CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-70~Selamat jalan sahabat


__ADS_3

Laju jam seakan tertahan dan sangat enggan untuk meninggalkan kegelapan malam petang. Hingga suasana terasa begitu mencekam di dalam ke sunyian. Seolah terpenjara di dalam malam, Arif ingin sekali menghardik gelap untuk pergi. Meminta ayam untuk segera berkokok memanggil sang surya. Rasa marah, mengumpat, dan menyesal semakin menjadi di dalam diri. Pemuda itu sangat kacau saat ini, apalagi di tambah Khanza yang berulang kali histeris dan pingsan di dalam pelukannya. Seolah takdir sedang bersekongkol mempermainkan sesuatu yang terjadi malam ini, menghantui perasaan Arif dengan rasa ngeri tanpa toleransi. Jantungnya berdetak semakin menjadi, saat orang tua Faizal keluar dari balik pintu IGD. Melihat wajah kusut dua orang paruh baya itu, nafas Arif seakan tersendat, bagai ada yang menghalangi.


"Maaf, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk keselamatan anak Bapak dan Ibu. Namun, Tuhan berkehendak lain, Anak kalian tidak mampu kami selamatkan, sekali lagi kami mohon maaf yang sebesar-sebesarnya dan kami turut berduka cita atas kematian anak Bapak dan Ibu," ucap Dokter pada kedua orang tua Faizal yang sedang duduk di bangku depannya.


Kedua orang tua Faizal sudah tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi. Bungkam dengan linangan air mata, bahkan Ibu Faizal pingsan di pelukan suaminya.


"T-terima k-kasih, Dok." hanya itu yang bisa terucap dari bibir ayah Faizal.


***


Khanza histeris seketika di kala melihat brankar yang membawa jasad sahabatnya, keluar dari ruang IGD. Perawat membawa Faizal beriringan dengan kedua orang tua pasiennya.


"Nggak mungkin! ini nggak mungkin!" histerisnya.


"Rif, Faizal baik-baik aja 'kan?! itu bukan Faizal 'kan?! itu bukan dia?!" Khanza menguncang bahu Arif yang diam dengan pandangan kosongnya.


"Rif, jawab!" bentak Khanza, menyadarkan kekasihnya.


"I-itu F-Faizal, Za," lirihnya sangat pelan. Air mata Arif seketika turun kembali dari pipinya.


"Bohong! kamu bohong!"


Khanza berlari ke arah jasad yang tertutup kain itu, membukanya di bagian atas, dia ingin memastikan sendiri.


"I-ini ...." Khanza mundur perlahan dengan menutup mulutnya dengan tangan. Hampir saja tubuhnya luruh ke lantai jika Ibu Faizal tidak menahannya.


"Ikhlasin, dia, Nak. Biar dia tenang di sana," pinta Ibu Faizal pada Khanza yang sedang berada di pelukannya.


Dua wanita itu berpelukan dengan isak tangis pilu yang menyayat jiwa, menumpahkan rasa sakit ketika kehilangan orang yang kita sayang dan cinta. Semuanya terlihat kalut dalam duka kehilangan, hanya isak tangis yang mewakilkan perasaan. Berusaha menguatkan satu sama lain, kini mereka mencoba ikhlas melepas kepergian Faizal.

__ADS_1


Selamat jalan duhai sahabat, 'ku simpan semua kenangan yang pernah kita buat. Meski akan hadir rindu yang menguat, tapi kuyakin aku dan kamu akan selalu bersama dalam hati yang selalu terikat.


Khanza menguatkan hatinya untuk tidak menangisi lagi kepergian sahabatnya. Seperti yang di minta Faizal untuk terakhir kalinya.


"Kalau aku pergi, kamu jaga diri baik-baik ya? dengerin selalu nasehat-nasehat Arif, jangan buat dia kecewa dan yang terpenting jangan nangis lagi apa pun nanti yang terjadi."


Khanza berjalan mendekat kembali pada Faizal, mengusap pipi lelaki itu untuk yang terakhir kalinya. "Kamu jangan khawatir, aku bakalan jaga diri dengan baik, kok." Khanza mengusap air matanya, mencoba tersenyum pada sahabatnya yang sudah menutup mata.


