CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-22~Cinta atau Kagum.


__ADS_3


Menatap langit malam yang di penuhi bintang, masih mengeluarkan buliran bening di mata yang sudah menyipit, Khanza duduk di pinggiran jendela kamarnya. Sungguh sangat menyakitkkan bagi Khanza mendapati dirinya sekarang ini.


Beruntung ketika Khanza pulang keluarganya sedang berada di kamar mereka masing-masing, jadi mereka tidak mengetahui kalau Khanza pulang dengan begitu kacaunya.


Faizal yang langsung pergi tanpa sepatah kata setelah mengantar Khanza, membuat Khanza semakin sedih. Khanza merasa bersalah dengan Faizal, seharusnya dia tidak memarahi Faizal yang hanya berusaha membelanya.


Khanza hanya tidak ingin kalau Faizal membawa kekerasan dalam sebuah masalah, tapi Faizal sudah salah paham dengannya, mungkin karena cara menegurnya yang salah.


Khanza masih diam menatap langit malam di luar sana, tapi hati dan pikirannya melayang meratapi kesedihannya.


suara dering handpone Khanza berbunyi berkali-kali, Khanza berbalik dan berjalan ke tempat tidur mengambil benda pipih yang begitu berisik itu.


Khanza sudah menebak kalau Arif pasti akan menghubunginya, tapi suasana hati Khanza masih kacau sehingga dia hanya mengabaikan panggilan telpon dari Arif.


Air mata yang tadinya sudah mulai mengering kini kembali basah saat Khanza menatap telpon yang terus-terusan berbunyi, Kejadian demi kejadian hari ini kembali tersusun seperti puzzle di ingatan Khanza. Memejamkan matanya menetralkan rasa sakit yang menyeruka di dada. Khanza menonaktifkan poncelnya.


Tok-tok-tok!


Ketukan di pintu membuatnya tersadar, bergegas masuk kedalam selimut dan berpura-pura tidur.


Tok-tok-tok!


"Kok nggak di jawab ya!" ucap ibu Khanza.


Ibu Khanza yang mengetuk beberapa kali kamar Khanza, merasa tidak ada jawaban ibu Khanza membuka pintu secara perlahan dan mendapati anaknya sudah beristirahat dengan tenangnya.


Ceklek!


"Sudah tidur rupanya! mungkin kelelahan." ucap Mama Vina menghela nafas dan keluar.


Dia menutup kembali pintu kamar dengan hati-hati. Kembali ke dapur melanjutkan makan malam mereka.


"Ma! mana Khanzanya?" tanya Zay yang tidak melihat tanda-tanda adiknya.


"Sudah tidur dia, mungkin kelelahan," jawab Mama Khanza.


"Sejak kapan Khanza bisa tidur secepat ini?" Papa Khanza entah bertanya pada siapa, mendengar Khanza tidur di jam seperti ini rasanya aneh, karena anak itu selalu susah kalau tidur cepat di malam hari.


Zay mengerutkan keningnya dengan ucapan Papanya, membenarkan dalam hati, kalau adiknya memang tidak pernah tidur secepat ini.


"Mungkin tadi ada banyak tugas Pa! tadikan juga, dia bilang menonton sama teman-temannya. Mungkin kelelahan makanya tidur cepat," ucap mama Khanza kepada suaminya.

__ADS_1


Papa Khanza dan Zay manggut-manggut dan kembali melanjutkan makannya. Zihan menyelesaikan makannya dengan cepat, dia ingin melihat Khanza di kamarnya, karena merasa ada yang tidak beres dengan Adik Iparnya itu. Dia sangat mengetahui kalau Khanza tidur jam segini pasti ada yang tidak beres di pikirnya. Biasanya kalau tidak sakit pasti ada yang di hindarinya.


Selesai makan Zihan pamit melihat Khanza, berjalan menelusuri tangga, sampai di depan pintu dia membuka tanpa mengetuk ataupun memanggil Khanza.


Ceklek!


Pintu di buka, Zihan tersenyum tipis mendapati Khanza yang berdiri menatap keluar jendela, posisi Khanza yang membelakanginya sehingga tidak tahu kalau dia datang dan masuk ke kamar itu.


"Kakak, sudah menduga, pasti cuma pura-pura tidur!"


Khanza terkejut dan menoleh ke samping pada Kakak Iparnya itu, Khanza bingung sejak kapan Zihan masuk dan tiba-tiba berada di sampingnya.


Zihan mengusap sisa air mata Khanza, dan beralih mengusap bahu Khanza.


"Kalau mau cerita, Kakak, siap mendengarnya! jangan merasa sendiri! siapa tau Kakak bisa membantu! setidaknya bisa melegakan hatimu," ucap Zihan tersenyum pada Khanza yang sudah di anggapnya seperti Adiknya sendiri.


Khanza kembali mengeluarkan setetes air matanya, merasa begitu banyak orang yang sebenarnya perduli padanya tapi dia selalu membuat kecewa. Dia teringat Faizal, mungkin sekarang dia begitu marah padanya. Kembali berbalik dan menatap keluar jendela dengan diamnya.


