CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-38~Kantin


__ADS_3

Vera mengambil sesuatu yang tertinggal di dalam mobilnya. Berjalan dengan santainya, tak sengaja matanya menangkap sosok kekasih yang belakangan ini menjauhinya.


"Arif!" panggilnya.


Vera menghambur memeluk Arif yang menolehnya, dia tidak menyadari kalau ada Khanza disana. Saat dia menatap pada Khanza yang berdiri di samping mobil Arif, dia bisa menebak kalau Arif berangkat bareng dengan Khanza. Vera menatap sinis pada Khanza, tiba-tiba di mengecup pipi Arif begitu saja.


"Aku kangen kamu sayang," papar Vera bergelayut manja.


Arif syok dengan perbuatan Vera, apalagi sekarang Khanza dengan jelas melihatnya. Dia menatap bersalah pada gadis yang mematung di samping mobilnya itu. Mata Khanza memerah, kecemburuan terlihat jelas di wajahnya. Arif semakin tak enak kepada Khanza.


"Yo, yang, kita masuk. Ngapain sih, disni?" Vera menarik tangan Arif paksa.


Arif ingin berontak dengan Vera, tapi Khanza memberikan isyarat mengangguk padanya. Arif pasrah mengikuti Vera, meninggalkan Khanza yang masih berada di sana. Arif bahkan melupakan kalau kemarin dia sempat memergoki Vera dengan lelaki lain. Saat ini hanya Khanza dan Khanza yang ada di pikirannya.


"Za, kenapa bengong?" tegur Dea yang baru datang ke sekolah.


"Dea!" pekik Khanza. " Aku kangen, De?" Khanza memeluk sahabatnya yang beberapa hari tidak masuk sekolah itu.


"Aku juga kangen, Za." Dea membalas pelukan Khanza.


"Kamu ngapain tadi bengong, Za?"


"Nggak papa, Kita masuk yo, De." Khanza langsung menarik tangan Dea, agar Dea tak bertanya lagi padanya.


Sepanjang lorong sekolah, suara dan tawa mereka menggema. Dua orang sahabat itu, melepas rindu mereka yang beberapa hari tak berjumpa.


"Kantin, yo!" ajak Khanza.


"Traktir, ya?" Dea memasang wajah memelasnya.


"Em..., Oke!"


Memasuki kantin mereka mencari meja di pojokan. Mereka yang selalu ribut jika bersama, memilih mencari tempat duduk yang jauh dari keramain. Dea berjalan membawa nampan berisi makanannya, tanpa menengok kiri kanan dia berjalan terburu-buru. Hampir saja dia menabrak seseorang yang baru saja masuk ke kantin itu.


"Maaf, maaf." Dea menundukkan kepalanya.


"Lo! dasar si bar-bar!"


Dea mengangkat kepalanya, mendengar suara familiar yang sebenarnya di rindukannya. "Owh, ternyata, lo? tau gitu, gue tabrakin, aja tadi sekalian."


Khanza dengan cepat menarik Dea ke mejanya. "De, semua orang lihatin kamu," bisik Khanza.


Dea menatap ke sekelilingnya, merasa tak enak dengan keributannya. Dia berjalan kikuk ke arah meja yang sudah mereka pilih.


Hp Khanza berbunyi, sebuah notif pesan dari Arif yang menanyakan dia dimana. Khanza membalas cepat pesan Arif.


Baru saja dibaca, lelaki itu sudah muncul dengan Vera yang masih menggandeng lengan Arif mesra.

__ADS_1


Apa-apaan, sih. Mau bikin aku cemburu apa?


Arif mengedarkan pandangannya menatap pada dua gadis di pojokan sana. Khanza dengan cepat mengalihkan pandangannya, merasa tak suka dengan apa yang di lihatnya.


Bisa cemburu juga dia?


Arif tersenyum, melihat muka dingin Khanza. Entah kenapa seseorang merasa di cintai saat mereka di cemburui. Bahkan ada orang yang sengaja membuat pasangannya cemburu hanya untuk mengetahui isi hati pasngannya.


"Nggak ada bangku kosong, Rif." ucap Vera.


Arif tak bergeming menanggapi Vera, matanya terus terfokus pada Khanza yang salah tingkah.


"Arif, Vera?" sapa Randra.


"Randra," ucap Arif dan Vera bersamaan.


"Yah, Mejanya isi semua," celetuk Randra.


"Di sana aja gimana?" tunjuk Randra ke meja Khanza yang kebetulan ada 4 kursi kosong yang masih tersedia di meja mereka.


Arif dan Vera, mau tidak mau mengikuti saran Randra. Mereka berjalan menuju meja Khanza dan Dea.


