CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-47~Sudah Terjadi


__ADS_3

Di ruangan berdinding putih serta bau obat yang menyengat di indra penciuman kini Khanza masih terbaring lemah. Setelah dokter menyatakan keadaannya baik-baik saja , Khanza di pindahkan ke ruang rawat inap VVIP di rumah sakit itu. Dokter Irma serta keluarga Khanza juga sudah mendengar cerita dari tiga anak muda yang menemukan Khanza di sekap di gudang. Setelah menyelesaikan tugasnya Dokter Irma pun pamit kepada semuanya.


"Saya pamit kembali ke sekolah. Saya akan menceritakan semuanya kepada kepala sekolah biar bisa di selidiki lebih lanjut," ucap Dokter Irma.


"Sekali lagi terima kasih, Dok. Sudah membawa anak saya secepat mungkin," tutur Papa Khanza.


"Itu sudah bagian tugas saya, Pak. Lagi pula saya tidak akan bisa bertindak cepat kalau anak-anak tidak membantu saya segera. Sekali lagi saya mewakilkan sekolah untuk meminta maaf sebesar-besarnya atas kelalaian kami."


"Semuanya sudah terjadi, Dok. Yang penting sekarang Khanza sudah baik-baik saja. Untuk masalah ini saya serahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah untuk mengambil tindakan," pinta Papa Khanza.


"Baik, Pak, nanti saya bicarakan dengan kepala sekolah dan stap guru yang lain agar mengambil tindakan tegas." Dokter Irma bangkit dari duduknya, sebelum keluar dari ruangan Khanza Dokter Irma pamit sekali lagi kepada semuanya.


"Biar bareng kami aja, Dok?" tawar Randra.


"Iya, Dok. Kami juga mau mengambil tas kesekolah," imbuh Dea.


"Baiklah, Ayo!" ajak Dokter Irma.


Randra dan Dea pamit menyalami keluarga Khanza. Menepuk bahu sahabatnya yang tidak beranjak dari samping kekasih tercinta.


"Kita tinggal dulu, Rif. Gue bawa mobil lo dulu, jangan lupa kabarin kalau Khanza sudah sadar," pamit Randra, dia beralih menatap sendu wajah pucat Khanza.


"Aku pamit ya, Za. Cepat sembuh, nanti aku kesini lagi," lirih Dea mengusap pelan pipi sahabatnya yang masih setia menutup mata.


Setelah berpamitan. Randra, Dea dan Dokter Irma menyusuri lorong rumah sakit beriringan. Kembali ke sekolah dengan menaiki mobil dari Arif, mereka berbincang-bincang kecil untuk memecah keheningan sepanjang perjalanan.


Sesampainya di sekolah, Dokter Irma mengajak dua remaja itu menemui kepala sekolah untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kepala sekolah dan seluruh guru di sekolah begitu kaget mendengar penuturan Randra dan Dea. Apalagi mengetahui muridnya sampai di rawat di rumah sakit. Mereka berjanji akan menyelidiki dan mengusut tuntas kejadian itu. Kepala sekolah juga berniat akan menjenguk Khanza sekalian meminta maaf atas kelalaian sekolah dalam hal ini. Mereka mengapresiasi muridnya itu yang sudah bertindak cepat menolong Khanza.


Setelah dari ruangan kepala sekolah, Randra dan Dea kembali ke kelas mengambil tas mereka. Sekolah sudah terlihat sepi karena murid-murid sudah pulang setengah jam yang lalu. Berjalan di lorong sekolah berdua, mereka hari ini melupakan perdebatan yang selalu terjadi selama ini.

__ADS_1


"Gue nggak nyangka kalau geng centil bisa sejahat itu, De," ucap Randra menerawang kembali saat mereka menemukan tubuh mengenaskan Khanza.


"Iya, Rand. Padahal kemarin-kemarin Khanza selalu menolong gue dari mereka, tapi sekarang Khanza...." Dea terisak tak bisa melanjutkan kalimatnya.


Randra membawa Dea ke pelukannya, mengusap lembut rambut gadis bar-barnya itu. "Khanza pasti baik-baik aja, De."


Dea mengangguk dalam pelukan hangat Randra. Melanjutkan berjalan ke kelas setelah mengurai pelukan mereka. Hening, tak ada suara lagi setelah itu, kejadian mengejutkan hari ini membuat pikiran melayang entah kemana.


Di perjalanan pulang Dea hanya diam menatap lurus kedepan, jika biasanya dia begitu berisik dengan suara cemprengnya entah kenapa hari ini Dea sangat pendiam.


"De?" panggil Randra.


"Eh, iya Rand." Dea menoleh ke sampingnya, menatap Randra yang fokus dengan kemudinya.


Menarik nafas panjang, Randra mencoba mengungkapkan isi hatinya. "Maaf ya, De. Kalau selama ini?!" Randra menepikan mobilnya agar bisa leluasa berbicara. "Maaf kalau gue selalu ngeselin selama ini," ucapnya dalam satu tarikan Nafas.


