
Posisi matahari sedang tegak lurus dengan bumi. Semburat kuning sedang mendominasi di atas langit, membias pada atmosfer hingga sampai pada penglihatan mata kita. Sinar matahari ke merah-merahan masuk melalui celah tirai yang menutupi jendela kamar Khanza. Cahaya yang datang dari ufuk timur itu menerpa langsung wajah gadis manis yang masih setia memejamkan matanya. Mama Vina_orang tua dari Khanza, menggelengkan kepala saat putri bungsunya itu masih belum bangun. Dia menggeser gorden berwarna krem, hingga cahaya matahari semakin banyak masuk ke dalam kamar itu. Khanza mengerjap-ngerjapkan matanya saat merasa tidurnya semakin terusik dengan silaunya cahaya, menguap berkali-kali, Khanza mencoba membuka mata.
"Pagi anak Mama?" sapa Mama Khanza.
"Pagi, Ma. Sudah jam berapa, Ma?" tanya Khanza seraya mendongak pada jam bulat yang tergantung di dinding. "Jam enam!" pekik Khanza langsung menyibak selimut dan turun dari tempat tidur.
"Mama kenapa baru bangunin, sih?" gerutunya langsung masuk kedalam kamar mandi.
"Khanza ... Khanza ...." Mama Vina hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku anak bungsunya yang tak pernah berubah.
Hanya sepuluh menit waktu yang di butuhkan Khanza, untuk mandi. Memakai seragam lengkap, dia berlari kecil menuruni tangga. Sampai di meja makan, dia menganga tak percaya. Dua lelaki yang selalu menjaganya sedang sarapan bersama dengan keluarga Khanza.
"Arif! Faizal!" seru Khanza.
Arif dan Faizal menengok bersamaan pada gadis yang mengikat rambutnya dengan kuncir kuda.
"Akhirnya turun juga," ujar Faizal menyuap potongan terakhir roti selai coklat di tangannya. Sedangkan Arif, dia hanya memberikan senyum manis pada kekasihnya itu.
"Sarapan dulu, Za," ujar Zay.
Khanza berjalan mendekat ke meja makan, duduk di samping Arif dia melirik roti yang masih tersisa di piring Arif.
"Mau?" tawar Arif. Dia menyerahkan selembar roti lengkap dengan selai coklat di atasnya, saat Khanza mengangguk.
"Za, kok, ambil punya Arif!" tegur Papanya.
"Nggak papa, Om. Arif sudah kenyang, kok," sahut Arif.
Papa Khanza berdecak pelan menatap anak perawannya yang begitu lahap memakan roti itu. Melirik jam di tangannya, dia mengajak Zay, untuk segera berangkat ke kantor bersama. Setelah berpamitan mereka berangkat lebih dulu.
***
__ADS_1
Ketiga anak remaja yang memakai sergam putih abu-abu itu, juga berpamitan meninggalkan Zihan dan mama Vina. Sampai di depan pagar rumah Khanza, Faizal berujar, "Gue ikut kalian aja ya?"
"Boleh, Fa," sahut Arif mengeluarkan kunci mobil dalam saku celananya.
"Sini kuncinya, biar gue yang nyetir." Faizal langsung merebut kunci di tangan Arif. Dia masuk ke dalam bangku kemudi meninggalkan Arif yang masih terperangah menatap aksinya.
Khanza menepuk bahu kekasihnya. "Ayo yang! nanti terlambat." Khanza berjalan masuk ke bangku penumpang di belakang.
Segera tersadar, Arif memutari setengah mobilnya, membuka pintu penumpang di samping Faizal.
"Eits, mau ngapain?" cegah Faizal saat Arif ingin masuk. "Duduk di belakang!" perintahnya.
"T-tapi ...."
"Duduk di belakang!" tegas Faizal.
Arif beralih masuk ke belakang, duduk di samping Khanza dengan muka penuh tanda tanya. Apa maksud Faizal sih, sejak kemarin anak ini sangat aneh saja.
Arif dan Khanza menatap penuh selidik pada Faizal, setelahnya mereka melempar tatapan satu sama lain. Arif mengangkat dagunya, sebagai isyarat bertanya pada Khanza, sedangkan Khanza hanya bisa mengendikkan bahu tanda tidak tahu.
