
Pagi mendung untuk hati yang cerah bagi Arif, bangun dari tidur panjangnya, Arif menyeret kaki ke masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai dengan aktifitasnya di kamar mandi Arif keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya, memakai seragam sekolah dan mengambil kunci mobil karena hari yang tidak mendukung jika harus memakai motor kesekolah.
Arif mengambil hp di nakas, menggeser dan terlihat kembali foto Khanza, dia tersenyum semangat menjalani harinya. Menyimpan ke saku bajunya, mengambil gitarnya untuk di bawa ke sekolah.
Berangkat ke sekolah, tapi tidak lupa untuk menjemput sang kekasih, yang mungkin sudah menunggunya.
***
Khanza sudah selesai sarapan pagi dan siap untuk berangkat ke sekolah, berjalan keluar rumah bersama Kakak dan Papanya, yang juga akan bersiap ke kantor. Membuka pintu dan terkejut dengan seseorang yang berdiri di depan pintu.
Faizal ingin mengetuk pintu, tapi pintu sudah lebih dulu terbuka dari dalam. Faizal memberikan senyum manisnya, menyalami dua orang di samping Khanza dan memberikan ucapan selamat pagi pada keluarga Khanza.
"Pagi OM, Kak Zay!"
"Pagi Faizal!" ucap Zay.
"Faizal!" pekik Khanza kaget.
"Za, aku ikut kamu aja ya?" ucap Faizal.
"Kalian berangkat bareng aja, satu sekolah jugakan!" ucap Papa Khanza, berlalu pergi meninggalkan mereka. Zay menepuk bahu Faizal dan juga ikut pergi menyusul Papanya yang sudah masuk lebih dulu ke dalam mobil.
Khanza hanya menyerahkan kunci kepada Faizal, dan masuk lebih dulu kedalam mobil, Faizal yang bengong menatap kunci di tangannya.
"Fa, ayo dong! nanti terlambat!" teriak Khanza dari dalam mobil, karena Faizal yang masih bengong di depan pintu.
"Selalu saja, Khanza-Khanza!'' Faizal menggelengkan kepala berbicara sendiri, Faizal berbalik dan segera masuk ke dalam mobil Khanza.Mereka berdua berangkat bersama kesekolah.
Hari ini adalah hari pertama Faizal masuk ke sekolah Khanza, dia pikir lebih baik ikut Khanza, biar tidak canggung sampai di sana.
Menggobrol dan bercanda bersama di dalam mobil. Mengulang waktu sebagai sahabat yang pernah terpisah jarak dan waktu, Faizal banyak bertanya tentang sekolah barunya kepada Khanza.
Faizal sengaja meminta keluarganya mencarikan sekolah yang sama dengan Khanza agar dia bisa dekat dan bersama-sama lagi seperti dulu dengan Khanza, dan menebus waktu yang pernah hilang di antara mereka.
***
Di sekolah Bhakti Bangsa, sebuah mobil putih terparkir rapi di halaman sekolah. Arif dan Vera menuruni mobil tersebut, Arif membawa gitar di punggungnya, berjalan bersama dengan Vera masuk ke dalam sekolah. Banyak pasang mata yang menatap kagum pada pasangan itu, ada juga yang menatap iri pada keduanya.
Arif yang tampan dan penuh karisma, dan Vera yang memang salah satu gadis ter cantik di sekolah itu. Popularitas mereka di sekolah itu, menjadikan mereka pasangan serasi.
"Kasian yang jomblo lihat kalian gini!" ucap Randra yang sudah berada di belakang mereka.
Arif langsung berbalik mencari arah suara itu, ketika dia mendapati Randra dia langsung merangkul pemuda itu.
"Apa, sih!" ucap Arif.
Mereka bertiga bejalan bersama menyusuri koridor sekolah dengan Arif yang berada di tengahnya. Randra yang memang senang sekali menggoda pasangan baru itu, membuat mereka bercanda dan tertawa bersama, tanpa perduli dengan tatapan-tatapan semua orang yang selalu memperhatikan mereka.
Mereka bertiga duduk di bangku depan kelas Arif dan Randra. Arif yang mulai memetik gitar dan bernyanyi bersama Randra, juga Vera. Mengalunkan bait-bait lagu syahdu.
"Hai, boleh gabung!" ucap Tia dan Sony menghampiri mereka dan ikut bergabung bersama.
"Tia, Sony! duduk!" ucap Randra.
"Sayang, nyanyi sendiri dong aku pingin dengar!" Pinta Vera pada Arif.
