
Tin-tin-tiinnnn!!!!
"Woi, lihat tempat!" teriak Faizal di balik jas hujan abu-abu yang di pakai untuk melindungi diri dari hujan.
"Shit!" umpat Randra. Dia menarik tangan menjauh dari Dea, menatap kesal pada Faizal. "Ganggu aja, lo, jomblo!" Randra berteriak pada Faizal yang berhenti di dekat motornya.
Dea menahan rasa malunya karena kepergok oleh Faizal, untung saja lelaki itu tidak turun dari motornya.
"Jangan mau di deketin sama playboy itu, De. Ceweknya banyak dia!" tunjuknya pada Randra.
"Sialan, lo! pergi sana!" usir Randra.
"Gue juga mau pulang kali, males banget gue jadi obat nyamuk!" ujar Faizal melajukan kembali motornya.
Rasa canggung menghampiri Dea dan Randra, sesekali saling melirik. Namun, mulut mereka enggan untuk bersuara. Randra mengusap tengkuk lehernya, rasa dingin akibat hujan menjalar ke sekujur tubuh. menggosok-gosokkan kedua telapak tangan, tubuhnya menggigil kedinginan.
Dea melirik Randra lewat sudut matanya. Melihat Randra yang kedinginan Dea tidak tega. "Dingin ya? ini jaket kamu." Tangan Dea berusaha melepas jaket di badannya.
"Kamu pakai aja, aku nggak papa, kok," tolak Randra.
"Tapi, k-kamu...."
"Sudah pakai aja!" seru Randra sembari bersedekap di atas dada.
Dea mengurungkan niatnya melepas jaket itu, menatap lurus pada aspal yang basah dengan genangan air hujan. "Kapan berhenti, sih!" gerutunya sebal.
"Sabar aja," sahut Randra.
Dea menghela nafas kasar. Kembali menunggu hujan hingga reda.
***
Arif kembali melajukan mobil pelan, menerobos hujan lebat hingga membatasi pandangan. Wiper bergerak naik turun menyeka air hujan di kaca mobil bagian depan.
"Deras banget hujannya," ujar Khanza merapatkan jaketnya.
"Dingin ya, yang?" tanya Arif.
"Iya, nih. Padahal udah pakai jaket." Khanza mengigil merasakan dinginnya cuaca.
"Sini aku peluk biar hangat!" celetuk Arif dengan senyum jenaka.
Khanza mengangkat tangan bersiap memukul lengan Arif. Namun, Arif dengan sigap menangkap tangan mungil itu, menggenggam tangan Khanza Arif mencium tangan yang mengepal itu.
Menjalin hubungan cinta dengan Arif membuat jantung Khanza selalu berolahraga di setiap waktu. Bagaimana tidak, ada saja tingkah pemuda itu yang membuatnya jantungnya berdebar.
Suara ringtone HP Khanza terdengar dari dalam tasnya. Menarik tangan dari genggaman Arif, Khanza mengacak-acak isi tasnya. Mengambil benda pipih itu Khanza membaca nama yang tertera di sana.
"Siapa, Yang?" tanya Arif.
"Mama nelpon," sahut Khanza, dia menggeser layar telpon. Menempelkannya pada telinga.
Hallo Ma?
Hallo sayang!
__ADS_1
Ada apa Ma?
Kamu dimana, Za?
Di jalan dekat rumah, Ma. Kenapa, Ma?
Nggak papa, Za. Mama cuma khawatir, di luar hujannya sangat deras. Ya sudah, Nak. Hati-hati di jalan ya. Bilangin Arif jangan ngebut.
Iya Ma.
Sambungan telpon terputus, Khanza mengembalikan HP kedalam tasnya.
"Tuh 'kan, Mama kamu nunggu. Coba tadi kita makan di sana, makin lama sampai ke rumahnya," ujar Arif.
Khanza tertawa cengengesan. "Iya, juga. Kasian pasti Mama khawatir banget."
Mobil putih Arif berbelok memasuki jalanan komplek Khanza. Menghentikan mobil di depan pagar, Arif mengambil payung yang selalu di bawa di dalam mobil.
"Tunggu jangan turun dulu!" perintah Arif pada Khanza.
Arif membuka pintu mobil, turun dengan membuka payung hitam. Mengitari mobil, Arif membukakan pintu untuk Khanza. Melingkarkan tangannya di pinggul sang kekasih, mereka berjalan menembus hujan di bawah naungan satu payung bersama.
Menutup payung, Arif meletakkannya di atas meja di teras rumah itu. Masuk beriringan dengan Khanza yang membawa dua kotak pizza.
