
Sekarang Khanza di perjalanan menuju sekolah Wisley International school, untuk menonton pertandingan basket antar pelajar. Meskipun sudah dua hari Arif mendiamkannya, tapi Khanza selalu mensuportnya.
Khanza sudah tidak tau harus berbuat apa, HP Arif pun sampai sekarang tidak bisa di hubungi. Amarah dari lelaki itu benar-benar tidak bisa di redam saat ini.
Khanza memasuki stadion indoor yang ada di sekolah itu dengan terburu-buru. Sampai dia tidak melihat kalau ada seseorang yang sedang berdiri di depannya.
Buk!
Khanza menabrak tubuh kekar di depannya sampai dia terjatuh. "Maaf!" lirih Khanza tertunduk tidak berani menatap orang yang di tabraknya.
"Kamu nggak papa?" tanyanya. Dia berjongkok dan memegang bahu Khanza untuk membantunya berdiri.
"Nggak papa, sekali lagi maaf ya!" tutur Khanza menarik dirinya.
"Kamu pasti dari SMA Bhakti Bangsa. Kenalin nama aku Anton," Anton mengulurkan tangannya.
"Khanza," balas Khanza menjabat tangan Anton.
"Kamu mau kedalam, ayo aku antar!" tawar Anton.
Khanza berjalan mengikuti Anton masuk kedalam stadion.
Ada sorot mata tajam menatap mereka dari belakang. Arif mengepalkan tangan melihat Khanza lagi-lagi bersama lelaki lain. Apalagi saat Khanza memberikan senyumnya pada lelaki itu, Arif semakin terbakar cemburu.
Kesini mau nonton apa mau tebar pesona, sih.
Arif berjalan melewati Khanza dan Anton begitu saja, tanpa melihat apa lagi menyapa. Khanza menatap Arif dengan sendu, begitu jelas raut kesedihan di wajah Khanza.
"Za, aku tinggal ya?" pamit Anton.
"I-iya, terimakasih ya?"
"Sampai jumpa lagi!" Anton meninggalkan Khanza menemui teman2nya yang lain.
Khanza mencari tempat duduk di barisan paling depan, dia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Ada banyak sekali yang menonton pertandingan itu.
Dirga Mahesa Wijaya pemilik perusahaan wijaya ditemani istrinya Kiara. serta Nicholas Geonandes dan istrinya Abigail yang merupakan pemilik perusahaan GN Corporation juga tidak ketinggalan. Mereka adalah para donatur dalam pertandingan saat ini. Mereka duduk di tempat spesial yang sudah di sediakan oleh Tim sukses dari acara ini.
Khanza Melihat sorak sorai dua Team Cheerleaders yang sedang beradu aksi. Geng centil yang memakai seragam oren, hijau, di kirim sekolah Khanza sebagai Team Cheerleadersnya. Mereka sedang menampilkan tarian akrobatiknya, Vera terlihat begitu semangat menjadi Flyers di Team itu.
Tibalah saatnya Tim basket yang akan bertanding memasuki lapangan, mereka adalah Team Shadow dan Team Devil Bat Ghost. Suara gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai di stadion itu semakin riuh menyambut idola sekolah mereka masing-masing.
Team Devil Bat Ghost adalah nama Tim dari sekolah Bhakti Bangsa, Tim itu di gawangi Arif, Randra, Faizal, Sony, dan Adit. Saat ini mereka akan melawan Tim dari sekolah Wisley International School yaitu Team Shadow yang di gawangi Ken, Anton, Reyhan, Rio, dan Richard.
Anton melambaikan tangannya saat melihat Khanza duduk di barisan paling depan. Khanza membalas lambaian tangan itu di sertai senyum manisnya. Khanza tidak menyadari kalau Arif terus saja memperhatikan dengan tatapan elangnya.
Ada tiga gadis cantik yang sedang duduk di samping Khanza, mereka tersenyum hangat menatap Khanza. Terlihat dari seragamnya mereka berasal dari sekolah Wisley.
