CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-57~Jahilnya Arif


__ADS_3

Suasana kelas riuh dengan teriakan para murid, semua ini karena ulah Arif, Faizal dan Randra. Mereka saling berbalas melempar kertas satu sama lain. Hal ini di karenakan kelas kosong hari ini, Ibu Eni_Guru Bahasa Indonesia tidak bisa masuk di karenakan beliau sedang sakit. Hanya di kasih tugas materi dari buku paket, itu pun minggu depan baru di kumpul. Kebiasaan murid-murid, mereka selalu bikin ulah di kelas jika tak di pantau langsung oleh Guru.


Khanza hanya ikut tertawa melihat Arif, Faizal dan Randra bercanda bersama anak-anak lain. Sepertinya tiga lelaki itu sangat bahagia hari ini. Sesekali Randra menjahili Dea di depannya, sampai-sampai kena jewer dari gadis bar-bar itu. Randra yang kesakitan meminta ampun membuat bahan olokan di kelas itu. Arif yang paling gencar mengolok Randra hingga sumpah serapah keluar dari mulut Randra.


Kepala sekolah yang mendapat laporan kalau kelas itu sangat ribut. Turun tangan langsung memantau muridnya. Membuka pintu yang tertutup rapat itu, wajahnya langsung merah menahan amarah. Bagaimana tidak, gulungan kertas mengenai mukanya, dan itu berasal dari lemparan Arif. Menatap tajam semua murid Bapak Kepala Sekolah siap meledakkan emosinya.


"Mamp*s gue!" umpat Arif langsung bersembunyi di bawah meja.


Semua murid terdiam duduk di bangku masing-masing, berbeda dengan Dea yang tertukar duduk dengan Arif. Kini posisi Arif berjongkok tepat di samping kaki Khanza.


"Siapa yang lempar kertas ini?!" geram Kepala Sekolah memungut kertas di samping sepatu hitamnya.


Hening. Tak ada yang berani menjawab. Khanza menegang kaku, tapi bukan karena Kepala Sekolah. Melainkan sifat jahil kekasihnya di bawah sana, Arif melepas sepatu Khanza. Menggelitik telapak kaki gadis itu, meskipun masih terhalang kaos kaki. Namun, perbuatan Arif mampu membuatnya bergidik menahan geli.(Astaga si Arif ada-ada aja🙃😂)


Kenapa punya pacar jahil banget, sih!


Khanza menggerutu di dalam hati, melototkan matanya ke bawah meja. Bukannya berhenti Arif malah semakin gencar melakukan aksinya. Dengan menahan tawa Arif semakin bermain ukir-ukiran di kaki Khanza.


"Jawab! siapa yang sudah melempar ini?!" hardik Kepala Sekolah sekali lagi.


"Arif!" seru semua murid menunjuk Arif di bawah meja, kecuali Randra, Dea, Faizal dan Khanza yang hanya diam saja.


"Arif! keluar kamu!" murka Kepala Sekolah.


Khanza sampai berjengkit kaget, menggigit bibir bawahnya, Khanza khawatir kalau Arif akan di hukum oleh Kepala Sekolah. Berbeda dengan lelaki itu, dia malah keluar dari meja dengan santai. Menyugar rambut dengan sepuluh jemarinya, Arif tersenyum menampilkan deret giginya pada Khanza. Mengedipkan sebelah mata serta mengangkat sebelah alis menggoda sang kekasih di samping. Khanza menggelengkan kepala melihat tingkah Arif, membalas dengan senyuman manisnya.


"Arif! kedepan kamu!" teriak kepala sekolah.


Tanpa menjawab atau membela diri Arif berdiri dari kursi, mencubit pipi Khanza sebelum dia maju ke depan kelas.


Khanza memegang pipinya. Benar-benar, salah makan apa, sih. Kok jahil banget hari ini.


(Salah makan kamu, Za😂😂🙃🙃)

__ADS_1


"Berdiri di depan! angkat satu kaki dan dua tangan kamu!" perintah Kepala Sekolah.


Arif berbalik menghadap semua murid, mengangkat satu kaki dan dua tangannya. Lengan pendek dari kemeja sekolahnya tertarik kebawah hingga menyembulkan otot-otot biseps dari lengan lelaki itu.


Wow!


