
Saat istirahat tiba, Randra meninggalkan sahabatnya yang sedang jatuh cinta. Menyusul Dea yang berjalan keluar lebih dulu, Randra mensejajarkan langkahnya dengan Dea. Dea yang baru bertama bisa berjalan beriringan dengan Randra merasa salah tingkah.
"De, lo lihat nggak tadi?" tanya Randra membuka percakapan.
"Lihat apa sih, Rand?"
"Itu, Arif sama Khanza. Gue rasa mereka pacaran."
"Nggak mungkin lah. 'Kan Arif pacaran sama Vera, masa iya Khanza jadi selingkuhan."
"Percaya deh, sama gue. Gue sering lihat mereka jalan berdua, apalagi Arif itu cemburu kalau lihat Khanza di dekati lelaki lain."
"Nggak mungkin deh, Rand. Arif itu selalu menghina Khanza, masa iya bisa jatuh cinta."
"Nggak ada yang nggak mungkin, De. Siapa tahu semua itu, bentuk dia menutupi rasa cintanya pada Khanza."
Ucapan Randra sangat mengena pada Dea. Dia membenarkan ucapan Randra dalam hati, kadang orang menolak rasa cinta dengan perbuatannya. Tapi jika saatnya tiba, semua pasti akan terbuka dengan jalannya. Dea tak bisa menjawab lagi ucapan Randra, dia sibuk memikirkan perasaan yang tersimpan pada lelaki di sampingnya. Mereka terus berjalan beriringan memasuki kantin.
Tiba di kantin, Vera yang lebih dulu berada di sana menarik Randra untuk duduk bersamanya. Ada rasa Cemburu di hati Dea. Tapi siapa dia, yang berhak menahan Randra untuk tetap bersamanya. Dea mencari tempat duduk menjauh dari mereka, Dea tidak mau bergabung dengan anggota geng centil itu yang sudah menjadi musuh bebuyutannya. Mata Dea mencuri pandang pada Randra yang serius bicara dengan Vera.
"Rand, Arif kemana?" tanya Vera.
"Eh, itu.... Tadi dia lagi ngerjain tugas yang belum selesai." Sebenarnya Randra mau menemani Vera untuk menyelamatkan sahabatnya.
"Sama si cupu, ya? dia juga kayanya nggak ke kantin tu."
"I-iya, Dia.... Dia di minta Bu Eni buat ajarin Arif." Randra mencoba mencari alasan tepat untuk meyakinkan Vera.
Randra mengalihkan pembicaraan, agar Vera lupa kalau Arif sedang tidak ada. Mengajak Vera bercanda, sesekali matanya melirik Dea yang duduk sendiri disana. Ada rasa nggak enak di hati Randra saat melihat Dea murung sendiri, seperti bukan Dea yang sering berantem dengannya.
Saat Khanza datang dan duduk di samping Dea, ada kelegaan yang di rasa Randra. Entah rasa lega kalau dia berhasil menutupi sahabatnya dari Vera, atau rasa lega melihat Dea yang sudah tersenyum. Randra mengedarkan pandangannya mencari Arif yang tidak terlihat. Apa dia tidak ikut ke kantin?
"Ver, gue balik ke kelas dulu ya?" pamit Randra saat menyadari Arif tidak ada.
__ADS_1
"Eh, iya, Rand. Gue juga mau balik sama geng centil."
Vera malah meninggalkan Randra lebih dulu ke kelas. Randra menghampiri Khanza dengan Dea.
"Za, Arif mana?" tanya Randra pada Khanza, tapi matanya menatap Dea yang salah tingkah saat dia mengagetkan mereka.
"Di kelas Rand, kalau nggak di kelas pasti di belakang sekolah." jawab Khanza.
"Cie.... Tau banget, sih!" ledek Randra. "Gue nyari Arif dulu deh."
Randra meninggalkan Khanza yang bersemu merah. Sementara Dea, dia begitu takut kalau Randra tadi mendengar ceritanya kepada Khanza.
Randra mencari Arif di kelas, tapi sahabatnya itu tidak ada. Berjalan ke belakang sekolah sesuai yang di katakan Khanza. Benar saja, Randra melihat Arif sedang duduk memainkan poncelnya. Arif begitu suka berdiam diri di belakang sekolah itu, karena hanya di situ dia menemukan ketenangan tanpa ada yang mengganggunya. Hanya Khanza yang bisa menemukannya di belakang sekolah itu.
