CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-59~Hujan


__ADS_3

Jam digital menunjukkan angka 14.00 WIB. Khanza dan Arif sedang berada di perjalanan untuk pulang kerumah. Sebelum mengantar Khanza, Arif mengajak kekasihnya untuk makan di pizza hut. Menutupi seragam sekolah dengan jaket mereka mendorong pintu kaca restoran.


Arif dan Khanza memesan dua porsi makanan berbentuk bundar dari italia itu. Setelah makanan itu datang Khanza dan Arif langsung pulang menuju rumah Khanza. Awalnya Khanza merengek untuk makan di restoran. Namun, Arif kekeh untuk makan bersama dengan Mama Vina_orang tua dari Khanza.


"Aku 'kan mau makan berdua," rengek Khanza, membawa dua kotak pizza ke arah mobil Arif.


"Kasian Tante, pasti nunggu di rumah, Za," bujuk Arif.


"Kamu ngeselin," geram Khanza, masuk ke dalam mobil, Khanza menutup pintu dengan keras.


Arif menggelengkan kepala, entah mengapa akhir-akhir ini pacarnya itu sangat manja. Memutari setengah mobil, Arif mendaratkan bokongnya di bangku kemudi. Sebelum menginjak pedal gas, Arif mengacak-acak rambut Khanza yang menekuk muka.


"Jangan ngambek terus dong, yang? nanti aku makin cinta," rayunya.


Benar saja, semburat merah langsung nampak di pipi Khanza. Memalingkan muka ke arah jendela Khanza menarik sudut bibirnya.


"Seneng 'kan?" tanya Arif.


"Nggak," elak Khanza. Dia masih setia menatap jendela.


"Masa, sih?" goda Arif.


Hening.


"Masih, ngambek?"


Masih hening.


"Aku disini lo, yang. bukan di luar sana," protes Arif karena Khanza memalingkan muka. Tapi, Khanza tak kunjung juga berpaling menatapnya, menghela nafas berat Arif menginjak pedal gas. Melajukan mobil perlahan membelah jalanan.


Hening sepanjang perjalanan, tak ada yang membuka suara.


Masa cuma gara-gara gini aja ngambek lagi sih. Ah ..., ternyata cewe itu ribet banget deh.


Arif frustasi di buatnya. Mengusap kasar wajahnya Arif tidak konsentrasi dalam mengemudi.


Ciitt!!!


Suara decitan ban mobil bergesek dengan aspal. Hampir saja Arif menabrak kucing yang menyebrang jalan, untung saja dia sempat menginjak rem dengan sigap.


"Shit!" umpat Arif memukul stir kemudi. Mendengus kasar, Arif bersandar ke belakang, mendongak ke atas, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lagi dan lagi Khanza membuatnya kacau seperti ini.

__ADS_1


Khanza kaget saat mobil di rem mendadak, menyentuh dada dia begitu syok. Saat Arif mengumpat memukul stir kemudi, Khanza baru tersadar kalau Arif frustasi akan kemarahannya yang sebenarnya cuma pura-pura.


"Yang," panggil Khanza pelan. "Hei, aku nggak marah, kok," ungkap Khanza. Dia menarik tangan Arif perlahan. Hingga Arif membuka mata.


Arif menegakkan tubuhnya, menatap Khanza dengan saksama. Sesaat terdiam, Arif menyentak Khanza ke dalam pelukannya. "Jangan marah lagi, ya?" ujar Arif semakin mempererat pelukannya.


Khanza mengangguk. "Maaf sudah membuat kamu kepikiran," gumamnya. Khanza menempelkan telinganya pada dada bidang Arif, merasakan detak jantung yang berdebar semakin kencang.


Rinai hujan perlahan turun tanpa izin membasahi bumi. Namun, bumi selalu ikhlas untuk menerima setiap butiran air yang jatuh melembabkan tanahnya. Seakan ingin menjadi saksi, dua sejoli yang di mabuk cinta. Kini hujan turun semakin deras.


Arif mengurai pelukannya, mengecup singkat kening kekasihnya. "Love you, sayang," ungkap Arif. Dia kembali mengecup bibir Khanza singkat, hingga rona merah muncul di kedua pipi Khanza.


"Terima kasih karena sudah mencintaiku, aku juga sangat mencintaimu, Rif," balas Khanza malu-malu.