Semua mata gadis di kelas itu di buat terpesona akan pemandangan indah di depan. Tubuh atletis Arif di balik seragam sekolah menjadi tontonan para kaum hawa. Ada rasa cemburu dari hati Khanza saat semua mata wanita menatap kekasihnya. Apalagi Arif terus tersenyum tipis di depan sana.


Senang tebar pesona! awas aja nanti!


Randara menertawakan sahabatnya, saat Arif oleng karena berdiri satu kaki.


"Mamp*s, lo, Rif!" celetuk Randra, lupa kalau di kelas itu masih ada Kepala Sekolah.


"Randra! berdiri juga kamu!" bentak kepala sekolah.


"I-iya, Pak," sahut Randra langsung berdiri.


"Pppfftt, hahaha," tawa Faizal pecah saat melihat Randra kikuk dengan kepala sekolah.


"Ta-tapi, Pak," elak Faizal.


"Ngga ada tapi-tapian! berdiri di depan!" perintah Kepala Sekolah.


Menghela nafas kasar, Faizal ikut berdiri dengan dua temannya di depan. Tiga cowok most wanted sekolah itu, menjadi pusat perhatian.


"Mimpi apa gue semalem bisa belajar sambil lihatin tiga cowok tampan di depan," bisik salah satu cewek di kelas itu. Namun, masih bisa di dengar Khanza dan Dea.


"Belajar yang benar," sinis Dea pada cewe itu. Dia kembali duduk di samping Khanza dengan wajah memberenggut kesal.


"Kenapa De?" tanya Khanza heran melihat sahabatnya marah.


"Itu jadi cewek ganjen banget," sugut Dea.

__ADS_1


Arif dan Randra saling lempar tatapan, Arif mengangkat sedikit dagunya memberikan isyarat dengan kerlingan mata ke arah Faizal yang berada di tengah. Randra mengangguk kecil pertanda mengerti. Arif dan Randra mencubit pinggang Faizal bersamaan.


"Eh!" kaget Faizal menahan geli dua sisi pinggangnya. "Sialan, kalian!" umpatnya, saat melihat kedua temannya itu terkekeh menahan tawa.


"Arif, Randra, Faizal!" tegur Kepala Sekolah dengan tegas.


Ketiga lelaki itu langsung terdiam, melanjutkan hukuman mereka. Sesekali saling melempar lirikan mata.


"Lagian itu bertiga di depan sok kegantengan banget, sih. Sengaja banget tebar pesona!" gerutu Dea.


"Lo, cemburu, De?" tanya Khanza.


"Si-siapa yang cemburu," tampik Dea.


Khanza terkekeh kecil. "Bilang aja kalau cemburu!" tuduh Khanza.


"Nggak, lah!" elaknya.


Di saat Khanza dan Dea sibuk berdebat, seorang lelaki menyentuh bahunya.


"Za, ini punya lo, jatuh." Lelaki menyerahkan pulpen kepada Khanza.


"Terima kasih," tutur Khanza dengan senyum simpul di bibirnya.


Lelaki itu kembali ke tempat duduk setelah berbalas senyum dengan Khanza. Jangan tanya bagaimana sang pacar yang melihat itu. Wajah Arif langsung dingin, tatapan elang langsung tertuju pada Khanza. Namun, ketika melihat Khanza menunduk, Arif tersadar kalau dia harus menahan emosinya.


Kepala sekolah meminta murid di kelas itu mengerjakan tugas yang tadi di berikan kepada mereka. Memantau murid-murid di meja guru di depan kelas, beliau mengecek absen kelas.


Bel istrihat sudah berbunyi, Arif, Randra dan Faizal menyelesaikan hukuman mereka. Dengan langkah gontai menahan lelah ketiga pemuda itu kembali duduk di bangku.


"Khanza, ikut Bapak keruangan," pinta Kepala Sekolah.


"Baik, Pak," jawab Khanza.

__ADS_1


Sebelum pergi Khanza tersenyum pada Arif yang bersandar di kursinya. "Aku keruangan kepala sekolah dulu, ya?" izin Khanza.


Arif tersenyum lembut membalas kekasihnya itu, memberikan anggukan kecil sebelum Khanza berbalik keluar menyusul Kepala Sekolah yang pergi lebih dulu.


__ADS_2