CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-77~Playboy vs Gadis Bar-bar


__ADS_3

Pagi yang terlalu cerah untuk sebuah air muka muram dari Randra. Melempar tas ke atas meja, lelaki yang di beri gelar playboy sekolah itu, kini menekuk muka dan besungut dengan kesal, "Tuduh aja terus!"


Arif dan Khanza yang sedang mengobrol dengan asik terperanjat kaget, menatap heran pada sahabat mereka itu.


"Kenapa lo, pagi-pagi?" tegur Arif.


Belum sempat Randra menjawab, Dea datang dengan wajah kesalnya. "Rand, kamu kenapa, sih? main tinggalin aja! malu jalan sama aku?" tuding Dea.


"Tuduh aja terus, De. Tuduh sampai kamu puas!" bentak Randra di depan muka sang kekasih.


"Emang benar 'kan?" Dea tidak mau mengalah. Dia juga mengeraskan suaranya di depan wajah Randra.


Arif dan Khanza saling menatap satu sama lain. Lalu sama-sama menonton adegan telenovela di depannya, tidak mengerti dan tidak tau harus berbuat apa. Mereka lebih memilih diam dan menyimak pertengkaran itu. Beruntung hanya ada mereka berempat di dalam kelas itu.


Randra menyugar rambut, dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Emang aku seberengsek itu di mata kamu?" tanya Randra penuh emosi.


"Emang kamu berengsek 'kan?"


"Oke, aku memang brengsek!" Randra menggebrak meja dengan kencang, hingga Arif dan Khanza terperanjat kaget.


Begitu pun dengan Dea. Gadis bar-bar itu sampai berjengkit kaki dan memegang dadanya. Matanya merah, juga berkaca-kaca.


Arif bangkit dari duduknya, menenangkan Randra yang sepertinya sangat tersulut emosinya. "Tenang dulu, Rand. Kita bicara baik-baik ya?" ujar Arif lembut. Menepuk bahu sang sahabat.


"Iya, De. Kita bicara baik-baik ya? jangan sama-sama emosi gitu?" sambung Khanza, menarik Dea agar duduk.


"Dia yang tiba-tiba langsung emosi gitu, Za!" adu Dea. Menghempaskan bokongnya pada kursi, gadis itu menelungkup pada meja, dengan lengan sebagai penyangga dahinya. Tubuhnya bergetar dan isak tangis keluar dari bibir mungil gadis bar-bar itu.


Randra melirik sang kekasih yang sedang terisak menangis. Menarik nafas dalam, dia merasa bersalah karena sudah membuat gadis bar-barnya menangis.


"Ada baiknya kamu ngalah, Rand!" nasehat Arif.


"Tapi, dia duluan nuduh-nuduh gue, Rif," bela Randra.


"Sudah ya, De. Jangan nangis terus! nanti ada yang masuk, malu lo." Khanza mengelus punggung sahabatnya itu dengan lembut. Berharap memberikan ketenangan pada gadis itu.


"Birin, Za. Aku nggak peduli." Dea malah semakin terisak di sana.


Khanza dan Arif memandang satu sama lain. Lalu beralih menatap Randra yang hanya diam dengan emosi tertahan. Arif mengelus pelan lengan sang sahabat, menganggukkan kepala sebagai isyarat, agar sahabatnya mengalah.

__ADS_1


Memejamkan mata dan menghela nafas berkali-kali, Randra perlahan mendekat pada sang kekasih. Mencoba mengalah, sebagaimana nasehat dari sang sahabat. Mengelus pelan rambut tebal yang menutupi kepala gadis bar-barnya. "Sudah, ya? maafin aku yang sudah bentak-bentak kamu," tuturnya lembut, selembut kapas.


Rasa pilu dan ngilu terasa menyayat hati seorang Randra Prawira, di kala dia mendengar isak tangis gadis yang di klaim menjadi kekasihnya. Terlebih, dialah yang menjadi penyebab lirihan itu. "Sayang, jangan nangis lagi ya?" bujuk Randra.


Gadis bar-bar itu, bangun secara tiba-tiba, mengagetkan tiga orang yang berada di sana. Dea menerjang, menghambur memeluk sang kekasih begitu saja. Membenamkan wajah di dada bidang Randra.


Buk!


"Ough!" ringis Randra, saat punggungnya menghantam ujung meja. "Pelan-pelan, sayang!" tegur Randra, pelan penuh kelembutan. Membalas pelukan si gadis bar-bar, pemuda itu melengkungkan sudut bibir kepada dua sahabatnya. Jari jempol dan telunjuknya di bentuk membuat huru 'O'.