Arif memegang bahu Khanza menyatukan kening mereka. Saling menyalurkan perasaan dalam bentuk sebuah tatapan dalam diam.


Cintaku padamu sebanyak tetesan hujan saat ini, begitu deras hingga mampu membanjiri hati. Meskipun nanti panas menghentikan cinta ini, tapi aku tetap akan kembali menumbuhkan hutan cinta kita ini.


~Arif Saputra Wijaya.


Hatiku jatuh dalam cintamu seiring tetesan hujan yang membasahi kalbu. Meskipun hujan berhenti aku tak takut hilangnya cinta ini, karena aku tahu akan ada pelangi yang kau berikan sebagai warna dari cinta ini.


~Khanza Meidina


Randra dan Dea semkin hari semakin lengket, bahkan setiap hari Randra mengantar jemput Dea. Hari ini pun masih sama, Randra kembali membonceng Dea di motor kesayangannya. Mengantar gadis bar-bar itu kembali ke rumah.


Di tengah perjalanan hujan tiba-tiba turun.


"Yah, hujan De?" ujarnya. "Kita neduh dulu, ya?" cetus Randra memelankan motor dan behenti di halte pinggir jalan.


Dea dan Randra turun dari motor berlari kecil menghindari hujan yang semakin deras. Menunggu hujan reda, Dea mengigil, bersidekap memeluk tubuhnya sendiri. Baju seragam berwarna putih itu sedikit basah terkena rintik hujan sebelum mereka berteduh. Memperlihatkan kaos dalamnya.


Randra yang melihat hal itu hanya bisa menelan salivanya. Melepas jaket yang di pakai, Randra memasangkan pada gadis bar-bar itu.


"Lain, kali kalau kemana-mana itu bawa jaket." Randra menasehati lembut gadis itu.


"Biasanya 'kan bawa jaket, tapi tadi lupa," sangkal Dea, sembari memegang ujung jaket yang kebesaran di badannya.


"Jangan lupa lagi." Randra mengacak-acak rambut Dea.


"Jangan di berantakin, Rand!" protes Dea manja. Membenarkan sisiran rambutnya dengan jari-jari lentik miliknya, Dea memanyunkan bibir.

__ADS_1


"Hahaha," tawa pecah dari bibir Randra, dia gemas sendiri melihat gadis itu berubah manja. Tidak bar-bar seperti sebelum-sebelumnya.


Senyum jahil di sunggingkan Randra, menampung air dengan sebelah tangan, Randra mencipratkannya ke arah Dea.


"Ih, basah, Rand!" pekik Dea.


"Biarin!"


Randra mencipratkan kembali air ke muka Dea, hingga Dea mengikuti menampung air dan membalas kelakuan Randra. Saling berbalas-balasan, mereka tertawa lepas di pinggir jalan.


"Sudah, hentikan! hahaha," ujar Dea tak henti tertawa.


"Ngga bisa," balas Randra masih melanjutkan aksinya.


"Rand!" pekik Dea menangkap tangan pemuda itu.


"Iya, iya, gue berhenti," pasrah Randra.


Dea melepas tangan Randra perlahan. Namun, Randra kembali mencipratkan air ke mukanya.


"Randra!" tegur Dea.


"Iya, iya, maaf," tutur Randra.


Randra menatap Dea yang sibuk mengusap wajahnya yang basah. Dia terkekeh geli saat Dea mencebik kesal ke padanya.


"De, lo, tau bedanya hujan sama gue, nggak?" tanya Randra.


"Apa?" sahut Dea penasaran.


"Kalau hujan memberikan rasa dingin buat lo, kalau gue bisa memberikan ke hangatan buat lo," gombal Randra.


Pipi Dea langsung berubah merah. "Ha-hangat apaan?" ujarnya gugup menahan malu.


Randra terkekeh geli. "Mau gue hangatin nggak? kalau mau sini gue, peluk," tantangnya.


"Ish, apaan, sih, Rand!" desis Dea memalingkan muka menyembunyikan pipi yang semakin memerah.


"Gue ikhlas, kok, lakuinnya," goda Randra.


Dea hanya diam, jauh di lubuk hatinya sebenarnya dia mengingikan kehangatan dari Randra. Diamnya Dea membuat Randra berpikir untuk memeluk gadis itu. Mendekat perlahan Randra mulai mengulurkan tangan merangkul Dea.

__ADS_1


Tin-tin-tiinnnn!!!!


__ADS_2