
Faizal dan Randra kehilangan jejak mobil Khanza. Arif yang mengejarnyapun menghilang entah kemana.
"Sial....! kita kehilangan jejak!" umpat Faizal.
"Kita balik aja Fa, semoga Arif bisa menjelaskannya," ucap Randra.
Faizal dan Randra memutuskan kembali ke area drag,
"Aku balik duluan Rand, mungkin Khanza sudah pulang kerumahnya."
"Oke Fa, nanti hubungin aku kalau ada apa-apa."
"Siap bro!"
Faizal melajukan motornya untuk pulang kerumah. Sesampainya di rumah dia melihat mobil Khanza sudah terparkir di depan rumahnya, Faizal merasa lega Khanza sudah smapai dengan selamat.
"Nanti aku akan bicara dengan Khanza, biarkan di tenang dulu," ucap Faizal sendirinya.
****
Keesokan harinya ....
Khanza bangun dari peristirahatannya. Khanza pikir hari ini dia butuh teman yang bisa menghilangkan pikirannya dengan semua ini. Khanza teringat akan sepupunya Sheryl, sudah lama dia tidak berkunjung kerumah sepupunya yang satu itu.
Khanza sudah siap berangkat kerumah Sheryl, Dia minta izin kepada orang tuanya untuk berkunjung kerumah kakak sepupunya itu.
"Ma, Pa, Aku mau izin ke rumah Kak Sheryl ya?"
"Sheryl .... Anaknya Tante Rini?" tanya Mama Khanza.
"Iya Ma, kemarin katanya kakinya habis terkilir," jawab Khanza.
"Oh ...! nanti pulangnya jangan malam-malam ya sayang," ucap Papa Khanza.
"Siap ...!!!" jawab Khanza memberi hormat.
Setelah mendapat izin dari kedua orang tuanya, Khanza berangkat ke rumah Kakak sepupunya Sheryl dengan di antar supir. Dia ingin menghabiskan waktu dengan Kakak sepupunya, agar melupakan masalahnya dengan Arif dan Faizal.
Sesampainya di rumah Sheryl, Khanza di sambut Tante Rini, dia adalah Mama dari Sheryl.
"Hallo, Tante ...!!!" sapa Khanza.
"Eh, Khanza, sendirian sayang?"
"Iya Tan, Kak Sherylnya ada Tan?"
"Ada di kamarnya, ayo Tante antar!"
Aku berjalan mengikuti Tante Rini kekamarnya Kak Sheryl. Sesampainya kami di depan pintu, tante Rini mengetuk mengetuk beberapa kali barulah di buka oleh seorang gadis cantik yang kemarin baru bertunangan dengan orang yang di cintainya.
Kak sheryl nampak terkejut melihat kedatanganku, tapi suara Tante Rini membuatnya tersadar dari tatapannya.
"Mau sampai kapan di kamar? Khanza sepupumu datang."
"Hai Khanza, apa kabar?" Sapa Sheryl dengan hangat.
"Halo Kak Sher," aku membalas sapaan Kak Sheryl dan langsung menghambur memeluknya, aku lupa kalau kakinya masih sakit, untung saja dia tidak apa-apa dan balas memelukku dengan hangatnya.
"Kak Sher, boleh aku main?" ucapku setelah melepaskan pelukan kerinduan kami.
__ADS_1
Tentu saja,tapi hari ini aku ada janji dengan dokter Mario untuk kontrol."
"Aku boleh ikut?" tanyaku.
"Apa kamu sudah izin orang tuamu?"
"Iya tentu saja aku sudah izin, Kakak."
"Baiklah, kamu temani aku kontrol ya. Kebetulan hari ini tidak ada yang menemaniku pergi."
"Siap Kakak cantik," aku menjawab dengan seyuman manis di bibirku. Hari ini aku akan mempunyai teman untuk mengalihkan pikiranku pada Arif, meskipun tidak sepenuhnya setidaknya aku tidak menangis lagi di dalam kamarku.
"Kamu bertengkar dengan Baruna?" Tanya Tante Rini.
Aku memandang Tante Rini yang bertanya dengan seriusnya, Tante Rini sedang memandang Kak Sheryl dan pertanyaannya itu berarti untuk Kak Sheryl. Aku hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka berdua, karena aku pun sebenarnya tidak mengerti apa yang sedang coba mereka bahas.
"Tidak Ma," jawab Kak Sheryl.
