CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-73~Danau


__ADS_3

Arif melirik arloji yang setia melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam sepuluh pagi. Pantas saja! di luar, matahari sedang memanggang suasana kota Jakarta. Sebuah mobil putih sedang terperangkap dalam kemacetan di jalan. Menghela nafas kasar, pemuda itu berkali-kali memencet klakson mobil.


"Sabar," tegur Khanza.


Desahan pelan keluar dari bibir Arif, kekasihnya itu memang pengendali emosinya. "Selalu sabar kalau untuk gadis secantik kamu," gombal Arif menyunggingkan senyum tipis.


"Ish, mulai gombalnya." Memutar bola mata malas, Khanza melengos membuang muka ke arah jendela.


Jalanan mulai lenggang, kendaraan mulai bergerak maju dengan perlahan. Arif menginjak gas mobilnya perlahan, mencari celah agar bisa dengan cepat sampai pada tujuan.


Ringtone dari poncel Arif berbunyi nyaring, memecah keheningan yang sejenak tercipta di mobil itu.


"Angakatin, dong, yang!"


Khanza langsung meraih benda canggih yang terletak di dashboard mobil itu.


"Siapa, yang?" tanya Arif.


"Randra."


Menggeser tombol hijau, Khanza menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Hallo, Rand!"


"Eh, lo, Za. Arifnya nyetir ya?"


"Iya, Rand. Ada apa, Rand?"


"Kalian sudah dimana? kok, lama, sih?"


"Kita sudah dimana, yang?" tanya Khanza pada Arif. Dia sedikit menjauhkan poncel dari telinganya.


"Bentar lagi sampai!" sahut Arif lembut.


"Bentar lagi sampai, Rand!" Khanza mengulang kalimat sang kekasih.


"Oh, oke. Gue sama Dea tunggu di danau ya, Za!"


"Iya, Rand."


Memutus panggilan telpon, Khanza tiba-tiba kepo dengan poncel sang kekasih. "Kok, pakai kunci, sih?" dengusnya pada Arif.


"Masukin tanggal lahir kamu," jelas Arif yang tetap fokus pada kemudi, dia menyalip beberapa mobil di depannya.


Khanza terperangah, tidak menyangka kalau lelaki itu menggunakan tanggal lahirnya untuk mengunci benda yang setiap saat, pasti selalu di pegang Arif. Memasukkan beberapa angka, dari mulai tanggal, bulan, dan dua angka terakhir dari tahun lahirnya. Khanza menyunggingkan senyum manis, ternyata benar. Bahkan walpaper poncel itu pun foto candid dari dirinya.


"Ish, jelek banget walpapernya," komentarnya.

__ADS_1


"jelek dari mana, orang cantik gitu!"


"Masa, sih? Kayanya cantikan aku, deh!" candanya.


"Selalu cantik kalau yang ini," puji Arif.


"Gombal!" Pipi Khanza merona merah. Dia menunduk dan melanjutkan kembali mengotak-atik poncel sang kekasih. Membuka pesan-pesan chat dari whatshap maupun SMS.


"Ih, kok, banyak banget chat cewenya."


"Lihat dulu, di balas nggak?"


Iya, sih. Nggak di bales. Dasar cewe ganjen.


Khanza menghapus chat-chat itu, dia beralih membuka riwayat panggilan Arif. Ada puluhan panggilan tidak terjawab dari nomor tanpa nama, tapi fotonya selalu gambar cewe. Hanya beberapa yang bergambar cowo.


"Di telpon juga!" Khanza mencebik kesal. "Emang susah kalau punya pacar ganteng."


"Ih, ada yang cemburu?" ledek Arif.


Khanza hanya diam, tidak menanggapi. Menghapus semua panggilan itu, bahkan ada beberapa yang di block gadis cupu itu. Mengembalikan poncel Arif pada dashboard, Khanza mengancam sang kekasih. "Awas! kalau sampai balas atau telponan sama cewe!"


"Iya sayangku ...."


"Janji!" Gadis itu mengacungkan jari kelingkingnya.


Mobil berbelok ke arah danau, Arif memarkirkan mobil di tempat yang sudah tersedia di sana. Mematikan mesin mobil, Arif segera mengajak sang kekasih untuk menyusul sahabat mereka.


"Yang handphone, kamu!" seru Khanza.


"Bawa'in," sahut Arif yang sudah keluar dari mobil.


