CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-32~Arif


__ADS_3

Keluar dari kamar mandi Arif menatap HP yang beserakan di lantai, mengambil benda itu untuk mengeluarkan sim card dan memory card-nya. Membuang benda keluaran terbaru itu ke sampah, Arif merebahkan tubuhnya. Mungkin sekarang emosinya sudah mereda, tapi pikirannya masih berputar tentang Khanza.


Teman, dia cuma anggap aku teman.


"KHANZA ...!" teriakan Arif menggema di ruangan itu.


Meletakkan lengan menutup matanya Arif mencoba masuk ke alam bawah sadarnya.


***


Khanza berangkat ke sekolah dengan terburu-buru, bahkan dia melewatkan sarapan pagi di rumahnya. Memarkirkan mobilnya, Khanza melihat kalau motor Arif sudah berada di sekolah. Mencari lelaki itu ke sekeliling sekolah, tapi tak kunjung menemukannya.


Khanza melihat Randra yang sedang bersama beberapa cewek di depan kelasnya.


"Dasar playboy," gumam Khanza pelan, berjalan ke arah Randra.


"Rand, lo, lihat Arif?"


"Eh, Za. Gue nggak lihat dia dari tadi, Za! kenapa?"


"Nggak papa Rand, cuma ada yang mau di omongin."


"Masih berantem?"


Khanza mengangguk lesu. "Gue cari dulu deh!" pamit Khanza berlalu.


Randra menatap kasihan pada gadis cupu itu. Tiba-tiba pundaknya di tepuk seseorang dari belakang.


"Masih belum baikan tu anak sama Arif?" tanya Faizal menatap Khanza yang berjalan menjauh.


"Mungkin! sebenarnya ada apa, sih, Fa?" tanya balik Randra.


"Aku juga nggak ngerti, Arif tiba-tiba emosi gitu. Tapi, sudahlah! biar mereka selesaikan berdua."


Randra menyetujui omongan Faizal. Mereka memutuskan untuk tidak ikut campur dalam urusan Khanza dan Arif.


Khanza bertanya pada beberapa anak-anak keberadaan Arif, tapi tak ada satupun yang melihatnya.


Kemana, sih. Apa sama .... Vera? tapikan Vera lagi sibuk buat acara lomba besok.


Khanza berjalan lesu ke belakang sekolah. Dia mau menjernihkan pikirannya yang kacau gara-gara Arif. Baru beberapa langkah berjalan, tubuh Khanza menegang menatap sosok laki-laki yang di carinya.


***


Matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya tapi Arif sudah berada di sekolah dengan menaiki motor kesayangannya. Semalaman suntuk Arif tidak bisa memejamkan mata dengan tenang, kata-kata Khanza terus terngiang di telinganya.

__ADS_1


Arif berdiam diri di belakang sekolah di temani beberapa batang rokok. Melampiaskan semuanya dengan merokok, Arif merasa ada ketenangan pada dirinya. Terus menyulut beberapa puntung rokok, Arif terlihat begitu menikmati ketengan di belakang sekolah itu.


Kenapa aku begitu kacau hanya karena Khanza di rangkul lelaki lain, padahal dengan Vera yang hampir setiap hari dengan lelaki lain saja aku tidak perduli. Bahkan seringkali aku melihat chatnya dengan cowok aku tak pernah marah. Kalau saja aku menemukan chat di HP khanza seperti itu mungkin aku sudah menghajar orang itu. Apa yang terjadi padaku? apa ini yang di sebut cinta buta? tapi dia hanya teman ....


Arif mengingat ucapan Khanza yang menyatakan dirinya hanya teman. Menghembuskan kasar asap rokok dari mulutnya.


Memang benar tidak ada kejelasan pada hubungan ini, aku juga masih memiliki Vera. Tapi ... apa perlu di jelaskan seperti itu, kalau aku hanya teman tidak lebih. Apa masih belum cukup semua yang terjadi. Atau dia .... hanya menganggap semuanya biasa.


Bau asap pekat tercium di tempat itu, Khanza sampai menutup hidung dan mulutnya. Menghampiri Arif dengan emosi, Khanza merebut rokok di tangan Arif.


"Apa-apaan, sih!" protes Arif ingin merebut kembali rokok di tangan Khanza.


Khanza menggenggam rokoknya dan menyimpan di belakangnya.


"Sini!"


"Nggak!"


"Sini'in!" Arif menatap mata Khanza. tubuh mereka cuma terpisah beberapa centi.


Khanza dengan cepat memasukkannya kedalam saku bajunya, membuat wajah Arif merah padam menatap Khanza. Arif berpaling menjauh pergi karena takut akan menyakiti wanita di depannya.


"Tunggu!" Khanza menahan tangan Arif, Tapi dengan kasar Arif menyentak tangannya. Membuat Khanza terjatuh karena tidak seimbang menahan berat badanya.


