CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-53~Ngambek


__ADS_3

Arif bersungut kesal ketika sambungan telpon di matikan sepihak dari Khanza. Meletakkan HPnya di meja, Arif mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Ngambek terus perasaan," gerutunya.


Randra menatap bingung Arif. Kalau Arif seperti itu pasti gara-gara Khanza.


Semenjak sahabatnya itu dekat dengan gadis cupu itu, dia sering terlihat frustasi sendiri. Randra membuka suara, tapi bukan untuk menenangkan melainkan meledek sahabatnya itu.


"Di marahin lagi sama do'i? kasian!" Randra terkekeh menyelesaikan kalimatnya.


"Sialan, lo, Rand! bukannya bantuin malah ngeledek lagi." Arif memukul lengan Randra (pukulan manis-manis manja ya guys😊😊)


"Males gue bantuin lo! rasain aja tu di marahin cewe, emang enak." Randra semakin tertawa membuat anak-anak yang masih setia di kelas itu menatapnya.


"Puas lo ngetawain gue. Awas! nanti, gue bales tau rasa."


Kekesalan Arif semakin bertambah karena Randra. Menyugar rambutnya, Arif menyandarkan punggunganya ke sandaran kursi. Mata Arif terpejam seiring tarikan nafas dalam. Namun, suara deringan poncel Dea, membuat matanya terjaga kembali.


Dea baru selesai membereskan alat tulisnya, ketika HPnya berbunyi dia merogoh sakunya. Nama sahabatnya tertera di layar datar itu, Dea menggeser tombol hijau, menempelkan benda itu ke telinga kananya.


Hallo, Za?


Arif melirik Dea dari sudut matanya, perhatiannya terfokus pada gadis bar-bar itu saat nama kekasih tercinta di sebut. Beneran nelpon Dea? nggak percayaan banget, sih.


De, kamu sama Arif?


Iya, Za. Kenapa? mau ngomong?


Dea memutar setengah tubuhnya, menatap Arif yang sejak tadi memperhatikannya. Arif mengangkat dagu yang di balas Dea dengan mengendikkan bahunya.


Nggak! kalian emang baru istirahat, De?


Iya, Za. Keluar kelas aja belum, emang kenapa, Za?


Nggak papa, De. Oke, maksih ya, De? aku tutup dulu, bye?


Bye.


Dea menatap bingung dengan HPnya yang sudah kembali pada layar walpapernya. "Aneh," gumamnya seraya menyimpan kembali benda itu ke sakunya.


"Kenapa, De?" tanya Randra yang sejak tadi ternyata memperhatikan gadis bar-bar di depannya.


Dea berdiri dari kursinya, berdiri di samping meja Randra. "Si Khanza aneh banget, nelpon nanyain Arif doang," terangnya.


Randra tergelak tertawa. "Oh, Khanza yang nelpon!" seru Randra. "Harusnya lo bilang, 'Arif sama cewe tadi' biar makin marah Khanzanya."


"Sialan, lo, Rand!" umpat Arif kesal.

__ADS_1


"Emang kalian lagi marahan?" tanya Dea polos.


"Bukan marahan, De. Di marahin do'i dia," ungkap Randra, memukulkan buku yang tergulung ke bahu Arif.


Randra dan Dea tertawa bersama, menertawai wajah kesal Arif. Arif semakin menekuk mukanya, mengambil poncel yang tadi tergeletak di meja, Arif berdiri meninggalkan dua orang yang begitu senang menertawai dirinya.


"Woi, kemana, lo?!" teriak Randra.


"Kantin!" balas Arif tanpa berbalik.


"Tungguin, gue!"


Arif tak menghiraukan Randra, dia terus berjalan keluar dari kelas menyusuri lorong sekolah menuju kantin. Randra mengajak Dea menyusul Arif, berjalan berdampingan layaknya pasangan normal pada umumnya. Semenjak kejadian Khanza, mereka jadi akur dan semakin dekat.


Arif berjalan acuh, tak menghiraukan tatapan para wanita kepadanya. Muka datar dan aura dingin memang selalu terpancar dari lelaki itu. Dia hanya berubah menjadi orang lain jika bersama orang-orang terdekat.


Memasuki tempat di mana para murid berkumpul melepas penat se usai dari belajar, Membawa makanan yang sudah di pesannya, Arif duduk di sudut ruangan kombinasi hijau putih itu. Tak berselang lama Randra dan Dea ikut bergabung bersama Arif. Satu meja terdiri dari empat kursi yang saling berhadapan, tapi karena Khanza tak masuk sekolah hari ini menjadikan Arif hanya duduk sendiri menatap dua orang lawan jenis di depannya.


