CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-51~Damai


__ADS_3

Malam sudah berganti dengan pagi, semburat cahaya sudah muncul dari celah dinding kaca. Menerpa rahang kokoh penuh kharisma dari seorang Arif Saputra Wijaya. Tubuh atletis yang terbalut dengan kaos hitam polos itu menggeliat pelan di bawah selimutnya, mata coklat pekatnya mengerjap menyesuaikan cahaya dari sang surya. Meraba-raba mencari poncelnya, Arif menekan beberapa kode untuk membuka pasword HPnya. Mendengus kesal saat chatnya tak kunjung di balas sang kekasih yang sedang merajuk karena tak suka dengan kelakuan bar-barnya. Arif mengetuk keyboard HPnya, merangkai tulisan kata untuk memubujuk Khanza.


Sayang sudah dong, ngambeknya. Kamu nggak kasihan sama aku. (send)


Satu menit, dua menit, lima menit. centang dua itu sudah berubah biru, namun tak kunjung di balas juga dari Khanza. Arif melempar benda itu ke tempat tidur, mengacak-ngacak rambutnya frustasi.


"Argh! susah banget sih di bujuknya," desisnya.


Menyeret paksa kaki panjangnya ke kamar mandi, Arif merasa begitu lesu saat ini. Percayalah! dari pada menghadapi wanita ngambek Arif lebih baik melawan Tiga orang di ring tinju sekaligus. Rasanya itu lebih mudah di taklukkan dari pada seorang gadis cupu yang tiba-tiba mendiamkannya.


Keluar dari kamar mandi, Arif memakai seragam sekolahnya. Mengambil jaket untuk menghangatkan tubuhnya, Arif bertekat ke rumah sakit sebelum pergi ke sekolahnya.


Membelah jalan dingin karna embun pagi, Arif menaiki kuda besi kepunyaan Randra. Sejak kemarin motor itu masih tidak di tukar kembali dengan mobilnya. Rasanya dia sudah tidak sabar melihat wajah imut milik Khanza.


Memasuki parkiran gedung rumah sakit, Arif melepas helmnya. Membawa langkah kakinya menuju ruang inap kekasih tercinta. Membuka perlahan pintu ruangan itu, Arif di sambut pemandangan indah wajah Khanza yang masih setia menutup mata.


"Arif?" sapa Mama Khanza keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit di rambutnya.


"Tante, baru selesai mandi Tan?"


"Iya, Rif. Khanzanya masih belum bangun, tu."


"Biarin aja, Tan! Biar dia istirahat dulu. Kak Zay udah pulang, Tan?" Arif bertanya seraya mendekat pada ranjang Khanza.


"Pulang tadi malam, Rif. Kasian istrinya 'kan lagi hamil muda." Mama Khanza sudah selesai menyisir rambutnya. "Rif, Tante tinggal cari makanan sebentar, nggak papa 'kan?"


"Iya, Tan. Nggak papa."


Mama Khanza keluar dari ruangan meninggalkan Arif yang duduk di kursi samping ranjang Khanza. Ia mencari sarapan karena sejak tadi perutnya perih minta di isi makanan.


Arif menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis melihat wajah gadis di hadapannya. Bangkit dari duduknya untuk mencium kening kekasihnya itu.


Khanza terperanjat kaget, matanya membuka sempurna saat benda kenyal itu menempel pada permukaan kulitnya.


"Arif!" pekiknya, reflek tangannya memukul dada pemuda itu kencang.


"Aduh!" ringis Arif memegangi dadanya. "Kencang banget sih, yang, mukulnya."


Khanza tak menggubris Arif, dia malah berbalik memunggungi pemuda itu. Arif mendengus lesu, ternyata Khanza masih marah kepadanya.


"Za, sampai kapan, sih marahnya? kamu nggak kasian sama aku? aku kangen, Za." rengeknya. Tapi masih tak mendapat respon dari sang kekasih.


"Aku janji nggak akan ngerokok lagi, Za. Janji nggak akan kelayapan lagi, baikan ya, ya?" rayu Arif, dia menyentuh bahu Khanza perlahan, tapi tangannya dengan cepat di tepis Khanza hingga terhempas menjauh dari Khanza.

__ADS_1


Arif tergelak, segitu besarkah kesalahannya? hingga Khanza tidak mau di sentuhnya. Arif menggenggam tangannya yang di tepis Khanza, emosi yang cepat sekali tersulut membuat muka Arif merah padam.


Sabar, Rif. Ingat jangan pakai emosi.


Arif meraup udara dari rongga hidung untuk memenuhi paru-parunya. Menetralkan kekesalan yang menyeruak di dada. Arif berusaha untuk tenang menghadapi Khanza.


"Oke! kamu puasin dulu marahnya, biar aku pamit aja!" Arif berbalik membawa kaki panjangnya menjauh dari Khanza. Dari pada dia tidak bisa menahan emosinya, lebih baik dia menghindar lebih dulu.


"Mau kemana?"


Pertanyaan Khanza membuat Arif menghentikan langkah. "Keluar!" sahutnya tanpa berbalik.


Khanza menatap punggung tegap lelaki itu, ada rasa tidak rela saat Arif pergi darinya. Apalagi sekarang Arif menyahutnya dengan nada datar. Rasa bersalah pun datang menghampirinya, menautkan sepuluh jari, Khanza membuka mulut ragu.


"K-kamu mau tinggalin aku sendiri?"


Arif mendengus mendengar kalimat yang keluar dari bibir tipis itu. Dia berbalik menatap Khanza yang menunduk dengan tangan tertaut.


Maunya apa, sih? dasar wanita susah di tebak maunya apa?


Arif kembali berjalan menghampiri Khanza. Tanpa sepatah kata, dia duduk di samping ranjang pembaringan. Menelungkupkan kelapanya di sisi khanza.


