CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-29~Arif Khanza


__ADS_3

Berkumpul di ruang keluarga, Semua keluarga Khanza sudah menunggu di sana.


"Ma! Mama bikin kue apa?" tanya Khanza menghampiri keluarganya.


"Khanza! mana Arif?" celetuk Kak Zihan yang sengaja menanyakan Arif, membuat Khanza menatap malu pada Kakak Iparnya itu.


"Hai! Tante, Om, Kak Zay, Kak Zihan!" sapa Faizal pada keluarga Khanza.


"Faizal, kapan kemari?" tanya Papa Khanza.


"Baru tadi, Om!" terang Faizal duduk di samping Papa Khanza.


"Rif, sini duduk!" ucap Zay menepuk bangku di sebelahnya.


"Terimakasih, Kak!" papar Arif duduk di samping Kak Zay.


"Za, tolong keluarin kue di open ya? nanti bawa kesini!" pinta Mama Vina.


"Mama buat kue apa?"


"Kue coklat, cepat sana ambilin!"


"Iya, Ma!"


Khanza pergi ke dapur, mengeluarkan kue pada open dan membawanya ke ruang keluarga.


"Enak, nih!" ucap Faizal ketika Khanza meletakkan dua piring yang berisi kue coklat dia atas meja.


Khanza melihat pada deretan kursi mencari tempat duduk. Semuanya sudah terisi, hanya di samping Arif yang terlihat kosong.


Khanza mau tidak mau duduk di samping Arif, ada kecanggungan yang di rasa Khanza apalagi tatapan mengintimidasi dari Zihan tertuju padanya.


"Silahkan di makan kuenya Nak Arif!" tutur Pak Arman.


"Iya, Pak terima kasih!"


Arif mengambil kue coklat di depannya tanpa dia tahu ternyata kue itu masih begitu panas.


"Ah!" pekik Arif menarik tangannya.


"Kenapa! panas ya?" Dengan panik Khanza meniup tangan Arif yang kepanasan.


Semua mata tertuju pada Khanza yang terlihat begitu khawatir pada Arif.


"Panas ...." sindir Faizal mengibaskan tangan ke mukanya.


"Kenapa, kamu?" ucap Zay melempar bantal ke muka Faizal, membuat tawa se isi ruangan pecah karenanya.


Faizal yang memang sejak dulu akrab dengan keluarga Khanza, bahkan dia di anggap seperti anak sendiri dari keluarga itu.


"Kak, Zay! Tangkap!" kekeh Faizal bersiap melempar bantal, tapi dia hanya mengerjai Zay. Hal itu membuat hiburan tersendiri bagi mereka.


"Awas! kamu ya!" tegur Zay.


"Ini, tangkap!" Faizal melempar bantal, bukannya mengenai Zay. Bantalnya di tangkap Arif dengan segera karena memang mengarah kepadanya.


"Dasar bocah! lempar aja nggak kena!" sindir Zay mengejek Faizal.


Tawa di ruangan itu menggema karena ulah Zay dan Faizal yang begitu kocak menurut mereka.


"Em .... Om, Tante, Semuanya!" Arif berucap dengan penuh hati-hati.


Semua menatap kepada Arif.

__ADS_1


"Saya .... Minta izin buat mengajak Khanza malam ini boleh?


Khanza menatap pada Arif di sampingnya. Khanza syok di buatnya, kenapa Arif tiba-tiba minta izin sama keluarganya padahal tadi mereka tidak ada membicarakan jalan-jalan sama sekali.


"Boleh Nak Arif silahkan! asal jangan pulang terlalu malam!" ucap Papa Khanza.


"Gue, nggak di ajak nih?" celetuk Faizal begitu saja.


"Kamu, ikut! mau jadi obat nyamuk?" ledek Zay pada Faizal. Membuat tawa lagi di antara mereka


Tanpa terasa hari sudah mulai gelap.


"Nak, Arif. Makan malam di sini aja ya?" tawar Mama Khanza.


"Tapi .... Tante?"


"Sudah, Faizal juga ya?"


"Aku, selalu oke Tan!" sahut Faizal yang mendapat lemparan tisu dari Khanza.


"Saya mau pulang sebentar Tan! .... belum ganti baju!" tutur Arif sopan.


"Pakai baju Zay, aja!" cetus Mama Khanza.


"Nggak usah Bro! nanti jadi tua kaya Kak Zay!" sahut Faizal.


"Dasar, ni anak ya! pingin di lempar!" Zay.


"Ampun Pak tua!"


