
waktu terasa begitu cepat berlalu untuk pasangan yang sedang kasmaran.
Khanza sudah menyelesaikan senandung lagunya. Menyandarkan kepala pada bahu Arif, Khanza memejamkan mata merasakan irama detak jantungnya. mekipun penuh deg-degan tapi dia tidak ingin mengakhiri waktunya saat ini.
"Rif, gimana Vera," tanya Khanza masih bersandar pada bahu Arif.
Arif yang masih sibuk membenarkan gitar, menghentikan aktifitasnya. Menaruh benda itu di sampingnya. Arif menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara kasar. Khanza mengangkat kepalanya menatap Arif yang sekarang berpaling menghadapnya.
"Nggak usah bahas dia ya?" ucap Arif lembut, menyentuh perlahan kedua pipi Khanza. Menatap pada bola mata indah gadis blasteran di depannya.
"Ta ... tapi 'kan dia pa-pacar kamu?" ucap Khanza merasa gugup karena wajah Arif begitu dekat dengan wajahnya.
Sit! gue nggak bisa nahan. Maafkan aku Za!
Arif perlahan mendekatkan wajahnya kepada Khanza. Memegang pipi Khanza semakin erat agar Khanza tidak bergerak. Khanza yang di tahan Arif mau tidak mau pasrah hanya dengan memejamkan matanya. Hembusan nafas menerpa wajah Khanza, ada rasa panas yang membuat aliran darahnya mendidih.
"Ehem ...!!!"
Khanza dan Arif sama-sama menarik diri, mencari asal suara yang membuat mereka membatalkan niatnya.
"Za, Mama membuat kue, di tunggu di ruang keluarga," ucap Zihan, Kakak Ipar Khanza.
"I-iya, K-Kak!" jawab Khanza salah tingkah.
Tubuhnya menegang merasakan gugup sekaligus malu, untunglah Kakak Iparnya yang memanggilnya. Kalau saja Mama atau Kak Zay mungkin sekarang dia sudah pingsan.
Menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal, Arif begitu malu karena kedapatan ingin mencium Khanza di depan keluarganya. Hanya memberikan senyum kaku dan menundukkan sedikit kepalanya kepada Kak Zihan.
Zihan memasang wajah datarnya menatap pada keduanya, membuat Arif dan Khanza semakin gugup seperti kedapatan mencuri sesuatu. Zihan berbalik, dia tersenyum sendiri melihat dua orang yang sedang di landa cinta itu. Dia sengaja memasang muka datarnya untuk mengerjai keduanya.
"Sekalian ajak Arif!" ucap Zihan berbalik.
"Ba ... baik, K-Kak."
Zihan kembali kedalam rumah dengan senyum mengembangnya karena berhasil membuat Arif dan Khanza ketakutan. Dia begitu mengerti dengan masa muda yang penuh dengan cinta, hanya menggelengkan kepalanya mendapati Adik Iparnya yang sekarang sudah mulai mengukir kisah asmaranya.
Arif dan Khanza menghembuskan nafas bersamaan saat Kak Zihan sudah masuk kedalam rumah. Saling menatap dan tertawa bersamaan.
"Kenapa? takut!" tanya Arif.
"Kamu tuh, gugup 'kan!" balas Khanza.
"Nggak lah!"
"Masa, sih! orang keringatan gini," kata Khanza mengusap keringat di dahi arif.
__ADS_1
"Mau lanjutin, nggak?" goda Arif menangkap tangan Khanza. Senyum jahil terpancar di wajahnya.
Pipi Khanza langsung merah di buatnya, membuat Arif semakin semangat menggoda Khanza. Arif menarik tangan Khanza untuk mendekat, dia mulai mendekatkan wajahnya lagi kepada Khanza.
Arif yang awalnya hanya berniat mengerjai Khanza tapi justru dia tidak bisa menahan hasratnya. Setelah semakin mendekat, Khanza berlari kecil meninggalkan Arif yang sedikit terdorong ke depan.
Arif tersenyum melihat Khanza yang tertawa puas meninggalkannya. Sekarang malah dia yang balik di kerjai Khanza.
"Mulai berani nakal, ya!" ucap Arif yang mengejar Khanza dan menggelitikinya.
"Ampun! ampun!" pekik Khanza tertawa.
"Nggak! habis nakal, sih!" masih menggelitiki Khanza dengan kedua tangannya.
"Ampun! nggak, lagi deh! ha-ha-ha!" Khanza tidak bisa menahan tawanya.
"Ehem!"
Arif menghentikan aksinya menggelitiki Khanza, menengok pada seseorang yang baru saja datang menghampiri mereka. Posisi Arif yang memeluk Khanza dari belakang membuat orang itu memancarkan sinar laser pada matanya.
