CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-46~Mencari Khanza.


__ADS_3

"Pintunya terkunci!" umpat Arif, dia menendang pintu gudang sekolah itu.


Randra dan Dea baru sampai menghampiri Arif. Dea yang berjalan cepat menyusul Arif hampir saja terjatuh karena tersandung kakinya sendiri, untung saja Randra dengan sigap menahan tubuhnya. Jadilah mereka sedikit terlambat menyusul Arif.


"Kalian jalannya lama banget, sih?" tanya Arif.


"Sorry, bro."


Arif tak menanggapi lagi permintaan Maaf Randra, dia mendorong-dorong pintu itu dengan paksa.


"Shit! di kunci!" umpat Randra. Dia mengeluarkan HPnya, menghubungi seseorang.


Dit, kunci gudang sekolah masih sama, lo, nggak?


Tadi di pinjem sama geng centil, Rand. Kenapa?


Geng Centil!


Randra langsung mematikan sambungan telponnya. Sekarang dia yakin kalau Khanza berada di dalam, dia mencari akal bagaimana caranya membuka pintu gudang sekolah itu.


"Gimana, Rand?" tanya Dea.


"Kuncinya di pinjem geng centil. Sekarang gue yakin Khanza ada di dalam, De."


"Kita dobrak aja," usul Arif.


Randra dan Arif berkali-kali mencoba mendobrak pintu. Keringat bercucuran, tenaga mereka pun sudah terkuras habis. Tapi Arif masih belum mau menyerah.


"Rand, kita coba sekali lagi!" ajaknya.


Randra mengangguk pasti. Mereka mengeluarkan seluruh tenaga yang tersisa. Mundur beberapa langkah mereka menghantam pintu itu secara bersamaan.


Bruak!


Pintu ruangan gelap itu terbuka. Randra, Arif dan Dea memasuki ruangan penuh debu itu, ada banyak perlengkapan sekolah rusak yang tersimpan di sana. Mereka memutar pandangan untuk menyapu seluruh ruangan.


"Khanza!" jerit Dea, dia menutup mulutnya, melihat seorang gadis yang tergeletak tidak berdaya di balik rak buku usang di sudut ruangan.


Arif melangkah cepat menghampiri gadis tercintanya. Tangannya bergetar membalik tubuh yang terlungkup di serakan buku. Arif menganga tak percaya melihat Khanza yang pingsan dengan keadaan mengenaskan. Sudut bibir Khanza mengeluarkan darah, keningnya pun terlihat lebam bekas benturan dengan benda tumpul. Pakaiannya sudah lecek penuh debu, rambut gadis itu pun kusut tak beraturan, Sangat nampak kalau dia habis di bully habis-habisan. Arif membuka ikatan di kedua pergelangan Khanza, membawa gadi yang tidak berdaya itu kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Za, bangun, Za! Maafin aku, Za! buka mata kamu, Za!" Arif menepuk-nepuk pelan pipi gadis di pelukannya. Sangat jelas ke khawatiran di wajahnya, bahkan sudut mata Arif mengeluarkan buliran bening.


Randra memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Khanza. Dia membelalak sempurna saat mendapati denyutnya semakin melemah.


"Kita harus cepat bawa dia ke UKS. Cepat gendong dia, Rif!" Randra berujar panik.


Arif segera menggendong tubuh Khanza, membawanya keluar dari ruangan siala* itu. Randra dan Dea mengikuti Arif dari belakang. Khanza mengerjap perlahan menatap sayu lelaki yang sedang menolongnya, dia mencengkram kerah baju Arif membuat Arif menunduk menatap wajah lemas gadis itu.


"A...ku ta...kut," lirih Khanza lemah, tangan Khanza terlepas dari kerah baju Arif dan menjuntai begitu saja.


"Za, Khanza!" desisnya. Arif mempercepat langkahnya menuju ke UKS.


Menyusuri lorong sekolah, mereka sampai di depan ruangan yang di tuju. Randra membantu Arif membukakan pintu, mereka semua masuk ke dalam. Seorang Dokter cantik yang berjaga di UKS itu terkejut melihat Arif menggendong Khanza.


"Khanza! ada apa ini, Rif?" tanya Dokter Irma kaget. Dia memberikan isyarat agar Arif merebahkan Khanza di ranjang pembaringan.


"Kami menemukannya di sekap di gudang, Dok," jawab Randra.


"Kok, bisa!" Dokter itu mengeluarkan alatnya, memeriksa denyut nadi dan jantung Khanza.


Arif tak bergeming sedikit pun, saat ini dia hanya bisa menatap penuh penyesalan pada Khanza. Dia terus-terusan merutuki dirinya yang sudah lalai menjaga Khanza.


"Denyut nadinya sangat lemah, Jantungnya juga semakin melemah. Sebaiknya kita cepat membawanya ke rumah sakit."


