
Kak Sheryl izin untuk keluar sebentar, Sepertinya dia tidak tega melihat Kak Abi yang begitu terlihat pilu.
'Kak Sheryl kemana, sih! lama banget deh!'
Aku memutuskan keluar, menyusul Kak Sheryl. Karena aku rasa dia sudah cukup lama keluar, aku takut kalau terjadi apa-apa dengan dia. Selain tadi Kak Baruna menyuruhku menjaganya kakinya juga pasti masih sakit.
Melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu. Aku begitu terkejut melihat Kak Sheryl sedang di peluk seorang lelaki yang tidak aku kenal. Aku langsung menarik tangan Kak Sheryl dengan kencang.
"Kak Sheryl! aku di pesan Kak Baruna untuk tidak membiarkan laki-laki lain menggodamu. Kakak tidak boleh dekat-dekat dengannya!" protesku pada Kak Sheryl.
Kak Sheryl menoleh kearahku dan menghapus sisa air mata di pelupuk matanya.
"Khanza, ayo kita masuk lagi!" ajak Kak Sheryl.
"Maaf Pak Rey, saya benar-benar tidak sadar," ucap Kak Sheryl pada laki-laki itu.
Kak Sheryl menggandeng tanganku dan Kami kembali masuk kedalam ruang perawatan Kak Bima.
Kak Abi sudah terlihat menerima kenyataan kalau Kak Bima sudah meninggalkan kami semua. Bahkan di saat pemakaman Kak Bima dia tidak mengeluarkan air mata. Tapi, aku yakin meskipun dia terlihat tegar tapi hatinya masih rapuh.
***
Di lain tempat, ada seseorang yang terlihat begitu gelisah dengan menggenggam handphone-nya. Arif berkali-kali menghubungi Khanza tapi tak ada jawaban sama sekali.
Sudah dua hari Khanza tidak ada kabar sama sekali, bahkan hari ini pun dia tidak masuk ke sekolah. Saat Arif mendatangi rumahnya pun terlihat begitu sepi, orang tua Khanza juga sepertinya tidak ada di rumahnya.
"De, Dea!" panggil Arif pada perempuan yang berjalan di depannya.
Dea menoleh ke belakang mencari seseorang yang sedang meneriaki namanya.
"Manggil gue?" tanya Dea.
Arif berjalan mendekati Dea.
"Lo, tau Khanza kemana?" tanya Arif tanpa basa-basi.
"Nggak tau gue, dari kemarin gue telponin juga nggak di angkat," ucap Dea seadanya.
"Kemana lagi tu anak, kenapa hilang tanpa kabar gini. Apa dia marah ya?" ucap Arif pelan berbicara pada dirinya sendiri.
"Apa kata lo Rif?"
"Eh, ng ... nggak apa-apa De. Makasih ya!" ucap Arif. Dia pergi meninggalkan Dea setelah mendapatkan anggukan dari Dea.
Arif berjalan di koridor sekolah. Banyak cewek yang menatap penuh memuja pada ketampanan Arif dan banyak cowok yang menyapa Arif hanya sekedar salam pertemanan. Arif hanya membalas mereka dengan senyuman hangatnya.
Arif melihat salah satu bangku yang menghadap lapangan basket, dia teringat kalau Khanza sering duduk disana kalau dia sedang bemain basket. Arif tersenyum sendiri mengingatnya. Dia melihat kelapangan ternyata Randra dan kawan-kawannya sedang bermain basket.
__ADS_1
"Gue boleh ikut?" ucap Arif menghampiri mereka.
"Rif, sejak kapan lo minta izin gitu," ucap Randra dengab sedikit tawa renyahnya.
"Ayo langsung masuk aja!" ucap Sony yang juga ada disana.
Arif langsung masuk dan bermain basket bersama mereka.
Suasana di sekitar lapangan pun sudah riuh dengan sorak cewek-cewek pengagum Arif dan kawan-kawan
Arif manatap bangku di koridor sekolah dimana biasanya ada Dea dan Khanza yang duduk menontonnya main basket. Arif menghela nafas beratnya saat mendapati hanya ada Dea dan beberapa cewek lainnya di bangku itu.
'Za, kamu dimana sekarang Za," batin Arif.
"Awasssss ....!!!" teriak Vera.
Arif terjatuh terkena lemparan bola di kepalanya.
"lo, nggak papa 'kan Rif?" Randra membantu Arif beridiri.
"Nggak papa Rand!"
"Lo kenapa? kok gue lihat dari tadi melamun terus?" tanya Randra.
