CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-68~Kecelakaan maut


__ADS_3

Hari ini, hari dimana aku bisa menyadari kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan dengan cinta ini. Harusnya aku ungkap rasa sejak dulu, jauh sebelum semuanya telah berlalu. Namun, ketakutan itu selalu datang menghantui, ketika aku ingin jujur padamu. Aku mencintaimu sejak dulu, kini, bahkan sampai nanti aku mati. Tapi rasa itu hanya mampu terucap cukup di dalam hati. Semuanya sudah terlambat aku sadari, ketika ada cinta lain yang bisa menembus dinding hati seorang gadis pujaan hati. Yang bisa di lakukan hanya ikhlas melihat dia bersama dengan yang lain. Khanza Maidina semoga kamu bisa bahagia bersama Arif untuk selamanya, selamat tinggal dan izinkan aku untuk membawa cinta ini pergi.


~Faizal.


Memejamkan mata untuk menetralkan rasa yang menusuk di dalam dada, Faizal sudah berada pada belokan terakhir untuk menuntaskan balapannya. Tanpa di sadari motor yang dia kendarai kini oleng ke kanan. Membuka mata perlahan, Faizal berusaha mengendalikan kestabilan motornya kembali. Di saat dia membanting stir ke kiri.


Brak!


Teman balapannya datang dari belakang dan tabrakan pun tidak bisa di hindari. Jalanan yang licin, menjadi faktor ban tidak berguling dengan baik, hingga motor Faizal jatuh dan melambung ke atas, berguling-guling di udara dengan Faizal yang masih memegang setir motornya.


Bruak!


Jatuh di atas aspal setelah beberapa saat terbang di atas udara. Tapi, dia terseret kembali sampai beberapa meter di jalanan. Kondisi motor yang sudah hancur tidak beraturan tergeletak di tengah-tengah tingkungan bersama sang joki motor terlungkup dengan helm yang masih terpasang.


"Aaaa!" semua orang berteriak, menganga tidak percaya, melihat Faizal yang kini terbaring tidak berdaya.


"Faizal!" Arif, Khanza, Randra dan Fatih berlari ke arah jatuhnya Faizal.


Nahas, sebuah mobil dump truck dari arah berlawanan sedang melaju dengan kencang. Jalanan gelap dan hujan lebat membatasi pandangan sang sopir, menambah kecepatan mobil trucknya, dia tidak menyadari kalau sedang ada balapan yang terjadi.


Brakkkk!!!


Khanza merosot ke tanah, tubuhnya lemas melihat kuda besi milik sahabatnya kini remuk tanpa sisa. "F-Faizal!" lirihnya lemah. "Faizal!" teriak Khanza histeris, suaranya menggema di sana.


Faizal sempat membuka mata, saat sorot lampu menyilaukan datang dari arah berlawanan. Ingin beranjak berdiri, tapi tubuhnya sulit sekali di ajak berkompromi. Bergerak perlahan, hingga mobil truck itu datang. Faizal mampu menghindar dengan menggeser paksa dirinya. Namun, salah satu kakinya tidak bisa bergerak sama sekali.


"Argh!" ringis Faizal menahan sakit di kakinya. Air mata lolos dari pelupuk mata, mengalir deras hingga membasahi helmnya. Dengan posisi terlungkup di tengah-tengah ban truck, dia hanya bisa meratapi nasibnya.

__ADS_1


Sakit ini masih tidak sebanding dengan sakitnya hatiku yang tidak bisa menggapai cintamu. Jika ini memang yang terbaik untukku, aku akan ikhlas menerima ke pergianku. Tapi izinkan aku untuk melihatmu di ujung waktuku.


Mobil truck itu, melaju semakin kencang menghindari pertanggung jawaban. Randra berteriak mengumpat sang sopir dengan kasar, dia berniat ingin mengejar. Namun, Arif mencegahnya dan menarik Randra untuk fokus pada tubuh yang tergeletak di tengah jalan sana.


"Telpon ambulans Rand!"


Arif panik saat melihat tubuh faizal bermandikan cairan kental berwarna merah. Memangku kepala Faizal, Arif melepas pelan helm yang menempel pada kepala lelaki itu.


