CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-75~Izin keluar kota.


__ADS_3

Pernah ada rasa cinta.


Antara kita kini tinggal kenangan.


Ingin kulupakan.


Semua tentang dirimu.


Namun tak lagikan.


Seperti dirimu oh bintangku.


Jauh kau pergi meninggalkan diriku.


Disini aku merindukan dirimu.


Kini kucoba mencari penggantimu.


Namun tak lagi 'kan.


seperti dirimu oh kekasih.


***


Bagai tersayat sembilu ketika sang penyanyi cafe membawakan lagu "Tinggal kenangan" dari Gabby. Khanza berulang kali menarik nafas dalam dan membuangnya secara perlahan.


Memang posisimu tidak akan pernah terganti untuk selamanya, meski kini aku mempunyai orang yang sangat kucinta. Tapi, rasa kehilangan saat kamu tiada, begitu kental terasa. Semoga kamu tenang, Fa. Disini aku selalu merindukan dirimu.


"Za!" Arif menyentuh pelan bahu sang kekasih.


"Eh, kenapa, Rif?" Khanza segera tersadar dari lamunannya.


"Ayo, makan! jangan di lihatin aja."


"Eh, iya, Rif."


Khanza menjejal mulutnya agar terisi penuh makanan, mengunyah dengan perlahan, sambil menghela nafas agar bayangan sang sahabat segera menghilang.


"Kenapa? ingat Fa–" kalimat Arif terpotong dengan ributnya pasangan di depan mereka.


"Rand, aku nggak mau," tolak Dea, pada Randra yang ingin menyuapinya makanan.


"Coba, dikit aja. Enak, De, beneran!" serunya meyakinkan Dea.


"Dikit aja ya?"


Dea membuka mulutnya, menerima suapan makanan dari sang kekasih. Namun, baru saja makanan itu sampai ke mulutnya, Dea tersedak sampai batuk-batuk.

__ADS_1


"Uhuk-uhuk! Air ... air!" pekik Dea mengibas-ngibas mukanya.


Khanza menyerahkan gelas berisi air putih yang langsung di minum Dea hingga tandas. "Lagi!" pinta Dea panik.


Randra menyerahkan minumannya, sekali lagi, Dea meneguk habis tanpa sisa. Gadis bar-bar itu tersengal-sengal bagai orang habis berlari maraton.


"Kenapa De?" tanya Khanza, setelah melihat sahabatnya itu mulai tenang.


"Sialan, nih, si Randra. Kasih aku makanan pedas banget," umpat Dea pada sang kekasih. Tangannya mencapit paha lelaki di sampingnya.


"Au!" ringis Randra. "M-maaf, yang! aku pikir kamu tahan pedas."


"Itu pedas banget, Rand. Mataku sampai berair gini, coba," keluh Dea.


"Parah, lo, Rand, sama pacar sendiri," imbuh Arif.


"Sorry, aku 'kan beneran nggak tau." Randra mencoba membela diri.


"Oke, aku maafin" sahut Dea.


Khanza geleng-geleng kepala di buatnya, ada-ada saja kelakuan pasangan di depannya. Tapi, dia bersyukur, mempunyai teman seperti mereka, sangat menghibur bagi dirinya.


Menyelesaikan makan mereka, Arif segera membayar semua makanan. Mengajak mereka untuk segera pulang, karena sudah larut malam. Sampai di depan parkiran, Arif dan Randra berpencar membawa pasangan mereka masing-masing.


***


Hening. Tanpa ada yang ingin membuka suara, Arif fokus pada kemudinya sedangkan Khanza melihat-lihat kembali foto-foto yang tadi mereka ambil di galeri handphone sang kekasih. Menyunggingkan senyum tipis, gadis itu mengirim beberapa foto ke nomornya.


Khanza memalingkan muka, menatap pada sang kekasih yang masih fokus pada jalan di depannya.


"Em, Za .... L-lusa aku mau ke luar kota."


Deg!


Jantung Khanza seakan berhenti berdetak, matanya langsung berkaca-kaca. Hampir saja ponsel di tangannya terjatuh, dengan suara bergetar dia bertanya, "K-kem-mana?"