"Hai, kamu dari sekolah Bhakti Bangsa ya?" tanya salah satunya.
"Iya."
"Kenalin namaku Rubby, nama kamu siapa?" Rubby mengulurkan tangannya.
"Aku Khanza, salam kenal ya Rubby," balas Khanza menjabat tangan Rubby.
Sepertinya Rubby adalah orang spesial dari Ken. Karena sejak tadi Ken selalu menatap ke arahnya.
Pandangan mata Khanza tak lepas dari Arif yang sejak masuk ke lapangan wajahnya begitu terlihat datar. Tak ada senyuman dari lelaki itu, bahkan Randra, Faizal, dan yang lainnya terlihat tertawa lepas dia tetap menampilkan tatapan elangnya.
Kamu kenapa sih, Rif. Aku sungguh tidak mengerti apa sebab semua ini.
"Khanza, maaf ya Kak Sheryl sedikit terlambat karena baru saja selesai meeting." Sheryl yang datang dengan Baruna mengejutkan Khanza dari lamunannya.
"Nggak papa Kak sher, makasih ya udah di sempetin datang. Sama Kak Baruna juga, makasih Kak Baruna udah mau datang dukung Arif." tutur Khanza.
__ADS_1
"Iya Khanza, Kakak juga suka kok lihat basket gini, hitung-hitung mengingat masa muda dulu. Asal kamu tahu, Kakak juga jago lho main basketnya hahaha," balas Baruna terkekeh.
"Ih, apa'an sih sayang," ucap Sheryl pada kekasihnya.
Mereka duduk bersama menonton pertandingan itu.
Sementara di lapangan Arif begitu emosi dalam bermain sehingga Randra, Faizal, Adit dan Sony tidak bisa mengimbanginya.
"Rand, si Arif kenapa sih?" tanya Faizal.
"Nggak tau Fa, dari kemarin sepertinya!" balas Randra.
"Apa ada masalah ya? sama dia," tambah Adit.
"Mungkin!" Sony menganggkat bahunya.
"Kalau nggak kompak, kita bisa kalah," geram Sony.
"Sudah lah, ayo kita main. Tampilkan yang terbaik," ucap Faizal.
30 menit awal pertandingan Team Devil Bat Ghost berhasil unggul dengan skor 3-0. Tapi itu tidak bertahan lama, lewat Ken yang memasukkan tiga bola ke dalam ring mampu menyamakan kedudukannya.
Pertandingan sisa 1 menit 15 detik lagi. Tapi Team Devil Bat Ghost tertinggal skor jauh dari Team Shadow. Mungkin karena Arif yang tidak konsentrasi apalagi saat melihat Anton beberapa kali memberikan senyumnya pada Khanza.
Anton merebut bola dari tangan Arif, memberikannya pada Ken, Ken menerima bola itu dengan tangan di atas. Dengan gesit mendribbling ke arah keranjang lawan. Ken menembakkan bola ke arah keranjang lawan dan ....
Terdengar teriakan supporter meneriakkan nama Ken, saat Dia mampu mencetak hasil Akhir dengan skor 28-17. Kemenangan telak dari Tema Shadow.
Mereka menyambut euforia kemenangan mereka. Ken si ketua tim itu tiba-tiba mengarahkan tangannya membentuk jarinya seperti hati ke arah tempat duduk Khanza. Tapi sepertinya itu bukan untuk Khanza melainkan untuk gadis cantik di sebelah Khanza. Rubby tersenyum manis pada Ken, pasangan yang begitu manis dan romantis.
Anton yang membelakangi Arif tiba-tiba melambaikan tangannya pada Khanza. Khanza membalasnya dengan senyum kaku karena melihat tatapan tajam dari belakang Anton.
"Rif, kamu nggak papa?" tanya Randra yang melihat Arif menahan emosinya.
Arif tidak menjawab bahkan dia meninggalkan lapangan itu dengan muka merah padamnya.