"Za, kita ikut gabung disni, ya?" izin Randra sopan pada Khanza.


"Eh, nggak boleh. Cari meja lain sana!" balas Dea.


"Eh, Dasar playboy kadal!"


"Dea, Randra, udah ya. Silahkan Rand, duduk aja nggak papa." Khanza merasa pusing jika Randra dan Dea sudah ketemu.


"Yo, yang. Kita duduk!" Vera menarik tangan Arif yang sejak tadi hanya menatap pada Khanza.


Randra memilih duduk di samping Khanza, dari pada dia duduk di samping Dea yang ada mereka tidak makan. Karena hanya ada bangku kosong di samping Dea, Arif dan Vera mau tidak mau duduk disana.


Vera memberikan senyum sinisnya pada Dea, dan Khanza. Tapi mereka tak menanggapinya. Suasana hening di meja itu begitu terasa, hanya bunyi denting sendok dan garpu yang beradu.


"Za, Faizal nggak ikut ke kantin?" tanya Randra pada Khanza si sampingnya.


"Tadi, sih. Belum datang Rand." jawab Khanza.


"Owh. Za, gue boleh minta bakso lo nggak?"


Semuanya menatap pada Randra, tanpa terkecuali Dea. Randra seolah tak perduli dengan tatapan mereka, dia malah tersenyum kepada Khanza.


Khanza mengangguk pelan pada Randra.


"Yes." Randra bukannya mengambil bakso yang ada di mangkok Khanza, dia malah memakan yang di tangan Khanza. Dia menarik tangan Khanza tiba-tiba dan membawanya ke mulutnya. Khanza menganga di buatnya.

__ADS_1


"Ehemm, Cieee...." deheman Vera menyadarkan semuanya.


Dea memalingkan mukanya, ada rasa sakit menghujam di dadanya. Dea berusaha menutupi semunya dengan diam tak bisa bersuara.


Khanza menatap takut pada Arif yang sudah melayangkan mata lasernya. Muka lelaki itu merah padam, Khanza yakin dia sedang menahan kuat emosinya.


Arif berdiri. "Gue, ke toilet dulu," pamitnya berbalik. Tangannya mengepal kuat meninggalkan tempat itu.


Pasti marah lagi 'kan? Lagian si Randra ada-ada aja.


Khanza mengeluarkan HP-nya, mengirim chat pada Arif. Dia hanya takut Arif akan melampiaskan emosinya seperti kemarin.


Tak selang berapa lama, Arif kembali dengan senyum merekah di bibirnya.


"Kenapa lo, senyum-senyum gitu? jangan-jangan kesambet setan toilet lo,Rif?" tegur Randra.


"Sialan lo!" Arif melempar tisu ke arah Randra.


Randra, Khanza, Vera, dan Arif tertawa. Tidak dengan Dea yang dari tadi melamun mengaduk-aduk sisa makanannya.


"Kamu, kenapa, De?" tanya Khanza menyadari kalau Dea hanya diam saja.


"Sakit gigi kali," celetuk Vera yang mendapat pelototan dari Arif.


"Sorry." Vera tesenyum di paksa mentap Arif.


"Eh, Nggak papa, Za. Kita ke kelas yuk!" ajak Dea pada Sahabatnya itu.


"Ayo. Bentar aku bayar dulu ya?" Khanza berdiri menuju kekasir untuk membayar makanannya


Arif ikut pamit membayar makanan Mereka(Randra,Vera,Arif). Sampai di Kasir Arif kebingungan mencari dompetnya.


"Kenapa, Rif?" tanya Khanza yang sudah selesai membayar makanannya.


"Dompet aku, Za. Apa mungkin ketinggalan di mobil ya?" Dia mengingat-ingat kembali dimana dia menaruhnya.


"Oh, biar aku yang bayarin." Khanza menyerahkan uangnya ke kasir.


"Eh, Nanti aku ganti, Za."


"Kaya ama siapa aja." Khanza tersenyum manis pada Arif. Tangan Arif terulur ingin mengacak rambut Khanza, Tapi dengan cepat Khanza memundurkan tubuhnya. Arif menatap tajam Khanza.


"Nanti di lihat yang lain," ucap Khanza menenangkan Arif yang sudah kambuh lagi emosinya.


Arif tersenyum pada Khanza, dia lupa kalau sekarang mereka lagi tidak berdua. Khanza pamit meninggalkan Arif ke kelas lebih dulu bersama Dea.


Arif kembali ke meja, mengajak Vera dan Randra untuk kembali ke kelasnya.

__ADS_1


__ADS_2