
Faizal, Dea, dan Zia, terus berjalan ke arah toilet. Zia dan Faizal yang berjalan lebih dulu menghentikan langkahnya, Dea menabrak belakang Faizal. Dea menatap pada arah yang sama.
Betapa terkejutnya mereka melihat Vera yang sedang marah-marah kepada Khanza, tidak mendengar dengan jelas apa yang menjadi masalah dalam pertengkaran itu. Mereka hanya melihat Vera menunjuk-nunjuk Khanza yang sudah mengeluarkan air matanya. Mereka mencoba lebih mendekat kepada Arif, Khanza, dan juga Vera.
Vera sudah berada di pelukan Arif, dan Khanza yang sudah berbalik dan berlari ke arah mereka.
Faizal ingin menghentikan Khanza berlari, tapi malah di tabrak gadis itu. Mungkin karena dia tak melihat kalau ada orang di depannya, hampir saja Khanza terpental kebelakang jatuh kelantai.
Dengan cepat Faizal menarik tangan Khanza, dan langsung membawanya kepelukannya.
Khanza awalnya ingin berontak, tetapi, saat mencium bau parfum yang sangat familiar membuatnya menengadah menatap orang yang memeluknya.
"Faizal!" lirih Khanza.
Memastikan kalau orang itu sahabatnya, dan ketika dia mengetahui bahwa itu Faizal, Khanza menenggelamkan mukanya ke dada Faizal dan semakin terisak dengan tangisannya.
Faizal mengepalkan tangannya ketika melihat tatapan Arif pada Khanza.
'Pasti ini gara-gara Arif!"
Mencoba menebak apa yang membuat sahabatnya menangis sampai seperti ini, hati Faizal begitu tersayat mendengar suara isakan gadis di pelukannya, selama dia bersahabat dengan Khanza tidak pernah sekalipun dia mendapati Khanza menangis sampai seperti ini.
Bahkan saat berpisah dengannya, Khanza hanya menangis dalam diamnya, tidak mengeluarkan suara tangis luka yang begitu menyayat jiwa.
Zia menghampiri Arif dan Vera, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka bertiga.
"Ada apa ini Ver!" tanya Zia.
Hanya mendapat kedipan mata dari Vera, dan diamnya Arif dengan tatapan terkunci pada Faizal.
"Za, apa yang terjadi? sampai kamu nangis seperti ini?" Dea mengelus punggung Khanza mencoba menenangkan.
Dea angkat bicara menanyakan kepada Khanza langsung, tapi tak mendapat jawaban dari Khanza, malah pertanyaan itu semakin membuat Khanza menangis.
Faizal mengelus kepala Khanza dengan lembut, tapi matanya seolah mengunci dengan tatapan Arif.
Seolah berperang dengan kilatan mata masing-masing, Faizal sudah tidak bisa menahan emosinya. Faizal melepas pelukannya pada Khanza, dan berjalan mendatangi Arif.
Dea membawa Khanza kedalam pelukannya saat Faizal melepas pelukannya, tak berusaha mencegah lelaki itu yang begitu terlihat emosi.
Menarik kerah baju Arif dengan penuh emosi, membuat pelukan Arif dan Vera terlepas, Faizal mengangkat tangan ingin melayangkan pukulannya, tapi tangannya di tahan Khanza yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya.
"Jangan!" teriak Khanza menahan tangan Faizal.
"Kita pergi dari sini, Fa." ajak Khanza menarik paksa tangan Faizal.
__ADS_1
Faizal menatap wajah Khanza yang terlihat begitu sendu, air mata masih telihat keluar dari mata indah itu, mengusap air mata di wajah Khanza, Faizal tak tega melihat Khanza seperti itu membuatnya kembali berbalik dan melayangkan pukulan di wajah Arif.
"Faizal ...!!!" jerit Khanza tidak sempat menahan Faizal lagi.
Arif tersungkur kelantai karena pukulan Faizal, sudut bibirnya terlihat mengeluarkan darah.
Dea, Zia, dan Vera, membulatkan mata tak percaya dengan apa yang mereka lihat, namun diam di tempat seolah patung yang tidak bisa bergerak.
Khanza menangis kembali dan berlutut menghampiri Arif yang tersungkur di bawah, mencoba mengusap sudut bibir Arif yang berdarah.
Arif menatap dalam pada mata sayu gadis manis di depannya. Semakin merasa bersalah melihat air mata yang terus mengalir di pipi Khanza.
"Ayo pulang!" Faizal menarik tangan Khanza, menjauh dari Arif.
Khanza hanya pasrah di seret keluar dari pusat perbelanjaan itu, matanya menatap sendu pada Arif yang masih berada di lantai.
Dea mengikuti Khanza dan Faizal masuk kedalam mobil dan pergi menjauh dari tempat itu.
***
Vera dan Zia membantu Arif berdiri.
"Kamu nggak apa-apa yang?" tanya Vera.