Mengambil poncel lelaki itu, Khanza memasukan kedalam tas miliknya. Ikut turun dari mobil, Khanza merotasikan pandangan pada hamparan air tenang yang begitu menyejukkan. Matanya menangkap dua orang berlawanan jenis yang duduk di dermaga. Mengajak Arif untuk segera menemui sahabatnya itu.


"Ehem!" Deheman Khanza membuat dua orang yang sedang duduk di dermaga itu menoleh.


"Khanza!" teriak Dea melengking. Randra sampai harus menutup telinga dengan tangan.


"Ckckck," dacak Randra menggelengkan kepala.


Khanza mempercepat langkah ke arah Dea, rasanya dia sangat rindu dengan sahabatnya itu. "Aku kangen De!" ujar Khanza setelah berhasil memeluk sahabatnya.


"Aku juga kangen, Za. Kamu sudah nggak papa 'kan?" tanya Dea.


Khanza mengurai pelukannya, menatap Dea dengan mata berkaca-kaca. Menggelengkan pelan kepala, gadis itu menatap Arif yang sudah berdiri bersisian dengan Randra.


"Aku nggak boleh egois, De. Aku masih punya ini, si cowo emosian." Khanza langsung beralih ke samping Arif. Menyisipkan tangannya ke belakang Arif.

__ADS_1


"Makasih!" bisik Arif sembari mencium pucuk kepala gadis itu.


"Aku juga punya dia!" seru Dea tidak mau kalah. "Si cowok playboy." Dea mencubit pinggang Randra.


"Au! sakit yang!" ringis Randra langsung menyentak tangan Dea agar mendekat padanya, merangkul kekasihnya, Randra juga menhujani pucuk kepala Dea dengan ciuman.


"Kalian pacaran!" pekik Arif dan Khanza bersamaan.


"Kompak banget," sindir Randra.


"Iya ya, Yang," sambung Dea.


Arif dan Khanza saling melempar pandangan sesaat. Mentap kembali pada dua orang yang sedang tertawa sumringah, mereka baru mengerti kalau dua orang itu sudah saling mengungkapkan perasaan mereka.


"Kapan jadiannya?" kepo Khanza.


"Baru tadi, Za," jelas Dea.


"Wih, akhirnya sohib gue, berani juga nembak cewe bar-barnya!" ledek Arif. "Sudah di putusin nggak tu, si Anita, Sintia, Luna, siapa la– auu!" Arif meringis saat perutnya mendapat tamparan di bahu dari Randra.


"Sialan lo, Rif," umpat Randra. Karena saat ini Dea sudah berkacak pinggang menatapnya, wajah sang kekasih sudah merah padam, bom emosi pada gadis bar-bar itu siap meledak saat itu juga.


"Satu lagi, Nina yang di kelas kita De. Itu lho, yang bodynya sexy itu," celetuk Arif, dia sejak tadi menahan tawa melihat air muka sang sahabat yang sudah pucat.


Dea mencapit telinga Randra, menariknya dengan kencang. Hingga pemuda itu meringis dan berteriak minta ampun. "Rasain!" gemas Dea.


"Ampun, yang! Jangan dengerin Arif, dia bohong yang!" bela Randra.


"Auu!" ringis Randra semakin nyaring saat Dea semakin menarik daun telinganya.


Arif tertawa terbahak-bahak menyaksikan Randra kalah telak dengan Dea.


"Sialan lo, Rif, awas aja nanti!" ancam Randra, yang semakin di sambut tawa oleh Arif.


"Sudah, De. Kasian itu, takutnya lepas kupingnya!" tegur Khanza yang sebenarnya juga ikut menertawakan Randra. "Kamu, sih, yang. Seneng banget recokin mereka." Khanza menyenggol Arif yang tidak bisa menghentikan tawanya.


"Sudah, yang. Sakit banget, nih!" mohon Randra.


"Aku jamin nggak ada yang lain lagi, selain ka–"


"Bohong, De. Jangan percaya!" Arif memotong ucapan Randra.


"Yang, sudah ah, kasian!" tegur Khanza. "De, sudah, dong. Lepas nanti kupingnya itu, kasian jadi jelek!"


"Biarin jadi jelek, biar nggak tebar pesona lagi!" Dea menarik kembali daun telinga yang sudah memerah itu.


"Au ... auuu!" Randra meringis semakin kencang, mukanya pun merah padam menahan rasa perih di telinganya.

__ADS_1


Arif sampai memegang perutnya menertawakan sang sahabat yang kalah telak dengan sang kekasih. Khanza pun ikut tertawa dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Selalu saja ada yang membuat mereka tertawa jika sudah berkumpul bersama.


__ADS_2