnya menatap sekilas muka garang Khanza.
Khanza melengos, menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Melipat dua tangan di dada, Khanza begitu kesal pada kekasihnya itu. "Habis, punya pacar TEGAAN banget," tekan Khanza penuh kesal.
Arif menarik nafas seraya menyugar rambut kebelakang dengan sebelah tangan, menghembuskannya kasar dari mulut hingga memunculkan suara di dalam keheningan mobil itu. Setiap kali melihat Khanza kesal, dia selalu merasa bersalah pada gadis itu.
"Za?" panggilnya lembut. Namun, Khanza malah melengos memalingkan wajahnya pada jendela di samping.
Meskipun Arif masih fokus pada jalanan di depannya, tapi masih terlihat dari sudut matanya kalau Khanza benar-benar marah kepadanya.
Ngambek lagi!
Memelankan laju mobil, Arif menatap sebentar pada gadis di samping. Untunglah jalanan masih sepi pagi ini. Arif menarik sebelah tangan Khanza yang masih bersidekap. Menautkan jari jemari mereka dan membawa punggung tangan itu ke bibirnya. Sesekali melirik jalan, Arif mengecup lembut permukaan kulit mulus itu. Namun, Khanza yang masih Tidak bergeming membuatnya menekuk muka sendu.
Melepas tangan Khanza, Arif berujar sendu, "Aku seperti ini karena terlalu mencintai kamu, Za. Mungkin caraku selalu salah di mata kamu. Tapi, ini lah aku ..., aku tidak bisa mengontrol emosiku jika itu berhubungan dengan kamu, Maaf jika aku selalu membuatmu kecewa." Arif mengakhiri kalimatnya dengan ucapan maaf tulus.
Bukan marah yang di rasakan Khanza, dia hanya kesal karena Arif lagi-lagi tidak bisa mengendalikan dirinya. Khanza tahu kelakuan Vera sangat melampaui batas, tapi bukankah lebih baik jika tidak membalas perlakuan mereka. Seharusnya Arif bicara dengan baik pada Vera, bukan malah semakin melukai perasaan wanita itu. Jantungnya berdebar kencang saat Arif mencium tanganya, rasa kesal itu berubah menjadi hangat berbunga-bunga. Arif selalu bisa mencuri hati Khanza.
Ketika tangannya di lepas, Khanza merasa kecewa. Memalingkan muka, tadinya dia ingin marah pada Arif. Namun, melihat wajah sendu lelaki itu, Khanza mengurungkan niatnya. Perkataan Arif menohok sampai ke jantung, melihat wajah sendu sang kekasih hatinya berubah pilu.
Sebesar itu 'kah cintamu?
__ADS_1
Khanza merasa bersalah, dia merasa terlalu menuntut Arif berubah, tanpa mengerti seberapa besar kekasihnya itu sudah mencoba. Khanza terharu dengan kejujuran Arif mencintainya sedalam itu, sudut matanya memanas, air mata menumpuk di pelupuk mata. Mengigit bibir bawah, Khanza menahan jatuhnya air mata.
"Maaf Za, jika aku masih belum bisa berubah seperti yang kamu mau, jangan lelah untuk terus mengingatkanku. Jangan lelah untuk terus bersamaku, jangan lelah untuk mencin_"
Air mata Khanza tumpah seketika itu juga. Menghambur memeluk lengan Arif. Dia tidak menyangka kalau lelaki yang dulu sangat-sangat di kaguminya itu, kini memberikan cinta sebesar itu kepadanya.
"Aku selalu maafin kamu, Rif. Aku akan selalu bersamamu. Aku akan selalu mencintaimu, Rif," ungkap Khanza di sela tangisnya.
Arif tersenyum puas mendengar ucapan Khanza. Dia mencium pucuk kepala Khanza yang menempel di bahunya.
"Terima kasih atas semua maaf dan cinta kamu, sayang," tuturnya lembut.