"Nggak papa Rand, cuma kaget aja tadi," jawab Arif.
"Nggak apa-apa kok yang," ucap Arif dengan sedikit senyumannya.
"Ini di minum dulu yang." Menyodorkan botol minumannya kepada Arif.
"Thanks."
Arif mengambil botol itu dari tangan Vera dan langsung meminumnya setengah. Sisa Airnya pun di tumpahkannya ke kepala dan mukanya.
Arif mengibaskan rambutnya yang basah ke kiri dan kekanan membuat semua wanita histeris di buatnya. Vera yang di depannya pun tak kuasa menahan pesona Arif, dia tersenyum malu menatap Arif yang seolah tak perduli dengan sekitarnya.
"Ini pakai!" Randra memberikan handuk kecil pada Arif.
Arif menyapu sisa air yang berada di muka dan rambutnya. Arif tanpa sengaja menangkap sosok lelaki yang menjadi rivalnya akhir-akhir ini. Lelaki itu terlihat berjalan terburu-buru memasuki kelasnya dengan sebuah telpon di telinganya. Arif melempar handuknya ke arah Randra, dan berlari menyusul Faizal ke kelasnya.
"Rif, lo kemana ....!!!" teriak Randra.
Vera dan Randra memandang ke arah dimana Arif berlari menjauh dari mereka bahkan tanpa menjawab pertanyaan Randra.
"Rand, sebenarnya Arif kenapa sih?" tanya Vera pada Randra.
"Gue juga nggak tau Ver."
__ADS_1
"Aku rasa dia aneh dari kemarin. Aku telpon dia nggak angkat dari kemarin, di chat juga tidak di balas. Tadi cuma bilangnya sibuk. Apa dia ada masalah?" ucap Vera dengan sendunya. Randra mengajak Vera duduk di bangku pinggir lapangan agar lebih nyaman untuk bicara.
"Sepertinya dia benar-benar sibuk Ver, orang tuanya 'kan sebentar lagi pulang."
"Tapi hari ini dia semakin aneh rand."
"maksud kamu?" Randra menatap Vera dengan tatapan bingungnya.
"Dia dari pagi mengabaikanku. Aku minta jemput pun tidak ada respon darinya. Setelah sampai sekolah aku mencarinya dan mendapatinya melamun di dalam kelas, entah apa yang di pikirkannya." Vera menarik nafas beratnnya.
'Dari kemarin....!!! apa Arif masih memikirkan Khanza? Khanza juga tidak masuk hari ini, tadi aku juga lihat dia bicara sama Dea, dan tadi Faizal? apa ada hubungannya dengan Khanza'
Randra mencoba menyusun puzzle ingatannya. Sebenarnya sejak tadi dia juga bertanya ada apa dengan sahabatnya itu, biasanya dia selalu bercerita kalau ada masalah tapi sepertinya sekarang ini dia mencoba memendamnya sendiri.
"Apa aku ada salah ya sama dia?"
pertanyaan Vera membuat Randra tersadar dari lamunannya.
"Nanti aku coba tanyain ya Ver!" Randra menepuk bahu Vera pelan.
"Terima kasih rand," ucap Vera dengan senyum sendunya.
Randra membalas senyuman Vera dengan hangatnya membuat Dea yang duduk di bangku tidak jauh dari mereka mencoba menahan sesak di dadanya. Entah kenapa rasa sakit muncul di dadanya saat dia mendapati Randra lembut dengan cewe lain, tapi selalu kasar kalau bertemu dengannya.
***
Arif berlari tanpa memperdulikan Randra yang memanggilnya, dan tanpa menoleh pada sang kekasih yang masih berada di tengah lapangan.
Arif mendatangi Faizal yang masih menelpon seseorang di dalam kelas.
Faizal terkejut saat seseorang menarik kerah bajunya.
"Santai dong!" ucap Faizal menahan tangan Arif.
"Lo, ngomong apa sama Khanza, sampai dia tidak mau mengangkat telpon gue!" Arif sekarang sudah di kuasai emosinya.
"Gue nggak ngomong apa-apa."
Arif tak percaya dengan ucapan Faizal, dia malah semakin emosi. Arif mengangkat sebelah tangannya dan ingin melayangkan pukulan pada Faizal. Tetapi ada seseorang dari belakang Arif yang datang menahan tangannya.
Cengkraman di kerah baju Faizal terlepas, membiat Faizal terbatuk mengatur nafasnya kembali. Arif dan Faizal berbalik dan menatap pada seseorang itu.
__ADS_1