Beruntung mereka berada dekat toilet jadi tidak begitu banyak yang melihat mereka, hanya beberapa orang yang berlalu lalang tapi tidak juga perduli dengan mereka.
"Ini Rif!" Zia memberikan sapu tangannya kepada Arif, yang langsung di rebut Vera, dan di kembalikannya lagi dengan ketusnya pada Zia.
"Nggak usah!" ucap Vera.
Vera menarik tangan Arif mengajaknya pulang.
Zia begitu kesal dengan Vera, menyusul mereka dengan hentakan kaki penuh emosi.
Arif menyetir mobil tanpa mengeluarkan suara, pikirannya yang terus melayang pada Khanza. Tatapan penuh air mata dan begitu meyiratkan luka dari Khanza, membuat Arif melupakan rasa sakit di wajahnya.
Bahkan pukulan Faizal tak sebanding dengan apa yang sudah dia perbuat pada Khanza, dia tak menyalahkan Faizal yang sudah memukulnya, bahkan jika dia di posisi Faizal, dia akan melakukan lebih dari itu.
Zia yang duduk di belakang kemudi menatap muka Arif dari spion, tetap tampan meskipun sedikit lebam dan masih ada noda darah di sudut bibir pria itu, Zia juga diam karena masih kesal dengan perbuatan Vera mengembalikan sapu tangannya.
Vera dalam hatinya begitu senang karena berhasil membuat Arif menjauh dengan Khanza. Vera merasa tidak senang karena Arif dari kemarin terus dekat dengan cewe cupu itu. Bahkan ketika di dalam bioskop Vera melihat Arif yang menarik tangan Khanza, dan selalu menatap pada Khanza. Kejadian sebelumnya pun sudah di lihat Vera dari Arif yang sebenarnya menarik tangan Khanza.
Vera memutar balikkan fakta agar terjadi konflik di antara mereka, Vera mengetahui kalau Arif akan selalu mengiyakan apa yang dia ucapkan agar dia tidak marah pada Arif.
Sedikit membuat drama, Vera berhasil melancarkan aksinya. Khanza pasti akan membenci Arif setelah ini pikirnya.
__ADS_1
***
Khanza memilih duduk di belakang bersama Dea, Terus menangis dalam pelukan Dea. Entah karena apa dia menangis kembali, pikirannya begitu kacau saat ini, tak mampu bercerita sama sekali.
"Sabar ya Za! apa pun yang terjadi," ucap Dea menenangkan sahabatnya itu dengan tepukan lembut di kepalanya.
"Za, masa cuma gara-gara cowo bre****k itu! kamu nangis segitunya sih!" ucap Faizal yang sudah merasa pusing melihat Khanza seperti itu.
Khanza mengangkat kepala menatap Faizal lewat spion.
"Bisa nggak! kalau nggak tau masalahnya! jangan main pukul orang!" jawab Khanza dengan kilatan mata emosinya.
"Ooo ...! jadi kamu marah karena aku pukul cowok bre ...."
"Dia punya nama!" potong Khanza.
"Aku nggak nyangka kamu sudah berubah Za, hanya karena cowok, kamu seperti ini," ucap Faizal.
Khanza ingin menjawab, tapi Dea melerai keduanya yang terlihat sama-sama emosi.
"Sudahlah! kenapa jadi kalian ikut berantem sih, seharusnya kalian saling suport dong!"ucap Dea menengahi.
"Aku sudah belain Khanza, dianya aja yang malah belain tu cowo bre****k!" sindir Faizal kepada Khanza.
"Belain, sih belain! tapi nggak usah mukul anak orang bisakan!" ucap Khanza merasa tidak suka dengan Faizal yang main kekerasan.
"Aduh ....! aku pusing kalau kalian berantem!" ucap Dea memegang kepalanya.
"Za, sebenarnya apa masalahnya sih?" tanya Dea menatap Khanza.
Khanza menarik nafas dalam dan mulai menceritakan sejak pertama Vera yang melihat mereka bergandengan tangan, dan membuat Vera salah paham akan semua itu. Sampai Vera yang menuding bahwa dirinya mencoba mendekati Arif, tapi Khanza tidak menceritakan kalau Arif mengiyakan tuduhan Vera, takut kalau Faizal semakin emosi.
Faizal mencerna ucapan Khanza, Faizal yakin tetap Arif yang bersalah seharusnya dia menjelaskan apa yang terjadi tidak berdiam diri dan membuat semuanya semakin runyam seperti tadi.
"Dasar geng centil! semuanya sama aja, suka seenaknya sama orang!" Dea berkata tidak terima jika Khanza juga di tuduh sama seperti dirinya.
Khanza diam kembali dengan pemikirannya melayang kepada Arif yang sudah membuat luka menganga di hatinya.
Dengan melihat tatapan bersalah dari Arif, sebelum dia meninggalkannya, Khanza yakin ada alasan dari Arif melakukan semuanya.
Mobil terus melaju membelah jalan yang sedikit sepi karena matahari sudah menyelesaikan tugasnya.
__ADS_1