CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-26~Terjadi lagi.


__ADS_3

Dea sudah tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya. Pergi ke kelas, untuk menenangkan diri adalah pilihan terbaik, dari pada harus berlama-lama melihat Randra lembut dengan cewe lain.


Dea berlari cepat masuk kekelas saat melihat Arif ingin memukul Faizal. Dea segera menahan tangan Arif membuat Arif menghentikan aksinya.


Arif melepaskan cengkraman di kerah baju Faizal dan berbalik melihat kepada Dea. Faizal terbatuk mengatur nafasnya mengambil handphone yang tadi sempat terjatuh.


"Lepas!" Arif menarik kasar tangannya dari Dea.


"Kalian kenapa berkelahi?" tanya Dea.


"Bukan urusan lo!" balas Arif dengan nafas yang masih memburu dan menatap Dea tajam.


"Tapi tadi gue dengar lo sebut Khanza, ada apa dengan Khanza?"


"Sekali lagi gue tegasin sama, lo! ini, bukan, urusan, lo!" ucap Arif yang tidak bisa mengontrol emosinya.


Dea mundur beberapa langkah karena merasa takut dengan Arif yang begitu terlihat emosi.


"Jangan kasar sama Dea!" ucap Faizal yang sudah bernafas normal.


"Sekarang Khanza dimana?" ucap Arif berbalik kepada Faizal.


"Gue nggak tau!" jawab Faizal.


"Bohong!" ucap Arif, sekali lagi mengangkat tangan ingin memukul Faizal.


"Khanza lagi berada di pemakaman!" jawab Dea memejamkan mata.


Tubuh Arif menegang mendegar perkataan Dea, Arif berbalik perlahan mengurungkan niatnya ingin memukul Faizal.


"Ma ... maksud ka ... kamu?" ucap Arif terbata-bata.


"De, Siapa yang meninggal?" tanya Faizal.


"Kak Bima!"


"Kak Bima siapa?" tanya Arif.


"Sepupu Khanza. Khanza tadi mengirim pesan kepadaku, dia mengatakan kalau dia tidak masuk karena sedang berada di pemakamannya Kak Bima," ucap Dea.


Arif dan Faizal menghembuskan nafas bersamaan. Mereka merasa lega kalau ternyata Khanza tidak menghindari mereka.


"Kalian kenapa?" tanya Randra yang baru masuk melihat ketiga orang itu berkumpul di dalam kelas.


Arif dan Faizal hanya diam tidak berusaha menjawab, sedangkan Dea yang membelakangi Randra tubuhnya menegang, keringatnya mengucur deras mendengar suara seseorang yang begitu ingin di hindarinya saat ini.


"De, lo, nggak papa?" tanya Faizal yang melihat ada yang tidak beres dengan Dea.


Dea menarik nafas panjangnya, berusaha normal kembali agar tidak ada yang curiga padanya.


"Nggak ko, Fa!" berusaha tersenyum di paksa. Dea berbalik menantap Randra.


"Eh, Kadal ngapain lo disini? bukannya masih main basket!" ucap Dea menutupi, rasanya pada Randra.

__ADS_1


"Inikan kelas gue juga, dasar cewe bar-bar!"


"Dari pada lo, Kadal!"


"Dasar cempreng!"


Arif dan Faizal menggelengkan kepalanya. Mereka duduk ke bangku mereka masing-masing tanpa memperdulikan tom and jerry yang lagi berantem.


***


Khanza pulang dari pemakaman Kak Bima dengan keluarganya. Setelah membersihkan diri, Khanza merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, mengecek handphone-nya. Ada banyak panggilan dan pesan di handphone Khanza, dari kemarin Khanza sengaja tidak mau memegang handphone-nya. Dia menghubungi Dea pun memakai handphone dari Kak Zihan.


Khanza langsung menghapus pesan-pesan Arif tanpa ingin membacanya. Dia bertekad ingin menghindar dari Arif. Ada rasa sakit kembali menusuk ke jantung Khanza saat dia melihat nama Arif di handphonenya.


Belum juga menghapus semua pesan dari Arif, handphone Khanza sudah berbunyi. Ada sebuah panggilan masuk dari orang yang ingin di hindari Khanza. Khanza mencoba mengabaikan panggilan itu, dia mensilent handphone-nya.


Tok-tok-tok!


Khanza menyimpan kembali handphone-nya saat ada yang mengetuk pintu. Membuka pintu mendapati sang Mama berdiri di depannya


"Za, ada Arif di depan," ucap Mama Vina.


Khanza terbelalak mendengar ucapan Mamanya.


"Apa, Ma?" tanya Khanza merasa tidak yakin dengan pendengarannya.


"Itu ... Arif di depan, Nyari kamu!"


"Ta ... Tapi ...."


