CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-72~Gadis Bar-Barku


__ADS_3

Awan halus menari-nari di atas langit dengan berbagai macam bentuk. Di hari yang cerah ini, dua pasang muda-mudi sedang menikmati waktu libur mereka. Randra mengajak Dea ke salah satu Danau indah yang terletak di pinggiran kota. Satu jam perjalanan yang mereka tempuh, dengan menaiki motor kesayangan Randra, kini dua orang itu, di sambut dengan pemandangan indah dari air yang begitu tenang.


"Wah indah sekali, Rand!" seru Dea dengan girangnya. Gadis itu berlari ke dermaga kayu di tepian danau, meninggalkan Randra yang masih sibuk memarkirkan motornya. Berdiri degan merentangkan kedua tangan, menghirup dalam udara sejuk dari pepohonan. Menutup mata secara perlahan, Dea merasa tenang dan damai di sana.


Randra tersenyum tipis, mendapati sang pujaan hati, kini berdiri membelakanginya. Membawa kaki semakin mendekat, Randra berdiri tepat di bekalang Dea. Melingkarkan kedua tangan di perut rata gadis itu, Randra merapatkan tubuhnya di belakang Dea. Meletakkan dagu pada bahu kanan, dia berbisik lembut, "I love you gadis bar-barku."


Dea terperanjat kaget saat ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Namun, mencium aroma parfum mint yang di gunakan orang itu, dia langsung bisa menebak kalau itu adalah Randra. Tapi, tubuhnya seketika mematung, di kala lelaki itu menyusupkan kepala di samping lehernya.


Deg-deg-deg!


Jantung Dea memompa dengan begitu cepat, saat mendengar kata cinta yang terungkap dari bibir lelaki di belakangnya. Mengerjap-ngerjapkan mata, Dea memastikan kalau dia tidak sedang berada di dalam mimpi. "Ini bukan mimpi 'kan?" gumamnya pelan masih tidak percaya. Mencubit kecil tangannya, hingga ringisan kecil keluar dari bibir mungilnya.


Randra terkekeh geli, melihat tingkah lucu gadis itu. Melepas pelukannya, lelaki itu memutar badan Dea, agar berhadapan dengannya.


"Ini nyata, De. Coba kamu tatap aku?"


Dea mengangkat kepalanya, menatap netra mata coklat dari lelaki di hadapannya. Sejenak terkunci dalam pandangan masing-masing, Randra kembali mengungkapkan perasaannya. Menggenggam dua tangan Dea, lelaki itu berucap dengan jelas dan lantang.


"I love you, gadis bar-barku. Maukah kamu menjadi pacarku?" Randra menatap serius pada Dea, sangat nampak dari wajahnya kalau dia juga mengharapkan hal yang sama.


Cukup lama Dea terdiam, mencoba menimbang-nimbang kata yang harus dia ucapkan. "I-iya Rand, Gue mau!" jawab Dea gugup.


Randra menghela nafas kasarnya, ada guratan kecewa dari wajah lelaki itu.


"Kenapa mukanya kayak gitu? 'kan udah gue terima!" bingung Dea.


Randra melepas tangan gadis itu, helaan nafas kasar lagi-lagi keluar dari mulutnya. "Kenapa harus pakai 'gue' sih?" rajuknya manja.


"Hahaha!" Dea tegelak tertawa terbahak-bahak mendapati lelaki playboy itu merajuk manja.


"ish, malah di ketawain," desis Randra, melengos berjalan ke ujung dermaga yang panjangnya sampai ke tengah danau.


"Aku mau jadi pacar kamu, Randra Prawira!" teriak Dea menggema di danau itu. Untunglah di tempat itu sepi.


Randra menghentikan langkah kaki, mulutnya menganga tidak percaya. Dea memang gadis yang bar-bar, dengan berani gadis itu berteriak menjawab cinta dari dirinya. Memutar kaki, dia berbalik dan memandang lurus pada sosok gadis cantik itu. Randra tersenyum hangat pada Dea, merentangkan tangan, agar wanita itu segera mendekat kepadanya.

__ADS_1


Dea berlari, menghambur ke dalam pelukan Randra. Menyembunyikan muka merona di dalam dada bidang yang terbalut kain berwarna merah. Perasaannya membuncah, saat lelaki itu mempererat pelukan mereka. Memberikan kehangatan pada sebuah perasaan yang membeku sejak lama.