"Jangan bohong! Semalam terlihat jelas kalian saling acuh."
Kak Sheryl terdiam.
"Jangan rusak rencana perjodohan yang sudah kami susun selama ini."
"Ma, ada Khanza di sini.Haruskah membahasnya sekarang?"
Tante Rini menatapku, sepertinya dia baru sadar kalau disana bukan cuma ada mereka berdua.
"Baiklah, kamu jaga Khanza. Hati-hati di jalan."
Tante Rini berpaling dan meninggalkan kami berdua setelah mendapatkan anggukan dari Kak Sheryl. Memberikan senyum kakunya ke arahku, sebelum benar-benar keluar dari kamar Kak Sheryl.
"Khanza, bagaimana hubunganmu dengan Arif di sekolah?"
Pertanyaan Kak Sheryl membuatku terdiam sejenak, menarik nafas dalam.
"Aku dan dia? Entahlah Kak, aku ragu sebenarnya aku mencintainya atau hanya sekedar mengaguminya."
Ku pejamkan mata ini saat bayangan Arif menari di benakku.
"Tanyakanlah pada hatimu yang paling dalam. Hati tidak akan pernah berbohong."
Aku membuka mata dan melihat Kak Sheryl yang menasehatiku dengan seriusnya.
"Tapi kamu kan masih pelajar ya.Hmm .... Mungkin kata mengagumimu lebih cocok untuk Arif. Kamu harus fokus belajar," tambahnya.
"Benarkah itu Kak Sher?" tanyaku. "Belajar adalah hobiku. Aku tidak akan meninggalkannya," ucapku lagi.
"We'll never Know," jawabnya dengan memandang handphone-nya.
Aku masih memandang Kak Sheryl tapi dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu, mencoba bertanya langsung kepada sepupu cantikku itu.
"Kak Sher, sedang memikirkan apa?"
"Ah maafkan aku. Aku tidak sedang memikirkan apa-apa. Ayo kita pergi."
Tanganku langsung di tarik Kak Sheryl keluar dari kamar itu. Kami pun pergi kerumah sakit dengan di antar supir Kak Sheryl. Sebelumnya aku menyuruh supirku untuk pulang saja dan nanti aku bisa pulang sendiri.
Kami duduk di jok belakang kemudi, tertawa bersama dan saling bertukar cerita. Handphone Kak Sheryl berdering dan menghentikan tawa kami berdua, Kak Sheryl mengangkat telpon yang sepertinya dari Kak Baruna.
__ADS_1
Aku memilih mengotak-atik handphoneku, ternyata begitu banyak pesan chat masuk dari teman-temanku dan Arif juga Faizal. Aku tidak berniat membalas satu chat pun dari mereka karena aku ingin melupakan sejenak tentang mereka.
"Ada Khanza sepupuku." aku mendengar Kak Sheryl menyebut namaku.
"Lihat ada Khanza di sampingku." Kak Sheryl mengarahkan benda pipih itu ke arahku.
"Hai Kak Baruna. Maaf kemarin aku tidak datang ke acara pertunangan Kakak. Aku pergi dengan teman-temanku," ucapku menyapa Kak Baruna.
"Tidak masalah. Kakak titip Kak Sheryl, jangan sampai dia di goda lelaki lain. Kakak percaya padamu,"
Aku membalas ucapan Kak Baruna dengan senyuman, obrolan kami pun terhenti karena Handphonenya sudah di tarik Kak Sheryl kembali.
Aku pikir Kak Baruna begitu menyayangi Kak Sheryl, dia begitu menghawatirka Kak Sheryl dan begitu takut kalau Kak Sheryl di rebut orang lain. Andai saja Arif begitu kepadaku. Tapi mana mungkin Arif sudah memiliki kekasih hati yang jauh lebih canti dariku.
Pikiranku terus terfokus pada Arif, ternyata begitu sulit melupakan orang yang benar-benar sudah membekas di hati. Sampai aku pun tidak menyadari kalau Kak Sheryl sudah berhenti bicara dengan Kak baruna.
Aku kembali dari lamunanku tentang Arif saat mendengar Kak Sheryl seperti sedang panik. Tunggu Kak Sheryl sedang bicara dengan siapa?.
"Telpon dari siapa Kak?" tanyaku pada Kak Sheryl saat dia sudah mengakhiri terlpon itu dan menyuruh supir kerumah sakit X.