Khanza mau tidak mau turun dan menemui Arif, Menuruni tangga menuju ruang tamu. Arif terlihat memainkan poncelnya sendiri.


"Hai ...!" sapa Khanza.


Arif berbalik dan tersenyum melihat Khanza.


"Za!" ucap Arif.


"Sudah lama menunggu?" ucap Khanza duduk di depan Arif.


"Baru aja, tapi tadi lama nunggu di depan, sih! soalnya kamu di telpon nggak angkat-angkat!" ucap Arif menatap Khanza.


"Em ... itu! anu ... tadi lagi mandi," ucap Khanza salah tingkah juga bingung mau menjawab apa.


"Kirain sengaja," ucap Arif pelan seperti bergumam sendiri.


"Apa?"


"Nggak papa Za! ngomong-ngomong aku mau jelasin yang kemarin Za."


"Eh! kita ngomong di halaman belakang aja, yo!" ajak Khanza. "Biar lebih enak," tambah Khanza berdiri mengambil nampan yang berisi minuman untuk di bawa ke halaman belakang rumahnya. Arif mengangguk dan beridiri mengikuti Khanza dari belakang.


Di halaman belakang rumah Khanza terdapat Gazebo dan kolam ikan kecil. Cukup nyaman untuk di biat istirahat atau sekedar menenangkan diri disana.

__ADS_1



Khanza meletakkan nampan yang berisi minuman dan sedikit makanan untuk mereka. Arif menghirup udara di taman itu yang begitu asri karena begitu banyak tumbuhan hijau disana.


"Segar ya Za!" ucap Arif.


"Iya Rif, aku sering santai di sini kalau lagi ada waktu senggang," ucap Khanza mengambil umpan ikan dan memberi makan ikan di kolam kecil di samping gazebo.


Arif berjalan menghampiri Khanza mengambil umpan ikan di tangan Khanza. Khanza kaget dengan Arif yang tiba-tiba berada begitu dekat dengannya bahkan setengah dari bahu Arif berada di belakang Khanza.


Khanza tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan hampir saja terjatuh ke kolam ikan. Arif dengan sigap menangkap tubuh Khanza dengan sebelah tangannya.


Khanza menatap dalam pada manik mata hitam kecoklatan Arif. Arif juga tidak bisa memalingkan tatapannya dari mata indah Khanza. Waktu serasa berhenti berputar tapi detak jantung keduanya berdetak tidak karuan.


Arif perlahan menarik Khanza kepelukannya, dan mendekatkan kepala kepada Khanza. Khanza memejamkan mata terbawa suasana.


Khanza merasakan ada sebuah benda kenyal yang menempel di bibirnya. sebuah ciuman yang begitu lembut dari seorang lelaki yang begitu di kagumi Khanza. Tidak berusaha menolak sama sekali karena Khanza juga menikmati semuanya. Ciuman itu semakin dalam saat Khanza juga membalas dan menikmati permainan Arif.


Arif sudah tidak bisa mengendalikan dirinya apalagi saat Khanza membalas ciuman itu. Terus menyesap bibir Khanza dengan lembut dan semakin mengeratkan pelukannya kepada Khanza.


Jantung mereka sudah seperti genderang yang ingin berperang. Nafas mereka yang juga sudah ngos-ngosan tapi masih belum mau mengakhiri pemainannya.


Arif perlahan mengangkat tangannya meraba bagian tubuh Khanza. Dia sudah tidak bisa mengontrol hasrat dari dirinya.


Khanza merasakan tangan Arif yang perlahan meraba lekuk tubuhnya. Membuka mata dan segera menarik diri dari Arif. Menunduk malu dengan muka yang merah merona mengingat apa yang sudah mereka lakukan.


Arif baru sadar dengan apa yang sudah di lakukannya pada Khanza. Menatap sayu dengan penuh rasa bersalah.


"Maaf!"


Satu kata yang keluar dari mulut Arif membuat Khanza kembali menatap pada Arif.


"Maaf, Karna aku sudah lan ...."


"Ini semua bukan salah kamu!" Ucap Khanza memotong ucapan Arif.


"Kita berdua sama-sama khilaf!" ucap Khanza lagi.


Arif menatap Khanza tersenyum, mengangkat tangan menghapus lembut bekas ciuman di bibir Khanza.


Khanza memejamkan mata merasakan sentuhan lembut itu.


'ini bukan mimpikan?' ucap Khanza dalam hati.


"Za!" panggil Arif.


"Eh, Maaf!" ucap Khanza membuka mata.


"Kita duduk di sana, yo, Rif!" ajak Khanza dengan muka yang masih merah karena perlakuan Arif.


Arif mengangguk dan menggenggam tangan Khanza. Menariknya ke gazebo yang di tunjuk Khanza.


__ADS_1


*Mohon kritik dan sarannya ya🙏🙏🙏 terimakasih


__ADS_2