"Bro?" sapa Randra.
"Rand, kok bisa tau gue di sini?" Arif tidak menyangka kalau Randra bisa mengetahui keberadaannya.
"Dia juga chat gue berkali-kali."
"Sebenarnya ada hubungan apa Lo, sama Khanza, Rif?. Terus gimana sama Vera?"
Arif menceritakan semuanya pada sahabatnya itu, termasuk niat dia yang ingin memutuskan Vera yang terhalang izin Khanza.
"Khanza, benar, Rif. Kalau lo, putusin Vera sekarang akan jadi masalah besar bagi Khanza. Lo, tahu sendirikan mereka gimana? tenang aja gue akan selalu bantu kalian. Gue tau Khanza orang baik, Rif. Loe orang yang beruntung bisa mendapatkan hatinya." Randra menepuk bahu Arif dia mengajak Arif kembali ke kelas karena bel masuk sudah tiba.
Saat mendengar cerita Arif tentang Khanza, Randra teringat dengan gadis masa kecil yang pernah menolongnya menghajar preman yang mengganggunya. Saat itu dia juga sempat terluka dan gadis itu memberikan plester untuk menutup lukanya. Jika di ingat gadis itu tampilannya sangat mirip dengan Khanza.
Arif dan Randra masuk kedalam kelas bersama. Khanza dan Dea sudah duduk di tempat mereka semula.
"Ni minum dulu." Khanza menyrahkan minuman kopi yang di kemas dalam botol kepada Arif. Waktu dia membayar di kasir, dia teringat kalau Arif belum makan dan minum apa-apa. Dia berinisiatif membelikan minuman kopi untuk lelaki itu.
"Pengertian banget, sih." Arif mengacak rambut Khanza, memberikan senyum dengan deretan gigi putihnya.
__ADS_1
Khanza menajamkan matanya pada Arif, dia merasa malu karena ada Dea dan Randra di sana.
"Nggak usah malu kali," celetuk Randra.
"Biasa aja sama kita, ya nggak, Rand," tambah Dea.
Arif dan Khanza saling tatap dan mengalihkan pandangan mereka pada Randra dan Dea bergantian. Sejak kapan dua orang itu bisa akur? pertanyaan yang sama bagi Khanza dan Arif.
"Kayanya ada yang akur, nih," sindir Arif.
Randra dan Dea sama-sama bertatap mata.
"Apa lo lihatin gue?" judes Dea.
"Lo yang liatin gue," balas Randra.
"Mulai lagi." Khanza menggelengkan kepalanya, melihat tingkah mereka berdua.
Arif kembali duduk, meminum kopi yang sudah di belikan Khanza untuknya. Sejak tadi dia menahan rasa hausnya, untungnya dia mempunyai Khanza yang cukup peka terhadapnya.
Randra dan Dea terus beradu jotos sampai guru mereka masuk menegur keduanya. Hal yang sudah menjadi pemandangan biasa bagi murid lain di kelas mereka, juga guru-guru yang mengajar mereka. Randra dan Dea memang terkenal tidak pernah akur jika bertemu, kalau mereka berjalan berdua dan mengobrol biasa itu sangat aneh di mata para siswa.
Randra selalu menggoda wanita di sekolah itu, tapi aneh saja jika tidak tergoda dengan Dea yang kecantinkannya bahkan sebanding dengan geng centil di sekolah mereka. Malah Randra seperti membenci Dea, Begitu juga sebaliknya. Dea yang selalu bisa menaklukkan lelaki di dekatnya, justru tidak tertarik berdekatan dengan Randra yang notabene-nya playboy di sekolah mereka.
Jam pulang sekolah telah tiba, Arif sudah bersiap pulang bersama Khanza. Tetapi Vera yang datang menghampiri mereka mengacaukan semuanya.
Arif malah mengantar Vera, atas dasar permintaan Khanza. Dan Khanza lebih memilih menelpon Kakak Zay meminta menjemputnya.
"Za, Arifnya kemana?" tanya Zay saat Khanza sudah memasuki mobilnya.
"Ada keperluan mendadak tadi, Kak."
Zay membulatkan bibirnya membentuk huruf O dan kembali fokus menyetir mobilnya. Khanza juga diam dengan pikirannya yang berkelana pada Arif dan Vera. Ada rasa cemburu yang di rasanya tapi logikanya masih bisa ia pakai untuk menampik segalanya.
__ADS_1