Apa aku keterlaluan ya, marahnya? tapi 'kan ini demi kebaikannya juga. Kalau nggak di giniin pasti nggak berubah nanti. Maafin aku ya, Rif?


Khanza merasa bersalah, tangannya terulur ingin menyentuh rambut lelaki di sampingnya.


Pintu terbuka, Khanza pun menarik tangannya yang hampir saja menyentuh kepala kekasihnya. Di ambang pintu berdiri Mama Khanza dan Kepala sekolah, serta beberapa orang tua yang sama sekali tidak Khanza kenal.


"Silahkan masuk, Pak, Bu." Mama Khanza mempersilahkan semuanya masuk.


Mereka masuk bergantian memenuhi ruangan. Khanza dan Arif berjengkit kaget saat melihat geng centil dan juga Sony ikut di rombongan itu. Saat itu juga Khanza dan Arif bisa menebak kalau mereka adalah orang tua Geng centil dan si songong Sony. Pada saat itu juga, Zay dan Papa Khanza datang.


Deangan mengitari ranjang pembaringan Khanza, mereka mengutarakan maksudnya untuk meminta maaf atas perbuatan anak mereka. Mereka juga menuntun anak mereka satu-satu untuk meminta maaf langsung kepada Khanza.


Di mulai dari Zia, Ifa, Sofi. Mereka meminta maaf dengan takut kepada Khanza, sangat tampak penyesalan di wajah ketiga gadis itu. Namun, berbeda dengan Vera dan Tia. Entah tulus atau tidak, mereka meminta maaf dengan begitu malas dan gengsi pada Khanza. Dorongan dari orang tua Vera dan Tia, membuat mereka mau tidak mau melakukannya.


Ada yang aneh bagi Khanza, saat melihat Sony yang babak belur dengan lebam di wajahnya. Dia mengalihkan tatapannya pada lelaki sampingnya, menatap tajam pada Arif yang langsung mengalihkan pandangannya.


Pasti ulah dia...! Dasar ya, Emosian banget punya pacar.


Khanza dan keluarga menerima dengan tangan terbuka permintaan maaf dari mereka. Bukan karena apa-apa. Tapi, Keluarga Khanza sudah menyerahkan segalanya kepada pihak sekolah yang bersangkutan.


Di saat semuanya sudah damai dan selebihnya tergantung pihak sekolah. Mereka pamit undur diri, meninggalkan ruangan itu, dengan di antar keluarga Khanza.

__ADS_1


Saat semuanya kembali keluar, Khanza mencubit kencang perut Arif.


"Auuuu....! Ampun, Za! sakit, Za! lepas, dong!" ringis Arif karena Khanza tak kunjung melepas tangannya, malahan dia semakin mencapit kuat perut Arif.


"Rasain.... Nakal banget, sih!" geram Khanza.


Arif semakin meringis di buat gadis itu, dia melepas tangan Khanza dari perutnya. Menarik Khanza ke dalam pelukannya, menempelkan erat muka kekasihnya ke perut rata miliknya.


"Aku sayang banget sama kamu, Za. Aku nggak rela kalau ada yang menyakiti kamu. Apa lagi sampai melukai kamu, itu sama saja mereka melukai aku," ungkap Arif tulus, dia semakin mengeratkan pelukannya.


Sudut bibir Khanza melengkung ke atas membentuk senyum tipis. Kata-kata Arif membuat jantungnya menari-nari bahagia di dalam sana. Dia membalas pelukan Arif, membenamkan wajahnya pada perut lelaki itu. Saat itu juga Khanza tau kalau Arif tak main-main mencintainya.


Khanza mengurai pelukannya, menatap pada manik mata coklat di hadapannya. "Tapi, nggak harus buat anak orang babak belur juga 'kan?" cibir Khanza.


"Cuma icip pukul dikit doang, Za." Satu pukulan mendarat di perut laki-laki itu, membuatnya meringis kembali. "Lagian siapa suruh ganggu PACAR aku," tambah Arif sengaja menekan kata 'pacar' di hadapan Khanza. Dia tergelak tertawa lepas saat pipi Khanza menampilkan semburat merahnya.


Cup!


Satu kecupan tiba-tiba mendarat di pipi kanan Khanza, membuatnya berjengkit kaget. Menoleh ke samping, kini wajah Khanza hanya berjarak beberapa senti dari wajah Arif. Hening! saat dua bola mata itu bertemu dalam satu garis, saling mengunci tatapan yang sulit di artikan. Arif mengalihkan tatapannya pada bibir tipis dengan rona pink milik Khanza, hasrat yang tiba-tiba bergejolak ingin merasakan manisnya bibir ranum sang kekasih mendorongnya semakin mengikis jarak di antar mereka, sebentar lagi dua benda kenyal itu bertemu untuk melepas kerinduannya.


Dimana ada kenyamanan di situ akan tumbuh sebuah rasa yang bisa menjadi sebuah cinta. Cinta memang selalu menemukan jalannya walau hanya secelah dalam sakitnya goresan luka. Sulit di artikan dan sulit di gambarkan, hanya akan di rasakan ketika kita sudah tercebur dalam genangan perasaan.


Ehemmm!!!!


.


.


.


.


.


.


~Hayooo!!!


*Tungguin lanjutan terus ya guys!


*Jangan lupa like, komen, favorite juga bintang limanya ya🙏🙏🙏🙏


*Kalau ada lebih poin dan koin juga boleh di sumbangkan ya😊😊😊😊

__ADS_1


*Salam sayang dari Author buat kalian semua, Author tidak ada apa-apanya tanpa kalian.


saya ucapkan terima kasih banyak untuk kalian semua ya😘😘😘😘


__ADS_2