Semangat Arif meredup seiring pemikirannya tetang Khanza yang marah kepadanya. Sejak duduk di tempat itu Arif tak menyentuh makanannya, dia sibuk mengetik serta mengirim beberapa pesan pada Khanza. Mendengus kesal di kala pesan itu hanya berbuah centang menjadi biru tanpa di balas dari si penerima.


Lama-lama bisa gila gue cuma ngadepin gadis cupu satu ini. Khanza please dong jangan obrak-abrik hati gue.


"Shit!" umpat Arif.


Randra dan Dea menghentikan obrolan mereka, menatap satu arah pada pemuda di depannya. Arif yang mengendurkan dasinya sangat nampak kacau.


Arif mengangguk lemah.


"Nanti pulang, lo kerumahnya aja," usul Dea.


"Nggak enak gue sama keluarganya. Masa ketemu mulu."


Arif cukup tahu diri, walaupun keluarga Khanza sangat mendukungnya dan selalu menyabutnya dengan hangat, itu bukan berarti dia bisa seenaknya ketemu terus dengan Khanza. Arif masih mengingat kata-kata Zay untuk menjalin hubungan sehat bersama Khanza.


Randra dan Dea hanya manggut-manggut, mereka mengerti ke galauan Arif. Sejauh ini Arif memang cukup menjaga batasannya bersama Khanza. (kalau nggak khilaf😂).


"Curang lo, bertiga! gue di tinggalin." Faizal datang membawa nampan berisi makanan, duduk di samping Arif.


"Lo, dari mana aja? habis istirahat langsung ngilang," ujar Randra.


"Iya, lo sendiri yang ngilang," sambung Dea.


"Sakit perut gue," sahut Faizal.


Faizal menangkap aura aneh dari lelaki di sebelahnya. Mengerutkan keningnya Faizal menepuk bahu Arif yang terus menunduk menatap layar telponnya.


"Kenapa, lagi, bro?" tanya Faizal.

__ADS_1


"Biasa, Fa, do'i ngambek," celetuk Randra tekekeh geli.


"Oh, pantes tadi nelpon gue."


"Dia nelpon, lo, Fa?" tanya Arif membenarkan duduk, menatap serius pada Faizal di sebelahnya.


"Tanya, lo, doang. Habis gue bilang di kelas sama yang lain, langsung di matiin," ungkap faizal.


"Hufh!" Arif mendesah lega.


"Pantes, nelpon gue," imbuh Dea masuk dalam obrolan tiga cowok bersamanya.


"Lo, juga, De?" kaget Faizal. "Benar-benar si Khanza," sambungnya.


"Syukur nggak nelpon ke gue, kalau nggak udah gue komporin dia." Randra tak henti-henti meledek dan menertawakan Arif.


Gulungan tisu mendarat di dahi Randra, Arif benar-benar kesal pada sahabatnya itu. Malah tadinya dia mau melemparkan sendok pada Randra.


"Lo, tenang aja, Rif. Paling bentar lagi, dia hubungin, lo," ucap Faizal menepuk bahu Arif. "Makan dulu, deh. Masa gitu aja mogok makan," bujuk Faizal.


Arif mengangguk setuju, mengambil sendok dan garpu Arif mulai menyuap makanan yang mulai mendingin itu. Benar saja, baru satu suapan, poncel Arif bergetar tanda ada pesan masuk. Dengan cepat melepas alat makannya, Arif membuka kunci layar poncelnya.


"Ckck!" Arif berdecak sebal.


"Kenapa, Rif?" tanya Randra khawatir.


"Operator, sialan!" umpatnya menyimpan kembali HPnya.


Jelas saja itu mengundang gelak tawa dari teman-temannya. Randra bahkan sampai memegangi perutnya karena puas tertawa.


"Puasin aja ketawanya," sindir Arif, dia kembali melanjutkan makan yang sempat tertunda.


Ada satu notif pesan lagi yang masuk di HP Arif. Namun, rasa kecewa membuatnya mengabaikan saja, terus manyuap makanannya dengan lahap Arif tak berniat walau hanya sekedar mengintip poncelnya.


.


.


.


.


.


.


Kesel banget rasanya ketika kita nunggu balesan seseorang, muncul pesan operator.

__ADS_1


__ADS_2