"Terima kasih, De. Kamu sudah mau menerima cinta aku!" seru Randra mencium pucuk kepala Dea.


Buk!


"Au!" ringis Randra. "Kok, di pukul?" tanyanya, karena Dea tiba-tiba memukul dadanya dengan kencang.


"Sebel aja, kamu nembaknya lama banget, sih!" cibir Dea.


Mengurai pelukan mereka Randra tertawa renyah, "Hahaha, maaf!"


"Kita duduk yuk! cape berdiri terus." Randra mendaratkan bokongnya di atas lantai kayu, dengan menekuk setengah lutut, menatap pada keindahan danau di depan.


Dea merosot duduk di sebelah Randra, menyandarkan kepalanya di bahu kekasih barunya itu. Menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, kini dia merasa sangat lega. Cinta yang selama ini di pendam akhirnya tidak berakhir dengan sia-sia.


"Rand."


"Hm."


"Kenapa, De?"


Ternyata lelaki itu, sejak tadi memejamkan mata.


"Lihat kesini!" seru Dea.


Randra membuka matanya, menatap ke samping. Dea sedang mengarahkan layar depan poncelnya, mengajak Randra untuk berfoto berdua. Membuat banyak gaya, mereka berselfi sambil tertawa cekikikan.


"Ish, ngeselin banget sih, mukanya!" gerutu Dea.


"Biarin! tapi 'kan tetap ganteng."


"Pede bener!"


"Harus." Randra menoel hidung sang kekasih.

__ADS_1


"Sekali lagi, Rand!" pinta Dea mengacungkan kamera poncelnya.


"Nggak mau!" tolak Randra.


"Ayo, dong, Rand!" rengek Dea.


"Ada syaratnya dulu." Senyum jahil tercetak di bibir lelaki itu.


"Ish, kok, pakai syarat-syarat, sih?" protes Dea. "Bukannya, cinta itu tanpa syarat ya, Rand?"


"Ish ... bahas cinta tanpa syarat. Cinta memang tanpa syarat, De. Tapi manusia itu banyak tuntutannya," jelas Randra dengan kekehan di akhir kaliamatnya.


"Kalau begitu, berarti cintanya nggak tulus dong?"


"Kata siapa?" tanya balik Randra.


"Itu ... tadi kamu, bilang. Kalau menuntut berarti nggak tulus, dong!"


"Ckckck. Di dalam cinta kita pasti menuntut untuk saling setia, jujur, percaya dan saling menghargai satu sama lain, De. Semua itu semata-mata hanya sebagai bukti kalau kita serius dalam menjalani cinta. Kita itu butuh banyak alasan kuat untuk memastikan perasaan cinta itu ada, baru kita bisa tahu, apakah kita benar-benar mencinta atau hanya sekedar di mulut saja."


Dea hanya menganggukkan kepala, lelaki yang dia kira tidak pernah serius dalam menjalani cinta, ternyata bisa bicara seserius ini mengenai cinta.


"Jadi nggak fotonya, nih?" tanya Randra.


"Eh, jadi, dong! tapi syaratnya apa dulu?"


"Em ... apa ya?" Randra mengetuk-ngetukkan jari ke dagunya, seolah berpikir serius.


"Cepet apa'an?" desak Dea.


Randra menggenggam erat kedua tangan Dea, membawanya terangkat ke atas hingga menyentuh bibir, dia mencium permukaan kulit mulus itu. Menatap Dea dengan kelembutan, bibir itu bergerak mengungkapkan keinginannya. "Cukup kamu terima aku apa adanya aja, sayang." Randra tersenyum lembut dan sangat tulus pada wanita cantik di depannya.


Hening sementara, hanya ada wajah yang merona. Randra memang terlalu pandai dalam meluluhkan hati wanita. Perlahan membuka mulut. "Kamu juga, harus nerima aku apa adanya, biar kita sama-sama melengkapi kekurangan kita."


"Pasti," jawab Randra mantap. "Eh, ayo kita foto!"

__ADS_1


Dea sekali lagi memotret kenangan kebersamaan mereka di sebuah danau indah di pinggiran kota. Danau yang akan menjadi saksi dari awal cerita cinta dua anak remaja. Danau yang akan menjadi saksi bermulanya mereka dalam menapaki jalan menuju cinta.


__ADS_2