Khanza melepas diri dari pelukan Arif menyadari kalau ada atmosfer dingin di sekitarnya.
"Eh, Faizal! kapan kemari?" ucap Khanza menyapa Faizal yang tiba-tiba saja ada di tempat itu, menyaksikan kemesraan sepasang teman tapi mesra itu.
Bukannya menjawab pertanyaan Khanza, Faizal menatap orang yang lagi bersama Khanza, tatapan permusuhan yang selalu mereka layangkan apabila bertemu. Khanza menyadari semua itu, dengan cepat menghentikan keduanya sebelum emosi mereka meledak.
Arif menatap tidak suka pada Khanza yang memegang tangan Faizal.
"Lho, Rif! ayo masuk!" ajak Khanza menatap Arif yang mematung di tempatnya dengan muka yang dingin.
Arif berjalan di belakang Khanza dan Faizal.
"Za, aku minta maaf, ya?" tutur Faizal.
"Oke! aku maafin, tapi ada syaratnya."
"Apa?" tanya Faizal menghentikan langkahnya menatap Khanza.
"Besok .... Teraktir Bakso di kantin!" harap Khanza tersenyum menatap Faizal.
"Dasar! makan terus di pikirin!" Faizal mencubit pipi Khanza gemas.
Arif yang juga menghentikan langkahnya menatap pada kedua orang di depannya. Cemburu, panas, emosi bercampur jadi satu, tapi demi menjaga perasaan Khanza Arif hanya memendam semuanya.
"Biarin!" cibir Khanza. Khanza menoleh pada orang yang menatap padanya, Khanza tersadar kalau Arif dari tadi memperhatikannya.
__ADS_1
"Masuk, yo!" ajak Khanza masuk lebih dulu meninggalkan mereka.
Faizal berjalan mengikuti Khanza yang masuk lebih dulu, tapi tangannya yang di tarik Arif membuatnya berbalik.
"Tunggu!"
"Ada, Apa!" sahut Faizal merasa tidak suka, menghempaskan tangan Arif.
"Gue, minta maaf!" tutur Arif.
Faizal terdiam menatap Arif, mencari kejujuran di mata Arif. "Ma ... maksud Lo?" tanya Faizal.
"Maaf, atas semua yang pernah, gue lakukan sama, lo!" Arif menyodorkan tangannya.
Faizal mengernyit bingung menatap perubahan yang di berikan Arif. Melihat dalam manik mata ketulusan yang di pancarkan Arif.
Faizal bukan menjabat tangan Arif tapi dia memeluk dan menepuk bahu Arif, Dia merasa terharu akan sikap Arif yang dengan gentle meminta maaf kepadanya.
"Kita sama-sama salah bro!" Faizal melepas pelukannya.
"Teman!" ucap Faizal lagi mengulurkan tangannya.
"Teman!" balas Arif tertawa, yang juga di iringi tawa Faizal.
Seorang gadis manis yang berdiri di depan pintu menatap penuh haru pada dua orang lelaki yang sedang tertawa bersama. Khanza yang berbalik saat tidak mendapati keduanya di belakangnya. Tadinya dia berpikir kalau Arif dan Faizal akan kembali bergesekan.
Ketika mendengar Arif mengucapkan kata maaf kepada Faizal, Khanza mematung di depan pintu merasa tidak percaya dengan apa yang di lakukan Arif.
Terus menyaksikan semuanya sampai mereka berdua berjalan kembali masuk kedalam rumah.
"Khanza!" gumam Arif yang melihat Khanza berdiri memancarkan mata merahnya.
"Za, kamu kenapa?" tanya Faizal menghampiri Khanza.
"Ng-nggak!" setetes air mata kebahagiaan lolos dari mata Khanza.
"Kenapa, hem?" tanya Arif lembut menghampiri Khanza dan menghapus air mata itu di pipi Khanza.
"Nggak papa!" jelas Khanza mengapus sisa air matanya dengan punggung tangannya, memberikan senyum bahagianya. " yuk, kita masuk!" ajaknya berjalan lebih dulu.
Arif menatap Faizal mencoba mencari jawaban dengan tingkah Khanza. Yang di tanya hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban tidak tahu.
Faizal merangkul Arif dan mengajaknya masuk bersama. Menyusul si gadis cupu manis, tapi membuat dunia mereka kacau jika tidak bisa membuatnya tertawa.
__ADS_1
*Terimakasih yang sudah mendukung saya sejauh ini, mohon maaf kalau saya masih belum bisa memberikan yang terbaik untuk kalian.