Arif yang sejak tadi hanya diam, kini ikut mendekat. Memeluk bahu sang kekasih dari samping, dia mencoba menguatkan Khanza.


"Aku selalu dengerin cowo emosian ini, Kok, Fa. Aku janji akan nurut sama dia, nggak akan ngecewain dia seperti yang kamu pinta." Khanza memukul dada Arif di sampingnya.


Air mata Arif jatuh membasahi kain penutup tubuh Faizal, kilas kenangan bersama lelaki itu menghantui bayangannya. Pertemuan yang sangat buruk hingga seringnya terjadi salah paham antara mereka, kini hanya menjadi kenangan yang akan dia ingat selamanya.


"Oh, ya, Fa. Aku nggak nangis, Kok. Ini aku lagi ketawa." Khanza memaksakan tawa dari bibirnya. Namun, siapa yang bisa melarang air mata yang ingin keluar begitu saja.


Arif mendekap Khanza ke dalam pelukannya, tawa yang di keluarkan kekasihnya itu semakin menyayat hati. Baginya lebih baik Khanza menumpahkan segala kesedihannya melalui air mata, dari pada harus menutupi semuanya dengan tawa terpaksa.


***


Sebuah tubuh yang kini terbaring kaku di bawah tanah.


Badan yang menegang dan nafas yang hilang bersama alam. Di kelilingi para orang-orang yang sangat menyanyang, semua hanya bisa menatap dan memandang. Ratapan tangis kepiluan sebagai salam perpisahan. Selalu ada sepi dan rindu di hati orang yang di tinggalkan, tapi mau bagaimana lagi, ini semua sudah menjadi takdir dari Tuhan.


Kini sahabat telah hilang. Namun, selalu ada kenangan yang tidak akan pernah kusam walau di makan zaman. Kawan .... Meskipun dia pergi tapi akan selalu tersimpan di hati, sebagai pengisi warna di hidup ini. Dia tidak akan pernah terganti, walau selalu ada yang datang dan pergi. Kisah ini selalu abadi dalam relung nyata dan mimpi.


Gue bakalan ingat selalu nasehat lo, Fa. Maaf bila gue, selama ini banyak salah sama, lo. Selamat jalan semoga, lo, tenang di sana.


~Arif.

__ADS_1


Aku bakalan senyum selalu untukmu, Fa. Selamat jalan selamanya sahabat terbaikku. Aku janji akan sering-sering mengajak Arif kesini buat jengukin kamu.


~Khanza.


Selamat jalan, Fa. Lo, yang tenang ya, di sana. Gue bakalan nembak Dea secepatnya kok, terima kasih lo, sudah jadi teman gue selama ini.


~Randra.


Gue nggak nyangka, bakalan secepat ini, Fa. Semoga lo, tenang di sana, selamat jalan selamanya.


~Dea.


Selamat jalan Faizal, semoga tenang di sana.


~Adit dan Fatih*.


Ke enam orang itu kini duduk mengitari pusara sang sahabat, memberikan penghormatan terakhir untuk Faizal.


***


Berada di pelukan sang kekasih, Khanza berusaha untuk tidak menangis, walau sebernarnya hatinya begitu perih. Dengan senyum, dia mengusap batu nisan, Khanza berjanji untuk tegar dalam hal ini.


"Aku pergi dulu, Fa. Nanti aku kesini lagi sama Arif," pamitnya berdiri, mengajak sang kekasih untuk pergi.


"Lo, yang tenang di sana, Fa. Gue bakalan sering-sering jengukin, lo, sama Khanza," ujar Arif yang terakhir kalinya, sebelum beranjak pergi dari sana dengan menggenggam tangan Khanza.


"Kita pergi, ya, Fa. Sekali lagi selamat jalan," ucap Randra berlalu pergi beriringan dengan Dea, Adit dan Fatih.


Arif, Khanza, Dea dan Randra memasuki mobil yang sama. Sedangkan Adit dan Fatih pergi dengan motor mereka masing-masing, setelah saling berpamitan mereka pulang dengan hanya menggenggam kenangan tentang persahabatan bersama Faizal.

__ADS_1


~Selamat Jalan, semoga tenang dalam kedamaian~


__ADS_2