"Mau lagu apa?" tanya Arif.
"Terserah deh," jawab Vera.
Arif mulai memetik gitar dan menyanyikan lagu "KAU TERINDAH" dari Aliando. Menyanyikan lagu dengan begitu merdu membuat semuanya terpesona dengan karisma dari seorang Arif. Bahkan yang di sekitar mereka pun ikut menikmati suara merdu Arif.
Di tengah lagu merdunya, Arif mengehentikan lagunya dan petikan gitarnya, menatap ke satu arah dengan wajah datar dinginnya.
Semua yang ada di sana mentap Arif penuh tanya, mengikuti tatapan Arif ke arah yang sama.
Arif yang sedang asik menyanyikan lagunya terhenti karena melihat Khanza bejalan dengan seorang lelaki, tertawa lepas dan bercanda bersama. Faizal mencubit pipi dan hidung Khanza gemas, bahkan Faizal menggandeng tangan Khanza.
__ADS_1
Arif mengepalkan tangannya, tatapan elangnya tidak bisa menyembunyikan emosi dalam dirinya.
"Rif, lo ngga apa-apakan?" Tanya Randra yang melihat Arif begitu emosi.
"Nggak papa Ran! lo tau nggak cowo yang sama Khanza itu siapa?" Tanya Arif berbisik pada Randra.
"Em ...."
Belum sempat Randra menjawab Vera menyela mereka.
"Kenapa berhenti, yang?" tanya Vera.
"Wow! itu gadis cupu sama siapa? belum pernah lihat tu cowok! ganteng juga!" Tia berucap tanpa sadar ada Sony di dekatnya.
"Dasar cewe! nggak bisa lihat yang bening sedikit! gantengan juga aku," Balas Sony, merasa cemburu dengan Tia yang memuji seseorang.
"Ups ...!" Tia menutup mulutnya.
"Kayanya, anak baru! belum pernah lihat soalnya," ucap Randra.
"Tapi, ko! akrab banget sama si cupu, apa mungkin pacarnya?" ucap Vera begitu saja.
Arif yang mendengar kata pacar, entah kenapa seperti terbakar api cemburu, menatap dengan kilatan mata emosi pada Khanza dan Faizal yang semakin mendekat.
"Kamu kenapa Rif? kaya cemburu lihat Khanza sama tu cowo?" Randra berbisik di samping Arif.
Arif ingin menyangkal, tapi Khanza dan Faizal sudah sangat dekat berada di depan mereka. Mereka ingin masuk ke kelas, tapi di hentikan Tia.
"Eh cupu! lo nggak lihat ada orang disini?" ucap Tia, karena merasa Khanza yang lewat begitu saja tanpa tersenyum atau menyapa mereka.
Khanza menghentikan langkahnya dan menengok pada Tia, tapi tatapannya bukan terhenti pada Tia. Tatapan Khanza terfokus pada Arif yang duduk memegang gitar, dan Vera yang duduk berdempet di sampingnya.
Arif juga menatap pada tangan Khanza dan Faizal yang masih bergandengan. Khanza sadar akan tatapan Arif segera melepas tangannya dari Faizal. Khanza dan Arif beradu pendang, dengan tatapan yang sama-sama tajam.
"Cupu! lo nggak dengar apa yang barusan Tia katakan?" ucap Vera yang merasa tidak suka kalau temannya di abaikan.
Khanza mengalihkan pandangannya pada Vera dan Tia.
"Lo! bukannya yang kemarin ikut balapan?" ucap Faizal menunjuk Arif.
Yang di tunjuk memasang muka datarnya, menatap tidak suka pada Faizal. Tidak bergeming atau berniat menganggapinya. Khanza mentap Faizal dan Arif bergantian mencoba mencari jawaban pernyataan Faizal. Yang lain juga bingung Faizal bisa mengenal Arif dimana.
"Iya! gue pasti nggak salah. Lo memang yang kemarin!" ucap Faizal lagi menatap Arif dari atas sampai bawah mengingat kalau dia tidak salah orang.
"Ka .... kamu, kenal Arif dimana Fa?" tanya Khanza.
"Itu, kemarin! pas aku nganterin kamu pulang. Aku 'kan ikut ba ...." ucapan Faizal terhenti karena tangannya di tarik Arif menjauh.
Khanza dan semuanya menatap bingung dengan Arif yang tiba-tiba menarik Faizal begitu emosi.
"Mereka kenapa, sih?" tanya Vera.
"Biarlah, mereka selesaikan urusan mereka berdua," ucap Randra.
