CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-31~Cemburu


__ADS_3

Sepulangnya mereka dari pusat perbelanjaan, Arif dan Khanza menghampiri teman-teman geng motornya yang sedang berkumpul untuk mengadakan drag. Arif tidak pernah sekalipun membawa seorang wanita ketempat itu membuat teman-temannya bertanya-tanya akan sosok gadis cantik yang di bawa Arif.


"Ehem! bawa cewek, nih!" sindir Randra tanpa mengenali siapa yang berada di belakang Arif.


Khanza turun dari motor, melepas helmnya dan terpampang senyum manisnya pada Randra.


"Hai, Rand!" sapa Khanza.


"Si ... c-cupu!?" Randra menatap Khanza dari kepala sampai kaki, Dia terlihat syok melihat perubahan Khanza.


"Biasa aja mukanya," tegur Arif.


"Rif, Aku kesana dulu ya!" pamit Khanza berjalan ke arah Faizal.


Arif menatap kepergian Khanza, Entah kenapa ada rasa tidak rela jauh dari gadis itu, walaupun hanya sebentar.


"Ehem!" deheman Randra membuat Arif beralih menatapnya.


"Sudah jadian?" tanya Randra penuh selidik.


"Mana mungkin gue jadian! Vera mau di kemanain." Arif terkekeh menatap sahabatnya itu.


"Kira'in. Tapi kok, bisa jalan bareng? itu juga, si cupu kok, bisa berubah cantik gitu ya?" petanyaan bertubi-tubi dari Randra membuat Arif tertawa.


"Sejak kapan ya? gue punya sahabat kepo gini!" celetuk Arif menepuk bahu Randra. "Nanti gue ceritain."


Mereka tertawa tebahak-bahak, Arif mengedarkan pandangannya ke sekeliling, matanya menatap tajam Khanza yang sedang tertawa lepas dengan beberapa lelaki termasuk Faizal. mengepalkan tangannya dengan kuat bahkan urat nadinya begitu jelas terlihat.


"Rif, kamu nggak apa-apa?"


Arif berjalan cepat ke arah Khanza. Matanya menatap tajam pada tangan seseorang yang merangkul pundak Khanza.


"Za, kita pulang!" desak Arif menarik tangan Khanza.


Khanza menatap pada wajah yang menahan emosi itu, tatapan tajam Arif mengarah pada pundaknya membuatnya mengerti kalau lelaki itu sedang cemburu.


"Hai, Rif!" sapa Faizal.


"Siapa dia, Za? pacar kamu?" tanya Fatih, teman Khanza yang sedang merangkul pundaknya.


"Ini ... Arif teman, gue!" jelas Khanza.


Arif yang mendengar kata teman merasa semakin emosi. Menarik kasar tangan Khanza untuk mengikutinya.


"Jangan kasar, lo!" Fatih geram melihat Khanza di tarik paksa.


"Bukan urusan, lo!" balas Arif menatap tajam pada Fatih.

__ADS_1


"Dia, sahabat, gue! jangan kasar sama dia!"


Arif tidak menggubris ucapan Fatih, dia semakin menarik tangan Khanza.


"aw ...." pekik Khanza.


"Lo!" Fatih menarik kerah baju Arif, dia tidak terima kalau Khanza di perlakukan kasar seperti itu.


"Santai bro!" Faizal menenangkan keduanya.


Arif melepas kasar tangan Khanza, dia bersiap mengangkat tangannya untuk memukul Fatih. Khanza menangkis cepat tangan Arif.


"Yo, kita pulang!" ajak Khanza. "Fa, Fat, semua! aku pulang dulu," pamit Khanza, dan menarik tangan Arif menjauh dari teman-temannya.


Arif menghempaskan tangan Khanza saat sudah berada di samping motornya. Dia terlihat begitu emosi, sampai ucapan Randra pun tidak di gubrisnya.


"Naik!" perintah Arif.


Khanza hanya menurut pada Arif. " Rand, gue pulang duluan," ucap Khanza pamit menaiki motor Arif.


Melajukan motornya dengan begitu kencang Arif tidak menyadari kalau sekarang Khanza begitu ketakutan. Khanza dengan mata terpejam memeluk lelaki di depannya, tidak berani mengeluarkan suara walau hanya sepatah kata.


Arif menghentikan motornya di samping pohon di pinggir jalan saat menyadari kalau tubuh gadis di belkangnya bergetar. Turun dari motor tanpa menghiraukan Khanza, Arif menonjok batang pohon dengan kencang. Melampiaskan emosi yang sejak tadi terpendam, Buku-buku di tangannya pun terlihat mengeluarkan bercak merah.