"Khanza, Arif?" sapa Zihan.
"Kak Zihan," balas mereka bersamaan.
"Kompak banget," sindir Zihan tertawa menggoda.
"Mama mana Kak?" tanya Khanza.
"Di ruang keluarga."
"Kita kesana, yuk, Kak. Ini kami bawa pizza," ajak Khanza.
"Wah, pas banget. Kebetulan Kakak pingin makan pizza."
Mereka bertiga menuju ruang keluarga. Mama Vina sedang duduk di sofa yang di tata membentuk huruf L. Memangku bantal sofa, wajah Mama Vina begitu tegang. Khanza menggelengkan kepala melihat sang Mama tercinta.
"Pasti lagi nonton sinetron," gumam Khanza.
Menghampiri sang Mama. Khanza sengaja membuat Mamanya kaget.
"Mama!" teriak Khanza.
"Kodok, Ayam, Kucing!" Mama Khanza berjengkit kaget, menyebut spontan nama-nama binatang. Meletakkan tangannya di dada, Mama Vina menghela nafas berkali-kali.
"Za, nggak boleh gitu," tegur Arif.
"Hehe, maaf," tuturnya.
"Tante, nggak papa?" khawatir Arif.
"Nggak papa, Nak. Khanza emang suka gitu," gerutu Mama Vina.
__ADS_1
Arif menyalami orang tua Khanza itu. "Za!" tegur Arif sekali lagi.
Lagi-lagi Khanza hanya tertawa cengengesan, membentuk tangannya menjadi huruf 'V'.
"Marahin aja, Rif. Dia emang bandel di rumah, siapa tahu sama kamu nurut," celetuk Zihan yang mendapat pelototan mata dari Khanza.
Arif menggelengkan kepala, bercedak pelan dengan kelakuan kekasihnya itu.
"Apalagi kalau sudah main game, bisa-bisa sampai pa_"
"Ayo kita makan pizza," potong Khanza pada ucapan Zihan. Karena Arif sudah melayangkan tatapan tajam padanya.
"Mana pizzanya?" sambar Mama Vina.
Khanza duduk di samping sang Mama meletakkan dua kotak pizza, dia membukanya. Arif ikut duduk di samping kekasihnya, sedangkan Zihan duduk di samping Mama Mertuanya.
Mama Vina memerintahkan Bibi untuk membuatkan minuman untuk mereka. Mengambil potongan pizza pertama Mama Vina menikmatinya dengan lahap.
Hanya memakan sepotong, Arif sudah di buat kenyang dengan makanan itu. Mengambil jus jeruk di atas meja, dia meneguknya sampai habis.
"Nak Arif, kok, sudah makannya?" ucap Mama Vina.
"Sudah kenyang Tan."
"Lagi, dong!" Khanza menyodorkan potongan pizza di tangannya.
"Sudah, Za. Aku kenyang banget," tolak Arif.
"Baru juga sepotong, masa sudah kenyang?" dengus Khanza. "Cepat makan!" paksanya semakin menyodorkan pizza di tangannya.
"Serius aku sudah kenyang," tolak Arif.
"Orang sudah kenyang jangan di paksa, Za!" ucap Zihan, mengigit potongan-potongan pizza, dia sangat menikmati makanan itu.
Khanza mencebik kesal, wajahnya berubah masam.
Gawat! bisa-bisa ngambek lagi. ucap Arif dalam hatinya. Menarik pergelangan tangan Khanza untuk menyuapkan pizza ke mulutnya.
Khanza tersenyum kemenangan setelah Arif menelan habis potongan makanan itu.
"Jurus ngambek," sindir sang Mama. "Maafin anak tante ya, Rif. Dia emang suka ngambek kalau ngga di turutin maunya."
"Emang gitu juga ya, Tan, di rumah?"
"Iya, Rif. Terutama sama, Zay sama Papanya, sering banget ngambek dia. Nggak tau tante ngidam apa waktu hamil dia."
"Ih, Mama!" rengek Khanza.
"Semoga aja anak, Kakak, nggak kaya kamu, Za," sahut Zihan mengelus perutnya yang mulai membesar.
"Kakak!" rengek Khanza manja.
Arif terkekeh geli, apalagi melihat Khanza memanyunkan bibirnya dia malah semakin megeraskan tawanya.
"Kalian jahat sama aku," celetuk Khanza kesal.
__ADS_1
Mama Vina, Zihan dan Arif semakin menertawakan gadis cupu itu.