"Sudah santai aja, gue nggak papa, Kok," ucap Faizal mengerti kebingungan mereka berdua. Faizal melirik kaca spion di depannya yang memantul langsung pada muka Khanza.
Jika memang aku tidak bisa memiliki dirimu, maka izinkan aku membahagiakan dirimu dengan caraku sendiri. Hanya ini yang bisa aku lakukan, Za. Agar kamu bisa tertawa bahagia besama orang yang kamu cinta, walau sejujurnya hati ini terluka di saat kamu bersamanya.
Hening. Tanpa suara dari mereka bertiga. Namun, Arif tanpa sengaja menangkap tatapan sendu Faizal pada Khanza, ada rasa tidak enak di hatinya. Arif menarik tangannya yang sejak tadi di genggam Khanza, menggeser sedikit tubuhnya, hingga tercipta jarak antara dirinya dengan Khanza. Tapi, Khanza ingin menjangkau kembali tangannya, dengan cepat Arif memasukkan tangan ke dalam kantong jaket. Hingga Khanza memberenggut kesal.
"Ngeselin!" geram Khanza pelan. Menggeser duduknya mepet ke pintu. Dengan menekuk muka dia menatap ke luar jendela.
Arif menghela nafas panjang. Pasti ngambek lagi. Biarin aja, deh! dari pada nggak enak sama faizal. Biar nanti aja bujuknya. Arif memilih diam ikut menatap keluar jendela.
Mobil memasuki Area sekolah dan mereka bertiga benar-benar diam tanpa bicara. Ketika mobil terparkir, Khanza langsung turun tanpa kata, meninggalkan Arif dan Faizal yang masih berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Za!" teriak Arif. Namun, gadis itu malah semakin berlari masuk kedalam sekolah. "Hufh!" Arif menatap sendu punggung kekasihnya itu.
"Harusnya, lo, nggak usah merasa nggak enak gitu sama gue. Jadi ngambek 'kan?" tebak Faizal tepat sasaran. Dia langsung membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
Arif juga ikut keluar dari mobil, mengambil kunci yang di serahkan Faizal. "Lo, cinta sama Khanza 'kan, Fa?" tanya Arif langsung.
Mimik wajah Faizal menegang, tapi dengan cepat dia mengubahnya dengan terkekeh geli. "Meskipun gue mencintai Khanza, tetap saja cinta dia sepenuhnya buat, lo. Makanya jangan sering-sering buat dia marah," ujar Faizal menepuk bahu Arif, dia langsung berbalik meninggalkan lelaki itu. Namun, baru beberapa langkah Faizal kembali memutar setengah tubuhnya ke belakang. "Bujuk pakai bakso, pasti kelar marahnya," suruh Faizal langsung pergi lagi.
"Maafkan gue, Fa," lirih Arif pelan. Dia menyusul Faizal dan Khanza masuk ke dalam. Mencari sang kekasih di kelas, tapi Arif tidak menemukannya, hanya ada Faizal, Randra dan Dea yang asik mengobrol seperti biasa. "Dimana Khanza?" tanya Arif pada ketiga temannya.
"Habis taruh tas, pergi lagi," jawab Dea.
Arif melempar tasnya kepada Randra, langsung berbalik keluar mencari pacarnya yang sedang ngambek.
"Kenapa lagi?" tanya Randra meletakkan tas Arif di tempatnya.
"Biasa," sahut Faizal enteng.
"Berantem mulu, nggak cape apa!" komentar Randra.
"Biarin lah, urusan mereka juga," imbuh Dea.
"Yo'i!" sahut Faizal.
Arif berlari kebelakang sekolah. Benar saja, Khanza sedang menelungkupkan mukanya di kedua tangannya, sepertinya gadis itu sedang menangis.
"Ehem!" dehem Arif duduk di samping Khanza. Tapi, gadis itu tidak bergeming. "Za!" seru Arif menarik salah satu tangan Khanza.
Khanza menyentak tangannya, dia langsung berpaling memunggungi Arif.
"Oke, aku pergi!" Arif pura-pura bangkit berdiri. Benar saja tangannya sudah di tahan Khanza. Tentu saja, ini kesempatan Arif membujuk kekasihnya itu. Mengikuti saran Faizal, Arif menjanjikan makan bakso bersama di saat istirahat nanti. Benar saja, Khanza langsung tergiur dan dengan cepat ceria seperti semula.
__ADS_1