"Arif!" pekik Khanza menutup mulutnya dengan kedua tangannya, air matanya seketika luruh membasahi pipi.


"Kamu Kenapa, sih?" lirih Khanza dengan penuh air mata.


Arif menatap wajah gadis yang terlihat begitu kacau akibat tingkah lakunya. Ada rasa penyesalan di hatinya karena sudah membuat Khanza menangis. Menghapus air mata gadis itu, Arif sedikit melunak.


"Apa aku ada salah?"


Arif tidak menjawab pertanyaan Khanza. "Aku antar pulang!" Ajak arif menarik tangan Khanza.


Khanza tidak mengeluarkan sepatah kata lagi, dia tahu kalau Arif masih begitu emosi.


***


Khanza memejamkan mata memeluk lelaki yang sedang mengendarai motornya itu. meskipun sekarang Arif menjalankan motornya dengan pelan tapi lelaki itu tidak berbicara sepatah kata pun, membuat Khanza bertanya-tanya apa kesalahannya.


Apa dia benar-benar marah? tapi, karena apa? cemburu? nggak mungkin 'kan cemburu dengan Fatih. Tapi kalau bukan cemburu, terus mengapa dia seperti ini? aku nggak boleh senang dulu, dia punya, Vera Khanza! ingat dia punya pacar! kamu hanya boleh mengaguminya.


Cairan merah terlihat membeku di tangannya, rasa nyeri pada tulang tak sebanding dengan rasa nyeri di hatinya saat melihat Khanza dekat lelaki lain apalagi saat Khanza mengucapkan kata teman dengan bibir indahnya.


Apa masih kurang yang aku lakukan sehingga dia masih merasa aku adalah temannya. apa semua ini tidak ada artinya baginya? apa dia hanya menganggap semua ini main-main saja? apa ada orang lain yang di cintainya?


Arif menggenggam erat stang motornya membuat darah kembali mengalir di tangannya. Dia tidak menghiraukan luka itu, terus melajukan motornya membelah jalan sepi di malam hari.

__ADS_1


Khanza turun dari motor, memberikan helm pada Arif. Menatap pada tangan yang mengeluarkan darah Khanza berniat menyentuhnya. Tetapi Arif segera melajukan motornya tanpa permisi bahkan sekedar senyum. Khanza masuk kedalam rumah dengan cepat, masuk ke kamar dan menelungkupkan tubuhnya di tempat tidur. Isakan tangis menggema di ruangan itu.


"Apa salahku, sih? dasar orang aneh!" gerutu Khanza menatap layar handphone-nya yang terdapat gambar Arif.



Khanza duduk dan mencoba menelpon Arif beberapa kali, bukannya mendapat jawaban, bahkan sekarang pun handphone Arif tidak aktif.


"Dasar cowo aneh, suka marah-marah nggak jelas!" Khanza membanting HP-nya ke tempat tidur, merebahkan diri menatap langit kamar. Handphone Khanza berbunyi, dia bergegas mengangkat tanpa melihat siapa yang menelpon


📞"Dasar cowok aneh! marah-marah nggak jelas!" semprot Khanza.


📞" Hallo, Za!"


Khanza memandang layar handphone-nya saat mendengar suara perempuan di ujung sana.


📞"Siapa yang aneh, Za? siapa yang marah sama kamu?" tanya Dea.


📞"Eh! nggak, De. Tadi ada orang iseng aja nelpon," sanggah Khanza.


📞"Oh .... Za, besok aku minjem buku catatan IPA ya?"


📞"Oke! nanti aku bawa besok."


📞"Makasih, Za! bye ...."


📞"Sama-sama."


Khanza menutup telponnya, masuk ke kamar mandi mencuci muka yang sudah sembab karena menangis.


Besok pagi aku harus bicara, malam ini biar dia tenang dulu.


Khanza mengganti baju dan masuk kedalam selimut lembutnya, memejamkan mata berharap esok semua akan baik-baik saja.


***


Arif memasukkan motornya ke garasi, masuk kedalam rumah yang begitu sepi. Pembantu di rumah itu pun mungkin sudah tidur hanya terlihat satpam yang berjaga di depan rumah.


Terdengar suara telpon berulang kali dari Khanza, Arif terlihat ragu menggeser tombol hijau itu. Saat bayangan rangkulan tangan di bahu Khanza kembali berputar Arif menggemgam erat benda itu.


Prak!


Benda itu hancur seketika, layar remuk tanpa celah. Telpon yang tadinya masih berdering kini sudah tidak mungkin hidup lagi.


"Argh!"


Arif benar-benar kacau, cemburunya mengusai pikirannya. Masuk kedalam kamar mandi Arif berendam dengan air dingin, menenggelamkan kepala mendinginkan emosi yang menguasai pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2