Khanza mengejar Arif, meninggalkan Sheryl dan Baruna yang masih berada di sana.
"Rif!" teriak Khanza.
Arif menghentikan langkahnya. Tapi dia tidak berusaha berbalik atau pun menoleh kebelakang.
Khanza ber alih ke hadapan Arif, mengeluarkan sapu tangan di sakunya untuk menyapu keringat di wajah lelaki tampan itu. Arif tak berusaha menghindar, dia hanya pasrah dengan wajah datar dan mata tajam melihat Khanza.
"Kalah menang biasa," ucap membuka suara.
"Sepertinya kamu senang melihat ke kalahanku," jawab Arif sinis.
"Ma-maksud kamu."
"Argh!" Arif mengusap Kasar wajahnya dan menatap tajam gadis di depannya.
"Kamu senang kan, kalau Anton menang!" teriak Arif di depan Khanza.
Deg!
Tubuh Khanza membeku, sapu tangan yang tadi di pegangnya jatuh kelantai.
Apa maksud lelaki ini, apa dia ....
"Jawab, Za!" bentaknya.
"Ada hubungan apa kamu sama Anton?" Arif mengguncang tubuh Khanza yang membeku.
"A-aku ...."
__ADS_1
"Khanza!" teriak Seseorang.
Arif dan Khanza menoleh pada seseorang itu.
"A-Anton!" gumam Khanza.
Cengkraman di bahu Khanza menguat membuatnya menatap pada Arif. Rahang lelaki itu semakin mengeras, tatapan tajamnya menembus sampai ke jantung Khanza. Khanza berusaha melepaskan bahunya saat mulai terasa sakit.
"Ri-Rif!" lirih Khanza.
Arif melepas kasar bahu Khanza, berbalik dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Khanza tidak sempat mencegah Arif, dia hanya menatap sendu pada punggung tegap Arif yang semakin menjauh.
"Za!" Anton menghampiri Khanza.
"Eh, Anton."
"Aku kira sudah pulang, ternyata disni!"
Khanza hanya membalas senyum lelaki di hadapannya, saat ini hati dan pikirannya tak menentu memikirkan masalahnya dengan Arif yang semakin hari semakin rumit.
"Za, gimana permainan aku tadi, baguskan?" tanya Anton dengan gaya sok coolnya.
"Eh, iya!" jawab Khanza asal. Dia sama sekali tidak menyimak apa yang sedang di bicarkan lelaki itu, yang terus saja mengajaknya berbicara.
"Ton, aku permisi pulang dulu ya?" pamit Khanza.
Anton membalas dengan anggukan kepala, tapi sebelum Khanza pergi dia meminta bertukar nomor telpon dengan gadis itu.
Khanza meninggalkan tempat itu dengan cepat, dia bergegas mencari keberadaan Arif. Setelah menyusuri lorong-lorong sekolah Wisley Khanza menemukan Arif sedang bersama dengan seorang wanita.
*Arif
*Faizal
*Randra.
*Flayers adalah posisi dimana seseorang harus mau di angkat atau bahkan dilempar ke udara.
*Hai hai! mau tau cerita romantis kami, kunjungi yuk!
~Rubby, Ken, Dan Anton ada dalam novel REINKARNASI CINTA SI CANTIK RUBBY
~Sheryl dan Baruna ada dalam novel MARRIAGE ORDER
~Dirga Mahesa dan Kiara dalam novel FELL IN LOVE WITH MY AROGAN FIANCE.
~Abigail dan Nicholas dalam novel (MINE)
Ada lagi novel yang lainnya
Oot Nasrudin(Love is Not Based on Bibit Bebet Bobot but Lillahita'alaa)
Adi Kusma(Pendekar Elang Putih)
Quin(Meadow dan Love, Revenge, and The sea)
Akhwat uyee (Penghujung Cinta)
__ADS_1
Kunjungi juga Chat Story punyaku ya.( SHADOW LOVER)
salam sayang dari author 🙏🙏🙏😘😘