"Bima kecelakaan. Tadi Abi yang menelpon."
"Ka-Kak Bi-Bima...!!!"
Aku menutup melutku dengan kedua tangan merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar.
Kami sampai di rumah sakit tempat Kak Bima di rawat. Keluar dari mobil terburu-buru Dan berlari kearah lift.
Aku mengikuti Kak Sheryl di belakang saat memasuki ruangan Kak Bima. Disana sudah ada seorang dokter cantik sahabat Kak Bima, dokter Quin namanya aku pernah dikenalkan dengan dokter cantik itu oleh Kak Bima karena aku yang begitu suka dengan novel online (Love, Revenge and the sea) yang di tulisnya. Ada Kak Nicho mantan suami Kak Abi, Kak luna dan Kak arya, Kak Kiara yang sudah Fell in love with my arogant fiance pada Bang Dirga teman bisnis Kak Bima.
Rubby Best Friend Foreverku juga sudah berada disini, Saat mendapat kabar kalau Kak Bima di rumah sakit. Aku langsung memberi tahu Rubby karena dia begitu menyukai Kak Bima. Walaupun dia tau kalau Kak Bima sudah mempunyai istri Kak Abi, tapi Rubby selalu ingin Reinkarnasi cinta Rubby dengan Kak Bima. Rubby datang dengan membawa kue pelangi kesukaan dari Kak Bima, tapi dia tidak bisa berkata apa-apa saat melihat jasad Kak Bima.
Mama dan Papanya Kak Abi mencoba menenangkan Kak Abi yang terus-terusan menangis histeris.
Aku merasa lemas saat mendapati jasad Kak Bima sudah di tutupi kain putih. Air mataku seketika turun tanpa di minta, bagaimana ini bisa terjadi orang yang selalu menjadi tempat aku bercerita tentang Arif kini sudah tiada secepat ini. Apalagi saat mendapati Kak Abi yang meracau di depan jasad Kak Bima, aku semakin tidak bisa membendung air mataku.
"Khanza sayang .... Bisakah kamu bangunkan Kakakmu itu untukku? Dia tidak mau mendengarkanku. Padahal ia selalu mendengarkanmu bercerita tentang Arif temanmu."
Kak Abi yang tiba-tiba memandangku, mendekat kearahku dan mengguncang tubuhku. Dia manyuruhku membangunkan Kak Bima.
"Kak Bima telah pergi," lirihku "Kak Abi, kita hanya bisa ...."
"Sheryl ...." Kak Abi menyela ucapanku dan beralih pada Kak Sheryl. Aku semakin sedih melihat Kak Abi yang begitu terpukul dengan kepergian Kak Bima.
"Maafkan aku dan Bima yang tidak bisa menghadiri pesta pertunanganmu dengan Baruna. Tapi bukankah Bima sudah berjanji akan menemanimu mengurus pernikahanmu. Mengenalkanmu pada jasa Marriage Oreder yang bagus. Ayo kau boleh membangunkannya tagih janjinya padamu. Jika dia tidur seperti itu bagaimana dia bisa menemanimu," Ucap Kak Abi begitu pilunya.
Kak Abi terus meracau meminta semua orang membangunkan Kak Bima. Kak Sheryl menarik Kak Abi kedalam pelukannya mencoba memberikan ketenangan dan menyadarkan Kak Abi kalau Kak Bima sudah tenang di sana.
Kak Abi berteriak histeris pada kami semua, Aku tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaannya saat ini. Kehilangan seseorang yang begitu di cintai. Wajar bila Kak Abi terlihat begitu shock atas semua ini.
Kak Nicho mencoba membujuk abi agar tenang. Kak Abi menangis memberikan ciuman di kening, mata, hidung, dan wajah Kak Bima.
Membisikkan kata-kata yang begitu pilu bagi semua yang mendengarnya. Aku memeluk Kak Sheryl karena tidak sanggup melihat Kak Abi seperti itu, ingin rasanya aku meringankan beban yang di pikul Kak Abi.
Selamat jalan Kak Bima, aku akan menjaga Kak Abi disini. Beristirahatlah dengan tenang kami semua menyayangimu.
*Yang bergaris miring adalah judul novel dari para author-author hebat, silahkan di baca pasti sangat bagus, dan bisa membuatmu masuk dalam cerita mereka.
__ADS_1
*jangan lupa like, komen, fav, dan bintang 5 ya ....!!!