Duarr!!!


Seperti tersambar pertir di siang hari, Arif membelalak sempurna. Tanpa pikir panjang dia kembali menggendong tubuh mungil Khanza, membawanya keluar menuju parkiran. Dokter Irma, Randra dan Dea mengikuti Arif di belakang.


Arif kesusahan menjangkau kunci mobil yang terselip di saku celananya. Randra datang dengan sigap membantu temannya itu.


"Biar saya yang menyetir," pinta Dokter Irma.


Randra menyerahkan kunci mobil kepada Dokter Irma, hingga Dokter itu dengan cepat masuk ke bangku kemudinya. Dea membantu Arif membuka pintu penumpang agar Arif bisa masuk dengan leluasa. Arif merebahkan Khanza di pangkuannya, pandangannya tak pernah lepas dari wajah pucat Khanza.


Dea ikut masuk ke dalam mobil, mendudukkan dirinya di kursi samping kemudi.


"Gue nyusul pakai motor," ujar Randra kepada dua temannya yang hanya di balas anggukan dari Dea.


Mobil melaju kencang membelah jalan macet kota itu, Dokter Irma dengan lihai menyalip beberapa mobil di depan mereka.

__ADS_1


"Za, bertahan ya, Za." Arif mengusap pelan pipi Khanza, tanpa di pinta telaga beningnya mengalir begitu saja, jatuh mentes ke atas pipi mulus Khanza yang terlihat merah bekas jari-jari orang tak bertanggung jawab.


Dea mencoba menghubungi Keluarga Khanza, dia memberitahukan kalau Khanza di bawa kerumah sakit karena pingsan di sekolah.


Setelah lima belas menit perjalanan Mereka sampai di halaman rumah sakit, Arif keluar mengendong Khanza, masuk ke dalam gedung bernuansa putih itu. Dia berteriak memanggil suster dan dokter. Salah satu suster menghampiri mereka dengan brankar. Meletakkan tubuh lemah Khanza di ranjang dorong rumah sakit.


"Tolong cepat di tangani," ucap Dokter Irma.


Mendorong Brankar, mereka membawa Khanza ke ruang IGD rumah sakit.


"Silahkan tunggu di luar," pinta Dokter jaga IGD. Dia menutup pintu dan memeriksa gadis yang terbaring tidak berdaya itu.


Arif menyandarkan tubuhnya di depan ruangan IGD, berkali-kali menyugar kasar rambutnya. Aku tidak akan memaafkan diriku, ini semua kesalahanku. Kalau saja tadi aku tidak membentaknya dan membuatnya keluar dari kelas semua tidak akan seperti ini.


"Gimana, De?" tanya Randra yang baru datang menghampiri mereka.


Dea menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa berkata apa-apa. Kejadian ini sungguh mengejutkan bagi mereka. Tidak menyangka kalau Vera dan teman-temannya bisa berbuat sejauh itu.


Keluarga Khanza juga sudah datang di tempat itu, mereka bergegas kerumah sakit saat mendapat telpon dari Dea. Kedua Orang tua Khanza serta Zay dan Zihan menghampiri teman-teman Khanza.


"Dimana Khanzanya, Nak?" tanya Papa Khanza panik.


"Masih di periksa dokter di dalam, Om," jawab Randra.


Pintu IGD terbuka, Dokter memanggil keluarga Khanza untuk ikut masuk ke dalam. Mama dan Papa Khanza masuk mengikuti arahan Dokter ke dalam. Sedangkan Zay menatap Arif yang bersandar menutup matanya.


Menghampiri pemuda itu, dia menepuk beberapa kali bahu Arif. Arif membuka matanya, melihat Kakak lelaki dari kekasihnya itu. Perasaan bersalah karena tidak bisa menjaga Khanza semakin menyeruak di dadanya.


"Khanza, pasti baik-baik saja," ucap Zay menenangkan pemuda yang terlihat Frustasi itu.


"Ini kesalahan aku, Kak. Aku gagal menjaganya, aku tidak pantas...."


Zay menarik pemuda di depannya, memberikan pelukan agar Arif tenang. Meskipun dia tidak mengetahui permasalahan sebenarnya, tapi dia cukup mengerti dengan penyesalan yang di tunjukkan Arif.


"Sudah, jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini sudah terjadi. Sebaiknya kita berdo'a agar Khanza bisa baik-baik saja," Zay menepuk bahu pemuda itu sebelum dia mengurai pelukannya.


Arif mengangguk lemah, meskipun Zay tidak menyalahkannya tetap saja dia tidak tenang kalau Khanza masih berjuang di dalam sana.


Za, aku janji akan berubah dan menahan emosiku, Za. Tolong kuatlah.

__ADS_1


__ADS_2