"Jangan nangis, dong! Hatiku sakit, yang, kalau lihat kamu nangis," ujar Arif dengan kekehan kecil.
Buk!
Tangan Khanza mendarat di bahu Arif.
"Aduh!" ringisnya. "Seneng banget yang, nyiksa aku," sindir Arif.
Arif terkekeh geli melihat Khanza, mengangkat tangannya menghapus sisa air mata di pipi Khanza. "Punya pacar itu di sayang, Za. Jangan di pukul-pukul terus."
"Pacarnya nakal!" cibir Khanza.
Mobil sudah memasuki halaman sekolah, Arif memarkin mobilnya sejajar dengan mobil-mobil lain. Tapi, mereka masih belum mau turun dari dalam mobil itu.
"Za?" panggil Arif.
"Hum," gumam Khanza sembari membenarkan make upnya, menepuk-nepuk pelan pakaiannya.
Arif memutar tubuhnya menghadap Khanza. Menggenggam kedua belah tangan gadis itu, hingga Khanza ikut menghadap kepadanya.
"Kangen," rengek Arif di buat manja.
__ADS_1
Khanza menautkan kedua alisnya. "Aku di sini, kangen apa lagi?" ujar Khanza lembut.
"Kangen, cium kamu," jujur Arif.
Khanza menganga tak percaya mendengar kata to the point dari kekasihnya itu, belum sempat Khanza menyahut. Bibirnya sudah di bungkam Arif. Ciuman pertama setelah mereka benar-benar resmi menjadi sepasang kekasih.
Setelah sekian lama Arif tak merasakan manisnya bibir ranum milik Khanza, akhirnya dia bisa menyapu habis bibir itu kembali. Arif melepas pagutan bibir mereka saat Khanza mulai ke habisan nafas.
Hening, hanya ada deru nafas keduanya yang masih saling melempar tatapan. Jantung mereka berbunyi bersahutan seperti berteriak ke girangan. Arif mengangkat tangannya menyapu sisa basah di bibir Khanza.
"Terima kasih," ujar Arif lembut, dia kembali mencium pucuk kepala kekasihnya. "Aku sayang kamu, Za," gumamnya di atas kepala Khanza.
Khanza memeluk Arif, perasaannya benar-benar tak bisa di gambarkan saat ini. Setelah sekian lama mengagumi dalam diam, akhirnya dia bisa merasakan mencinta dan di cinta.
"Aku juga sayang kamu, Rif," balas Khanza dalam pelukan Arif.
Di dalam mobil putih Arif yang terparkir di halaman sekolah menjadi saksi sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.
Arif dan Khanza keluar dari mobil, berjalan bersama memasuki koridor sekolah mereka. Banyak mata mengiringi langkah kaki mereka, karena mungkin sudah tahu cerita sebenarnya. Cerita cinta Arif dan Khanza yang terukir dengan pahatan-pahatan penuh drama. Masih panjang perjalanan kisah mereka.
"Sudah masuk, Za?" tanya Dea yang sedang duduk bersama Randra di dalam kelas.
"Bosan gue, De, di rumah," jawab Khanza.
"Woi, Rand! Pindah lo, pacaran mulu," celetuk Arif menepuk kencang bahu Randra.
"Sialan, lo, Rif. Nggak bisa lihat teman senang dikit, ganggu aja," sugut kesal Randra. Dia bangkit berdiri agar Khanza bisa duduk di bangkunya.
"Pacaran, jangan di sekolah, Rand!" tegur Arif.(Bukannya, dia lebih parah ya😒 dasar si Arif 😂)
"Yang sering pacaran di sekolah itu, bukannya lo," balas Randra.
"Lo, 'kan play_"
__ADS_1
"Aaa ... yo kita duduk bro!" ajak Randra merangkul bahu Arif. Kalau Arif menyelesaikan kalimatnya bisa-bisa ada yang ngamuk, gagal deh pendekatannya.