Arif kembali duduk di bangkunya yang berada langsung di belakang Khanza. Tersenyum manis pada gadis cupunya di depan.


"Kamu, jahat!" Dea tiba-tiba mencubit kencang perut sang kekasih. Isakan kembali, terdengar nyaring di bibir gadis bar-bar itu.


"Sudah, dong? 'kan sudah minta maaf," ujar Randra mengendurkan pelukan mereka. Menunduk dan mengusap pelan air mata Dea.


"M-maaf s-sudah n-nuduh k-kamu y-yang ...." Dea meminta maaf dengan tergugu sesegukan.


"Sudah, ya? aku juga minta maaf," Randra kembali mendekap sang kekasih erat. Mencium pucuk kepalanya berkali-kali.


"Ehem ...." dehem Khanza.


Randra dan Dea sontak menoleh ke arah sepasang kekasih itu. Menyengir menampilkan deret gigi mereka. Mengurai pelukan, dua remaja itu, berdiri bersisian dengan badan menghadap Arif dan Dea. Si gadis bar-bar menyandarkan kepalanya pada lengang sang kekasih.


"Pas berantem bar-bar abisss, pas romantis bikin iri," celetuk Arif.


"Kamu juga gitu," tukas Khanza pada sang kekasih.


"Nah, bener, Za." Dea membenarkan cepat ucapan Khanza.


"Lo, lebih parah, Rif. Kemarin-kemarin siapa yang ngerokok, sampai-sampai nonjok it–" Randra langsung terdiam, mengangkat dua tanganya ke atas, saat sang sahabat menggeram kesal.


"Rand, lo, mau cari mati sama gue!" ancam Arif, melototkan matanya.


"Ish, seram ah, yang," tegur Khanza.


"Emang dia seram 'kan?" sahut Dea polos.


"Pacar, lo, tu seram. Banyak cewenya!" celetuk Arif.

__ADS_1


"Bener, Yang?" dengan polosnya Dea langsung terpengaruh dengan celetukan Arif. Berdiri tegak, menghadap Randra. Gadis bar-bar itu, berkacak pinggang.


"Kemarin, iya. Seka– Aaaduh!" ringis Randra kencang. Belum sempat dia selesai menjelaskan, kakinya sudah di injak dengan kencang oleh Dea.


"Rasain, nakal banget, sih," geram Dea.


Sontak Arif dan Khanza pun, meledakkan tawa mereka. Terlalu lucu, telalu kocak bila melihat gaya pacaran gadis bar-bar dan pemuda playboy itu. Khanza menggelengkan kepala saat lagi-lagi, Dea dengan garangnya menjewer telinga sang kekasih.


"S-shakit, yang!" pekik Randra. Dia kembali menarik Dea kedalam pelukan, Agar gadis itu menghentikan aksinya.


"Mamppuus, lo!" umpat Arif pada sang sahabat.


"Awas lo, Rif! gue bales nanti," ancam Randra.


"Sudah ... sudah!" tegur Khanza, pada keduanya.


Sementara Dea, sebenarnya dia juga tahu kalau sang kekasih sudah tobat dari ke playboyannya. Tapi, di gampang sekali tersulut emosinya. "Emang kamu masih punya cewe lain, Rand?" tanya Dea yang masih dalam pelukan lelaki itu.


"Kamu jangan dengerin Arif, deh, De," ujar Randra.


"Terus. Aku dengerin siapa?"


"Dengerin aku aja, ya?" bujuk rayu maut dari seorang Randra. "Aku ... Randra prawira, hanya mempunyai satu orang pacar tercinta, yaitu Nadia Sakila," gombal si pemuda playboy. Mencubit gemas hidung sang kekasih.


"Gombal!" pekik Arif, Khanza dan Dea bersamaan.


Mereka tertawa lepas bersama sambil menunggu lonceng masuk berbunyi. Randra dan Dea sudah kembali duduk di tempat mereka masing-masing, saat kelas itu sudah mulai ramai akan kedatangan anak murid.


.


.


.


.


✍️Maaf ya jika mengecewakan.🙏🙏🙏


✍️Saya benar-benar lagi tidak konsentrasi dalam penulisan. Karena ada kendala di RL. Jadi, sekali lagi saya pribadi, mohon maaf yang sebesar-besarnya, jika tulisan saya benar-benar mengecewakan.

__ADS_1


✍️Mohon do'anya saja ya teman-teman. Salam cinta dan damai dari saya.


__ADS_2