"Auu!" ringis Khanza kesakitan.


Arif panik memeriksa kaki Khanza. "Dimana yang sakit, Za?"


Setetes air mata membasahi tangan Arif, membuatnya mendongak menatap gadis di hadapannya. "Sakit banget ya, Za? dimana, sih, yang sakit!" Arif memijat kaki Khanza pelan.


"Kamu .... Kenapa marah nggak jelas sama aku?" lirih Khanza menghapus air matanya.


Arif menegang rahangnya kembali mengeras.


"Aku .... salah apa. Handphone kamu juga ngga aktif. Aku salah apa, Rif?" Khanza mengguncang lengan Arif.


Arif tidak menjawab atau sekedar menatap. Dia berbalik ingin pergi dari sana. tapi dengan cepat Khanza memeluknya dari belakang.


"Please, jangan pergi!" Khanza tidak mau melepaskan pelukannya walau Arif berontak.


Arif pasrah, menarik nafas dalam Arif mencoba melepas pelan tangan Khanza. Berbalik menatap pada Gadis itu.


Arif memegang dagu Khanza, menuntunnya untuk menatap pada matanya. Wajah Khanza yang penuh air mata membuat Arif merasa bersalah pada dirinya.


"Cowok kemarin siapa?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Arif.

__ADS_1


"Yang mana?"


Arif melepas dagu Khanza dan berbalik. Dia merasa kecewa ternyata Khanza tidak peka dengan kecemburuannya.


"Dia, Fatih! temanku!" terang Khanza menghentikan langkah Arif.


"TEMAN! Apa perlu seperti itu!" sindir Arif tanpa berbalik.


Apa maksudnya sih! apa dia benar cemburu?


Khanza benar-benar di buat pusing oleh lelaki di depannya. "Maksud kamu? apa, sih!"


Arif berbalik, Mata tajam itu menatap pada iris mata Khanza. "Apa perlu, TEMAN merangkul kamu seperti itu!" tegas Arif.


Khanza menganga tidak percaya, ternyata Arif benar-benar cemburu sama Fatih. Ada rasa bahagia yang menggelitik di dada, saat mengetahui lelaki di hadapannya cemburu. Tetapi tetap sakit saat melihat Arif yang begitu kacau hanya karena dirinya.


"Bukannya kamu juga temenan sama aku."


Maksud Khanza ingin mencari kejelasan dari Arif tentang bagaimana dia untuk Arif. Bukannya mendapatkan jawaban Arif malah semakin marah kepadanya.


"TEMAN! iya cuma TEMAN!" ucap Arif penuh penekanan dan berbalik pergi meninggalkan Khanza.


Salah lagi 'kan! emang mau-nya apa, sih! memang benar teman 'kan?


Khanza memegang kepalanya, merasa pusing sendiri menghadapi Arif. Mengeluarkan rokok di sakunya Khanza bergumam sendiri. "Sejak kapan dia merokok?" Khanza membuang rokok itu ketanah dan menginjaknya sampai remuk menyatu dengan tanah.


Melenggang pergi dari tempat itu Khanza memasuki kelasnya karena sebentar lagi pelajaran akan di mulai.


***


Pelajaran pertama sudah selesai, tapi Arif sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Padahal sebentar lagi dia ada latihan untuk pertandiangan basket besok hari. Khanza semakin Khawatir saat handphone Arif sama sekali tidak bisa di hubungi.


Sorakan di luar begitu riuh, membuatnya bangkit dari kursi dan mencari tahu apa yang sedang terjadi.


Tim Cheerleaders sudah memulai latihannya pantas saja semua kaum adam berkumpul menontonnya.


Menatap pada lima lelaki yang sedang bermain basket di lapangan. "Arif!" lirih Khanza pelan.


Arif bermain dengan begitu emosi di lapangan membuat teman-temannya tidak bisa mengimbanginya.


Khanza semakin khawatir melihat Arif yang seperti itu. Dia merasa begitu bersalah karena sudah membuatnya marah. Tidak berani menonton dari dekat, Khanza hanya menatap sendu pada lelaki yang sangat-sangat di kaguminya itu.


Hatiku sakit melihatmu seperti ini, kenapa tidak kita bicarakan baik-baik saja tanpa emosi. Kalau terus seperti ini yang ada kita semakin menyiksa diri. Aku takut semua akan berimbas pada besok hari.


Air mata Khanza menetes melihat lelaki yang sekarang di penuhi keringat itu. Sorot matanya yang tajam, rahangnya yang kokoh, serta urat nadi yang keluar dari lengan2 berototnya terpampang jelas kalau lelaki itu saat ini begitu emosi. Meskipun seperti itu dia begitu di gemari di SMA Bhakti Bangsa ini.

__ADS_1



__ADS_2