Dea mengerjap beberapa kali, mencoba meyakinkan indera pendengarannya kalau dia tidak salah dengar.


"Eh, Gue dengar, kok, Rand. Gue juga minta maaf kalau selama ini juga ngeselin." De mengingat kembali awal pertemuannya di sekolah dengan Randra. Dia tersenyum miris mengingat perdebatan yang selalu terjadi selama ini.


"Ya sudah, kita baikan ya, De." Randra mengangkat jari kelingkingnya. Dea menyambutnya dengan senang hati.


Randra kembali pada setir mobilnya, tapi kalimat Dea mampu membuatnya diam tak bergeming.


"Rand, Lo ingat nggak? lo pernah nolongin gadis yang hampir di lecehkan preman di pinggir jalan."


Randra menatap Dea, dia mencoba menyusun puzzle ingatannya. "I.... Itu lo, De?" tanyanya ragu.


Dea mengangguk. "Makasih, ya, Rand? kalau aja waktu itu...." kalimat Dea terpotong karena pelukan dari Randra.

__ADS_1


"Akhirnya gue nemuin lo," gumam Randra mengeratkan pelukannya.


Dea membelakakan matanya. Apa Randra juga mempunyai perasaan sama?. Perlahan Dea mengangkat tangannya membalas pelukan Randra.


Mengurai pelukannya Randra untuk pertama kalinya tersenyum manis kepada Dea. Dia memegang tangan Dea, "Sehabis kejadian itu, gue selalu melewati jalan itu untuk mencari lo, De. Satu kebodohan yang selalu gue sesali, kenapa gue nggak nanya dan minta nomor telpon lo saat itu, gue juga sempat mencari lo, di alamat terakhir gue mengantar lo. Tapi nyatanya kalian sudah pindah dari tempat itu." Randra menarik nafas beratnya. "Gue pikir kita nggak akan bertemu lagi.... Tunggu! kalau lo ngenalin gue, kenapa ng_"


"Gimana mau bilang orang baru ketemu aja udah jotos." Dea menarik tangannya, melipat tangannya bersidekap di dada. Wajahnya terlihat kesal mengingat pertemuan pertama mereka di sekolah.


Randra tertawa lepas melihat wajah kesal Dea. "Ya sudah, kita pulang dulu. Hampir senja ini." Randra melirik arloji yang menunjukkan pukul enam sore.


Kembali membelah jalan raya, mereka mengobrol selayaknya dua teman yang saling bertukar cerita. Meninggalkan cerita Tom jerry yang selalu melekat kepada mereka.


Mobil putih Arif terparkir di pekarangan rumah Dea. "Gue masuk dulu," pamit Dea pada Randra.


"Baiklah, nanti gue telpon."


Dea melengkungkan sudut bibirnya, memegang hendle pintu mobil itu, kakinya sudah terulur untuk keluar. Tapi tangannya kanannya di sentak Randra membuatnya terperanjat dan kembali menatap pada lelaki itu.


Tenggelam dalam pandangan satu garis, Randra perlahan mendekatkan wajahnya pada Dea. Menempelkan bibirnya pada bibir merah gadis di depannya jantung Randra menabuh genderang perang di dalam sana. Mata Dea perlahan menutup merasakan benda kenyal membelainya dengan lembut. Randra menggerakkan perlahan bibirnya dengan penuh kehati-hatian saat tak ada perlawanan dari Dea. Meskipun Dea tak membalas pagutan bibirnya tapi dia sangat menikmati permainan yang di berikan Randra. Suasana menjadi hening hanya ada bunyi decapan dan kecupan yang tercipta dari pertemuan benda kenyal melepas kerinduan mereka.


Randra menarik dirinya saat merasa Dea sudah kehabisan oksigennya, menatap dengan lengkungan sudut bibir. Randra menghapus jejak ciuman di bibir Dea, rona merah tercetak jelas di wajah gadis itu. Mengusap lembut bibir Dea dengan tangannya, Randra kembali mengecup pipi Dea.


"Sudah sana masuk, nanti di marahin lho," ucap Randra lembut.


Dea tidak bisa membuka suaranya, rasanya dia sedang berada di dalam mimpi terindahnya saat ini. Hanya membalas anggukan kepala pada Randra, Dea perlahan turun meninggalkan lelaki itu yang terus mengikuti pergerakannya.


Sampai depan pintu Dea berbalik melambaikan tangannya, memberikan senyum termanis untuk lelaki yang sedang duduk memegang setir mobilnya.


Randra perlahan melajukan mobilnya meninggalkan tempat dimana ciuman pertamanya dengan Dea terjadi. Meskipun ini bukan pertama kalinya Randra mencium wanita, tapi itu ciuman pertama yang pernah di lakukannya atas dasar sebuah rasa yang menyeruak di dada.

__ADS_1


Akhirnya gue nemuin gadis cinta pertama gue.


__ADS_2