Zihan merasa kalau Khanza sedang butuh waktu untuk sendiri, dia berbalik ingin pergi dari kamar itu. Baru beberapa langkah dia berjalan tapi terhenti karena suara dari Khanza.


"Apa bedanya cinta dan mengagumi, Kak?"


Zihan diam di tempat dan tersenyum, akhirnya Khanza bersuara juga.


"Bagaimana, membedakan rasa kagum dan rasa cinta?"


Zihan membalikkan badannya dan menghampiri Khanza kembali mengusap kepala Adik Iparnya itu dengan penuh gemas.


"Rupanya ada yang jatuh cinta!?" ucap Zihan.


Khanza mengerutkan dahinya menatap Zihan, dan tersenyum kepada Kakak Iparnya.


"Ha ... hanya kagum, Kak!" ucap Khanza mengalihkan pandangannya kembali keluar jendela, entah kenapa dia merasa ragu dengan ucapannya sendiri.


"ha-ha-ha! kamu saja ragu dek!" ucap Zihan menepuk bahu Khanza sambil tertawa.


"Ya, sudah! Kakak pergi dulu. Apapun masalah kamu! selesaikan dengan kepala dingin."


Zihan berjalan keluar setelah memberikan senyumannya, tapi berhenti saat ingin menutup pintu.


"Tanyakan pada hatimu! apa yang kamu rasa! benar kah? rasa kagum atau sudah lebih dari batas kagum. Hanya hatimu yang bisa menjawabnya. Terkadang, mulut hanya menampik rasa cinta untuk tidak membuat kecewa, tapi sebuah hati akan selalu merasa walau hanya sebatas gores luka. Kakak harap kamu bisa mengontrol diri kalau berurusan dengan cinta!"


Zihan menutup pintu setelah menyelesaikan ucapannya, dia tau kalau Khanza pasti akan mengerti dengan apa yang di katakannya.

__ADS_1


Khanza berusaha mencerna arti dari ucapan Kakak Iparnya, sangat sulit baginya mencerna kata-kata Zihan. Berbaring menatap langit-langit kamarnya.


"Tanyakan pada hatimu?" Khanza mengulang kata-kata Zihan.


"Arif!" ucapnya berbicara sendiri dan pemikiran sendiri.


"Hanya kagum!"


mengusap mukanya dengan gusar.


"Tidak! Iya, ini hanya kagum!" ucap Khanza perperang antara mulut dan hatinya.


"Kalau kagum? kenapa sakit setiap melihatnya dengan Vera?"


"Nggak! aku hanya kagum! Iya, ini hanya rasa kagum! tidak lebih." ucap Khanza menggelengkan kepalanya dan menutup mukanya dengan bantal.


Khanza teringat akan Faizal.


"Besok aku harus, minta maaf sama Faizal," ucap Khanza.


Memejamkan mata mencoba menghapus pemikiran dan kelelahan di hari ini. Beberapa kali memejamkan mata tapi wajah Arif selalu muncul di ingatannya.


Tatapan mata Arif yang penuh rasa bersalah menari di pelupuk mata Khanza. Ada rasa tidak tega di hati Khanza, tapi ada emosi saat mengingat Arif hanya pasrah saat Vera menuduhnya.


Khanza tertidur dengan sebuah pemikiran yang tidak pernah berhenti berputar di otaknya, walau sedetik saja. Terkadang apa yang terlalu kita masukkan dalam pikiran kita akan beralih pada alam bawah sadar kita.


***


Malam yang begitu panjang bagi Arif, sudah jam 3 pagi, tapi Arif masih tidak bisa memejamkan matanya. Untung saja besok adalah hari libur, jadi tidak perlu memikirkan bangun lebih pagi. Terbayang kembali kejadian beberapa waktu lalu.


Arif mengantar Vera dan Zia secara bergantian, Tidak langsung pulang kerumahnya. Berkali-kali menelpon dan mengirim pesan pada Khanza, tapi tidak ada respon dari Khanza, bahkan sekarang handpone Khanza malah tidak aktif.


Arif teringat Khanza yang di peluk Faizal dan pulang bersama Faizal, memukul stir mobil berkali-kali, memegang sudut bibirnya yang terasa perih.


Melajukan mobilnya menuju rumah dengan kecepatan tinggi. Berjalan cepat memasuki rumahnya dengan wajah yang begitu dinginnya, para pelayan pun tidak ada yang berani menyapa kalau dia sudah memasang mode dingin seperti itu.


Langsung masuk kekamar, berganti baju dan mengambil kunci motornya, dia malah pergi menemui teman-teman geng motornya.


Karena malam ini malam minggu, jadilah semua berkumpul di base camp mereka.


Randra juga terlihat berada di sana. Menatap terkejut, mendapati Arif yang datang dengan sedikit lebam di wajahnya, dan muka yang begitu sangarnya seperti singa yang siap menerkam mangsanya.


__ADS_1


__ADS_2