Sony dan Randra hanya menjadi penonton, tak mau ikut campur dengan urusan Arif dan Faizal.
Arif membawa Faizal sedikit menjauh dari mereka.
"Kenapa, lo bisa disini?" Ucap Arif dengan emosi tertahan.
"Sabar, bro! kenapa sih kayanya dari kemarin, lo, itu nggak suka sama gua?" ucap Faizal mencoba menenangkan Arif, dan bertanya apa salahnya.
"Gue, peringatin sama lo! jangan bawa-bawa cerita geng motor di sekolah!" tunjuk Arif di muka Faizal dan berlalu begitu saja meninggalkan Faizal.
Faizal mentap bingung dengan kepergian Arif.
'Kenapa tuh orang kayanya nggak suka banget ya sama gue'
Faizal mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Arif, sejak pertama melihatnya saja sudah mengibarkan bendera perang untuk Faizal.
__ADS_1
Tidak mau ambil pusing, apalagi ini hari pertama dia memasuki sekolahnya. Faizal kembali ketempat Khanza, menyusul Arif yang berjalan lebih dulu.
Semuanya menatap Arif dan Faizal mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua. Arif kembali tersenyum kepada mereka mencoba menutupi amarah yang sebenarnya masih membara. Faizal juga kembali berdiri di samping Khanza.
"Yo Za! masuk ke kelas, katanya kelas kita samakan!" ajak Faizal menarik tangan Khanza.
"Eh tunggu! kenalin dulu dong! anak baru ya?" tahan Tia.
"Oh iya! kenalin aku Faizal, anak pindahan dari kota X," Faizal mengenalkan diri dan menyalami satu persatu yang ada di sana, Tapi ketika bersalaman dengan Arif tatapan Arif yang seperti menusuk lawannya, membuat Faizal dengan cepat melepasnya.
Kring-kring-kring!
Vera, Tia, dan Sony berpamitan ke kelas mereka, karena bel masuk sudah tiba, Khanza dan Faizal pun masuk kedalam kelas mendahului Arif dan Randra. Faizal duduk di meja berbeda tapi bersebelahan dengan Khanza. Membuat Faizal dengan mudah berbicara pada Khanza. Arif dan Randra juga duduk di bangku mereka masing-masing.
Dea berlari ngos-ngosan dan langsung duduk di sebelah Khanza.
"Kamu kenapa, De! ngos ngosan gitu?" tanya Khanza pada Dea.
"Syukur nggak terlambat," ucap dea mengusap dadanya.
"Kenapa lo, woi ...! habis di kejar orang gila?" Ucap Randra tertawa melihat Dea yang ngos-ngosan.
"Enak aja si kadal! gue lagi nggak mood debat," balas Dea dengan nafas yang masih memburu.
"Siapa yang mau debat, lo aja yang bar-bar."
"Dasar si kadal!" Dea berdiri dan ingin menghampiri Randra tapi di tahan Khanza.
"Sudah De, nggak usah di tanggapi," ucap Khanza menarik Dea untuk duduk kembali.
"Suka banget, gangguin anak orang," sindir Arif pada Randra.
"Siapa yang gangguin! dianya aja yang bar-bar," ucap Randra.
Khanza menahan tangan Dea agar tidak terpancing lagi. Dea memejamkan mata dan mengambil nafas dalam, menghembuskan perlahan dan tersenyum pada Khanza. Menandakan kalau dia sudah tenang. Khanza melepas tangan Dea. Arif hanya bisa menggelengkan kepala, jika di lanjutkan pasti tidak akan pernah selesai.
Fiazal berbisik medekat pada Khanza.
"Za, siapa tu cewe, emang iya bar-bar orangnya?" bisik Faizal.
"Sahabat aku Fa! baik ko! nggak boleh ngomong gitu!" bisik Khanza kembali.
"Maaf Za!" ucap Faizal dengan senyumnya.
Ada seseorang yang menatap tajam pada mereka dari belakang.
"Hai ....! aku Faizal," ucap Faizal mengenalkan diri pada Dea.
"Panggil aja Dea, anak baru ya?" balas Dea.
"Sudah tau, masih bertanya!" ucap Randra.
Dea memutar bola matanya. mengabaikan ucapan Randra yang selalu membuatnya emosi.
poncel Khanza bergetar tanda ada sebuah pesan masuk. Khanza membukanya poncelnya mengernyit bingung membaca pesan tersebut, mencoba mengartikan apa maksud dari isi pesan itu.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.