Ruangan itu tidak pernah sepi karena tingkah Faizal dan Zay yang selalu membuat tertawa. Khanza tidak bersuara dia hanya menyimak dan ikut tertawa, karena sejak tadi dia begitu malu dan gugup.


***


Khanza membawakan beberapa baju dari Kakaknya kepada Arif. Beberapa kali mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban darinya. Khanza memutuskan untuk langsung masuk karena pintu tidak di kunci.


Arif keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Bersamaan dengan Khanza yang juga masuk ke kamar itu.


Khanza terperangah tidak percaya saat melihat pemandangan indah di depannya, tubuh atletis yang sangat sempurna. rambut basahnya yang di kibaskan Arif kekiri dan kekanan semakin menambah kharisma dari pria di depannya.


"Khanza!" guman Arif baru menyadari kalau ada Khanza yang menatapnya.


Khanza langsung berpaling muka membelakangi Arif.


"I-ini ba-baju bu-buat kamu," ucap Khanza tergagap.


Arif baru menyadari kalau sekarang dia tidak memakai baju membuat Khanza salah tingkah melihatnya. Arif berjalan menghampiri Khanza mengambil baju di tangan Khanza.


"Terimakasih" bisik Arif di telinga Khanza.


Khanza sudah tidak mampu bernafas, Arif dengan sengaja mendekatkan dirinya di bekang Khanza untuk mengambil baju di tangannya, membisikkan pelan di telinga Khanza. Membuat Khanza merinding dan tidak mampu bernafas.


Khanza berlari keluar kamar dan menutup pintu dengan kencang. Menyentuh dadanya yang naik turun, Khanza bersandar pada pintu itu.


"Za, kenapa?" tanya Kak Zay mengagetkan Khanza.


"Kak Zay, ngagetin!"


"Kok, kamu kaya lihat hantu?"


"Tau, ah!" gerutu Khanza berjalan menuju kamarnya meninggalkan Zay yang mengernyit heran dengan Adiknya itu.


Tok-tok-tok!

__ADS_1


Zay mengetuk pintu kamar Arif, dan masuk setelah di izinkan dari dalam.


"Kak Zay!"


"Rif, gimana bajunya?"


"Bagus Kak! cocok 'kan?" tanya Arif memperlihatkan penampilannya.


"Pasti lah, baju orang ganteng!" canda Zay dengan tawanya.


Arif juga tertawa menanggapi becandaan Kakak dari Khanza itu. Arif yang sering kali bertamu ke rumah Khanza membuatnya begitu akrab dengan keluarga itu.


"Jangan malam-malam pulangnya, Jaga Khanza!" perintah Zay menepuk bahu Arif dan pergi dari ruangan itu.



*Arif with Zay


Khanza sudah bersiap di kamarnya, memakai hot pants dan jaket hodie. Untuk pertama kalinya Khanza berdandan dan melepas kepangan rambutnya di depan Arif.


Keluar kamar dengan santainya Khanza menuju meja makan, dimana semuanya sudah berkumpul termasuk Arif dan Faizal.


"Maaf menunggu!" ucap Khanza.


Semua orang menatap pada Khanza, Faizal sampai menjatuhkan sendok di tangannya.


"Ehem!" deheman Papa Khanza menyadarkan semuanya.


Kembali pada makanan masing-masing mereka makan dengan lahapnya dengan sesekali terdengar obrolan renyah di antara mereka.



*Khanza


***


Khanza dan Arif bersiap untuk berangkat jalan berdua. Tadinya mereka ingin mengajak Faizal, tapi Faizal menolak dengan alasan ada janji dengan temannya.


"Mau naik apa?" tanya Arif.


"Motor aja ya!" usul Khanza.


"Oke, naik motor ya!"


Arif dan Khanza bersiap pergi menggunakan motor. Memasangkan helm di kepala Khanza.


"Cantik," puji Arif.


"Gombal!"


"Eh, Serius! kamu cantik banget!" ucap Arif menatap mata Khanza.


"Sudah yuk, kapan berangkatnya?" ajak Khanza mengalihkan pembicaraan.


"Oke, yuk!"


Arif menaiki motornya, di ikuti Khanza yang duduk di belakangnya. Khanza meletakkan tangannya di perut Arif, memeluknya dengan erat. Arif memancarkan senyum bahagianya saat Khanza memeluknya.


"Mau kemana, Za?"


"Terserah aja deh, kita ke mall aja gimana?"


"Oke deh!"

__ADS_1


Melajukan motornya menembus dinginnya malam, tapi dengan kehangatan hati yang kasmaran.


__ADS_2