Merasa ada yang tidak beres pada kekasihnya, Arif segera menepikan mobil. Menghela nafas dalam sebelum berbicara secara serius dengan Khanza. Memutar posisi tubuh, lelaki itu kini berhadapan dengan gadis pujaan hati. Meneliti wajah sendu Khanza, Arif merasa tidak tega jika harus meninggalkannya.


Air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mata, kini berhasil keluar, menjatuhi pipi mulus Khanza. "K-kamu mau kemana?" tanya Khanza dengan lirih.


Menghapus air mata itu, Arif beralih menggenggam tangan Khanza. Menarik nafas dalam, dia mencoba meyakinkan diri untuk segera bicara.


"A-aku mau nyusulin Ayah sama Bunda, Za."


"Lama?" selidik Khanza.


Arif hanya menggeleng.

__ADS_1


"Berapa hari?" Khanza kembali bertanya.


"Dua ming–"


Khanza menarik tangannya secara paksa. Memutar tubuh kembali ke depan, gadis itu bersedap di dada dan membuang muka ke jendela.


"Za?" panggil Arif. Namun, tidak ada jawaban. Arif mencoba menyentuh bahu Khanza. "Hei, lihat aku?" bujuk Arif.


"A-ayo jalan! a-aku mau p-pulang," pinta Khanza.


Dari nada suaranya Arif yakin, perempuan itu sedang menangis. "Sayang, dengar dulu." Arif memaksa Khanza memutar tubuhnya. Namun, sepertinya perempuan itu, sangat keras kepala.


Menghirup udara sebanyak-banyaknya, Arif mencoba menenangkan dirinya. "Kamu tau 'kan, Za? aku sangat rindu Ayah, Bunda. Kemarin, Ayah telpon, katanya Bunda lagi sakit ...." Arif menjeda kalimatnya. Nafasnya terasa tercekat saat mengingat sang Bunda yang lagi terbaring sakit di sana.


Khanza langsung berbalik, menatap pemuda yang kini menunduk lesu. Sangat jelas terlihat kalau Arif terlihat begitu sedih. "M-maaf!" Khanza menyentuh bahu pemuda itu.


Arif menarik Khanza ke pelukannya, tubuhnya bergetar menahan air mata yang merangsek ingin segera keluar. "Maaf aku harus ninggalin kamu dulu, Za. Please, kamu jangan marah, apalagi sedih ya?" pinta Arif.


Khanza ingin mengurai pelukannya. Namun, Arif menahan kepala gadis itu. "Tiga bulan di tinggal ke luar kota, dan aku tidak pernah bertemu Ayah sama Bunda selama itu. Sekarang Bunda sakit, karena merindukanku, sedangkan Ayah tidak bisa melepas tanggung jawabnya terhadap perusahaan begitu saja. Tadi pagi beliau menelpon, sudah memesankanku tiket untuk menyusul mereka ke sana. Maaf jika aku harus meninggalkanmu untuk sementara, Za." Setetes air mata berhasil lolos dari pemilik mata coklat itu. Arif menghapusnya dengan segera.


Khanza menarik dirinya, menatap Arif dengan penuh iba. Tangannya terangkat mengelus pelan pipi sang kekasih. "Maaf, aku sempat egois. Aku hanya shock kamu maun ninggalin aku. Apa lagi dua minggu bukan waktu yang sebentar."


Arif menarik sudut bibirnya, menggenggam tangan sang kekasih yang masih menempel di pipinya. "Sabar ya, nunggunya? anggap aja buat melatih rasa rindu kita."


Khanza mencubit pipi Arif, hingga lelaki itu meringis. "Rindu itu berat, Rif."


Arif tergelak dengan tawa pecah di bibirnya. "Biar Dilan saja," candanya. Tawa mereka pun pecah bersama, melepas segala kegalauan yang ada. Menghabiskan waktu, sebelum berpisah ketika lusa tiba.


"Ckckck. Ayo kita pulang!" ajak Khanza.


Sebelum Arif beranjak mengemudikan kembali mobilnya, dia mengecup singkat pucuk kepala gadis itu. "Terima kasih, sudah mengerti aku. Love you," ungkapnya dengan senyuman manis.


"Love you too," balas Khanza.


Kembali melajukan mobil membelah keramaian kota, Arif dan Khanza mengobrol dan bercanda layaknya pasangan muda pada umumnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


➡ Maaf ya, kalau rada-rada nggak dapet feelnya.🙍


__ADS_2