"Fa, bangun fa!" cemas Arif, dia menepuk-nepuk pelan pipi lelaki itu.


"Kalian kenapa diam saja! cepat tolongin!" teriak Arif pada semua orang yang hanya berdiri menonton mereka.


"Rand, cepat telpon ambulans Rand!" perintah Arif.


Arif benar-benar khawatir saat ini, apalagi melihat kaki Faizal yang sudah tidak berbentuk akibat terlindas ban. Dia bahkan tidak menyadari kalau Khanza sedang tersungkur duduk di tanah. Perhatian Arif benar-benar fokus hanya pada Faizal, tanpa dia sadari, air mata perlahan jatuh membasahi pipi. Dengan tangan bergetar, Arif memeriksa nadi di tangan Faizal. Lemah .... Sangat lemah, bahkan hampir menghilang.


"Fa, bertahanlah? aku mohon bertahanlah," lirih Arif, suaranya bahkan sudah hampir habis karena sejak tadi berteriak panik.


Khanza benar-benar kehilangan kata, shock saat melihat sang sahabat begitu mengenaskan terkujur di jalanan. Linglung seperti orang yang sedang gila, dia hanya bisa menatap kosong kedepan. Ketika mendengar isak tangis Arif di samping, dia baru sadar kalau sejak tadi kekasihnya itu yang paling panik di antara semuanya. Khanza menghambur memeluk Arif yang masih menepuk-nepuk pipi Faizal di pangkuan.


"Faizal kenapa, Rif?" Air mata berhasil keluar dari mata Khanza.


"Faizal kenapa?!" teriak Khanza di pelukan lelaki itu.


"Tolongin Faizal! aku mohon!" lirih Khanza, dia seketika hilang kesadaran di dalam pelukan sang kekasih.


Niu-niu-niu!

__ADS_1


Mobil putih bergaris merah membunyikan sirine-nya, beberapa orang petugas dengan sigap turun dari mobil itu. Memberikan pertolongan pertama, mereka merebahkan tubuh Faizal agar sejajar. Memberikan kompresi dada, para petugas menjalankan prosedur mereka.


"Za, bangun, Za?" Arif mengguncang Khanza yang pingsan, bersandar di sebelah lengannya.


Mengerjap perlahan, Khanza kembali menangis, melihat Faizal di rebahkan di atas ranjang brankar. Petugas mengevakuasi tubuh Faizal dengan cekatan. Memasukkan lelaki itu kedalam ambulans, dengan bantuan ranjang dorong.


Niu-niu-niu!


Ambulans berlalu pergi membawa Faizal kerumah sakit terdekat. Sementara Arif, Khanza, Randra dan Fatih mengikuti mobil itu dari belakang. Randra yang sedikit lebih tenang, meminta untuk menyetir mobil, sedangkan Arif dan Khanza yang paling panik hanya duduk di bagian penumpang dengan air mata yang berlinang.


Fatih sibuk menghubungi keluarga Faizal, memberitahukan tentang kejadian dan rumah sakit yang sedang mereka tuju.


Kenapa gue harus terlambat menyadari keanehan ini. Kalau saja gue sadar lebih awal, mungkin gue bisa mencegahnya untuk balapan malam ini. Faizal maafin gue, maafin keterlambatan gue.


Merutuki dirinya yang tidak peka dengan pesan-pesan terakhir yang di sampaikan Faizal kepadanya, Arif kembali meneteskan air mata.


Khanza terbayang kembali kebersamaanya malam ini, bagitu indah, manis, bahkan terkesan romantis. Baru menyadari kalau ternyata Faizal begitu berbeda malam ini, bahkan lelaki itu berani sekali mencium bibirnya. Memejamkan mata di dalam pelukan kekasihnya, Khanza berharap ini hanya mimpi buruknya.


"Kalau aku pergi, kamu jaga diri baik-baik ya? dengerin selalu nasehat-nasehat Arif, jangan buat dia kecewa dan yang terpenting jangan nangis lagi apa pun nanti yang terjadi."


"Faizal!" pekik Khanza membuka mata.


.


.


.

__ADS_1


.


Aku mewek sendiri nulisnya.😭😭😭🤧🤧🤧


__ADS_2